TANDA-TANDA HARI KIAMAT; Hilangnya Orang Sholeh, Al-Quran dan Islam

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Islam, Al-Quran dan orang-orang sholeh adalah rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya akan hilang sebagai tanda semakin mendekatnya hari kiamat. Kehidupan manusia pun kelak benar-benar bebas.

Ketika penulis masih berusia 14 tahun, para orang tua yang tinggal di kampung kerap berujar sewaktu ada orang sholeh yang meninggal dunia. Katagori orang sholeh dalam pandangan mereka adalah ulama besar yang ahli dalam segala bidang ilmu  agama dan memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan masyarakat. Tanda-tanda akhir zaman sudah mulai bermunculan satu per satu, begitu kata mereka. Bila disimak sepintas, ada benarnya ucapan mereka. Baca lebih lanjut

Mengobati Jerawat ala Rasulullah SAW

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Jauh sebelum bermacam-macam obat jerawat modern beredar di pasar, Rasulullah SAW sudah memberikan solusinya yang tidak menimbulkan efek samping.

Bagi Anda yang gemar menghabiskan waktu di depan televisi, tentu tidak asing melihat iklan produk-produk pengilang jerawat –dari mulai bentuk pil, serbuk, gel, sabun sampai cream—yang mengandung antibiotik maupun tidak. Dalam waktu singkat, masing-masing perusahaan mempresentasikan kelebihan dan kehebatan hasil risetnya.

Mungkin tidak sedikit dari Anda yang terpengaruh dan ingin mencobanya. Namun, begitu Anda menggunakannya, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang dijanjikan iklan. Rasanya wajar bila Anda bersungut-sungut disertai beragam alasan untuk tidak lagi mempercayainya. Baca lebih lanjut

SIAPAKAH DERMAWAN?

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

“Wahai anak Adam! Jika engkau mendermakan kelebihan hartamu, maka kebaikanlah bagimu. Sekiranya engkau mengepalkan tanganmu (karena kikir), maka keburukanlah bagimu.”

Di satu desa yang mayoritas warganya menjadi petani, sedang menghadapi persoalan agak serius. Mereka ingin memperbaiki masjid. Keharusan rehabilitasi tempat shalat itu disebabkan makin bertambahnya bangunan yang rapuh dan rusak karena telah dimakan usia. Jelas mereka membutuhkan biaya besar. Muncullah gagasan agar dibentuk panitia renovasi rumah ibadah. Tugas mereka mendatangi masing-masing kediaman warga, tanpa terkecuali. Mereka tidak ingin bergantung pada bantuan pihak luar, apalagi dana asing.

Kampung yang masih kental rasa solidaritas dan eratnya persaudaraan ini mengharap dari segenap unsur masyarakat supaya mau menyumbang semampunya –entah uang, bahan bangunan, tenaga atau lainnya—. Sementara keberadaan orang kaya di kampung itu masih minim. Bila dihitung dengan jari tangan, tidak lebih dari sepuluh keluarga. Sisanya kelas menengah dan strata bawah mendominasi. Selanjutnya panitia berkeliling menjalankan misinya. Hampir semua warga mengeluarkan rupiah dari koceknya yang tentu jumlahnya tidak sama. Hanya satu orang mampu yang tidak mau menyisihkan sedikit pun rezekinya.

Seorang panita berucap dengan sedikit menggerutu setelah keluar dari rumahnya yang memiliki halaman luas, “Saya heran, kenapa keluarga Haji ‘A’ yang sukses sebagai pengusaha beras, selalu saja susah bila dimintai sumbangan? Alasannya macam-macam. Malah terkadang nggak masuk akal. Beda dengan keluarga Haji ‘B’. Meski masyarakat tahu ekonomi keluarganya sederhana, namun beliau tanggap sekali beramal bila ada kepentingan bersama, apalagi demi pembangunan masjid.”

Fenomena demikian kerap terjadi dalam kehidupan masyarakat,. Atau barangkali ada di antara Anda yang pernah mengalaminya. Berangkat dari kenyataan tersebut, tentu timbul pertanyaan, siapakah dermawan yang sebenarnya?

Gelar Dermawan

Dalam makna yang cukup sederhana, dermawan adalah orang yang suka gambar sedekah1berderma, beramal atau bersedekah. Maksudnya, mereka memanfaatkan dan membelanjakan harta yang telah dikaruniai oleh Allah SWT pada jalan yang benar serta serasi dengan perintah-Nya, yakni kebutuhan agama, umat dan kaum papa. Menyangkut definisi dermawan, sufi ternama Abul Qasim Al Junaidi bin Muhammad Al-Khazzaz An-Nahawand mengatakan, orang dermawan ialan orang yang memberi sesuatu sebelum diminta.

Hal senada dikemukakan Ali bin Husain bahwa orang yang mengeluarkan hartanya karena diminta, tidak termasuk orang bermurah hati (dermawan). Yang disebut bermurah hati ialan yang menunaikan hak-hak Allah SWT atas kemauan ataupun niat sendiri karena taat kepada-Nya tanpa tekanan maupun pun harapan untuk mendapat ucapan terima kasih. Hasan bin Ali bin Abi Thalib pun menerangkan, sifat pemurah ialah mendermakan sesuatu yang baik secara ikhlas dan sukarela sebelum diminta. Selain itu, ia memberikaan makanan pada musim paceklik atau kelaparan dan berkasih sayang kepada peminta dengan memenuhi permintaannya.

Seperti diketahui, di antara tujuan beramal ialah menunaikan kewajiban seseorang sebagai hamba-Nya atas limpahan nikmat rezeki dengan meringankan beban orang lain, membantu pihak yang membutuhkan maupun menolong sesuatu yang dianggap tidak berdaya. Semestinya, kala menyadari keadaan seperti ini, orang tidak perlu diperintah dan tidak usah menunggu komando dalam berderma. Kalau perlu, proses pendermaannya jangan sampai dipublikasikan ke publik. Bila dia disuruh, seolah muncul kesan pemaksaan dan mengisyaratkan ketidak ikhlasan. Sebab pada akhirnya yang timbul sikap riya (pamer) dan takabur (sombong).

Kedermawanan berarti kemurahan atau kebaikan hati terhadap sesama manusia. Sifat pemurah termasuk perilaku mulia yang menjadi ciri khas akhlak para nabi. Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling pemurah, sedekah2paling besar rasa kemanusiaannya dan paling ikhlas dalam memberikan bantuan. Dalam diri beliau tidak pernah timbul rasa takut akan kemiskinan atau kekurangan harta sebab diberikan kepada orang lain. Karena itulah beliau bersabda, orang pemurah itu dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dekat kepada surga dan jauh dari api neraka. Sedang orang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat kepada api neraka.

Jika hadis tersebut menjadi pertanda betapa mulianya kedudukan dermawan dalam pandangan agama, kenapa masih banyak orang berada yang batinnya tersilaukan kecemerlangan perhiasan dunia sampai akhirnya lupa diri? Apalagi di awal tulisan penulis telah menyebutkan hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Baihaqi yang bersumber dari Abu Umamah mengenai kebaikan bagi yang berderma dan kebinasaan untuk orang yang penuh perhitungan dalam menyisihkan hartanya.

Contoh lain, kiranya Anda boleh bangga dikenal plus disanjung masyarakat sebagai publik figur. Anda silakan menepuk dada lantaran didekati banyak karyawan sebab menjadi penguasa atau pemilik perusahaan. Agaknya Anda sah-sah saja merasa gembira selaku pemimpin atau pejabat yang berpenghasilan besar kala dieluk-elukan bawahan. Namun, semua itu tidak akan berarti bila jiwa sosial kering kerontang, semangat tolong menolong gersang dan rasa kemanusiaan Anda hilang tercerabut dari nurani serta lepas dari kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi semacam ini, sejujurnya Anda miskin sekaligus terhina. Rasulullah SAW bersabda, yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta benda. Tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). (HR. Abu Yu’la)***

MENGENAL SETAN

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Hari ini Inung sedang merasa ketakutan sekaligus bimbang. Sejak kemarin, beberapa kali ia mendengar kata ‘setan’. Di sekolah, teman-temannya bercerita setan-setan yang menyeramkan. Di musola, ketika Inung mengaji, Ustad Sobirin menyinggung sedikit dunia setan. Di televisi, Inung sempat melihat tayangan film berjudul Setan Gentayangan. Sepertinya, saat ini orang beramai-ramai membicarakan setan. Inung tentu dibuat penasaran. Informasi yang ia peroleh cuma sepotong-sepotong, belum lengkap.

“Bunda, setan itu apa, sih? Kata teman-teman, setan itu sangat mengerikan. Wajahnya jelek, bahkan hancur tidak jelas. Matanya ada yang melotot, hampir copot. Di atas kepalanya ada dua tanduk. Giginya tajam-tajam. Lidahnya selalu menjulur. Kukunya panjang-panjang. Kalau dibayangkan, Inung jadi takut sama setan. Wuih, serem!” Inung mengadu kepada Bundanya, suatu malam menjelang tidur.

“Oh…” Bunda menghela napas, “setan memang diciptakan oleh Allah SWT. Sebetulnya, kita tidak perlu takut terhadap setan. Setan juga makhluk Allah SWT, sama dengan manusia. Hanya saja, setan tergolong makhluk gaib dan halus. Artinya, setan tidak bisa dilihat secara kasat mata. Setan tidak mungkin diraba atau dipegang oleh tangan kita. Tapi setan bisa menakut-nakuti orang. Tugas utama setan menggoda dan menyesatkan manusia agar melupakan dan menyekutukan Allah SWT.”

“Kenapa setan bisa begitu, Bunda?” Inung keheranan.

“Semua itu tidak lepas dari sejarah masa lalunya. Dahulu, setan atau iblis taat sekali kepada Allah SWT. Sehingga, Allah SWT menempatkan mereka di langit bersama para malaikat. Mereka dimasukkan ke surga. Allah SWT lalu menciptakan Nabi Adam alaihis salam. Para malaikat dan setan diperintahkan sujud kepada Nabi Adam. Para malaikat melakukannya, tetapi setan secara tegas menolaknya. Setan enggan, sombong, dan merasa tinggi. Alasannya, setan lebih mulia dari Nabi Adam. Setan diciptakan dari api, sementara Nabi Adam dibuat dari tanah liat,” tutur Bunda.

“Terus, waktu itu Nabi Adam marah, nggak?”

“Nggak dong, sayang…” Bunda tersenyum, “Allah SWT justru yang murka. Akibatnya, setan dikeluarkan dari surga secara tidak terhormat. Namun, sebelum diturunkan dari surga ke bumi, setan mengajukan permohonan. Mereka meminta supaya dikekalkan hidupnya sampai akhir zaman. Keinginan itu dikabulkan. Allah SWT lantas menegaskan, kelak setan akan menghuni Neraka Jahannam. Saat itulah setan telah berjanji untuk mencari pengikut sebanyak-banyaknya sebagai teman di neraka nanti. Setan sudah menyatakan diri sebagai musuh abadi dan nyata bagi manusia. Setan juga mengikrarkan diri menjadi biang segala masalah di muka bumi ini.”

Subhanallah… Kok, setan jahat banget!” Inung mendengus.

“Karena itu, kita perlu waspada terhadap setan,” potong Bunda.

“Berarti kita tidak boleh berteman dengan setan, dong?”

“Betul. Bahkan, setan harus kita musuhi, kita lawan, kita perangi! Jangan sekali-kali menjadikan setan sebagai kawan, pemimpin atau komandan dalam hidup kita!” Bunda mengepalkan tangan kanannya untuk menegaskan.

“Bunda, bagaimana cara setan mengganggu kita?”

“Itu pertanyaan bagus, anak manis…” Bunda menatap Inung, lekat sekali. Kasih sayang Bunda terpancar jelas dari raut wajahnya. “Setan tergolong makhluk berakal dan cerdik. Setan pandai mengelabui manusia. Setan tidak pernah merasa putus asa dengan upayanya. Bila satu strategi untuk mengganggu manusia gagal, maka setan mencari cara lain yang lebih hebat hingga berhasil. Tak-tiknya bermacam-macam. Jika melihat ada orang yang ingin mengerjakan shalat, belajar atau mengaji Al-Quran, maka dibisiki telinganya agar tidak mengerjakan atau malah menundanya. Bila orang itu sedang melakukan shalat, belajar atau mengaji Al-Quran, maka dibisiki telinganya supaya pahala dan semangatnya berkurang. Misal, pikiran orang itu diingatkan pada urusan-urusan lainnya. Alhasil, orang itu menjadi tidak fokus dan tidak konsentrasi.

Cara lainnya, setan berusaha membungkus keburukan, perbuatan maksiat dan dosa dengan aroma-aroma kebaikan. Contoh, bermusuhan dengan orang lain itu tidak baik. Tapi setan meyakinkan manusia bahwa sikap bermusuhan itu sangat baik. Setan berupaya agar sesama manusia saling memendam rasa benci sampai mereka berkelahi. Pada akhirnya, setan menginginkan kehidupan dunia ini kacau balau dan berantakan. Intinya, setan pasti ikut campur setiap ada kejahatan dan kejelekan. Mereka memiliki bala tentara yang banyak dari golongan manusia dan jin. Semuanya dikerahkan untuk menggoda setiap manusia,” papar Bunda.

“Apakah setan hebat, seperti Spiderman, Superman, Batman, atau Zorro?” Inung cengar-cengir, tangannya sengaja menggaruk-garuk kepala.

Wah, setan lebih hebat dari tokoh-tokoh kartun itu. Allah SWT memberikan keistimewaan kepada setan. Setan bisa mengalir di dalam tubuh manusia seperti aliran darah. Setan dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam sekejap. Gerakannya hebat, lincah sangat luar biasa. Bahkan setan bisa menembus bumi dan langit. Tapi, ada langit tertinggi yang tidak bisa ditembus setan. Langit itu dijaga para malaikat dan ribuan panah berbentuk api yang siap membunuhnya. Jika saja setan nekat masuk untuk mencuri berita atau informasi di dalamnya, maka setan bisa binasa dan hancur lebur.” Bunda menggambarkan, tangannya bergerak ke sana kemari, persis dalang wayang. Nada suaranya berubah-ubah.

“Di awal cerita, Bunda bilang setan itu ciptaan Allah SWT. Itu artinya setan tidak sempurna, ada kelemahannya,” cetus Inung.

“Benar. Setan takut kepada orang yang ikhlas. Setan lemah menghadapi orang yang sabar dan teguh dalam beribadah. Setan tidak mampu menyerupai Rasulullah SAW. Setan tidak bisa meniru sifat-sifat asli Rasulullah SAW. Sebetulnya tipu daya setan itu lemah. Yang perlu diketahui, setan hanya bisa menyeru, mengganggu dan membuat was-was hati manusia. Setan terus mengikuti orang-orang yang senang dengan jebakan-jebakannya. Orang yang berbuat maksiat dan dosa, akan dengan mudah dipengaruhi setan. Namun, setan tidak diberi kemampuan untuk memaksa dan menguasai manusia sehingga menjadi kafir, sesat, atau durhaka.” Suara Bunda sedikit dipelankan. Kelihatannya Bunda sudah mulai capek.

“Oh…Begitu ya, Bunda. Ngomong-ngomong apa sih makanan dan minuman setan, sehingga mampu hidup hingga hari kiamat?”

“Setiap ada makanan dan minuman dihidangkan, setan akan cepat-cepat mendatanginya. Setan makan dan minum bersama orang yang tidak menyebut nama Allah SWT ketika makan dan minum. Setan akan menelan makanan jatuh bila tidak diambil. Makanya, jika ada makanan jatuh, sebaiknya segera dipungut. Kalau ada kotoran yang menempel, maka dibersihkan dahulu, lalu dimakan. Sewaktu makan dan minum, kita dianjurkan duduk yang rapi. Sebab, setan makan dan minum sambil berdiri. Setan juga makan dan minum menggunakan tangan kiri.”

“Apalagi kebiasan-kebiasan yang dilakukan setan?” Sepertinya Inung ingin buru-buru rampung, namun tidak berani ngomong ke Bunda. Maklum, jam di dinding hampir menunjuk pukul 21.30 WIB.

“Setan memiliki singgasana di atas air. Mereka duduk di atasnya seraya mengutus pengikutnya untuk merusak alam ini. Pada saat lain, setan senang menghambur-hamburkan harta benda. Boleh dibilang, setan memiliki perilaku boros. Setan suka berlebihan dalam hal apapun. Setan suka tergesa-gesa dan ceroboh. Nah, kita tidak boleh meniru sifat-sifat yang disenangi setan itu,” Bunda mengingatkan.

“Untuk apa setan diciptakan, Bunda?” Inung menguap. Matanya terlihat sayu.

“Adanya setan di dunia ini semata-mata ujian atau cobaan dari Allah SWT bagi keimanan manusia. Manusia yang bisa melawan setan, maka mereka beruntung akan memperoleh karunia dan rahmat dari Allah SWT. Selain itu, memerangi setan dan pasukannya bisa meningkatkan kualitas ibadah kita. Allah SWT menganugerahkan kesempurnaan kualitas ibadah para nabi dan rasul, lantaran mereka berhasil menentang dan membenci setan,” tutur Bunda. Bunda juga rupanya mulai mengantuk.

Tanpa disadari, Inung sudah lebih dulu terlelap. Bunda menggelengkan kepala sembari tersenyum. Tangannya segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Inung. Bunda beranjak dari tempat tidur, lalu menuju meja belajar Inung. Tangannya mengambil pulpen dan kertas kosong, kemudian menulis:

Anak pintar, Bunda ingin memberi tahu lima cara agar kita terhindar dari gangguan setan. Pertama, kita selalu berzikir, bertasbih dan beristighfar dalam setiap kesempatan. Maksudnya, kita harus ingat dan menyebut nama Allah SWT. Sebab, zikir dapat menyebabkan ketenangan hati dan jiwa. Bila hati dan diri kita tenang, maka kita akan mampu melemahkan bisikan dan godaan setan.

Kedua, kita senantiasa dalam keadaan berwudhu, bebas dari segala hadas maupun najis. Sebab, setan tidak berani mendekati orang-orang yang suci. Ketiga, kita sering mengaji Al-Quran. Setan akan lari menjauh setiap kali mendengar firman Allah SWT. Keempat, kita berkawan dengan orang-orang saleh. Maksudnya, orang-orang yang ahli ibadah dan bisa menjadi teladan dalam hidup keseharian. Kelima, kita rajin membaca ayat kursi (Surat Al-Baqarah ayat 255), Surat An-Nas dan Surat Al-Falaq. Itulah bacaan terbaik untuk minta perlindungan kepada Allah SWT dari tipu daya setan. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita semua dari bujuk rayu setan, amin.
Salam sayang dari Bunda

Catatan kecil dari Bunda untuk Inung itu diletakkan di meja belajar. Persisnya di atas buku-buku yang sudah disiapkan Inung untuk dibawa ke sekolah. Bunda berharap, esok hari Inung akan membaca dan memahaminya. Lebih penting lagi, Bunda ingin Inung dapat melaksanakan pesan-pesannya secara baik. Bunda sempat mencium kening Inung dan merapikan selimutnya, sebelum meninggalkan kamar.***

Belajar Naik Sepeda

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Anak-anak berkumpul di halaman rumah Inung. Halamannya cukup luas dan bersih, seperti taman umum. Suasananya ramai sekali. Anak-anak biasa main di situ, setiap sore hari. Ada yang saling kejar-kejaran. Ada yang main karet gelang. Biasanya para perempuan yang memainkannya. Ada yang main petak umpet. Ada yang berputar-putar menaiki sepeda. Ada pula yang sekadar duduk santai.

“Ibu, Inung ingin belajar naik sepeda sama teman-teman,” Inung meminta izin kepada Ibunya.

“Boleh. Coba Inung ambil sendiri sepedanya. Itu, di dekat meja makan. Ibu sedang repot membuat kue, nih. Tangan Ibu kotor,” jawab Ibu, tangannya  mengaduk-aduk adonan kue.

Inung segera berlari menuju tempat yang dimaksud. Ia mengambil sepedanya.

“Nak, main sepedanya jangan jauh-jauh, ya. Takut ada motor atau mobil ngebut,” Ibu mengingatkan Inung.

Iya, Bu,” sahut Inung, seperti tidak menghiraukan.

Inung menuntun sepedanya. Teman-temannya sudah menunggu di depan.

“Kawan-kawan, ini sepeda Inung yang baru,” Inung memperlihatkan sepeda kepada kawan-kawan mainnya. “Bagus, kan?” sepeda

“Iya, sepedanya bagus banget! Keranjang di depannya berwarna putih, sama dengan punya Helmi,” Helmi mengacungkan jempol tangan kanannya.

“Gambarnya bagus. Rodanya ada empat!” seru Away.

“Kalau rodanya cuma dua, Inung bisa jatuh. Dua roda yang kecil di belakang itu untuk membantu. Inung, kan, baru belajar naik sepeda. Dia masih kecil. Umurnya saja baru mau empat tahun,” jelas Sugeng, yang sudah kelas satu Sekolah Dasar.

“Wah, Inung beli di mana sepedanya?” tanya Rizki. Matanya melihat-lihat sepeda Inung. Ia terpesona. Sesekali tangannya mengelus rangka besi sepeda Inung.

“Ayah Inung belinya di toko sepeda, kemarin sore,” jawab Inung, bangga.

“Pokoknya, sepeda Inung lebih bagus daripada sepeda Andi,” celetuk Wawan.

Spontan semua tertawa. Mereka sudah paham maksudnya. Wawan meledek Andi. Sepeda Andi memang sepeda tua. Andi mendapat sepeda itu dari Oling, kakaknya. Sepeda itu sebelumnya digunakan oleh Farel, kakak Oling. Sebelum dipegang Farel, sepeda itu dikendarai Dimas, kakak Farel. Mereka kakak beradik (empat bersaudara) dari keluarga yang kurang mampu.

Dengan demikian, sepeda Andi itu sudah turun temurun. Pemakainya selalu berganti-ganti, tapi tidak ada perbaikan maupun penampilan baru. Besinya ada yang sudah berkarat. Warna catnya terlihat kusam. Tidak ada gambar apapun. Hebatnya, Andi tidak marah. Dia diam saja, hanya menahan kekesalannya di dalam hati. Dia tahu, Wawan suka usil terhadap teman-temannya.

“Yuk, kita main sepeda bareng?” usul Hanif, mencoba mencairkan suasana.

“Ayooo….” jawab mereka serentak.

“Inung boleh ikut nggak?” tanya Inung.

“Boleh…” kata Sugeng, spontanitas.

“Mendingan nggak usah ikut, deh. Nanti ngerepotin kita-kita. Kan, Inung baru belajar naik sepeda. Yang lain kan sudah lancar bersepedanya,” cetus Wawan beralasan.

Inung terdiam, kedua matanya berkaca-kaca. Sugeng cepat-cepat membela Inung. Akhirnya, Helmi, Away, Sugeng, Rizki, Wawan, Andi, dan Hanif sepakat Inung dipersilakan ikut. Dengan catatan, Inung tidak boleh rewel. Jika rewel, terpaksa ditinggal sendirian. Mereka lalu menaiki sepeda masing-masing. Mereka membentuk barisan, seperti semut berjalan. Inung ada di barisan paling belakang. Maklum, tubuh dia paling kecil di antara kawan-kawannya. Kecepatan sepedanya pun tidak seberapa, dibandingkan mereka.

“Woi, tungguin Inung, dong!!!” teriak Inung, takut ditinggal. Napasnya tersenggal-senggal. Keringat membasahi dahi dan pelipis matanya.

sepeda2Kawan-kawannya tidak ada yang mendengar. Mereka terus melaju sambil tertawa. Wajah Inung memerah. Ia ingin marah sekaligus menangis. Ia terpaksa menghentikan sepedanya di tengah-tengah jalan umum. Ia merasa kelelahan. Kedua kakinya tak sanggup lagi menggenjot pedal sepeda.

Selang beberapa menit, terdengar suara keras mengejutkan. Brakkk!!! Ahhhhh!!! Sebuah sepeda motor berkecepatan tinggi menabrak pagar rumah seorang warga. Rupanya pengendara motor itu menghindari Inung. Kalau saja ia tidak membelokkan kendali motornya, mungkin nasib Inung bisa cacat seumur hidup. Anehnya, Inung tidak kaget sama sekali. Ia terlihat tenang. Malah, ia sempat tertawa ketika melihat pengendara motor yang tidak memakai helm itu berdarah hidungnya.

Sugeng menoleh ke belakang, setelah mendengar suara itu. Ia bergegas mendekati Inung, mencari tahu apa yang terjadi.

“Inung kenapa?” tanya Sugeng.

Inung tidak segera menjawab. Mendadak Inung menangis. Sugeng heran.

“Kawan-kawan jahat! Inung ditinggal sendirian,” kata Inung. Tangannya mengusap air mata yang membasahi pipinya.

Kan, di sini ada Sugeng. Inung jangan menangis, ya. Nanti kalau ketahuan Bapak dan Ibu, Inung bisa dimarahi,” Sugeng menasehati.

“Nggak mau! Inung ingin ikut mereka.” Jari telunjuk tangan kanan Inung mengarah kepada teman-temannya yang sudah jauh.

“Lebih baik sekarang Inung pulang bareng Sugeng. Lain waktu saja kita jalan-jalannya,” bujuk Sugeng.

“Inung nggak mau!” Inung bersikeras.

Lho, kok anak Bapak menangis di sini?” secara kebetulan Bapak Inung melewati jalan itu.

“Pak, Inung ingin ikut teman-teman.”

“Oh…Begitu…” Bapak Inung tersenyum, tangannya mengusap kepala Inung. “Inung boleh jalan-jalan sama mereka. Tapi, nanti kalau Inung sudah besar dan lancar naik sepedanya. Inung, kan sekarang baru belajar. Lagi pula, kalau baru belajar, tidak boleh di jalanan umum seperti ini. Sangat berbahaya, banyak motor dan mobil yang lewat. Yuk, sekarang kita pulang. Sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang,” jelas Bapak Inung.

“Inung maunya gendong sama Bapak. Inung capek,” pinta Inung, manja, “terus, sepeda Inung siapa yang bawa?”

“Biar Bapak yang menuntunnya,” jawab Bapak. “Sugeng mau ikut pulang bareng Inung juga?” Bapak Inung melirik Sugeng.

“Yah,” sahut Sugeng, singkat.

Baru beberapa kali kaki Bapak Inung melangkah, seseorang memanggilnya dari arah belakang. Bapak dan Sugeng segera menoleh ke sumber suara. Seketika ia menghentikan langkahnya. Orang itu mempercepat langkahnya. Jalannya agak tertatih-tatih, mendekati Bapak Inung.

“Maaf, Bapak orang tuanya anak kecil ini?” tanya pemuda yang hidungnya berdarah itu. Lengan baju kanannya sobek, seperti terkena sayatan besi tajam.

“Iya, memangnya kenapa?” Bapak Inung memperhatikan sekuju tubuh pemuda itu. Sebagian wajahnya lebam, sebagian lagi memar.

“Maaf, tadi saya terpaksa menghantam pagar rumah orang itu. Sebenarnya saya tidak bersalah. Saya hanya kaget. Sebab, saya menghindari anak Bapak yang berhenti di tengah jalan. Saya tidak ingin menabraknya. Akibatnya motor saya yang ringsek. Pagar rumahnya juga rusak. Jadi, saya minta Bapak ikut bertanggung jawab meringankan beban saya,” papar si pemuda. Tangannya mengarah pada tempat kecelakaan.

“Bagaimana saya bisa mempercayai cerita Anda?” Bapak Inung malah bertanya.

“Maaf, memang saya tidak punya saksi mata. Sebab, tadi di sini sepi. Tidak ada orang yang melihat. Apalagi kejadiannya begitu cepat. Pemilik rumah yang saya tabrak juga sedang keluar. Barangkali Bapak bisa menanyakan kepada anak Bapak, bila saya bohong,” tutur si pemuda, meyakinkan. Tangan kirinya terlihat lecet dan berdarah. Berkali-kali ia meringis, menahan rasa sakit.

Bapak melihat wajah Inung.

“Pak, tadi Om itu yang menabrak pagar,” kata Inung, polos.

“Waktu itu, Inung ada di mana?” tanya Bapak.

“Inung sedang duduk di atas sepeda. Di situ, di tengah jalan.” Inung mengarahkan jari telunjuknya.

“Sugeng melihat sendiri, Inung tadi menghentikan sepedanya di tengah jalan,” Sugeng menimpali.

Bapak Inung manggut-manggut sebagai tanda sudah memahami yang terjadi.

“Baiklah. Begini saja, sebaiknya nanti malam, sekitar pukul 8, Anda ke rumah saya. Kita selesaikan masalah ini secara baik dan kekeluargaan. Rumah saya di sebelah ujung gang itu. Catnya berwarna putih. Di depannya banyak pot bunga,” Bapak Inung menjelaskan. “Sebelumnya saya minta maaf jika anak saya salah. Maklum, anak saya baru belajar naik sepeda,” tambahnya sembari tersenyum.

“Terima kasih, Pak. Saya yakin Bapak orang baik. Nanti malam saya datang ke tempat Bapak,” pemuda itu kemudian menyalami tangan Bapak Inung. Senyum bahagia mengembang dari mulutnya.

“Yuk, kita pulang. Tuh bedug Maghribnya sudah berbunyi,” kata Bapak Inung.
Matahari secara perlahan menyembunyikan diri di ujung Barat. Tidak terdengar lagi suara burung-burung berkicau. Mereka sudah kembali ke sarangnya. Garis-garis merah tak beraturan menghiasi langit. Gelap malam mulai menyelimuti penduduk bumi. Samar-samar sinar rembulan mengikuti jejak langkah kaki Bapak, Inung dan Sugeng, saat mereka kembali ke rumahnya.***