Motor, Aku dan Bapakku

Senin malam, 30 Maret 2015, 00.30 WIB, aku mengendarai Yamaha Vixion seorang diri. Dari arah Jalan MH Thamrin – Polda Metro Jaya – Masjid Al-Azhar Kebayoran hingga berhenti di perempatan Plaza Blok M. Arus lalu lintas ramai. Masih banyak sepeda motor dan mobil. Sambil menunggu lampu merah berubah hijau, kuperhatikan seorang pria menuntun Honda Blade, sendirian. Pria itu memakai tas gendong hitam, helm full face, celana bahan, bersepatu. Kelihatannya dia habis pulang kerja, dugaku.

Ting! Lampu menyala hijau. Semua kendaraan jalan. Pria itu mendorong sepeda motornya ke kanan, arah Kebayoran atau Radio Dalam. Aku pelan membuntuti dari belakang. Di depan sebuah halaman bank yang diterangi lampu -tak jauh dari lampu merah tadi-, aku mendekatinya.

“Kenapa sepeda motormu, Bro?” tanyaku.

“Rantainya lepas, Pak,” jawabnya. Pria itu berhenti. Kutaksir umurnya sekira 25 tahun. Aku pun ikut berhenti.

“Waduh… coba kucek,” aku menawarkan diri. “Emang pulang kemana?”

“Kebayoran, Pak. Tadi saya sudah nelpon sodara buat jemput,” katanya. Terlihat lelah.

“Ohhh… ini rantainya kendor. Gigi gear-nya juga sudah tumpul. Sebaiknya diganti semua biar rantai nggak copotan,” kataku menyarankan, sembari aku mengambil tool kits di balik jok motorku.

Tiba-tiba saudara pria itu datang memakai Hondra Supra. Usianya 40 tahunan. Dalam waktu tak sampai sepuluh menit, urusan rantai copot sudah bisa diperbaiki. Motornya siap dinaiki lagi. Pria itu lalu mengucap terima kasih kepadaku seraya tersenyum bahagia. Aku pun pamit, meneruskan perjalanan pulang ke rumah.

Aku dan Bapakku

Siapapun yang setiap hari gemar berkendara roda dua di manapun, terutama di Ibukota seperti aku, peristiwa-peristiwa kecil seperti itu sering kita temui di jalan raya. Entah mereka nuntun motor karena habis bensin, ban bocor, rantai lepas, mesin mati atau mogok sebab lain. Biasanya, ketika aku melihat yang begitu, ingatanku langsung melayang beberapa tahun lalu. Ya, dulu aku pernah mengalami seperti mereka.

Pertengahan tahun 2004, alhamdulillah aku udah bisa beli Yamaha Vega dengan cara nyicil. Waktu itu aku belum nikah. Nah… saat lagi bete atau malam nggak bisa tidur, biasanya aku pilih jalan-jalan naik motor. Tujuannya sekadar iseng sambil lihat aktivitas malam warga Jakarta. Muter-muter sendirian bisa dari jam 11 malam hingga jam 03.00 dini hari.

Salah satu pengalaman yang pernah kurasakan saat sekitar jam 01.00 dini hari mendadak ban belakang motor bocor pas aku lagi asyik motoran. Celingak celinguk nyari tukang tambal ban. Beberapa penjual makanan malam keliling yang kutemui menjawab kompak, “di daerah sini tukang tambal ban tutupnya sore, Mas”. Alhasil, aku terpaksa harus dorong motor lima kilometer. Sampai kos-kosan banjir keringet. Langsung tepar. Di situ kadang aku merasa sedih.

Pengalaman lain jam 02.00 dini hari, di malam yang lain. Bensin motor kritis, jarumnya sudah melewati garis merah. Aku tak terlalu panik. Jarak satu kilometer di depanku memang ada pom bensin yang biasa buka 24 jam. Entah kenapa, malam itu bukan keberuntunganku. Ternyata SPBU telah tutup. Sementara motor tak bisa diajak jalan. Tengki kering. Penjual bensin eceran sudah terlelap di rumah masing-masing. Jleb!

Terpaksalah kudorong motor kesayangan hingga tujuh kilometer. Sendirian. Tengah malam. Beuh… Sekira tiga kilometer jelang tempat tinggalku, ada seorang pengedara motor berbaik hati yang mengikhlaskan bensinnya ditransfer ke tengki motorku. Alhamdulillah… Rupanya bikers itu tak mau dibayar. Padahal aku sudah sodorkan beberapa ribu rupiah. Ya sekadar buat beli rokok, gitu. Akhirnya aku pun menjabat erat tangan bikers itu sebagai tanda terima kasih.

Lain lagi cerita Bapakku (58 tahun). Bapak naik motor buatan Cina yang sudah dibelinya lima tahun. Malam sekira jam 10. Sendirian. Mau pulang, habis nengok cucunya. Di jalan utama Pantura, bensinnya habis. Ndilalah (tahu-tahu) rantainya juga putus. Bapak dorong motor sejauh 25 kilometer. Sampai rumah setengah satu malam. Ibukku yang sudah tidur, kaget. Keringet Bapak bercucuran.

“Motornya kenapa, Pak,” tanya Ibu.

“Mogok. Bensin habis, rantai copot,” jawab Bapak.

“Terus, Bapak dorong sendirian?”

“Iya, alhamdulillah masih kuat”

“Kenapa Bapak nggak isi bensin dan perbaiki dulu waktu di jalan? Kan masih banyak bengkel yang buka”

“Bapak nggak pegang uang, Bu”

Ibu tak melanjutkan pertanyaan. Bapak masuk kamar. Diam-diam airmata Ibu menetes. Besoknya, Ibu menelepon dan menceritakan peristiwa itu kepadaku. Aku nyaris tak percaya. Tanpa kusadari, air mataku membasahi pipi.

Sekelumit pengalaman tersebut yang kian membuatku menyadari betapa pentingnya kita bersolidaritas di jalan raya sebagai sesama pengendara motor. Meski pun kita tidak saling kenal. Menurutku, bantulah mereka yang mendorong motor di jalan, sebisa kita. Walau mereka tak memintanya. Satu hal yang sering kuingat, “bila aku mengalami kecelakaan motor di jalan raya, maka pengendara motor dan orang-orang di sekitar lokasi kejadianlah yang pertama akan menolongku.”

Lalu bagaimana bila ada orang yang motornya mogok tapi itu sengaja dijadikan modus untuk berbuat kejahatan? Yup, hati dan niat orang emang kita nggak tahu. Maka, pendapatku, paling utama gunakan feeling, intuisi atau suara hatimu. Karena kamu yang lebih tahu situasi di situ. So, jadikan setiap hilir mudik kita di jalan raya sebagai pelajaran hidup. “Orang berbuat baik itu nggak ada ruginya.” Pesan Bapakku, satu waktu.

Senayan, 31 Maret 2015

Salam

@lukmanhzuhdi

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s