Indonesia Harus Terapkan Bio-Metric untuk Ungkap Jaringan Narkoba

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia hingga kini tetap berlangsung, bahkan semakin menunjukan peningkatan. Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Tommy Sagiman mengungkapkan, kasus-kasus penyelundupan  heroin, kokain dan psikotropika yang masuk ke Indonesia menggunakan modus operandi yang beragam.

Misalnya narkoba dimasukan ke dalam pipa gantole, papan selancar, body pack, koper, water filter, swallow, mainan anak-anak (toys), makanan, bahkan dimasukan ke dalam alat vital tubuh wanita. Menurut Tommy, untungnya para penyelundup sudah banyak yang ditangkap di bandara-bandara maupun pelabuhan-pelabuhan.

“Sampai tahun 2010 ini, pengungkapan jaringan kasus narkotika dan psikotropika serta pemberantasan narkoba di Indonesia  cukup berhasil. Salah satu indikatornya adalah terungkapnya beberapa mega clandestine laboratory (pabrik narkoba) di Jasinga Bogor dan Cikande Tangerang pada tahun 2005, yang melibatkan pelaku WNI dan WNA. Namun, kami belum dapat mengungkap distribusi heroin dan kokain yang beredar di Indonesia sampai keakar-akarnya, karena mereka menggunakan sistem sel terputus yang sangat sulit dilacak,” ujar Tommy Sagiman dalam seminar internasional MDG’S beberapa waktu lalu, di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara.

Di Indonesia, titik masuk narkoba melalui Banda Aceh, Polonia dan Belawan Medan, Tanjung Asahan, Teluk Nibung, Batam, Dumai, Bengkalis, Bandara Soekarno-Hatta, Cirebon, Entikong, dan Atambua. Selain itu masuknya melalui Bandara Adi Sumarmo Solo, Bandara Adi Sutjipto Jogja, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Ngurai Rai Bali dan Benoa Bali serta Gili Trawangan Lombok.

Untuk memutus jaringan distribusi (supply), kata Tommy, maka harus dilakukan operasi pemberantasan dan pemutusan jaringan yang terus-menerus sepanjang tahun terhadap sindikat narkoba, baik pemodal, pabrik, pengirim, pembawa (kurir), penerima sampai kepada pengedar. Selain itu memetakan titik pengiriman, menutup rute yang dilalui baik melalui bandar udara, pelabuhan laut atau perbatasan sampai titik akhir pengiriman barang (gudang).

Lebih lanjut, tandas Tommy, operasi pemberantasan peredaran gelap narkoba  juga  harus dilakukan di daerah kantong-kantong narkoba, tempat-tempat hiburan, serta pemutusan jaringan sindikat yang dikendalikan dari lembaga pemasyarakatan (Lapas). Karena itu, pihak BNN terus meningkatkan kerjasama dengan badan-badan penegak hukum di Indonesia maupun pihak kepolisian internasional.

“Tapi yang lebih penting dari semua itu, pemutusan jaringan sindikat peredaran gelap narkoba yang cukup efektif adalah melakukan penyidikan dan penyitaan tindak pidana pencucian uang (money laundering) untuk meniadakan atau menzerokan modal mereka agar lemah membangun laboratorium produksi narkoba,”  tegas perwira lulusan Akademi Kepolisian tahun 1976 dan jebolan Sespati Polri tahun 2003 itu.

Mengenai sindikat narkoba yang beroperasi di Indonesia, Tommy menuturkan ada tiga metode operasi. Pertama operation by etnic, yang melibatkan etnik yang sama dalam peredaran narkoba, misalnya dalam hal ini warga negara Nigeria. Kedua operation by family, yang melibatkan keluarga dalam peredaran narkoba dan pencucian uang, seperti  menyamarkan dalam perusahaan valas atau money charger. Ketiga, operation by group, yang melibatkan teman maupun kenalan yang memiliki tujuan yang sama, yakni uang.

Sedangkan sindikat narkoba internasional yang bermain di indonesia adalah Australian network, Afghanistan network,  Brazilian network, Chinese network,  Iranian network, Malaysian network, Nigerian network, Pakistani network, dan Indonesia network. Tommy menegaskan bahwa tidak ada peredaran narkoba yang dilakukan seorang diri, tapi selalu terorganisasi, bahkan bisa lintas negara.

“Kalau Indonesian network dikendalikan oleh seorang WNI yang pada awalnya telah ditangkap dan dijebloskan ke penjara Banceuy Bandung, namun sukses melarikan diri, tapi beberapa waktu kemudian berhasil ditangkap lagi. Hebatnya, selama di dalam lapas, tersangka itu bisa mengendalikan peredaran narkoba ke sejumlah kota di Indonesia dan berhasil menguasai sejumlah besar pasar. Antara lain di Medan, Batam, Pontianak, Jakarta, Surabaya, Makasar, dan kota-kota besar di Jawa.  Tersangka bisa mengendalikan peredara narkoba dari dalam lapas  karena dibantu oleh seorang napi lainnya dengan alat komunikasi yang cukup canggih menggunakan laptop dan micro antena dari dalam kamar penjara,” beber Tommy.

Menyangkut tantangan dan hambatan dalam upaya pemberantasan narkoba, Tommy menuturkan, masalah pokoknya berpijak pada kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia yang jauh di bawah standar, sehingga mudah dijadikan kurir narkoba.

“Mental masyarakat kita sangat rapuh, seperti mudah disuap, suka menerabas dan potong kompas, mementingkan diri sendiri, susah diajak koordinasi serta menghindar dari tanggung jawab,  yang berakibat sering menjadi bagian dari sindikat narkoba,” tuturnya lirih.

Sementara hambatannya, lanjut Tommy, hingga sini belum ada keseragaman visi, misi dan interpretasi di seluruh komponen masyarakat, bangsa dan negara yang menyatakan bahwa narkoba adalah musuh bersama dan kejahatan yang harus diperangi.

“Selain itu, sudah waktunya pemerintah kita menerapkan Single Identify Number (SIN), penerbitan KTP dan Kartu Keluarga, SIM, STNK, BPKB, rekening bank dan kartu kredit, NPWP, paspor yang menggunakan bio-metric (sidik jari, mata dan suara) untuk memudahkan penyidikan terhadap pengungkapan sindikat dan pengedaran narkoba di Indonesia,” tukas Tommy Sagiman. (LHZ)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s