Manusia Baru

halo… tante, om, bapak, ibu, kawan dan semua pengunjung blog komunitas amam, perkenalkan saya manusia baru bernama Zahid Al-Fatih alias ‘Lukman Junior’ yang –insya Allah– kelak akan meneruskan perjuangan Lukman Senior (penjaga blog ini)… salam kenal buat semua….makasih.

My Baby 03

Iklan

MENDAHULUKAN NIKAH ATAU KULIAH? (tulisan bagian satu)

Penulis Lukman Hakim ZuhdiJika diberi tiga pilihan, mana yang akan Anda ambil; menikah ketika masih kuliah, menikah setelah lulus kuliah atau mengorbankan kuliah gara-gara sudah menikah?

 

Sudah hampir sebulan Mardiyah (45) –nama samaran—tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya benar-benar sedang kalut. Ibu yang dikenal sebagai pedagang sembako sukses itu belum lama ini mendengar kabar kurang sedap. Erla, putri pertamanya, yang sedang menuntut ilmu di Kota Pelajar, dikabarkan sering keluar malam bersama pacarnya. Bahkan, informasi yang sampaikan rekan-rekan kuliah Erla kepada Mardiyah, Erla kerap menginap di kost kekasihnya.

Kebimbangan Mardiyah sungguh beralasan. Dalam seminggu terakhir, Erla sudah dua kali menelepon minta ditransfer uang dalam jumlah besar. Ini tidak seperti biasanya, pikir Mardiyah. Ia tidak mau kuliah anak kesayangannya yang hampir lulus itu terganggu gara-gara pacaran. Apalagi, kemarin sore Mardiyah melihat berita di televisi bahwa sepasang mahasiswa tertangkap warga saat berasyik-masyuk di kamar kost.

Di surat kabar, Mardiyah juga membaca berita seorang mahasiswi hamil di luar nikah. Sang kekasih yang telah merenggut keperawanannya. Alasannya sama-sama suka alias atas nama cinta. Akibatnya, semua mahasiswa yang melakukan perbuatan memalukan itu dikeluarkan dari kampus secara tidak hormat. .

Atas dasar itu, Mardiyah berniat menengok Erla. Tujuannya untuk mengecek kebenaran berita sekaligus menasehatinya. Ia meminta izin kepada Subali (50), suaminya. Namun, sang suami justu melarang kepergiannya. Subali seperti tidak mampu membaca kegelisahan istrinya. Subali yakin, Erla tidak mungkin berbuat nekad yang bisa mencoreng wajah orang tuanya. Pasalnya, cetus Subali, Erla sebelum masuk kuliah sudah 6 tahun mengenyam pendidikan pesantren. Mardiyah kecewa.

Diam-diam, rupanya Mardiyah berangkat sendirian dengan menggunakan bus umum. Setelah menempuh perjalanan 6 jam, ia sampai di depan kost Erla, menjelang waktu Ashar. Alangkah terkejutnya ketika ia mengetahui Erla sedang bercumbu dengan pacarnya. Keduanya sambil berpelukan. Kebetulan, pintu kostnya tidak terkunci, hanya ditutup biasa.

Astagfirullah…Erla!!!” pekik Mardiyah, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Erla terperanjat. Wajahnya seketika memerah. Ia tak menyangka ibunya datang dari kampung. Biasanya, ibunya selalu memberi tahu terlebih dahulu. Tapi, kali ini, ibunya menjenguk secara tiba-tiba. Erla segera merapikan dua kancing bajunya yang terlepas. Mulutnya tak bisa berkata-kata. Kekasihnya juga diam seribu bahasa. Keduanya menunduk malu. Mardiyah yang masih mematung di tengah pintu, spontan menitikan air mata. Erla segera beranjak, merangkul ibunya. Tangisnya meledak.

“Maafkan Erla, Bu…”

“Ibu benar-benar kecewa! Sekarang tinggal pilih; kamu mau menyelesaikan kuliah yang sebentar lagi atau pulang dan menikah saja dengan pacarmu itu?” cetus Mardiyah, kelihatan geram.

“Erla ingin tetap kuliah, Bu. Erla janji nggak akan pacaran lagi sebelum lulus kuliah…” suara Erla mengiba.

Itulah sepenggal kisah nyata yang acap terjadi di kalangan mahasiswa dan mahasiswi, terutama di kota-kota besar. Mereka merasa bisa hidup bebas di kost, jauh dari kontrol orang tuanya. Apalagi jika pemilik kost tidak mau peduli dengan para penghuninya. Bagi pemilik kost, yang penting uang pembayarannya lancar. Akibatnya, pergaulan dan gaya pacaraan mereka sering kelewat batas. Mereka tidak risih jika kerap berduaan dengan kekasihnya di dalam kost dalam keadaan pintu tertutup.

Kondisi demikian, menurut psikolog Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si, tentu tidak baik dan sangat berbahaya. Pasalnya, Zahrotun Nihayah 02bila mereka sudah betul-betul lepas kendali, bukan saja orang tuanya yang kecewa. Tapi bagi mahasiswa yang bersangkutan juga akan kehilangan muka di depan rekan-rekannya. Perguruan tinggi tempat mereka menimba ilmu pun ikut tercemar namanya. Maka, saran dosen psikologi Universitas Paramadina Jakarta itu, sebaiknya dinikahkan saja.

Senada dengan Zahrotun Nihayah, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA, melihatnya dari kacamata agama. Ahsin Sakho berpendapat, idealnya sebuah pernikahan dilaksanakan setelah mahasiswa atau mahasiswi tamat S1. Hal ini dimaksudkan agar kuliah mereka tidak terganggu. Tapi, jika ada hal-hal yang menurut pertimbangan agama untuk disegerakan menikah, maka tidak boleh ditunda-tunda lagi.

“Misalkan ada mahasiswa dan mahasiswi yang sudah terlalu lama berpacaran. Sekarang keduanya semester 7, 8 atau hampir lulus. Nah, daripada orang tua khawatir mereka akan semakin terjerumus dosa dan kemaksiatan, maka segera dinikahkan. Itu boleh saja. Toh langkah tersebut untuk menghindari fitnah dan demi kemaslahatan bersama,” kata rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta itu.

Perlu Adaptasi

Menikah dan kuliah sesungguhnya dua dunia berbeda yang sama pentingnya. Secara sederhana bisa digambarkan, menikah jelas kaitannya dengan rumah tangga. Adapun kuliah hubungannya dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan di perguruan tinggi, universitas atau kampus. Namun, bagi para mahasiswa maupun mahasiswi –termasuk orang tua mereka—, setidaknya kedua hal itu tetap memiliki korelasi untuk kebaikan masa depannya.

Berikut sekadar contoh. Dari sepuluh mahasiswa S1 semester akhir yang ditemui Anggun, delapan mahasiswa menjawab bahwa mereka akan menikah setelah lulus kuliah. Alasannya sederhana, mereka ingin mempunyai pekerjaan tetap terlebih dahulu agar bisa menafkahi istrinya. Hanya dua mahasiswa yang menjawab siap menikah ketika masih kuliah. Sebab, orang tuanya sudah mampu secara finansial. Jadi, untuk menafkahi istrinya, kedua mahasiswa itu bisa mengandalkan tabungan ayah dan ibunya.

Sebaliknya, dari sepuluh mahasiwi yang diberi pertanyaan sama dengan di atas, hampir semua menjawab bersedia menikah sebelum lulus kuliah. Mereka tidak khawatir kuliahnya jadi terganggu. Argumen yang dikemukakan macam-macam. Ada yang karena kekasihnya sudah mapan. Ada yang secara usia dan mental sudah siap. Ada yang takut kebablasan dalam berpacaran.

“Berdasarkan pengamatan saya terhadap mahasiswa dan mahasiswi saya, rata-rata yang lelaki lebih memilih menikah setelah lulus. Mereka ingin bekerja dan punya duit dulu. Bagi yang perempuan, sebelum lulus ada juga yang sudah menikah dan punya anak. Tapi itu tidak menghalangi tugas kuliahnya. Nah, semua itu tergantung dari niat, motivasi dan latar belakang masing-masing individunya,” beber Zahrotun Nihayah, yang kini menjabat Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Zahrotun Nihayah bercerita, dulu dirinya menikah ketika masih kuliah semester 6 dalam usia 20 tahun. Ketika itu calon suaminya yang sudah bekerja menjamin bahwa kuliahnya tidak akan terhenti meski sudah menikah. Setelah mendengar pernyataan tersebut, Zahrotun setuju menikah dan orang tuanya merestui.

“Jadi, sebelum lulus kuliah, saya sudah punya anak. Kalau ditanya menikmati atau tidak, ya awalnya saya tidak menikmati. Karena saya harus pandai membagi waktu  untuk suami, kuliah, anak, dan teman-teman. Adaptasinya luar biasa berat. Butuh proses dan waktu. Untungnya saya dapat support penuh dari orang tua, suami dan lingkungan. Alhamdulillah semuanya bisa berjalan lancar. Dan saya juga tidak merasa kehilangan masa muda, kok,” paparnya seraya melempar senyum.

Seseorang yang mengambil keputusan menikah sebelum lulus kuliah, Zahrotun mengingatkan, harus mengetahui segala konsekuensinya. Mengingat setelah menikah banyak yang berubah. Peran, tuntutan dan beban dengan sendirinya jadi bertambah.  Umpamanya harus pintar mengatur waktu dengan baik, menyadari jam belajar dan waktu bermain dengan sesama teman pasti berkurang.

A Fahrurodji 02Selain itu, kata Ahmad Fahrurodji, MA (38), seseorang harus bisa menempatkan posisinya kapan sebagai istri, suami atau mahasiswa. Dengan begitu, staf pengajar program studi Rusia di Universitas Indonesia itu yakin semua kewajiban dapat terpenuhi tanpa mengorbankan yang lainnya.

“Di situlah dibutuhkan pengertian dari pasangan untuk saling membantu dan bekerja sama. Ini kan karena dua kekuatan (suami istri) menjadi satu di bawah satu atap. Misalnya kalau istrinya ada tugas kuliah yang harus diselesaikan, sementara dia sibuk mengurus anak dan rumah tangga, kan suaminya bisa membantu membuatkan konsep atau mengetikan makalahnya,” tukas ayah dari Nasha Kalina Khairun Nisa (7) dan Milaya Salma Khairania (1).

Memanfaatkan Kesempatan Emas

Ketika ada tawaran antara menikah dan kuliah, Ahsin Sakho lebih memilih kuliah. Baginya, menikah adalah urusan nomor dua yang bisa dilakukan kapan saja, tanpa mempersoalkan umur. Sementara kesempatan kuliah di luar negeri, hanya sekali itu menghampirinya.

“Makanya, waktu menikah umur saya 30 tahun, sedangkan istri 20 tahun dan masih kuliah. Saya berfikir, istri saya tidak boleh terhenti kuliahnya gara-gara dia sudah menikah. Itu penting sebagai bekal masa depannya. Alhamdulillah, Ahsin Sakho M 04rupanya istri juga tetap bersemangat kuliah walau merangkap sebagai ibu rumah tangga,” ujar Ahsin Sakho, yang pernah nyantri di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Lain ceritanya, kata Ahsin Sakho, bila dua tawaran tersebut diberikan kepada perempuan. Jika perempuan selalu memikirkan kuliahnya, padahal usianya mendekati 30, maka sebaiknya dia menikah dulu. Sebab, menurut dewan pengasuh Pondok Pesantren Dar Al Tauhid Arjawinangun itu, perempuan akan lebih rentan dengan masalah rahimnya.

“Masa kesuburan rahim perempuan lebih sedikit dibandingkan kaum lelaki. Kalau perempuan sudah menua, maka rahimnya semakin menciut. Apalagi jika usianya mencapai 40 tahun. Itu sudah kurang bagus untuk mempunyai anak,” tutur Ahsin Sakho.

Dede Permana Nugraha, MA, seirama dengan Ahsin Sakho. Dede Permana yang pernah belajar di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, mengaku sama sekali tidak tertarik untuk menikah sebelum bisa menyelesaikan program pasca sarjananya. Selain karena saat itu merasa usianya masih muda, ia juga tidak punya uang.

“Selama studi, saya hanya dapat beasiswa pada tahun pertama saja. Seterusnya, saya mencari uang sendiri. Saya menjadi koresponden majalah, penerjemah buku, guide wisata, petugas haji, dan mengajar bahasa Indonesia untuk orang Arab,” tutur pria yang meraih gelar sarjana strata satu di Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selama di Mesir, Dede Permana mengaku tidak iri sedikit pun dengan kawan-kawan mahasiswa yang sudah menikah. Di sana, Dede Permana justru melihat kenyataan kurang mengenakkan bahwa mereka yang telah menikah memiliki problem keuangan. Akibatnya, banyak di antara mereka yang masih minta kiriman uang dari  orang tuanya yang ada di tanah air. Menurut Dede Permana, padahal tindakan seperti itu tidak etis.

“Sejak masih di luar negeri, saya selalu berfikir bahwa menikah hanya akan dilakukan di Indonesia, setelah lulus kuliah. Karena saya ingin agar pernikahan saya dihadiri oleh ayah dan bunda, sosok yang paling berjasa dalam hidup saya. Alhamdulillah, di penghujung tahun 2007, impian saya terwujud; menikah,” ucap Dede Permana penuh syukur.

Pada akhirnya, Ahsin Sakho, Dede Permana, Zahrotun Nihayah, dan Ahmad Fahrurodji sepakat, menikah sebelum lulus kuliah tidak akan mengganggu proses studi seseorang. Hal tersebut dapat terwujud jika seseorang mampu memahami tugas, peran, kewajiban, dan posisinya sebaik mungkin. (dimuat di Majalah ANGGUN Edisi Mei 2009)

Jika Pasangan Harus Kuliah di Luar Negeri (tulisan bagian dua)

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Belum genap lima belas hari Ismail menikmati masa-masa indah sebagai pengantin baru. Namun, ia harus rela ditinggalkan Yulianti, istri tercintanya. Yulianti akan berangkat ke Australia untuk menempuh pendidikan program pasca sarjana (S2).  Di sana, kurang lebih tiga tahun Yulianti akan bermukim untuk mencari ilmu. Jauh-jauh hari, Yulianti telah mengantongi tiket beasiswa kuliah.

Memang, sebelum melangsungkan proses pernikahan, Yulianti sudah membicarakannya dengan Ismail. Ismail pun menyetujuinya. Ismail sadar betul istrinya punya keinginan yang kuat untuk menambah ilmu pengetahuan demi mengembangkan karirnya di masa mendatang. Akhirnya Yulianti sendirian berangkat ke Negeri Kanguru. Sedangkan Ismail tetap tinggal di Indonesia dan bekerja sebagai karyawan swasta.

Menyikapi kasus tersebut, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA, mengatakan itu hal yang biasa. Maksudnya banyak Ahsin Sakho M 06juga terjadi pada mahasiswa atau mahasiswi Indonesia yang studi di negeri orang. Pria kelahiran Arjawinangun, Cirebon, 21 Februari 1956 itu pernah mengalami hal yang sama. Setelah menikah, Ahsin Sakho sendirian pergi ke Madinah untuk keperluan kuliah.

“Istri saya ditinggal di rumah bersama mertua. Pada waktu itu belum ada handphone seperti zaman sekarang. Kalau kangen sama istri, saya langsung kirim surat. Bahkan setiap setengah bulan sekali, saya selalu kirim surat. Terkadang balasan surat dari istri belum datang, saya sudah kirim surat lagi. Itu karena rasa rindunya yang menggebu…” kenangnya sembari tersenyum.

Ahsin Sakho kini telah berhasil menyelesaikan program S1, S2 dan S3 di Universitas Islam Madinah selama 12 tahun. Dulu, jika ada uang dan waktu, doktor dalam bidang tafsir Al-Quran itu menyempatkan diri pulang ke Indonesia setahun sekali.

“Memang, kalau bisa idealnya istri dan anak-anak sekalian dibawa ke sana. Agar bisa dekat secara fisik dan emosional. Tapi kadang kan terhalang persoalan finansial. Karena biasanya beasiswa hanya ditujukan bagi penerima beasiswa, tidak mencakup biaya hidup istri dan anak. Ya mau nggak mau akhirnya mereka tidak ikut,” cetusnya.

Ahmad Fahrurodji, MA, senada dengan Ahsin Sakho. Lulusan Lomonosov Moscow State University Rusia itu A Fahrurodji 05menceritakan, pemerintah Rusia juga hanya mengcover beasiswa bagi penerima beasiswanya saja. Artinya, jika ada mahasiswa atau mahasiswi Indonesia yang hendak membawa pasangannya, maka biaya hidupnya ditanggung sendiri.

Fahrurodji mengaku, dirinya tidak berpikir untuk mencari jodoh saat tahun 1997 berangkat ke Negeri Beruang Merah untuk menempuh studi S2. Niatnya murni demi mendalami sejarah, kebudayaan dan bahasa Rusia, sesuai minat dan gelar sarjana strata satunya. Apalagi ketika itu usianya baru 27 tahun. Usia yang menurut perhitungannya belum siap untuk berumah tangga, selain alasan belum punya pekerjaan tetap.

“Memasuki tahun kedua tinggal di Rusia, saya ketemu mahasiswi Indonesia. Dia adik kelas saya dan pamannya kerja di KBRI. Mulanya saya merasa biasa saja ketika berinteraksi dengannya. Eh, lama-lama ada rasa dan cocok. Secara kebetulan, masa kerja pamannya di sana hampir selesai. Nah, karena dia (calon istri) di sana sendirian, akhirnya diputuskan kami menikah saja demi kebaikan bersama. Lagi pula, biaya hidup jadi lebih murah kalau hidup bersama,” tukas suami dari Fitri Nuryati, MA, yang kini menduduki jabatan asisten direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia di Jakarta.

Lain lagi cerita yang disampaikan Dede Permana Nugraha, MA. Selama 4 tahun memperdalam ilmu di Mesir dan 2 tahun di Tunis, tidak sedikit kawan-kawan kuliahnya yang sudah menikah. Namun, kuliah mereka justru jadi lambat, terganggu dan tidak tepat waktu. Di antara salah satu penyebabnya, dimungkinkan karena pasangan hidup mereka berada jauh di tanah air.

“Bahkan ada kawan saya yang akhirnya pulang ke Indonesia tanpa membawa ijazah. Boleh dikatakan dia gagal mencapai cita-citanya,” tukas pria yang kini mengajar di STAIN Serang, Banten.

Sementara itu psikolog Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si, menegaskan, bila salah satu pasangan harus kuliah di luar negeri, maka kedekatan secara fisik otomatis berkurang. Padahal faktor itu sangat penting, mengingat dampaknya pada Zahrotun Nihayah 04psikologis. Apalagi bagi pasangan muda atau yang baru menikah, dimana aspek kebutuhan biologis seksualnya masih tinggi.

Nah, ketika suami istri dipisahkan oleh jarak dan waktu yang relatif lama, maka ketahanan dan kemampuan pengendalian diri dari keduanya harus bagus. Pengendalian diri itu faktor penentunya agama dan keimanan. Kalau nggak begitu, nanti yang satu lari kemana, yang satu kecantol ke siapa. Apalagi di negara Eropa yang kehidupannya bebas sekali,” jelas dosen psikologi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) ini.

Namun demikian, sambung Zahrotun Nihayah, dengan berbagai kecanggihan teknologi, pasangan yang terpisah itu jadi ‘terasa dekat’. Setidaknya sementara waktu bisa untuk melepaskan rasa rindu yang menggelora. Selain itu, sebelum memutuskan kuliah di luar negeri, pasangan suami istri sebaiknya membicarakan terlebih dahulu. Misalnya apa saja motivasi dan tujuan belajar di luar negeri.

“Dengan adanya kesamaan persepsi dan komitmen yang kuat, maka yang ditinggalkan merasa tenang. Sedangkan bagi yang meninggalkan, bisa belajar dengan penuh konsentrasi dan diharapkan dapat menyelesaikan studinya tepat waktu,” pungkas Zahrotun Nihayah. (dimuat di Majalah ANGGUN, Edisi Mei 2009)

Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA; “Menikah dan Kuliah Sama-sama Penting”

Menikah adalah sesuatu yang sangat dianjurkan agama. Tentunya hal ini ditujukan bagi yang istitho’ah. Artinya orang yang sudah mampu dan siap secara mental, usia maupun keadaan finansialnya. Pada saat yang lain, ayat Al-Quran dan hadis juga mengingatkan bahwa setiap muslim harus belajar (baca kuliah). Dengan adanya proses studi, orang antara lain bisa mengetahui hal baru. Keduanya memang sama-sama penting. Bagaimana Dr. KH. Ahsin Ahsin Sakho M 07Sakho Muhammad, MA menguraikan dua bidang yang berbeda tersebut? Berikut petikan wawancara Lukman Hakim Zuhdi dengan Rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta dan Ketua Tim Penyempurnaan Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia itu.

Apa sebetulnya tujuan orang menikah?

Pertama untuk melahirkan generasi manusia yang akan menggantikan generasi sebelumnya. Dengan begitu, dunia ini bisa diramaikan oleh generasi-generasi baru. Sudah tentu generasi yang diinginkan oleh Allah SWT adalah generasi yang bisa menjadi khalifah fil ardhi. Generasi yang beribadah, memiliki akhlakul karimah, punya kualitas keilmuan dan keimanan yang baik. Sehingga mereka bisa berinteraksi dengan Allah SWT, masyarakat dan alam semesta secara baik dan seimbang.

Kedua untuk menyalurkan hasrat seksual manusia yang begitu besar. Hal ini harus sesuai dengan aturan Allah SWT melalui lembaga pernikahan. Di dalam proses pernikahan, ada perjanjian dan ikatan yang kuat dan berat. Al-Quran menyebutnya mitsaqan ghalida. Kuat karena sanggup merubah sesuatu yang semula haram menjadi halal. Berat sebab ada konsekuensi dari segi hukum yang harus dipertanggung jawabkan dengan penuh kesadaran.

Kalau tujuan orang kuliah?

Dalam Islam, yang menjadi titik tekan adalah anjuran mencari ilmu, bukan kuliahnya. Kuliah hanyalah salah satu tahapan dan teknis dalam pelaksanaan mencari ilmu. Agama telah menegaskan, mencari ilmu wajib dilakukan oleh semua orang muslim. Al-Quran tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya punya hak dan kesempatan yang sama.

Allah SWT berfirman, hal yastawil ladzina ya’lamuuna walladzina la ya’lamuun. Artinya, tidak sama orang yang berpengetahuan dengan orang yang tidak berpengetahuan. Orang yang berpengetahuan tentu banyak keutamaannya. Menurut saya, tujuan kuliah ialah sebagai fase pendewasaan jiwa dan akal pikiran. Dengan kuliah, cakrawala pengetahuan seseorang akan lebih luas. Sehingga pada saat seseorang kuliah itu akan menjadi masa yang menentukan bagi kehidupan mendatang.

Adakah benang merah antara menikah dan kuliah?

Dengan adanya pernikahan, maka terbentuklah sebuah rumah tangga. Hakikatnya rumah tangga adalah suatu madrasah, sekolah atau tempat belajar bagi orang-orang yang ada di dalamnya. Hanya saja ini dalam tataran yang praktis. Sementara kuliah merupakan sebuah jangkauan ilmu pengetahuan dalam tataran yang teoritis. Nah, saya melihat titik temunya ada pada aspek dan proses pembelajarannya. Meskipun cara maupun medan di antara keduanya tidak sama.

Apakah ada jaminan bahwa seseorang yang telah memiliki gelar kesarjanaan mampu meminimalisir konflik dalam rumah tangga?

Saya kira, konflik dalam rumah tangga umumnya lebih banyak pada masalah kejiwaan. Maksudnya, sampai dimana sepasang suami istri bisa bersikap dewasa, memiliki tenggang rasa dan jiwa yang agung. Ada hal-hal yang perlu ditolerir dan tidak ditolerir. Di sinilah masing-masing harus bisa saling mendekati untuk mencari titik kesamaan. Jangan ketidaksamaannya yang dicari, karena nanti bisa ribut terus. Kalau sudah begitu, rumah tangga bakal tidak langgeng.

Seseorang yang sudah mengenyam pendidikan tinggi (sarjana) dan punya wawasan akademis, Insya Allah bisa mengelola dan menyelesaikan konflik yang terjadi dalam rumah tangganya. Setidaknya dia sudah paham ilmu manajemen konflik. Misalnya jika suaminya begini, maka bagaimana strategi istrinya untuk menghadapinya. Begitu pula sebaliknya. Terpenting, dalam rumah tangga yang dibutuhkan saling memahami. Dan unsur saling memahami ini tidak ada kaitannya dengan gelar kesarjanaan.

Bagaimana menyikapi persoalan jika salah satu pasangan (suami atau istri) kuliah di luar negeri supaya rumah tangganya tidak berantakan?

Pertama kali yang perlu diingat, suami atau istri harus saling menjaga kehormatannya, selain mengerti tanggung jawab masing-masing. Orang-orang menyebutnya tidak boleh ada dusta di antara kita. Nah, sebelum berangkat ke luar negeri, sebaiknya dibicarakan secara transparan, detail dan segala kemungkinan yang bakal timbul serta antisipasinya. Umpamanya si istri ngomong ke suaminya, “Pa, ini ada tawaran beasiswa menarik untuk melanjutkan studi di Kanada. Sisi positifnya, bila nanti kembali ke Indonesia, saya akan ditempatkan di lembaga tertentu dengan posisi strategis. Bagaimana menurut Papa?”

Suaminya lalu mengizinkan istrinya pergi. Sementara suaminya tidak bisa menemani istrinya, karena di Indonesia juga punya kesibukan sendiri. Menurut saya, yang seperti itu nggak masalah. Kalau seandainya sudah ada komitmen berdua, maka boleh saja suami atau istri kuliah di luar negeri. Tapi, kalau bisa jangan sampai terlalu lama di sana. Ya paling tidak disempatkan setahun sekali pulang. Apalagi sekarang zaman teknologi serba canggih, ada telepon dan internet. Komunikasinya jadi mudah dan bisa kapan saja.

Ahsin Sakho M 05Adakah resep khusus agar dalam waktu yang bersamaan, seseorang bisa sukses di kuliah juga sukses di rumah tangga?

Sekarang ini, dalam alam globalisasi, orang dituntut untuk memperbanyak ilmu pengetahuan, berfikir secara logis, objektif dan efisien. Apalagi bagi masyarakat yang hidup di perkotaan, yang terus dituntut untuk meningkatkan intelektualitas dan kemampuan dirinya sendiri. Sementara menikah dan berkeluarga adalah sunatul ambiya wal mursalin. Sebagaimana firman Allah SWT, walaqad arsalna rasulan min qablika wa ja’alna lahum ajwaza wa durriyah. Mereka –para nabi dan rasul—mempunyai pasangan (istri), keluarga dan keturunan. Jadi, jangan sampai seseorang menjadi egois. Misalnya dia nggak akan menikah, maunya kuliah saja, atau sebaliknya. Kalau begitu, kan berarti dia melawan naluri alamiahnya sebagai manusia.

Selanjutnya, jika ada kesempatan untuk kuliah, maka manfaatkan sebaik mungkin. Pergunakan waktu yang tersedia untuk menyelesaikan program dan menguasai ilmunya. Jangan sampai menunda atau bermalas-malasan, karena nanti bisa menyesal di kemudian hari. Namun begitu, di sisi yang lain kewajiban dan tugas penting dalam rumah tangganya tidak boleh terbengkalai. Umpamanya dengan alasan sibuk kuliah, terus keluarga menjadi korbannya. Ini tidak boleh terjadi. Di sinilah faktor kedewasaan, kecerdasan emosi, kecakapan komunikasi, dan kemampuan membagi waktu menjadi kunci demi mencapai kesuksesan keduanya. (dimuat di Majalah ANGGUN, Edisi Mei 2009)