Hikmah Zakat

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Setiap ibadah yang dibebankan kepada umat Islam pasti mengandung hikmah dan manfaat yang besar, baik untuk pelaku ibadah, orang sekitar maupun masyarakat luas. Misal hikmah puasa Ramadhan. Bagi pelaku puasa, masa Ramadhan merupakan ajang latihan khusus untuk menahan diri dan mengontrol emosi. Dalam konteks dengan orang sekitar, Ramadhan sesungguhnya sarana untuk meningkatkan empati dan kebersamaan.

Terkait kewajiban berzakat, Allah SWT tidak begitu saja menyuruh kepada kaum muslimin yang telah mampu secara finansial. Allah berfirman: “Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. An Nur 24: 56). Umumnya ayat perintah berzakat bersanding dengan ayat perintah mengerjakan shalat. Ini barangkali yang membuat zakat termasuk salah satu ibadah yang mendapat tempat terhormat dalam pandangan Allah.

Sederhananya, ketika orang Islam sudah melaksanakan shalat wajib secara benar dan sempurna (hubungan vertikalnya terpenuhi), maka tugas berikutnya menunaikan zakat yang lebih berdimensi horisontal. Zakat adalah ibadah maaliyah yang memiliki dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah. Ibadah ini merupakan perwujudan solidaritas, pernyataan rasa kemanusian dan keadilan serta pembuktian persaudaraan Islam.

Dari situlah terlihat fungsi dan hikmah terpenting zakat, yakni menghindari kesenjangan sosial dan mempererat hubungan antara aghniya (orang kaya) dan dhuafa (orang miskin). Bayangkan, jika kaum miskin secara mendadak marah lantaran tiada orang kaya yang mau peduli, kemudian mereka menjarah harta orang kaya, maka pasti terjadi kekacauan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu Islam membuat aturan agar orang kaya mensubsidi orang miskin lewat jalan zakat.

Dana zakat dari orang kaya yang dikumpulkan dan dikelola oleh Badan Amil Zakat (BAZ) atau Lembaga Amil Zakat (LAZ), selanjutnya didistribusikan kepada fakir miskin, anak yatim, dan kelompok lain yang berhak menerimanya (mustahik). Dalam pendayagunaan distribusinya, sudah pasti setiap BAZ atau LAZ melihat kebutuhan dan potensi masing-masing penerima manfaat, mengingat tidak semua mustahik memilik problem yang sama.

Umpama Dompet Dhuafa (DD) sebagai salah satu LAZ yang terpercaya, telah membuat banyak program untuk para mustahik. Antara lain layanan kesehatan cuma-cuma untuk dhuafa dan pendidikan unggulan gratis bagi anak yatim berprestasi. Pada titik ini, DD sudah berhasil memerankan tugasnya dalam mewujudkan hikmah terbesar zakat, yakni menjembatani si kaya dengan si miskin.

Dari perspektif yang berbeda, hikmah zakat adalah sebagai pembersih dan penyuci diri. Orang yang gemar berzakat sesungguhnya orang yang ingin selalu menumbuhkan kemurahan hati,  mengikis sifat bakhil serta serakahnya. Dengan begitu, maka suasana batinnya akan senantiasa terbebas dari segala tuntutan, baik yang muncul dari agama maupun masyarakat. Selain itu, tentu masih banyak hikmah lain yang bisa didapat bagi orang yang mau melakukan kewajiban zakatnya. Insya Allah. (Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, hasil kerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika untuk Ramadhan 1431 H )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s