Cirebon Punya Nasi Jamblang, Lho…

Orang-orang dari luar kota sering bertanya via jejaring sosial facebook maupun twitter: apa kuliner yang paling enak, populer, menarik, berkesan dan melegenda di Cirebon? Jawablah: Nasi Jamblang!

Minggu lalu, ketika matahari siang menyengat, sekitar sepuluh mobil pribadi terparkir rapih di depan rumah makan Nasi Jamblang Ibu Nur Cangkring. Di sebelahnya berjejer lima belasan sepeda motor. Dari balik kaca, terlihat kurang lebih dua puluh orang lelaki dan perempuan dewasa rela antre berbaris. Satu per satu langkah kaki mereka terus maju. Mereka menunggu giliran agar bisa sampai di depan meja para pelayan berseragam kuning. Di tempat itu, para pelayan yang jumlahnya lebih dari sepuluh tak kalah sibuknya.

“Nasinya satu atau dua? Sambalnya sesendok, dua sendok atau tiga sendok? Lauknya silakan pilih dan ambil sendiri, lalu langsung bayar di kasir, di sebelah sana,” kata seorang pelayan berusia 23 tahun. Bagi pembeli yang kali pertama datang ke tempat itu, pertanyaan seperti itu mungkin terdengar aneh. Masak mau makan saja ditanya nasinya berapa, sambalnya berapa. Huh, ribet! Eits, tak perlu sewot dulu. Memang begitu tradisi jika mau makan Nasi Jamblang Ibu Nur. Khusus nasi dan sambal cabai merahnya diambilkan pelayan, lauk yang beraneka rupa dipilih sendiri sesuai selera.

Nama Ibu Nur sebagai pemilik rumah makan nasi jamblang sudah cukup familiar di Kota Cirebon, Jawa Barat. Selain Nasi Jamblang Ibu Nur, Nasi Jamblang Mang Dul dan Nasi Jamblang Pelabuhan terbilang yang paling sering diserbu pembeli setiap harinya. Pembelinya datang silih berganti. Tak perlu ngambek jika kebetulan kita ke situ tidak kebagian tempat duduk. Bersabarlah. Warung makan Ibu Nur dan Mang Dul lokasinya tak jauh dari Mall Grage Cirebon. Abang-abang becak yang saban hari beroperasi di pusat Kota Cirebon, dipastikan mafhum tempatnya.

Nasi Berbungkus Daun Jati  

Nasi jamblang salah satu kuliner khas dan asli Cirebon. Masyarakat lokal biasa menyebut sega jamblang –sega artinya nasi—. Nama Jamblang sendiri diambil dari nama kecamatan sekaligus nama desa di Kabupaten Cirebon. Dahulu, sebelum Indonesia merdeka, di Jamblang ada seorang pengusaha pribumi bernama Haji Abdulatif (Ki Antra) yang punya usaha dan kuli cukup banyak. Para pekerjanya berasal dari wilayah Cirebon di luar Jamblang.

Banyaknya buruh lepas yang tidak membawa bekal makanan, membuat Haji Abdulatif meminta istrinya, Nyonya Tan Piauw Lun (Nyonya Pulung) mengurus keperluan makan para pekerja. Makanan setiap hari dibagi secara cuma-cuma alias gratis. Pada masa itu, kebetulan semua jenis makanan, termasuk nasi jamblang, dibungkus daun pisang klutuk (pisang batu). Namun, nasi jamblang tidak bertahan lama, rasanya pun kurang greget. Nyonya Tan Piauw Lun memutar otak.

Nyonya Tan Piauw Lun sering melihat kebiasaan para pekerja yang menutup kepalanya dengan daun jati agar tidak terkena terik panas matahari. Daun jati memang tidak mudah rusak atau robek ketika diterpa angin. Dicobalah daun jati sebagai pembungkus nasi jamblang. Ternyata, aroma nasi jamblang tetap terjaga, semakin sedap, nikmat dan istimewa. Bahkan daun jati bisa mengawetkan nasi jamblang meski dibungkus dalam waktu cukup lama. Tentu saja para pekerja senang.

Nyonya Tan Piauw Lun mulai memesan banyak daun jati guna membungkus nasi jamblang.  Bersamaan dengan itu, ide bisnis pun muncul. Disebutkan dalam sejarah, tahun 1907 Nyonya Tan Piauw Lun tercatat sebagai generasi pertama yang berdagang nasi jamblang dengan bungkus daun jati. Beruntung, masyarakat merespon baik, sehingga kabar beredar cepat, dari mulut ke mulut. Sejak itulah mulai tumbuh dan berkembang penjual nasi jamblang berbungkus daun jati hingga eksis sampai hari ini.

Di wilayah Cirebon, saat ini rasanya tidak sulit menemukan pedagang nasi jamblang. Di sana ada puluhan, bahkan mungkin ratusan pedagang yang tersebar dimana-mana. Maklum, nasi jamblang dijajakan mulai dari pedagang keliling, warung kaki lima, rumah makan hingga tersedia di hotel bergengsi. Penyuka nasi jamblang bukan cuma masyarakat lokal. Wisatawan yang pernah jalan-jalan ke Cirebon, tidak sedikit yang telah mencoba dan mengakui kenikmatannya.

Bukan cuma nasi dibungkus daun jati yang mengorbitkan nasi jamblang. Nasi yang dibungkus rata-rata seukuran kepalan tangan orang dewasa. Sambal cabai merah irisan yang mantap dan nendang dilidah juga jadi daya tarik tersendiri. Biasanya, setiap satu sendok sambal ada harganya. Misal kita mau nambah sambal lagi, harganya juga ditambah. Ini salah satu yang membedakan warung nasi jamblang dengan warung nasi lainnya.

Daya tarik nasi jamblang lainnya pada lauk pauk yang tersedia sangat bervariasi. Ada sate kentang, sate telur puyuh, perkedel, daging semur, paru goreng, ampas kecap, tahu, tempe sampai makanan laut. Kalau di rumah makan kondang seperti Nasi Jamblang Ibu Nur dan Mang Dul, jumlah lauknya bisa mencapai dua puluh sembilan jenis. Hampir semuanya ditaruh dibaskom kecil bernuansa kuno nan sederhana. So, cobalah makan nasi dan lauk di atas daun jati. Sensasinya beda, lho. Soal harga, percayalah tidak sampai menguras kantong pembeli. Silakan buktikan sendiri.

Duta Besar Amerika Serikat Scot Marciel disuguhi nasi jamblang ketika berkunjung ke Balai Kota Cirebon, akhir April 2013. Petugas catering yang hadir menuturkan, Scot Marciel bersama rombongan nyicipi dan kesengsem dengan nasi jamblang. Oh iya, satu lagi yang perlu dicatat. Di luar Cirebon, semisal di kota besar seperti Jakarta, tidak mudah kita menemukan penjual nasi jamblang. Berbeda dengan penjual pecel lele atau nasi kucing yang berderet di pinggir jalan. Beberapa pedagang nasi jamblang di Jakarta saja mengaku, lembaran daun jati dan bahan baku nasi jamblang secara rutin dikirim langsung dari Cirebon. Heeemmmm… (Lukman H Zuhdi. Tulisan ini dimuat di Majalah NUSA edisi Juli 2013, halaman 52-53)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s