Cara Asyik Menteri Roy

Menteri Pemuda dan Olahraga ngebut, kunjungan sana sini. Beragam terobosan terus dilakukan. Semuanya demi Merah Putih.

Terekam jelas dalam ingatan soal geger publik ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan hingga melantik Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Roy Suryo Notodiprojo sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), medio Januari 2013. Di jejaring sosial, suara publik mayoritas nyinyir. Di forum diskusi, celotehan hingga caci maki tak kalah pedasnya. Di media massa, pendapat yang kontra dan pro beradu. Pendek kata, jika diprosentase, yang menolak pengangkatan Roy Suryo lebih banyak ketimbang yang mendukung.

Keraguan dan cemoohan publik tidak membuat Menteri Roy minder atau mundur. Dengan gaya khasnya, Menteri Roy tetap menebar senyum optimis, tanpa banyak menanggapi suara sinis. Pria berkumis ini mengaku hanya ingin berkonsentrasi dengan tugas dan tanggung jawabnya serta menjalankan amanat Presiden. Menteri Roy sadar betul, tugasnya sangat tidak ringan, apalagi waktunya pendek. Kemenpora sedang dihajar kasus korupsi Hambalang, prestasi cabang olahraga trennya melorot, para pemuda pun seolah tak terurus. Singkatnya, citra kementerian ini remuk.

Islah, E-Coordination Hingga ICW

Adu argumen dan unjuk kekuatan antara KPSI dengan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia)  tengah memuncak ketika Menteri Roy diangkat. Menteri Roy berjanji akan  berupaya mendamaikan sekaligus menyelesaikan. Ini satu dari sekian pekerjaan berat pertamanya. Menteri Roy sigap dengan langsung menemui Arifin Panigoro dan Nirwan Bakrie, yang diduga publik sebagai tokoh sentral dibalik kisruhnya dunia persepakbolaan nasional. Menteri Roy lantas mendudukkan satu meja pentolan KPSI, La Nyalla Mataliti dan PSSI, Arifin Djohar. Publik dibuat harap-harap cemas menunggu hasilnya.

Berkat pendekatan, dialog dan diplomasi yang dibantu beberapa pihak, akhirnya Menteri Roy berhasil menjadi fasilitator islah (rekonsiliasi) dua kelompok yang telah lama bersiteru. Disepakatilah penyelenggaraan Kongres Luar Biasa (KLB), pertengahan Maret 2013 lalu. Salah satu hasil keputusannya, tahun depan di negeri ini tidak ada lagi dualisme kompetisi maupun pengurus bal-balan ganda. Banyak pihak yang gembira, namun minim yang mengapresiasi bagian dari kerja kerasnya.

“Kemelut PSSI selesai berkat kesadaran bersama dan kehebatan tim, bukan kehebatan Menpora. Semuanya sepakat demi kejayaan sepakbola dan Merah Putih, tidak ada kaitannya dengan politik,” tutur Menteri Roy.

Akhir Mei 2013, Menteri Roy membuat gebrakan lagi pada aspek teknologi. Pria yang dikenal pakar telematika ini memanfaatkan teknologi informasi guna mempercepat sinergitas dan implementasi berbagai kebijakan maupun pelaksanaan program Kemenpora. Kementerian yang dipimpin Menteri Roy sudah membuat jaringan teknologi berbasis video conference di 33 Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Provinsi, yang dinamai e-coordination.

E-coordination akan lebih memudahkan dan mempercepat koordinasi antara Kemenpora dengan SKPB dan PPLP atau PPLM di seluruh Indonesia. Perkembangan para atlet di daerah pun bisa mudah dikontrol. Alat ini sudah disimulasi dan berhasil,” Menteri Roy menegaskan.

Dua terobosan yang telah ditempuh Menteri Roy tidak membuatnya puas diri. Menteri Roy ingin nama baik kementeriannya segera pulih setelah kemarin dihajar habis-habisan berita korupsi. Selain Kemenpora secara rutin memang diaudit lembaga negara pemeriksa keuangan, Menteri Roy juga menggandeng Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Transparancy International Indonesia (TII). Dua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang sudah kondang dimata publik itu ditugasi untuk ikut membantu mengawasi pengeluaran anggaran Kemenpora. Menteri Roy tidak ingin ada kasus korupsi kembali terjadi di Kemenpora.

Menteri Roy sadar, urusan di Kemenpora seabrek. Langkah taktis, strategis, efektif, efisien, inovatif, dan kerja cerdas harus terus ditempuh. Tak perlu kaget bila Menteri Roy rajin mempublikasikan segala gagasan dan kegiatan harian yang dilakukannya melalui jejaring sosial twitter, termasuk cepat merespon mention. Tentu saja, Menteri Roy ingin lahir batin memberi perhatian penuh dan sangat berharap semua cabang olahraga di Indonesia bisa berkembang, maju dan menang. Ia juga terus mendorong pembangunan sirkuit-sirkuit di berbagai daerah.

“Khusus sirkuit F1, akan ada di Bali,” kicau Menteri Roy.

Saat ini, barangkali publik belum memberi applaus pada hasil kerja Menteri Roy. Bahkan ditwitternya, masih banyak saja orang yang sinis dan meragukannya. Namun setidaknya kemenangan ganda putra Indonesia, Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan di Djarum Indonesia Open 2013 belum lama ini bisa membuat Menteri Roy sumringah. Menteri Roy menyebut, kemenangan pemain bulutangkis ini memacu sekaligus membangkitkan kembali semangat olahraga tanah air yang kini makin bergelora.

Di sisi lain, Menteri Roy punya gawean besar menyukseskan program tahunan unggulan Kemenpora. Semisal Hari Olahraga Nasional (Haornas), Peringatan Sumpah Pemuda, Pekan Olahraga Nasional (PON) Pesantren dan Islamic Solidarity Games (ISG). Penyiapan para atlet yang akan berlaga di SEA Games di Myanmar turut menjadi fokus Menteri Roy. Lebih dari itu, kebangkitan sepakbola nasional menjadi harapan semua publik. Apakah Pak Menteri sanggup memenuhi seluruh ekspektasi pecinta olahraga yang begitu tinggi dan rindu lagu Indonesia Raya berkumandang di negara lain?

“Dengan kemitraan dan kebersamaan demi Merah Putih tercinta, kami percaya bisa.” Jawab Menteri Roy via tweetnya. (Lukman H Zuhdi. Tulisan ini dimuat di Majalah NUSA edisi Juli 2013, halaman 40 – 41)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s