Enak di Luar, Lebih Enak di Dalam

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Keinginan untuk total berkarir, berkarir merangkap ibu rumah tangga atau sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga, hanyalah soal pilihan bagi perempuan. Setiap opsi tentu membawa implikasi yang berbeda. Bagi sebagian perempuan, berkarir –dalam arti bekerja mencari nafkah—dilandasi oleh berbagai faktor. Antara lain kebutuhan hidup yang terus meningkat, sementara penghasilan suami kurang dari mencukupi. Bisa jadi, keputusan untuk berkarir lantaran semata ingin mengaplikasikan ilmu, membagi keahlian dan kemampuan, menyalurkan hobi, atau sekadar mencari pengalaman baru, meski gaji suami sudah bisa untuk menutupi segala keperluan keluarga.

Sri Lintang Rosi Aryani, S.Psi, perempuan yang dicalonkan oleh PKS untuk merebut satu kursi di DPRD Provinsi Banten, pada pemilu 2009, mengaku perlunya pengembangan diri dan berdakwah (amar makruf nahi munkar) sebagai alasan utama terjun ke ranah politik. Sebetulnya, Lintang Rosi tidak ingin berpolitik, tapi hatinya tergerak untuk memberdayakan kaumnya yang selama ini dipersepsikan tidak mempunyai kesempatan berkiprah sebagaimana halnya kaum adam. Hal ini pun dilakukan lantaran ada pijakan lainnya.

“Kebetulan waktu membuat skripsi saya mengambil judul Kepuasan Ibu Rumah Tangga yang Bekerja dan Tidak Bekerja. Jadi, saya tahu plus minusnya jadi ibu rumah tangga. Dulu, setelah menikah, beberapa tahun saya benar-benar menjadi ibu rumah tangga. Saya menikmati. Apalagi ketika saya bisa mengembangkan diri di luar rumah, saya merasa ada kepuasan batin tersendiri,” tutur alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, tersenyum ceria.

Mantan sekretaris direktur PT. Indographica (Indo-Group), Salma Dian Priharjati, punya alasan berbeda ketika dirinya lebih memasuki dunia usaha. salma-dian-priharjati-03Praktisi totok aura dan pemilik PT. Dian Kenanga Mandalawangi ini menuturkan, Allah SWT telah menganugerahinya suatu kemampuan khusus kepada dirinya bisa membuka aura orang lain, tanpa unsur klenik, susuk, jampi-jampi atau kepulan asap kemenyan layaknya paranormal. Dian merumuskan totok aura sebagai metode terapi yang menggunakan media bio energi yang dialirkan melalui teknik acupressure pada titik-titik di wajah dan tubuh. Dengan dibukanya aura, energi seseorang menjadi lebih sehat lahir batin, penampilan maksimal dan bagi perempuan, kecantikannya bertambah alami.

“Saya yakin, bisnis ini menjadi salah satu lahan ibadah saya, karena bermanfaat dan diminati orang lain, selain menambah pemasukan bagi keuangan keluarga,” tukas pelopor totok aura pertama di Indonesia, meyakinkan.

Ainul Huda punya pandangan lain. Wanita murah senyum yang akrab disapa Nino ini menceritakan, ketika dirinya meniti karir selama delapan tahun di Rumah Sakit Puri Cinere bagian administrasi keuangan, tanpa disadari yang menjadi korban justru anak-anak dan keluarganya.

“Dengan saya bekerja, secara finansial memang menguntungkan keluarga, tapi kasih sayang saya terhadap anak-anak berkurang. Karena anak-anak selalu saya titipkan ke orang tua, saudara atau pembantu. Suami saya pernah protes, karena sesekali emosi saya tidak terkendali setelah capek pulang kerja, sementara anak-anak saya yang masih TK dan SD merengek-rengek minta sesuatu. Akhirnya saya keluar dari tempat kerja dan memilih jadi ibu rumah tangga saja,” beber istri Emilio Portaliano –usahawan— ini.

Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Dr. KH. Ahmad Mukri Aji, MA, MH, mengingatkan, seorang istri boleh berkarir dalam bidang apa saja di luar kegiatan rutin rumah tangganya. Mukri Aji memberi argumen, Islam tidak melarangnya, selagi istri memiliki alasan yang jelas, ada kompromi dengan suami dan anak-anaknya serta tetap menjaga stabilitas keluarganya.

“Bagi perempuan yang ingin berkarir di luar rumah memang perlu pertimbangan-pertimbangan yang cukup matang, biar tidak menyebabkan gejolak di kemudian hari,” cetus Mukri Aji.

Dian ingat betul pada awal merintis usahanya sangat membutuhkan kompromi dan pengertian dari suami dan keempat anaknya. Mulanya anak-anak merasa keberatan jika waktu ibunya lebih banyak dihabiskan di luar rumah. Beruntung, Dian mampu ‘merayu’ mereka. Apalagi, Drs. Aria Abiasa Taufik –suami Dian yang juga pebisnis— mendukung penuh rencana bisnisnya, karena Dian selalu melibatkan suami dalam setiap pekerjaannya. Kini, pada hari Sabtu dan Minggu, Dian dan suaminya mengkhususkan diri berkumpul dan berlibur bersama anak-anak. Bagi Dian, menjadi ibu rumah tangga sekaligus berbisnis dengan sendirinya mengalir saja, tanpa beban.

Begitu pula dengan Lintang Rosi yang telah mengantongi izin dari Arif Darmawan –suaminya yang berprofesi sebagai konsultan— dan keenam anaknya untuk berkarir. Lintang Rosi buru-buru menuturkan, sesibuk apapun sebagai konsultan pendidikan di beberapa sekolah elite, dirinya berusaha memasak dan menyiapkan makanan untuk suami, mengantar anak-anak ke sekolah serta memeriksa buku pelajaran, kendati pulang dari tempat kerjanya jam empat dini hari. Selain itu, setiap ada kesempatan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk bercengkerama dengan anak-anak, meski bukan pada hari libur.

ainul-huda-03“Bagi saya, bisa berkarir di luar rumah memang enak, tapi sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga lebih enak. Saya bangga bisa menemani anak-anak ketika mengerjakan PR sekolah, melihat hasil nilainya bagus, perkembangan dan pergaulannya terkontrol serta membuatkan kopi untuk suami. Sekalipun ada orang yang menawari saya untuk bekerja lagi di luar, saya tetap memilih di dalam (rumah). Sebab, kasih sayang dan kebahagiaan anak-anak dan keluarga tidak bisa diukur dengan uang,” tegas Ainul Huda, alumnus Diploma III  Tour and Travel Akademi Pariwisata Bunda Padang, Sumatera Barat. (Tulisan ini dimuat di Majalah ANGGUN No.3/II/Maret/2009)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s