Mustahik

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Pada masa Rasulullah SAW, setiap umat Islam yang dianugerahi kelebihan harta oleh Allah SWT diperintah untuk memberikan sedekah. Pemberian sedekah sifatnya bebas, sukarela, dan tidak wajib. Selang beberapa waktu, ada perintah lagi dari Al-Quran yang berisi kewajiban berzakat bagi orang kaya. Tujuan zakat, seperti disabdakan Rasulullah, salah satunya untuk meringankan beban kehidupan orang-orang fakir dan miskin.

Umat Islam yang hidup berkecukupan dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tentu mau memberikan sedekah dan menunaikan zakat. Tanpa disangka, lambat laun dana yang terkumpul dari sedekah dan zakat cukup banyak. Hal itu membuat orang-orang yang serakah dan gila harta tidak dapat menahan hawa nafsu ketika melihat tumpukan harta. Mereka sangat tergoda untuk mengambil dan memilikinya. Baca lebih lanjut

Iklan

Prof. KH. Ali Yafie: Zakat Jangan Dilepas Begitu Saja

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Prof. KH. Ali Yafie. Nama dan wajahnya cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya para tokoh dan umat Islam. Sosoknya sederhana, low profile, dan tidak neko-neko. Sejak dulu hingga sekarang, beliau rajin membaca dan produktif menulis. Karya-karyanya menjadi rujukan. Pria kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926, ini termasuk salah satu ulama sekaligus ahli fikih yang paham seluk beluk zakat secara moderen.

Ali Yafie antara lain pernah dipercaya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Mandiri Syariah. Meski usianya sudah melewati kepala delapan, namun fisiknya terlihat tetap sehat. Lukman Hakim Zuhdi dan Andre Purwanto dari Majalah Mitra Zakat Laznas BSM menemui beliau di kediamannya di Bintaro, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya. Baca lebih lanjut

Zakat Mall vs Zakat Maal

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Ada temuan cukup menarik perihal uang yang dibelanjakan di pusat perbelanjaan atau mall. Menurut survei yang dilakukan oleh Consumer Survey Indonesia (CSI) pada 2010, seorang pengunjung mall di Jakarta rata-rata menghabiskan Rp 10.921.000 per tahun. Misalkan jumlah umat Islam yang berbelanja di seluruh mall Indonesia mencapai 100.000 orang per tahun, maka ‘zakat’ (baca uang yang dibelanjakan) di mall mencapai Rp 1,1 triliun per tahun.

Perputaran uang di mall memang cukup besar, terlebih menjelang lebaran seperti saat ini. Umat Islam yang memiliki kemampuan finansial umumnya membeli barang-barang untuk keperluan menyambut hari raya Idul Fitri. Berbelanja di mall bukanlah sesuatu yang dilarang. Hanya saja, apakah kesadaran ‘zakat’ di mall sudah dibarengi dengan kesadaran mengeluarkan zakat maal (harta)? Baca lebih lanjut

Siti Zubaidah: Bangkit Dari Kandang Kambing

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Suatu hari, Zubaidah (34) diusir dari kontrakan lantaran tak sanggup membayar uang sewa. Ia bingung, isi dompetnya kosong. Seorang

Siti Zubaidah
Siti Zubaidah

temannya lalu menawarkan tempat gratis. Wajah Zubaidah yang semula ceria seketika mengkerut.

Kok tega banget, yah. Masa saya suruh tinggal di kandang kambing yang lama tak terpakai. Di sekelilingnya banyak pohon pisang dan kelapa. Setelah dipikir, daripada anak-anak (Aida, Ali, Sholihah, dan Solahudin) tidur di pinggir jalan atau kolong jembatan, masih mending di sini,” Zubaidah mengelus dada.

Zubaidah mengangkut barang-barang pindahannya sendirian. Kebetulan saat itu bertepatan dengan keberangkatan Nurdin (35), suaminya, ke Kalimantan. Begitu pun saat membersihkan kandang yang kotor dan bau, ia mengerjakan sendiri. Tangannya cekatan membuang sarang laba-laba.

Baca lebih lanjut

Catu: Bertahan Dengan Temulawak

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Nama asli Catu (54), tanpa imbuhan nama depan atau belakangnya. Dulu, orang tuanya berharap, dengan pemberian nama yang mudah diingat dan

Catu
Catu

dilafalkan itu, perjalanan hidup anaknya akan selalu dinaungi kemujuran.

“Kata orang tua saya, catu artinya untung,” kata Catu, pemilik usaha minuman sehat tradisional Cap Putri Kencana yang memproduksi temulawak dan jamu sari akar.

Nyatanya benar. Saat ini Catu termasuk orang yang beruntung. Ia masih bisa mempertahankan usahanya, meski harus jatuh bangun. Catu menuturkan, sebelum 2005, usaha temulawak menjamur dimana-dimana. Di Jabodetabek, kurang lebih ada 115 pabrik temulawak. Rata-rata pemiliknya menangguk untung besar, sukses.

Baca lebih lanjut

Asbun Alfiali: Dunia Abun Dunia Anak-anak

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Pedagang itu tidak boleh marah, begitu pesan Asbun Alfiali (42). Asbun tak asal ucap. Pria yang karib disapa Abun itu punya dasarnya, termasuk

Asbun Alfiali
Asbun Alfiali

berangkat dari pengalaman pribadinya sewaktu jual es kueh.

Begini ceritanya. Hari itu Abun dagang es kueh di sebelah gerbang sekolah. Beberapa menit setelah bel istirahat dibunyikan, puluhan siswa siswi kontan berhamburan menyerbu dagangan Abun. Abun melayani satu persatu pembelinya.

Usai murid-murid meninggalkan gerobak es Abun, Abun melihat seorang siswa duduk menyendiri. Siswa itu tak membeli es kuehnya. Abun menduganya sedang tak memiliki uang jajan. Spontan Abun menghampirinya seraya memberikan sebuah es kueh gratis. Bocah itu menerimanya dengan senang hati.

Baca lebih lanjut

Surana: “Sampahmu Jadi Tumpuan Hidup Saya”

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Siapa sangka, seorang tukang sampah bernama Surana (64), dapat menyekolahkan dua anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Di usia yang

Surana
Surana

seharusnya pensiun dan menikmati hidup, ia justru masih berjikabu dengan bau sampah.

“Kalau saya berhenti kerja, emang orang lain mau ngasih makan keluarga saya, heh?!,” katanya dengan suara meninggi.

Tiap pagi, Surana menarik gerobak sampah berukuran sedang yang sudah reot. Jalannya pelan-pelan. Ia menyambangi setiap rumah di lingkungan RT 006 Pondok Karya, Tangerang, Banten. Sampah yang dimasukan gerobak tak terlalu banyak.

“Takut bagian bawah gerobaknya jebol. Maklum, gerobak ini usianya hampir seperempat dari usia saya,” Surana terkekeh.

Baca lebih lanjut