Mustahik

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Pada masa Rasulullah SAW, setiap umat Islam yang dianugerahi kelebihan harta oleh Allah SWT diperintah untuk memberikan sedekah. Pemberian sedekah sifatnya bebas, sukarela, dan tidak wajib. Selang beberapa waktu, ada perintah lagi dari Al-Quran yang berisi kewajiban berzakat bagi orang kaya. Tujuan zakat, seperti disabdakan Rasulullah, salah satunya untuk meringankan beban kehidupan orang-orang fakir dan miskin.

Umat Islam yang hidup berkecukupan dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tentu mau memberikan sedekah dan menunaikan zakat. Tanpa disangka, lambat laun dana yang terkumpul dari sedekah dan zakat cukup banyak. Hal itu membuat orang-orang yang serakah dan gila harta tidak dapat menahan hawa nafsu ketika melihat tumpukan harta. Mereka sangat tergoda untuk mengambil dan memilikinya.

Satu ketika, mereka protes keras kepada Rasulullah yang dianggap tidak adil karena hanya kaum fakir miskin yang diberi harta sedekah dan zakat. Tanpa rasa malu, mereka yang memang sudah termasuk katagori orang kaya kemudian meminta bagian demi kepentingan pribadi masing-masing. Mereka ingin kekayaannya terus bertambah.

Rupanya Rasulullah tidak memperhatikan dan tidak mau memenuhi tuntutan mereka. Jelas saja mereka kecewa. Spontanitas mereka mengeluarkan kata-kata makian dan sumpah serapah. Mereka juga mulai mengganggu dakwah Rasulullah, termasuk menghalangi perjuangan para sahabat. Bahkan mereka mempersoalkan keabsahan Rasulullah sebagai nabi dan utusan Allah.

Dalam kondisi begitu, Allah memberi petunjuk kepada Rasulullah. Jika mereka diberi sebagian dari sedekah dan zakat, maka pasti bersenang hati. Sebaliknya, jika mereka tidak diberi, maka serta merta menjadi marah. Namun, Allah memerintahkan Rasulullah agar tidak mengabulkannya. Sebab, jika mereka beriman dan ridha atas apa yang diberikan Allah dan Rasul-nya, maka tentu mereka tidak akan mempersoalkan bagian dari sedekah dan zakat.

Selanjutnya, Allah menetapkan delapan kelompok penerima zakat, sebagaimana dilansir Surat At-Taubah ayat 60, yakni fakir, miskin, pengurus zakat, para muallaf, hamba sahaya, ghorim, jihad fisabilillah, dan ibnu sabil. Turunnya ayat tersebut membuat buyar impian orang-orang yang serakah dan gila harta. Firman Allah itu juga mengandung pesan gamblang bahwa dana zakat tidak bisa dibagikan sekendak para penguasa, petugas zakat atau lembaga pengelola zakat. Ini bertujuan untuk menghindari orang-orang tidak bertanggung jawab yang ingin membelokan dana zakat bagi kepentingan pribadi maupun golongannya.

Di sisi lain, ditetapkannya kaum fakir dan miskin sebagai prioritas utama penerima manfaat tentu berdasarkan pertimbangan khusus. Mereka sesungguhnya kelompok mustahik yang paling membutuhkan dan paling besar kebutuhan hidupnya. Di samping itu, umumnya jumlah kaum fakir dan miskin lebih mendominasi jumlah kelompok mustahik lainnya, dimanapun. Berangkat dari kenyataan itulah, Dompet Dhuafa sangat menaruh perhatian, memiliki kepedulian tinggi, dan konsisten untuk mengangkat derajat kaum dhuafa. (LHZ)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s