Uang Panas di Saku Kiai NU

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Beduk Muktamar NU sebentar lagi dipukul. Tim sukses para calon semakin bersemangat demi menggolkan jagoan masing-masing. Berbagai cara dilakukan, mulai dari perang wacana, saling klaim dukungan, politik uang hingga shalat istikharah. Istana negara pun tak ingin ketinggalan moment bagus lima tahunan ini.

Selasa (23/03) siang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan membuka acara Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-32 di Celebes Convention Center, Makassar, Sulawesi Selatan, yang dihadiri sekitar delapan ribu orang. Pembukaan muktamar NU oleh kepala negara atau presiden sudah menjadi semacam tradisi di NU. Demikian ditegaskan ketua panitia pusat Muktamar NU KH Hafidz Usman, saat konferensi pers persiapan terakhir muktamar di kantor PBNU Jakarta, Kamis (18/3). Baca lebih lanjut

Iklan

Dr. KH Malik Madany, MA., Wakil Katib Syuriyah PBNU: “Maqom Hasyim Muzadi Bukan Rais ‘Am”

Sejak NU didirikan, kursi Rais ‘Am (pimpinan tertinggi di NU) dikenal sangat ‘sakral’, terhormat, penting, dan disegani warga NU. Orang atau tokoh yang mendudukinya pun tidak boleh sembarangan, mengingat tugas dan tanggung jawab Rais ‘Am sangat berat. Bersama jajaran Syuriyah (lembaga tertinggi), Rais ‘Am memiliki hak penuh untuk merumuskan arah, memutuskan kebijakan fundamental, menuntun serta mengendalikan NU.

Atas dasar itu, wibawa dan muru’ah (harga diri) Rais ‘Am dan Syuriyah sangat dijunjung tinggi sebagai posisi sentral di NU, yang melambangkan supremasi ulama. Lantas, siapa tokoh NU yang layak menjadi Rais ‘Am? Benarkah otoritas dan kesakralan Rais ‘Am bakal memudar lantaran posisi Rais ‘Am jadi lahan rebutan? Berikut petikan wawancara Indonesia Monitor dengan Dr. KH Malik Madany, MA., Wakil Katib Syuriyah PBNU, Sabtu (20/03). Baca lebih lanjut

Heinrych Napitupulu, Dirut PT PPI: Boron, Berbahaya Tapi Sangat Diperlukan

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Banyak cara untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Satu di antaranya menggunakan unsur boron. Meski produk ini berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan, nyatanya mampu mendongkrak penghasilan para petani.

Peranan sektor pertanian dan perkebunan sangat besar dalam pembangunan perekonomian nasional. Kontribusi keduanya terlihat nyata, semisal dalam penerimaan devisa negara melalui ekspor, penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi serta bahan baku berbagai industri dalam negeri. Terbukti dari beberapa komoditas pertanian Indonesia yang menduduki peringkat dunia, seperti lada putih, sawit, karet, beras, dan kakao. Baca lebih lanjut

Berebut Uang di Selat Sunda

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Pembangunan Jembatan Selat Sunda bertabur uang triliunan rupiah. Mega proyek ini harusnya dikawal sejak tahap perencanaan hingga peresmiannya nanti. Ini semata-mata agar anggarannya tidak merembes kemana-mana, mengingat ada isu bahwa Setneg kepingin mengurus JSS.

Menjelang akhir tahun 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani dan menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 36/2009 tentang Tim Nasional Pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) atau Sunda Strait Bridge. Tim ini diketuai oleh Menko Perekonomian, Menko Polhukam sebagai wakil, Menteri Pekerjaan Umum sebagai ketua harian, dan Menteri Perhubungan sebagai wakil ketua harian. Baca lebih lanjut

BI Rate Tetap 6,5%

Kepala Biro dan Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Difi A. Johansyah dalam siaranya persnya menyebutkan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 4 Maret 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5%. Keputusan diambil setelah mempertimbangkan bahwa BI Rate pada tingkatan tersebut dipandang masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi tahun 2010 dan 2011 sebesar 5% ± 1% serta masih kondusif bagi upaya memperkuat proses pemulihan perekonomian, stabilitas keuangan, serta intermediasi perbankan. Baca lebih lanjut

20th Anniversary Plaza Indonesia

Program ekonomi kreatif dan Gerakan Aku Cinta Indonesia yang dicanangkan Kementerian Perdagangan didukung Plaza Indonesia. Awal Maret 2010, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu secara resmi membuka Art Festival di Plaza Indonesia Shopping Center, Jakarta. Menurut Mari Pangestu, program seperti itu harus terus disosialisasikan, baik di kalangan masyarakat bawah, menengah hingga atas, sebagaimana target konsumen Plaza Indonesia. Baca lebih lanjut

Heka Hertanto, Direktur PT SAS: Padi Hibrida Solusi Ketahanan Pangan Nasional

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Kelangkaan beras yang kerap dialami masyarakat Indonesia secara perlahan akan semakin tertutupi dengan keberhasilan pengembangan padi hibrida oleh PT SAS. Pendapatan para petani juga meningkat. Dua jempol buat PT SAS.

Laju pertambahan penduduk di Indonesia sangat tinggi, per tahun ± 1,25%. Pertumbuhan ini tidak sebanding dengan peningkatan produksi beras setiap tahun, yang hanya ± 0,4%. Di sisi lain, luas lahan sawah semakin berkurang. Misal, kurang lebih 40 ribu hektar lahan sawah di Pulau Jawa beralih fungsi setiap tahunnya. Alhasil, Indonesia masih kekurangan beras, sehingga harus impor dari negara lain. Padahal, beras merupakan makanan pokok mayoritas rakyat Indonesia. Baca lebih lanjut