Memberdayakan Masjid

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Di Indonesia rasanya tidak terlalu sulit menemukan masjid. Masjid tersebar dari pusat kota hingga pelosok desa. Namun, kerapkali masjid menjadi ramai pada saat tertentu saja. Misal Ramadhan seperti saat ini, shalat Jumat, shalat Idul Fitri, atau moment lain yang berkaitan perayaan hari besar Islam. Artinya, masjid masih dipahami sebagai tempat ibadah semata. Bahkan tren kekinian memperlihatkan bahwa tidak sedikit masyarakat yang menganggap masjid tak lebih sebagai kawasan wisata. Baca lebih lanjut

Nasib Nelayan

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Indonesia adalah negara maritim dan negara kepulauan terbesar di dunia yang berada pada batas dua samudera. Pulau besar dan pulau kecil yang terbentang jumlahnya lebih kurang 18.000 pulau. Sekitar 6.000 di antaranya merupakan pulau berpenduduk, sementara sisanya masih pulau kosong yang belum ditempati, bahkan belum diberi nama. Baca lebih lanjut

Membangkitkan Petani

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Para pendahulu negeri ini telah memproklamirkan bahwa Indonesia sebagai negara agraris dan menjadikan lahan pertanian sebagai tulang punggung kehidupan masyarakatnya. Mereka tahu, Indonesia adalah salah satu negara Mega Biodiversity dan memiliki sekitar 60 persen dari dua juta spesies tumbuhan di dunia. Mega Biodiversity artinya kekayaan akan keanekaragaman hayati ekosistem, sumber daya genetika, dan spesies yang sangat berlimpah. Baca lebih lanjut

Mustahik

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Pada masa Rasulullah SAW, setiap umat Islam yang dianugerahi kelebihan harta oleh Allah SWT diperintah untuk memberikan sedekah. Pemberian sedekah sifatnya bebas, sukarela, dan tidak wajib. Selang beberapa waktu, ada perintah lagi dari Al-Quran yang berisi kewajiban berzakat bagi orang kaya. Tujuan zakat, seperti disabdakan Rasulullah, salah satunya untuk meringankan beban kehidupan orang-orang fakir dan miskin.

Umat Islam yang hidup berkecukupan dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tentu mau memberikan sedekah dan menunaikan zakat. Tanpa disangka, lambat laun dana yang terkumpul dari sedekah dan zakat cukup banyak. Hal itu membuat orang-orang yang serakah dan gila harta tidak dapat menahan hawa nafsu ketika melihat tumpukan harta. Mereka sangat tergoda untuk mengambil dan memilikinya. Baca lebih lanjut

Sugandi, Tak Menyesal Jadi Petani

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Sugandi (62), itulah nama lengkapnya. Warga Kampung Muara Jaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, itu punya masa lalu yang indah. Dulu, sebelum tahun 1985, ia dikenal sebagai pembuat layang-layang yang hebat.

Dalam seminggu, Sugandi yang dibantu keluarganya dapat memproduksi sekitar 2.000 buah layang-layang. Hasil kreasi tangannya itu diminati banyak orang, utamanya warga Jakarta. Bahkan nama Sugandi terdengar hingga negeri Singapura dan Belanda berkat layang-layang.

”Ada beberapa turis yang sering datang ke rumah saya untuk pesan layang-layang,” tandas Sugandi.

Para pecinta layang-layang dari berbagai daerah –antara lain Jakarta, Depok, Bogor, Sukabumi, dan Kalimantan—kerap datang ke rumah Sugandi untuk berguru. Tak perlu heran bila dalam sebulan –ketika tahun 1970-an—, Sugandi bisa mengantongi penghasilan hingga 2 juta rupiah dari usaha layang-layang. Baca lebih lanjut

Iwan Ridwan, Inspirator dari Kampung Selaawi

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Iwan Ridwan (43) bukan warga kelahiran Kampung Selaawi, Desa Cibalung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Bapaknya berasal dari Kalimantan, sementara ibunya dari Bogor. Sejak kecil hingga dewasa, Iwan merantau ke Jakarta bersama orang tuanya.

“Biasa, kayak orang-orang, mo ngadu nasib,” cetus Iwan.

Di Jakarta, Iwan beberapa kali ganti profesi. Penjual keliling kantong kresek di pasar, kuli, kondektur, montir, sopir angkot, dan nelayan pernah dijalaninya.

“Terakhir saya jadi sopir taksi. Karena di-PHK, saya memutuskan pulang ke rumah istri, Siti Maemunah (39), di Kampung Selaawi. Toh selama saya di Jakarta, perubahan nasib yang diinginkan tak kunjung terwujud,” ujarnya. Baca lebih lanjut

Peduli Guru

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Dahulu masyarakat memaknai guru dengan kepanjangan digugu dan ditiru. Digugu artinya guru patut dipercayai, diakui, dan dihormati karena keilmuan dan perannya dalam masyarakat sebagai pendongkrak intelektualitas dan pembentuk sumber daya manusia yang berbudi pekerti. Sementara ditiru berarti guru layak dicontoh, diikuti, dan diteladani sebab kepribadian, perbuatan, dan tingkah lakunya terpuji yang bisa menjadi cerminan bagi orang lain. Pada titik ini, guru menjadi sosok yang sangat sakral.

Lambat laun, seiring perkembangan zaman dan pengaruh berbagai hal, kini image guru menurun drastis. Ada degradasi nilai, peran, dan fungsi guru. Imbasnya, murid di sekolah dan masyarakat umum seakan enggan menghargai dan menghormati guru. Di sisi lain, guru tak lagi menjadi profesi yang terlalu diminati generasi muda atau para orang tua, seperti era sebelumnya. Bahkan gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang dulu begitu melekat pun kini bukan lagi kebanggaan bagi guru. Kondisi tersebut jelas sangat memprihatikan banyak pihak. Baca lebih lanjut