MENGENAL SETAN

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Hari ini Inung sedang merasa ketakutan sekaligus bimbang. Sejak kemarin, beberapa kali ia mendengar kata ‘setan’. Di sekolah, teman-temannya bercerita setan-setan yang menyeramkan. Di musola, ketika Inung mengaji, Ustad Sobirin menyinggung sedikit dunia setan. Di televisi, Inung sempat melihat tayangan film berjudul Setan Gentayangan. Sepertinya, saat ini orang beramai-ramai membicarakan setan. Inung tentu dibuat penasaran. Informasi yang ia peroleh cuma sepotong-sepotong, belum lengkap.

“Bunda, setan itu apa, sih? Kata teman-teman, setan itu sangat mengerikan. Wajahnya jelek, bahkan hancur tidak jelas. Matanya ada yang melotot, hampir copot. Di atas kepalanya ada dua tanduk. Giginya tajam-tajam. Lidahnya selalu menjulur. Kukunya panjang-panjang. Kalau dibayangkan, Inung jadi takut sama setan. Wuih, serem!” Inung mengadu kepada Bundanya, suatu malam menjelang tidur.

“Oh…” Bunda menghela napas, “setan memang diciptakan oleh Allah SWT. Sebetulnya, kita tidak perlu takut terhadap setan. Setan juga makhluk Allah SWT, sama dengan manusia. Hanya saja, setan tergolong makhluk gaib dan halus. Artinya, setan tidak bisa dilihat secara kasat mata. Setan tidak mungkin diraba atau dipegang oleh tangan kita. Tapi setan bisa menakut-nakuti orang. Tugas utama setan menggoda dan menyesatkan manusia agar melupakan dan menyekutukan Allah SWT.”

“Kenapa setan bisa begitu, Bunda?” Inung keheranan.

“Semua itu tidak lepas dari sejarah masa lalunya. Dahulu, setan atau iblis taat sekali kepada Allah SWT. Sehingga, Allah SWT menempatkan mereka di langit bersama para malaikat. Mereka dimasukkan ke surga. Allah SWT lalu menciptakan Nabi Adam alaihis salam. Para malaikat dan setan diperintahkan sujud kepada Nabi Adam. Para malaikat melakukannya, tetapi setan secara tegas menolaknya. Setan enggan, sombong, dan merasa tinggi. Alasannya, setan lebih mulia dari Nabi Adam. Setan diciptakan dari api, sementara Nabi Adam dibuat dari tanah liat,” tutur Bunda.

“Terus, waktu itu Nabi Adam marah, nggak?”

“Nggak dong, sayang…” Bunda tersenyum, “Allah SWT justru yang murka. Akibatnya, setan dikeluarkan dari surga secara tidak terhormat. Namun, sebelum diturunkan dari surga ke bumi, setan mengajukan permohonan. Mereka meminta supaya dikekalkan hidupnya sampai akhir zaman. Keinginan itu dikabulkan. Allah SWT lantas menegaskan, kelak setan akan menghuni Neraka Jahannam. Saat itulah setan telah berjanji untuk mencari pengikut sebanyak-banyaknya sebagai teman di neraka nanti. Setan sudah menyatakan diri sebagai musuh abadi dan nyata bagi manusia. Setan juga mengikrarkan diri menjadi biang segala masalah di muka bumi ini.”

Subhanallah… Kok, setan jahat banget!” Inung mendengus.

“Karena itu, kita perlu waspada terhadap setan,” potong Bunda.

“Berarti kita tidak boleh berteman dengan setan, dong?”

“Betul. Bahkan, setan harus kita musuhi, kita lawan, kita perangi! Jangan sekali-kali menjadikan setan sebagai kawan, pemimpin atau komandan dalam hidup kita!” Bunda mengepalkan tangan kanannya untuk menegaskan.

“Bunda, bagaimana cara setan mengganggu kita?”

“Itu pertanyaan bagus, anak manis…” Bunda menatap Inung, lekat sekali. Kasih sayang Bunda terpancar jelas dari raut wajahnya. “Setan tergolong makhluk berakal dan cerdik. Setan pandai mengelabui manusia. Setan tidak pernah merasa putus asa dengan upayanya. Bila satu strategi untuk mengganggu manusia gagal, maka setan mencari cara lain yang lebih hebat hingga berhasil. Tak-tiknya bermacam-macam. Jika melihat ada orang yang ingin mengerjakan shalat, belajar atau mengaji Al-Quran, maka dibisiki telinganya agar tidak mengerjakan atau malah menundanya. Bila orang itu sedang melakukan shalat, belajar atau mengaji Al-Quran, maka dibisiki telinganya supaya pahala dan semangatnya berkurang. Misal, pikiran orang itu diingatkan pada urusan-urusan lainnya. Alhasil, orang itu menjadi tidak fokus dan tidak konsentrasi.

Cara lainnya, setan berusaha membungkus keburukan, perbuatan maksiat dan dosa dengan aroma-aroma kebaikan. Contoh, bermusuhan dengan orang lain itu tidak baik. Tapi setan meyakinkan manusia bahwa sikap bermusuhan itu sangat baik. Setan berupaya agar sesama manusia saling memendam rasa benci sampai mereka berkelahi. Pada akhirnya, setan menginginkan kehidupan dunia ini kacau balau dan berantakan. Intinya, setan pasti ikut campur setiap ada kejahatan dan kejelekan. Mereka memiliki bala tentara yang banyak dari golongan manusia dan jin. Semuanya dikerahkan untuk menggoda setiap manusia,” papar Bunda.

“Apakah setan hebat, seperti Spiderman, Superman, Batman, atau Zorro?” Inung cengar-cengir, tangannya sengaja menggaruk-garuk kepala.

Wah, setan lebih hebat dari tokoh-tokoh kartun itu. Allah SWT memberikan keistimewaan kepada setan. Setan bisa mengalir di dalam tubuh manusia seperti aliran darah. Setan dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam sekejap. Gerakannya hebat, lincah sangat luar biasa. Bahkan setan bisa menembus bumi dan langit. Tapi, ada langit tertinggi yang tidak bisa ditembus setan. Langit itu dijaga para malaikat dan ribuan panah berbentuk api yang siap membunuhnya. Jika saja setan nekat masuk untuk mencuri berita atau informasi di dalamnya, maka setan bisa binasa dan hancur lebur.” Bunda menggambarkan, tangannya bergerak ke sana kemari, persis dalang wayang. Nada suaranya berubah-ubah.

“Di awal cerita, Bunda bilang setan itu ciptaan Allah SWT. Itu artinya setan tidak sempurna, ada kelemahannya,” cetus Inung.

“Benar. Setan takut kepada orang yang ikhlas. Setan lemah menghadapi orang yang sabar dan teguh dalam beribadah. Setan tidak mampu menyerupai Rasulullah SAW. Setan tidak bisa meniru sifat-sifat asli Rasulullah SAW. Sebetulnya tipu daya setan itu lemah. Yang perlu diketahui, setan hanya bisa menyeru, mengganggu dan membuat was-was hati manusia. Setan terus mengikuti orang-orang yang senang dengan jebakan-jebakannya. Orang yang berbuat maksiat dan dosa, akan dengan mudah dipengaruhi setan. Namun, setan tidak diberi kemampuan untuk memaksa dan menguasai manusia sehingga menjadi kafir, sesat, atau durhaka.” Suara Bunda sedikit dipelankan. Kelihatannya Bunda sudah mulai capek.

“Oh…Begitu ya, Bunda. Ngomong-ngomong apa sih makanan dan minuman setan, sehingga mampu hidup hingga hari kiamat?”

“Setiap ada makanan dan minuman dihidangkan, setan akan cepat-cepat mendatanginya. Setan makan dan minum bersama orang yang tidak menyebut nama Allah SWT ketika makan dan minum. Setan akan menelan makanan jatuh bila tidak diambil. Makanya, jika ada makanan jatuh, sebaiknya segera dipungut. Kalau ada kotoran yang menempel, maka dibersihkan dahulu, lalu dimakan. Sewaktu makan dan minum, kita dianjurkan duduk yang rapi. Sebab, setan makan dan minum sambil berdiri. Setan juga makan dan minum menggunakan tangan kiri.”

“Apalagi kebiasan-kebiasan yang dilakukan setan?” Sepertinya Inung ingin buru-buru rampung, namun tidak berani ngomong ke Bunda. Maklum, jam di dinding hampir menunjuk pukul 21.30 WIB.

“Setan memiliki singgasana di atas air. Mereka duduk di atasnya seraya mengutus pengikutnya untuk merusak alam ini. Pada saat lain, setan senang menghambur-hamburkan harta benda. Boleh dibilang, setan memiliki perilaku boros. Setan suka berlebihan dalam hal apapun. Setan suka tergesa-gesa dan ceroboh. Nah, kita tidak boleh meniru sifat-sifat yang disenangi setan itu,” Bunda mengingatkan.

“Untuk apa setan diciptakan, Bunda?” Inung menguap. Matanya terlihat sayu.

“Adanya setan di dunia ini semata-mata ujian atau cobaan dari Allah SWT bagi keimanan manusia. Manusia yang bisa melawan setan, maka mereka beruntung akan memperoleh karunia dan rahmat dari Allah SWT. Selain itu, memerangi setan dan pasukannya bisa meningkatkan kualitas ibadah kita. Allah SWT menganugerahkan kesempurnaan kualitas ibadah para nabi dan rasul, lantaran mereka berhasil menentang dan membenci setan,” tutur Bunda. Bunda juga rupanya mulai mengantuk.

Tanpa disadari, Inung sudah lebih dulu terlelap. Bunda menggelengkan kepala sembari tersenyum. Tangannya segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Inung. Bunda beranjak dari tempat tidur, lalu menuju meja belajar Inung. Tangannya mengambil pulpen dan kertas kosong, kemudian menulis:

Anak pintar, Bunda ingin memberi tahu lima cara agar kita terhindar dari gangguan setan. Pertama, kita selalu berzikir, bertasbih dan beristighfar dalam setiap kesempatan. Maksudnya, kita harus ingat dan menyebut nama Allah SWT. Sebab, zikir dapat menyebabkan ketenangan hati dan jiwa. Bila hati dan diri kita tenang, maka kita akan mampu melemahkan bisikan dan godaan setan.

Kedua, kita senantiasa dalam keadaan berwudhu, bebas dari segala hadas maupun najis. Sebab, setan tidak berani mendekati orang-orang yang suci. Ketiga, kita sering mengaji Al-Quran. Setan akan lari menjauh setiap kali mendengar firman Allah SWT. Keempat, kita berkawan dengan orang-orang saleh. Maksudnya, orang-orang yang ahli ibadah dan bisa menjadi teladan dalam hidup keseharian. Kelima, kita rajin membaca ayat kursi (Surat Al-Baqarah ayat 255), Surat An-Nas dan Surat Al-Falaq. Itulah bacaan terbaik untuk minta perlindungan kepada Allah SWT dari tipu daya setan. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita semua dari bujuk rayu setan, amin.
Salam sayang dari Bunda

Catatan kecil dari Bunda untuk Inung itu diletakkan di meja belajar. Persisnya di atas buku-buku yang sudah disiapkan Inung untuk dibawa ke sekolah. Bunda berharap, esok hari Inung akan membaca dan memahaminya. Lebih penting lagi, Bunda ingin Inung dapat melaksanakan pesan-pesannya secara baik. Bunda sempat mencium kening Inung dan merapikan selimutnya, sebelum meninggalkan kamar.***

Iklan

Belajar Naik Sepeda

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Anak-anak berkumpul di halaman rumah Inung. Halamannya cukup luas dan bersih, seperti taman umum. Suasananya ramai sekali. Anak-anak biasa main di situ, setiap sore hari. Ada yang saling kejar-kejaran. Ada yang main karet gelang. Biasanya para perempuan yang memainkannya. Ada yang main petak umpet. Ada yang berputar-putar menaiki sepeda. Ada pula yang sekadar duduk santai.

“Ibu, Inung ingin belajar naik sepeda sama teman-teman,” Inung meminta izin kepada Ibunya.

“Boleh. Coba Inung ambil sendiri sepedanya. Itu, di dekat meja makan. Ibu sedang repot membuat kue, nih. Tangan Ibu kotor,” jawab Ibu, tangannya  mengaduk-aduk adonan kue.

Inung segera berlari menuju tempat yang dimaksud. Ia mengambil sepedanya.

“Nak, main sepedanya jangan jauh-jauh, ya. Takut ada motor atau mobil ngebut,” Ibu mengingatkan Inung.

Iya, Bu,” sahut Inung, seperti tidak menghiraukan.

Inung menuntun sepedanya. Teman-temannya sudah menunggu di depan.

“Kawan-kawan, ini sepeda Inung yang baru,” Inung memperlihatkan sepeda kepada kawan-kawan mainnya. “Bagus, kan?” sepeda

“Iya, sepedanya bagus banget! Keranjang di depannya berwarna putih, sama dengan punya Helmi,” Helmi mengacungkan jempol tangan kanannya.

“Gambarnya bagus. Rodanya ada empat!” seru Away.

“Kalau rodanya cuma dua, Inung bisa jatuh. Dua roda yang kecil di belakang itu untuk membantu. Inung, kan, baru belajar naik sepeda. Dia masih kecil. Umurnya saja baru mau empat tahun,” jelas Sugeng, yang sudah kelas satu Sekolah Dasar.

“Wah, Inung beli di mana sepedanya?” tanya Rizki. Matanya melihat-lihat sepeda Inung. Ia terpesona. Sesekali tangannya mengelus rangka besi sepeda Inung.

“Ayah Inung belinya di toko sepeda, kemarin sore,” jawab Inung, bangga.

“Pokoknya, sepeda Inung lebih bagus daripada sepeda Andi,” celetuk Wawan.

Spontan semua tertawa. Mereka sudah paham maksudnya. Wawan meledek Andi. Sepeda Andi memang sepeda tua. Andi mendapat sepeda itu dari Oling, kakaknya. Sepeda itu sebelumnya digunakan oleh Farel, kakak Oling. Sebelum dipegang Farel, sepeda itu dikendarai Dimas, kakak Farel. Mereka kakak beradik (empat bersaudara) dari keluarga yang kurang mampu.

Dengan demikian, sepeda Andi itu sudah turun temurun. Pemakainya selalu berganti-ganti, tapi tidak ada perbaikan maupun penampilan baru. Besinya ada yang sudah berkarat. Warna catnya terlihat kusam. Tidak ada gambar apapun. Hebatnya, Andi tidak marah. Dia diam saja, hanya menahan kekesalannya di dalam hati. Dia tahu, Wawan suka usil terhadap teman-temannya.

“Yuk, kita main sepeda bareng?” usul Hanif, mencoba mencairkan suasana.

“Ayooo….” jawab mereka serentak.

“Inung boleh ikut nggak?” tanya Inung.

“Boleh…” kata Sugeng, spontanitas.

“Mendingan nggak usah ikut, deh. Nanti ngerepotin kita-kita. Kan, Inung baru belajar naik sepeda. Yang lain kan sudah lancar bersepedanya,” cetus Wawan beralasan.

Inung terdiam, kedua matanya berkaca-kaca. Sugeng cepat-cepat membela Inung. Akhirnya, Helmi, Away, Sugeng, Rizki, Wawan, Andi, dan Hanif sepakat Inung dipersilakan ikut. Dengan catatan, Inung tidak boleh rewel. Jika rewel, terpaksa ditinggal sendirian. Mereka lalu menaiki sepeda masing-masing. Mereka membentuk barisan, seperti semut berjalan. Inung ada di barisan paling belakang. Maklum, tubuh dia paling kecil di antara kawan-kawannya. Kecepatan sepedanya pun tidak seberapa, dibandingkan mereka.

“Woi, tungguin Inung, dong!!!” teriak Inung, takut ditinggal. Napasnya tersenggal-senggal. Keringat membasahi dahi dan pelipis matanya.

sepeda2Kawan-kawannya tidak ada yang mendengar. Mereka terus melaju sambil tertawa. Wajah Inung memerah. Ia ingin marah sekaligus menangis. Ia terpaksa menghentikan sepedanya di tengah-tengah jalan umum. Ia merasa kelelahan. Kedua kakinya tak sanggup lagi menggenjot pedal sepeda.

Selang beberapa menit, terdengar suara keras mengejutkan. Brakkk!!! Ahhhhh!!! Sebuah sepeda motor berkecepatan tinggi menabrak pagar rumah seorang warga. Rupanya pengendara motor itu menghindari Inung. Kalau saja ia tidak membelokkan kendali motornya, mungkin nasib Inung bisa cacat seumur hidup. Anehnya, Inung tidak kaget sama sekali. Ia terlihat tenang. Malah, ia sempat tertawa ketika melihat pengendara motor yang tidak memakai helm itu berdarah hidungnya.

Sugeng menoleh ke belakang, setelah mendengar suara itu. Ia bergegas mendekati Inung, mencari tahu apa yang terjadi.

“Inung kenapa?” tanya Sugeng.

Inung tidak segera menjawab. Mendadak Inung menangis. Sugeng heran.

“Kawan-kawan jahat! Inung ditinggal sendirian,” kata Inung. Tangannya mengusap air mata yang membasahi pipinya.

Kan, di sini ada Sugeng. Inung jangan menangis, ya. Nanti kalau ketahuan Bapak dan Ibu, Inung bisa dimarahi,” Sugeng menasehati.

“Nggak mau! Inung ingin ikut mereka.” Jari telunjuk tangan kanan Inung mengarah kepada teman-temannya yang sudah jauh.

“Lebih baik sekarang Inung pulang bareng Sugeng. Lain waktu saja kita jalan-jalannya,” bujuk Sugeng.

“Inung nggak mau!” Inung bersikeras.

Lho, kok anak Bapak menangis di sini?” secara kebetulan Bapak Inung melewati jalan itu.

“Pak, Inung ingin ikut teman-teman.”

“Oh…Begitu…” Bapak Inung tersenyum, tangannya mengusap kepala Inung. “Inung boleh jalan-jalan sama mereka. Tapi, nanti kalau Inung sudah besar dan lancar naik sepedanya. Inung, kan sekarang baru belajar. Lagi pula, kalau baru belajar, tidak boleh di jalanan umum seperti ini. Sangat berbahaya, banyak motor dan mobil yang lewat. Yuk, sekarang kita pulang. Sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang,” jelas Bapak Inung.

“Inung maunya gendong sama Bapak. Inung capek,” pinta Inung, manja, “terus, sepeda Inung siapa yang bawa?”

“Biar Bapak yang menuntunnya,” jawab Bapak. “Sugeng mau ikut pulang bareng Inung juga?” Bapak Inung melirik Sugeng.

“Yah,” sahut Sugeng, singkat.

Baru beberapa kali kaki Bapak Inung melangkah, seseorang memanggilnya dari arah belakang. Bapak dan Sugeng segera menoleh ke sumber suara. Seketika ia menghentikan langkahnya. Orang itu mempercepat langkahnya. Jalannya agak tertatih-tatih, mendekati Bapak Inung.

“Maaf, Bapak orang tuanya anak kecil ini?” tanya pemuda yang hidungnya berdarah itu. Lengan baju kanannya sobek, seperti terkena sayatan besi tajam.

“Iya, memangnya kenapa?” Bapak Inung memperhatikan sekuju tubuh pemuda itu. Sebagian wajahnya lebam, sebagian lagi memar.

“Maaf, tadi saya terpaksa menghantam pagar rumah orang itu. Sebenarnya saya tidak bersalah. Saya hanya kaget. Sebab, saya menghindari anak Bapak yang berhenti di tengah jalan. Saya tidak ingin menabraknya. Akibatnya motor saya yang ringsek. Pagar rumahnya juga rusak. Jadi, saya minta Bapak ikut bertanggung jawab meringankan beban saya,” papar si pemuda. Tangannya mengarah pada tempat kecelakaan.

“Bagaimana saya bisa mempercayai cerita Anda?” Bapak Inung malah bertanya.

“Maaf, memang saya tidak punya saksi mata. Sebab, tadi di sini sepi. Tidak ada orang yang melihat. Apalagi kejadiannya begitu cepat. Pemilik rumah yang saya tabrak juga sedang keluar. Barangkali Bapak bisa menanyakan kepada anak Bapak, bila saya bohong,” tutur si pemuda, meyakinkan. Tangan kirinya terlihat lecet dan berdarah. Berkali-kali ia meringis, menahan rasa sakit.

Bapak melihat wajah Inung.

“Pak, tadi Om itu yang menabrak pagar,” kata Inung, polos.

“Waktu itu, Inung ada di mana?” tanya Bapak.

“Inung sedang duduk di atas sepeda. Di situ, di tengah jalan.” Inung mengarahkan jari telunjuknya.

“Sugeng melihat sendiri, Inung tadi menghentikan sepedanya di tengah jalan,” Sugeng menimpali.

Bapak Inung manggut-manggut sebagai tanda sudah memahami yang terjadi.

“Baiklah. Begini saja, sebaiknya nanti malam, sekitar pukul 8, Anda ke rumah saya. Kita selesaikan masalah ini secara baik dan kekeluargaan. Rumah saya di sebelah ujung gang itu. Catnya berwarna putih. Di depannya banyak pot bunga,” Bapak Inung menjelaskan. “Sebelumnya saya minta maaf jika anak saya salah. Maklum, anak saya baru belajar naik sepeda,” tambahnya sembari tersenyum.

“Terima kasih, Pak. Saya yakin Bapak orang baik. Nanti malam saya datang ke tempat Bapak,” pemuda itu kemudian menyalami tangan Bapak Inung. Senyum bahagia mengembang dari mulutnya.

“Yuk, kita pulang. Tuh bedug Maghribnya sudah berbunyi,” kata Bapak Inung.
Matahari secara perlahan menyembunyikan diri di ujung Barat. Tidak terdengar lagi suara burung-burung berkicau. Mereka sudah kembali ke sarangnya. Garis-garis merah tak beraturan menghiasi langit. Gelap malam mulai menyelimuti penduduk bumi. Samar-samar sinar rembulan mengikuti jejak langkah kaki Bapak, Inung dan Sugeng, saat mereka kembali ke rumahnya.***

Meniru Rasulullah SAW

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Besok hari minggu. Sekolah libur. Nadia ingin sekali mengunjungi kakek dan nenek. Sudah lama Nadia tidak bersua. Maklum, minggu kemarin Nadia sibuk belajar. Persiapan untuk ujian. Rumah kakek dan nenek berjarak 100 meter dari rumah Nadia. Papa dan Mama Nadia sudah memberinya izin.

“Nadia cantik, besok ke rumah kakek dan neneknya sama Mbak Lastri. Soalnya Mama dan Papa mau keluar kota. Kak Nisa dan Kak Adi ada janji sama teman-temannya. Nanti di sana Nadia nggak boleh nakal, lho…” Mama berbicara pada Nadia, menjelang Nadia tidur. Mama duduk di samping Nadia. Tangan kanannya membelai-belai rambut Nadia.

“Iya, Ma,” suara Nadia terdengar pelan. Nadia sudah mengantuk. Beberapa kali sempat menguap. Nadia menatap Mama sembari tersenyum manis.

Nah, ayo sekarang bobo. Biar besok nggak kesiangan bangunnya. Jangan lupa berdoa, ya,” kata Mama, lalu mencium kening Nadia. Nadia memejamkan kedua matanya. Kurang dari lima menit, Mama mematikan lampu kamar, kemudian keluar. Nadia sudah tidur. Boneka imut kesayangan hadiah ulang tahun dari Mama dipeluknya erat-erat. Beberapa boneka barbie cantik berbaring di sisinya, menemani setiap malam-malamnya.

* * *

Assalamualaikum…Kakek…Nenek…Nadia datang…”

Kakek sedang membaca buku di kursi goyang, di teras rumah. Nenek duduk di sampingnya, melihat foto-foto masa lalu.

Waalaikumsalam…Duh, cucu kakek yang cantik, pintar…Ayo, sini masuk,” sambut kakeknya, gembira.

Neneknya tersenyum. Nadia mencium tangan kakek dan neneknya. Nadia dipeluk neneknya. Dekapannya erat sekali, seperti sudah lama berpisah.

“Nenek kangen sama cucu nenek. Kangen sekali,” bisik nenek.

Kakek pun mencium keningnya, penuh kasih sayang. Mbak Lastri, pembantu yang mengantar Nadia, langsung ke belakang. Ia menemui Mbak Mumu, pembantu di rumah kakek. Biasa, kedua pembantu itu suka ngerumpi dan saling curhat, di dapur. Maklum, keduanya berasal dari kampung yang sama.  

“Kakek dan nenek, bagaimana kabarnya?” Nadia memilih duduk di sebelah kakek, manja sekali. Tidak terlihat ada jarak atau semacam perasaan canggung. Mereka benar-benar akrab.

Alhamdulillah…Kabar kakek dan nenek selalu baik dan sehat.” Kakek mengelus-elus punggung Nadia.

“Kakek sedang baca buku apa?”

Sirah Nabawiyah. Buku riwayat hidup Rasulullah SAW. Isi bukunya bagus, lho,” kakek memperlihatkan sampulnya.

“Rasulullah itu siapa, Kek?”

“Rasulullah SAW itu nabi dan rasul terakhir. Beliau diutus oleh Allah SWT untuk berdakwah. Beliau yang mengajarkan Islam. Orangnya baik. Akhlaknya bagus. Menghormati orang yang tua, menyayangi yang muda. Disiplin atau tepat waktu. Suka menolong. Tidak pemarah. Murah senyum. Senang berkawan dengan siapa saja. Mencintai kebersihan. Menyayangi lingkungan. Hidupnya penuh hikmah dan bersahaja. Beliau panutan kita semua. Beliau sangat mencintai pengikutnya. Nadia mau seperti Rasulullah SAW?” kakek tersenyum, matanya lekat menatap Nadia.

“Mau. Caranya bagaimana, Kek?”

Nah, sekarang kakek akan memberi tahu. Khusus untuk cucu kakek yang tersayang.” Kakek bersemangat.

Seperti diceritakan buku ini, Rasulullah SAW sering tidur beralaskan tikar di rumahnya yang sederhana. Padahal, beliau seorang pemimpin besar yang hebat dan disegani. Sahabat-sahabatnya pun banyak yang kaya raya. Mereka tak segan-segan siap memberikan uang dan hartanya. Semuanya demi Rasulullah SAW. Tapi Rasulullah SAW justru malah menolaknya secara halus. Beliau tidak mau merepotkan orang lain. Sementara para pemimpin lain hidup senang bergelimang harta.

Satu waktu Rasulullah SAW makan di sebelah orang tua yang dipenuhi penyakit kudis, miskin dan kotor. Namun beliau tidak merasa risih atau sungkan. Beliau melihat seseorang bukan sekadar dari luarnya. Kalau ada pakaian yang rusak (sobek atau bolong), Rasulullah SAW menambalnya (menjahitnya) sendiri. Beliau tidak mau menyuruh istri maupun pembantunya. Selama bisa dikerjakan sendiri, maka akan dilaksanakannya. Begitu kira-kira prinsip yang dipegang Rasulullah SAW.

“Setiap kali pulang ke rumah, Rasulullah SAW membantu pekerjaan istrinya di dapur. Misalnya memasak atau membersihkan peralatan dapur. Bila tidak ada makanan, beliau tidak marah. Beliau sabar, malah tersenyum kepada istrinya. Bahkan beliau memilih berpuasa sunah, karena memperoleh pahala. Ya, seperti kakek Nadia ini,” kakek terkekeh. Nenek yang sedang menyulam, menoleh, cuma tersenyum. Nenek memang dikenal pendiam. Jika ngomong seperlunya saja.

“Ah, kakek bisa saja, nih!” cetus Nadia, juga tersenyum.

“Maaf, Pak, ini teh manisnya. Maaf, Bu, ini minuman jahenya. Silakan Mbak Nadia, sirup jeruk dan pisang gorengnya dicicipi. Enak, lho, buatan sendiri. Masih panas,” Mbak Mumu berpromosi, mesem-mesem sendiri. Pembantu kakek itu memang sering terlalu percaya diri. Kadang-kadang karakter centilnya dikeluarkan, begitu melihat lelaki ganteng.

“Terima kasih, Mbak Mumu,” balas Nadia.

Kakek melanjutkan penjelasannya. Rasulullah SAW mau mengajari orang yang tidak tahu. Satu waktu, menurut kakek, ada orang bukan muslim yang kencing di dalam masjid. Rasulullah SAW mengetahuinya, tapi emosinya tidak terpancing. Beliau hanya menegur dan berkata lembut kepada orang itu. Orang itu lantas pergi begitu saja dari masjid. Dia betul-betul cuek. Beliau kemudian mengambil air, lalu membasuh tempat yang dikencinginya.

“Beliau tidak memarahinya, karena sayang kepada orang itu. Beliau tahu, itu orang bodoh yang tidak mengerti aturan agama,” ujar Kakek.

“Wah, Rasulullah mulia sekali ya, Kek,” kata Nadia. Kakeknya menganggukan kepala.

Kakek menuturkan, ada lagi yang lebih istimewa. Saat ajal mulai mendekati, Rasulullah SAW masih sempat memikirkan umatnya. Padahal, Malaikat Jibril sudah membukakan seluruh pintu surga untuk beliau.

“Wahai Jibril, bagaimana dengan nasib umatku kelak? Apakah mereka nanti terbebas dari api neraka?” tanya Rasulullah SAW kepada Malaikat Jibril. Hal itu rupanya yang sangat dicemaskan beliau. Namun, Malaikat Jibril tidak mampu menjawabnya.

Detik-detik kewafatan Rasulullah SAW semakin dekat. Saatnya Malaikat Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh beliau ditarik dari dalam raganya. Nampak seluruh tubuhnya bersimbah peluh. Urat-urat lehernya menegang.

“Wahai Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Suara Rasulullah SAW terdengar lirih, layaknya orang mengaduh. Malaikat Jibril tidak tega melihat Rasulullah SAW seperti sedang disiksa. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa kepada Allah SWT. Putri kesayangan Rasulullah SAW, Fatimah bersama suaminya Ali bin Abi Thalib, yang menemani Rasulullah SAW sampai menangis. Keduanya menundukkan wajah. Mereka tak kuasa menahan perih yang dialami Rasulullah SAW. 

Sebentar kemudian, Rasulullah SAW merasa sangat kesakitan, lalu berkata, “Ya Allah, dahsyat sekali proses wafat (pelepasan ruh dari badan) ini. Timpakan saja semua siksa maut kepadaku, jangan kepada umatku.”

“Itulah bukti kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya. Beliau masih berdoa bagi kebaikan generasi berikutnya. Insya Allah, kakek, nenek, Nadia dan keluarga kita termasuk umat beliau,” tandas kakek, meyakinkan.

“Amin…Mudah-mudahan ya, Kek,” ucap Nadia. Kedua tangan mengusap wajahnya, setelah beberapa detik menengadah.

Semangat kakek menceritakan jalan hidup Rasulullah SAW begitu besar. Ia tidak terlihat capek atau bosan. Dalam kehidupan keseharian, Rasulullah SAW banyak memberikan contoh. Segala perbuatan, ucapan dan pikiran beliau bisa menjadi teladan. Jika Rasulullah SAW ingin memakai sandal, maka memulai dengan menggunakan sandal yang sebelah kanan. Baru kemudian beliau memakai sandal yang sebelah kiri. Begitu pula ketika beliau hendak memakai sepatu dan pakaian.

“Nah, bila Nadia akan berangkat sekolah, mengaji di musola, main ke rumah kakek, atau pergi kemana saja, juga mesti begitu. Namun, bila akan melepas sandal, maka Nadia memulai dengan kaki kirinya, terakhir kaki kanannya. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya cara seperti itu,” jelas kakek.

“Oh…Kok Nadia baru tahu ya, Kek,” jari telunjuk tangan kanan Nadia memukul-mukul pelan hidungnya sendiri. Kakek tersenyum. Nenek ikut-ikutan tersenyum, tanpa berkomentar.

Rasulullah SAW selalu berusaha melaksanakan sholat lima waktu secara berjamaah. Jika mendengar suara adzan, tutur kakek, beliau segera berangkat ke masjid. Orang-orang yang ditemuinya di jalan, diajaknya ke masjid. Setelah selelsai sholat, beliau cepat-cepat pulang kembali ke rumahnya. Kakek berhenti sejenak. Ia meminum teh manis kesukaannya buatan Mbak Mumu.

“Kek, itu suara adzan duhur sudah berkumandang. Sekarang kita sholat berjamaah, yuk. Kakek nanti yang menjadi imam. Biar kita bisa meniru kebiasaan Rasulullah SAW,” ajak Nadia.

“Ayo, siapa takut?!” balas kakek, tersenyum.

“Nenek ikutan dong…” cetus Nenek, menghentikan pekerjaan menyulamnya. Sejak tadi nenek hanya mendengarkan kakek membagi ilmu.

Tangan Nadia digandeng kakek dan neneknya. Nadia berada di tengah. Mereka berjalan ke belakang, menuju musola keluarga. Namun, mereka terkejut, begitu melintasi dapur. Banyak kulit kacang berserakan di lantai. Beberapa gelas bekas minuman sirup berjejer rapi. Piring bekas kue dan pisang goreng numpuk. Rupanya Mbak Mumu dan Mbak Lastri masih asyik ngerumpi sejak pagi.

“Mumu…!!!” teriak kakek, geram. “Bulan depan gaji kamu dipotong!!!”

Brakkk!!! Sapu di belakang Mbak Mumu terjatuh mengenai kuali kotor, lantaran ditendang kakinya sendiri. Mbah Mumu kaget luar biasa. Hampir saja jantungnya copot. Mbak Mumu dan Mbak Lastri seketika mengakhiri obrolannya. Kedua pembantu itu takut jika kakek marah. Bisa-bisa mereka nanti diberhentikan dari pekerjaannya. Keduanya segera membereskan dapur. Nenek dan Nadia hanya senyum-senyum saja.***

Belajar Meminta Maaf

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

“Pak, Ibu sudah tidak sanggup lagi mengurus Inung. Capek. Inung sekarang jadi bandel. Suka memberontak. Berani melawan Ibu. Tidak mau belajar. Tidak mau membantu Ibu. Setiap hari maunya main terus. Duit jajannya saja membengkak sampai lima kali lipat. Ibu sering melihat Inung main play station sama teman-temannya hingga berjam-jam. Belakangan duit Ibu yang didompet sering berkurang. Coba Bapak cari jalan keluarnya. Lama-lama Ibu bisa stres!” Ibu mengadu kepada Bapak. Suara Ibu meninggi. Emosinya meledak-ledak.

“Setahu Bapak, Inung tidak seperti yang Ibu ceritakan,” sergah Bapak, raut wajahnya tenang.

“Makanya Bapak jangan sibuk dengan kerjaan terus, dong. Kalau ada Bapak, iya Inung takut. Tapi kalau Bapak sedang tidak ada di rumah atau berada di luar kota, Inung semaunya sendiri. Inung suka marah dan mengamuk. Apa yang ada di depannya dirusak. Beberapa piring dipecah pakai kayu. Gelas-gelas dibantingnya ke lantai. Nasihat Ibu sudah tidak mempan. Pokoknya Ibu menyerah. Titik!” Ibu berkata ketus, lalu meninggalkan Bapak.

Bapak menarik napas panjang. Bapak melihat Ibu masuk ke kamarnya.

“Ini mesti ada yang tidak beres,” pikir Bapak.

Sore hari, sepuluh menit menjelang adzan Maghrib berkumandang, Inung baru pulang ke rumah. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya kuyu.

“Inung, coba kemari sebentar, Nak. Bapak ingin bicara,” kata Bapak yang sedang duduk santai di kursi.

“Inung mau mandi, Pak. Badannya gatal. Bajunya bau dan kotor,” Inung menjawab sembari memperlihatkan kaosnya yang lecek.

Lepas Maghrib, Inung bersiap-siap keluar dari rumah. Bapak dan Ibu sedang menonton televisi di ruang tengah.

“Inung mau kemana?” tanya Bapak.

“Ke rumah Wawan, Pak. Mau belajar bersama.”

Loh, bukannya besok sekolah libur?” Bapak tak mau kalah. Bapak tahu, di sebelah rumah Wawan ada rental play station.

“Maksud Inung, Inung mau mengambil buku pelajaran yang tadi dititipin ke Wawan.” Inung terlihat gugup.

“Sebaiknya besok saja mengambil bukunya. Lagi pula kan Inung tadi baru pulang. Nanti kalau kecapean, bisa sakit, loh,” Bapak menyarankan.

Inung membatalkan rencana perginya. Inung balik lagi ke kamarnya. Wajahnya cemberut. Ia bersungut-sungut sendiri. Langkah kakinya sedikit dihentakkan ke lantai. Bapak tahu Inung ngambek. Ibu diam saja, pura-pura tidak mengerti. Bapak segera menghampiri Inung di kamarnya.

“Coba Bapak lihat buku catatan sekolah Inung. Sudah lama Bapak tidak mengeceknya,” Bapak berusaha menurunkan rasa kesal Inung. Tak henti-hentinya Bapak tersenyum.

Inung masih manyun. Inung membuka tas sekolahnya, kemudian menyerahkan satu buah buku kepada Bapaknya. Bapak secara perlahan membuka lembaran-lembaran buku Inung.

Kok sekarang nilai-nilai Inung tambah menurun. Inung sudah jarang belajar, ya?” selidik Bapak.

Inung terdiam. Mulutnya terasa berat untuk sekadar mengeluarkan sepatah dua patah kata. Jari jemari tangannya meremas-remas kertas.

“Halo…” Bapak mencoba menggoda Inung.

Inung tidak terpengaruh. Inung tetap diam. Bapak menutup buku. Kedua tangan Bapak lalu memegang pundak Inung.

“Sekarang katakan apa yang Inung minta? Bapak akan mengabulkannya. Yang penting Inung jujur sama Bapak.” Sikap Bapak dibuat seramah mungkin supaya Inung merasa nyaman. Kedua matanya lekat menatap mata Inung yang terlihat nanar.

“Inung tidak butuh apa-apa. Sejak kesibukan Bapak di kantor meningkat, Inung hampir tidak pernah ketemu Bapak, apalagi ngobrol. Bapak berangkat kerja sebelum Inung bangun tidur. Bapak pulang kerja larut malam, Inung sudah tidur. Hari Sabtu dan Minggu, biasanya Bapak pergi sama teman kantornya. Terus, kapan waktu buat Inung? Bapak memang membelikan play station yang paling bagus. Bapak juga memberikan Inung uang jajan yang banyak. Tapi kebutuhan Inung bukan cuma itu. Inung perlu perhatian dari Bapak. Sekarang Bapak sudah nggak sayang lagi sama Inung!” Inung mengutarakan unek-uneknya.

Sekarang giliran Bapak yang dibuat terdiam. Bapak benar-benar kaget. Bapak tidak menyangka Inung akan berkata begitu secara blak-blakan. Wajah Bapak seperti ditampar Inung. 

“Makanya Inung berani sama Ibu. Inung tidak mau belajar. Inung nakal. Semua itu bentuk protes dari Inung, Pak,” Inung mengungkapkan kegelisahan hatinya. Amarah Inung terlampiaskan. Hatinya mulai lega. Beban-beban yang menyesaki pikirannya ditumpahkan semua.

Bapak merangkul Inung. Pelukannya erat sekali.

“Maafin Bapak, ya, Nak. Bapak yang salah. Beberapa waktu belakangan, Bapak memang lebih mementingkan karir dan pekerjaan. Sampai-sampai Inung dilupakan. Mulai sekarang Bapak janji akan memperbaiki diri. Inung juga harus janji tidak boleh nakal lagi. Kalau Inung nanti bisa meraih rangking satu, dua atau tiga di sekolah, Bapak memberikan hadiah istimewa. Bapak akan mengajak Inung, Kakak, dan Ibu jalan-jalan dan liburan ke luar kota. Deal?”

Inung terdiam, lantas mengatur pernapasannya.

Deal! Terima kasih ya, Pak,” Inung tersenyum bahagia sembari menatap wajah Bapaknya.

Nah, sebaiknya sekarang Inung meminta maaf sama Ibu. Soalnya kemarin-kemarin Inung sering membuat Ibu kesal. Meminta maaf kepada orang lain itu tindakan yang baik dan terpuji. Agama juga menganjurkannya. Inung mau, kan?”

Inung mengangguk pelan. Tidak berapa lama, Bapak dan Inung menghampiri Ibu yang masih menonton sinetron.

“Ibu, Inung mohon maaf karena telah membuat Ibu sakit hati,” Inung mencium tangan Ibunya.

“Ya, Ibu sudah memaafkan Inung. Ingat, Inung tidak boleh badung lagi,” pesan Ibunya. 

“Siap, Bu!” Inung menempelkan tangan kanannya dikening, layaknya tentara yang sedang memberi hormat.***

Kewajiban Terhadap Rasulullah SAW

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Anak-anak sudah berkumpul di masjid, setelah shalat duhur. Laki-laki memakai baju koko, celana panjang putih dan berpeci. Rata-rata memakai peci haji Sementara para perempuan mengenakan kerudung dan busana muslimah. Mereka sangat senang akan mengikuti pesantren kilat. Buku, pulpen, pensil, dan perlengkapan lainnya sudah mereka persiapkan dari rumah. Siang itu tema yang akan disampaikan Ustad Helmi tentang kewajiban umat Islam terhadap Rasulullah SAW.

Setelah mengucapkan salam dan melihat kesiapan anak-anak, Ustad Helmi mulai menerangkan materi. Sebelumnya Ustad Helmi mendata seluruh anak yang hadir. Menurut Ustad Helmi, ada beberapa kewajiban kita sebagai umat Islam kepada Rasulullah SAW. Pertama, kewajiban kita beriman kepada Rasulullah SAW. Maksudnya, kita wajib yakin sepenuh hati bahwa Rasulullah SAW adalah rasul Allah SWT. Orang yang beriman kepada Allah SWT, maka kadar keimanannya kepada Rasulullah SAW pun tidak perlu diragukan lagi.

Oleh karena itu, lanjut Ustad Helmi, di dalam dua kalimat syahadat, nama Allah SWT disandingkan dengan nama Rasulullah SAW. Asyhadu alla ilaha Illallahu wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Artinya, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad sesungguhnya utusan Allah SWT. Tidak ada nabi dan rasul manapun yang namanya disejajarkan dengan nama Allah SWT, selain nama Rasulullah SAW. Ini membuktikan bahwa kedudukan Rasulullah SAW sangat mulia dan istimewa di hadapan Allah SWT.

Ustad Helmi lantas membacakan salah satu arti firman Allah SWT yang tertulis dalam Surat An-Nisa’ ayat 136.
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. Ayat ini telah jelas maksud dan arti kandungannya. Jadi, kita tidak perlu memperdebatkannya lagi,” tegas Ustad Helmi.

Kedua, kewajiban kita taat dan patuh kepada Rasulullah SAW. Ustad Helmi menjabarkan, siapapun yang mentaati Rasulullah SAW, maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah SWT. Begitu pula sebaliknya. Ketaatan kita kepada Rasulullah SAW akan membawa kepada sikap mau mengikuti seluruh gerak gerik kehidupan Rasulullah SAW. Orang yang tidak taat kepada Rasulullah SAW, berarti orang itu dalam aktivitas sehari-harinya hanya memenuhi keinginan hawa nafsu, demi kepuasan syahwat dan mengikuti bisikan-bisikan setan yang terkutuk.

Ketiga, kewajiban kita membenarkan dan mengikuti Rasulullah SAW. Dalam hal ini, kata Ustad Helmi, kita mengikuti dan mencontoh Rasulullah SAW dalam berakidah, beribadah maupun ketika berhubungan dengan sesama manusia. Sesungguhnya tidak ada yang salah, melenceng maupun keliru dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat dan umatnya. Sebab, Rasulullah SAW senantiasa berada dalam pantauan dan bimbingan Allah SWT.

“Mencintai Allah SWT tak akan mungkin terjadi kecuali kita sungguh-sungguh mencintai Rasulullah SAW. Orang yang membenarkan apa yang dibawa Rasulullah SAW, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Makna takwa adalah menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi serta meninggalkan semua larangan-Nya secara istiqamah. Bagi orang yang bertakwa, Allah SWT akan memberikan berbagai bonus dan keistimewaan. Misalnya Allah SWT akan memudahkan segala urusan kehidupannya, menunjukkan jalan keluar dari masalah pelik yang dihadapinya, membukakan pintu rezeki dan mendatangkannya dari arah yang tidak terduga, dan mengampuni kesalahan dan dosa-dosanya,” cetus Ustad Helmi. 

Keempat, kewajiban kita bershalawat kepada Rasulullah SAW. Maksudnya, terang Ustad Helmi, bila nama Rasulullah SAW disebut dan kita mendengarnya, maka kita wajib menyampaikan shalawat untuknya.

“Anak-anak ada yang tahu bacaan shalawat?” Ustad Helmi bertanya kepada anak-anak yang sejak tadi serius memperhatikan.

Serempak anak-anak menggelengkan kepalanya, tanda mereka belum mengetahuinya.

Subhanallah,” ucap Ustad Helmi sambil tersenyum. “Baiklah kalau begitu. Begini bacaan singkatnya, allahumma sholli ala muhammad. Artinya, ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kami kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Kalau mau bacaan lengkap dan utamanya, yaitu allahumma sholli ala sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kami kepada junjungan Nabi Muhammad SAW dan juga kepada segenap keluarganya,” jelasnya dengan suara yang sengaja dilambatkan agar bisa diikuti anak-anak.

“Ustad, apa manfaatnya kalau kita bershalawat kepada Rasulullah SAW?” tanya Inung, penasaran. Inung memang dikenal anak yang kritis dan cerdas ketimbang teman-teman sebayanya. Rasa ingin tahunya terhadap sesuatu sangat besar. Karena itu dia kerap memilih tempat duduk paling depan.

“Rasulullah SAW bisa kita ibaratkan seperti ember besar yang airnya sudah penuh. Air itu maksudnya pahala dan keistimewaan yang dimiliki Rasulullah SAW. Rasulullah SAW tidak memiliki dosa dan kesalahan. Bila kita bershalawat, maka kita mengharap keberkahan tumpahan air itu dapat mengalir kepada diri kita. Nanti pada hari kiamat, semua nabi dan rasul akan dimintai syafaat (pertolongan) oleh umatnya masing-masing. Tetapi, para nabi dan rasul tidak bisa memberikan syafaat, karena mereka pernah berbuat salah dan dosa kepada Allah SWT. Akhirnya seluruh umat mencari keberadaan Rasulullah SAW. Mereka ingin meminta syafaatnya. Sebab, hanya Rasulullah SAW yang dapat memberikan syafaat,” beber Ustad Helmi.

“Paham?”

“Insya Allah kami paham, Ustad…” Anak-anak saling berpandangan. Mereka sebenarnya ingin tertawa, tapi ditahan. Takut Ustad Helmi tersinggung.

Kelima, kewajiban kita memahami bahwa Rasulullah SAW adalah nabi dan rasul penutup. Di dalam istilah bahasa Arab disebut khatimun nubuwwah. Setelah Rasulullah SAW wafat, maka tidak ada lagi yang namanya nabi, rasul maupun wahyu. Pengertian wahyu ialah perintah maupun larangan dari Allah SWT yang disampaikan kepada para nabi dan rasul melalui perantara Malaikat Jibril.

“Ustad, bagaimana jika ada orang yang menyatakan dirinya nabi atau mengaku sebagai rasul?” sela Firman.

“Orang yang model seperti itu dikatagorikan penjahat dan pembohong besar. Pada setiap masa akan ada orang yang mendeklarasikan diri sebagai nabi atau rasul. Dia bukan saja berdosa besar kepada Allah SWT, tetapi sudah menipu manusia lainnya. Oleh karena itu, kita tidak perlu mempercayainya. Bahkan kita boleh memeranginya. Meskipun, orang itu memiliki kehebatan yang bermacam-macam. Misalnya dia bisa menghilang, mampu berjalan di atas air, dapat terbang, sanggup memindahkan gunung, bahkan menghidupkan kembali orang yang sudah mati.”

Keenam, kewajiban kita membela Rasulullah SAW. Rasulullah SAW memang kini telah tiada. Namun kehebatan, kharisma, nama baik, maupun ajarannya akan terus memancar hingga hari kiamat tiba. Keagungan pribadinya tak henti-henti dibahas beragam orang. Apabila ada orang atau kelompok yang berani melecehkan dan memfitnah Rasulullah SAW dalam bentuk apapun, maka kita harus bersiap menentangnya. Kita mesti meluruskan pandangan salah mereka secara baik-baik, agar terhindar dari aksi kekerasan. Jika melalui cara yang baik tidak mempan dan mereka tetap membandel, maka diperbolehkan mengambil tindakan yang cukup tegas.

“Kenapa ada orang yang menghina dan membenci Rasulullah SAW, Ustad?” potong Rizky.

“Menghina Rasulullah SAW sama saja dengan menghina dirinya sendiri. Orang itu berarti tidak suka terhadap Rasulullah SAW. Karena dia bodoh dan belum mengerti siapa sesungguhnya Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah tokoh dunia yang menjadi teladan bagi seluruh manusia, khususnya umat Islam. Akhlaknya baik, ibadahnya rajin, sisi kemanusiaannya tinggi, dan segala perjuangannya tulus ikhlas diniatkan hanya kepada Allah SWT. Sangat wajar jika Allah SWT menyebut sekaligus telah menetapkan Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam),” tandas Ustad Helmi.

Ustad Helmi berhenti sejenak untuk melihat jam tangannya.

“Anak-anak, sekarang waktu shalat ashar hampir masuk. Kiranya kita cukupkan pengajian pesantren kilat ini. Insya Allah dilanjutkan besok. Semoga pembahasan ini membawa manfaat bagi kita semua, amin ya rabbal ‘alamin. Ustad sekadar mengingatkan, sebelum pulang, mari sebaiknya kita shalat ashar berjamaah di masjid ini. Kurang lebihnya Ustad mohon maaf. Akhir kata, wassalamualaikum wa rahmatullahi wabarakatuh…” tutup Ustad Helmi.

“Waalaikum salam wa rahmatullahi wabarakatuh…”***

Mengikuti Rasulullah SAW

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Besok hari minggu. Sekolah libur. Nadia ingin sekali mengunjungi kakek dan nenek. Sudah lama Nadia tidak bersua. Maklum, minggu kemarin Nadia sibuk belajar. Persiapan untuk ujian. Rumah kakek dan nenek berjarak 100 meter dari rumah Nadia. Papa dan Mama Nadia sudah memberinya izin.

“Nadia cantik, besok ke rumah kakek dan neneknya sama Mbak Lastri. Soalnya Mama dan Papa mau keluar kota. Kak Nisa dan Kak Adi ada janji sama teman-temannya. Nanti di sana Nadia nggak boleh nakal, lho…” Mama berbicara pada Nadia, menjelang Nadia tidur. Mama duduk di samping Nadia. Tangan kanannya membelai-belai rambut Nadia.

“Iya, Ma,” suara Nadia terdengar pelan. Nadia sudah mengantuk. Beberapa kali sempat menguap. Nadia menatap Mama sembari tersenyum manis.

“Nah, ayo sekarang bobo. Biar besok nggak kesiangan bangunnya,” kata Mama, lalu mencium kening Nadia. Nadia memejamkan kedua matanya. Kurang dari lima menit, Mama mematikan lampu kamar, kemudian keluar. Nadia sudah tidur. Boneka imut kesayangan hadiah ulang tahun dari Mama dipeluknya erat-erat. Beberapa boneka barbie cantik berbaring di sisinya, menemani setiap malam-malamnya.

* * *

“Assalamualaikum…Kakek…Nenek…Nadia datang…”

Kakek sedang membaca buku di kursi goyang, di teras rumah. Nenek duduk di sampingnya, melihat foto-foto masa lalu.

“Waalaikumsalam…Duh, cucu kakek yang cantik, pintar…Ayo, sini masuk,” sambut kakeknya, gembira. Neneknya tersenyum. Nadia mencium tangan kakek dan neneknya. Nadia dipeluk neneknya. Dekapannya erat sekali, seperti sudah lama berpisah.

“Nenek kangen sama cucu nenek. Kangen sekali,” bisik nenek.

Kakek pun mencium keningnya, penuh kasih sayang. Mbak Lastri, pembantu yang mengantar Nadia, langsung ke belakang. Ia menemui Mbak Mumu, pembantu di rumah kakek. Biasa, kedua pembantu itu suka ngerumpi dan saling curhat, di dapur. Maklum, keduanya berasal dari kampung yang sama.  

“Kakek dan nenek, bagaimana kabarnya?” Nadia memilih duduk di sebelah kakek, manja sekali. Tidak terlihat ada jarak atau semacam perasaan canggung. Mereka benar-benar akrab.

“Alhamdulillah…Kabar kakek dan nenek selalu baik dan sehat.” Kakek mengelus-elus punggung Nadia.

“Kakek sedang baca buku apa?”

“Sirah Nabawiyah. Buku riwayat hidup Rasulullah SAW. Isi bukunya bagus, lho,” kakek memperlihatkan sampulnya.

“Rasulullah itu siapa, Kek?”

“Rasulullah SAW itu nabi dan rasul terakhir. Beliau diutus oleh Allah SWT untuk berdakwah. Beliau yang mengajarkan Islam. Orangnya baik. Akhlaknya bagus. Menghormati orang yang tua, menyayangi yang muda. Disiplin atau tepat waktu. Suka menolong. Tidak pemarah. Murah senyum. Senang berkawan dengan siapa saja. Mencintai kebersihan. Menyayangi lingkungan. Hidupnya penuh hikmah dan bersahaja. Beliau panutan kita semua. Beliau sangat mencintai pengikutnya. Nadia mau seperti Rasulullah SAW?” kakek tersenyum, matanya lekat menatap Nadia.

“Mau. Caranya bagaimana, Kek?”

“Nah, sekarang kakek akan memberi tahu. Khusus untuk cucu kakek yang tersayang.” Kakek bersemangat.

Seperti diceritakan buku ini, Rasulullah SAW sering tidur beralaskan tikar di rumahnya yang sederhana. Padahal, beliau seorang pemimpin besar yang hebat dan disegani. Sahabat-sahabatnya pun banyak yang kaya raya. Mereka tak segan-segan siap memberikan uang dan hartanya. Semuanya demi Rasulullah SAW. Tapi Rasulullah SAW justru malah menolaknya secara halus. Beliau tidak mau merepotkan orang lain. Sementara para pemimpin lain hidup senang bergelimang harta.

Satu waktu Rasulullah SAW makan di sebelah orang tua yang dipenuhi penyakit kudis, miskin dan kotor. Namun beliau tidak merasa risih atau sungkan. Beliau melihat seseorang bukan sekadar dari luarnya. Kalau ada pakaian yang rusak (sobek atau bolong), Rasulullah SAW menambalnya (menjahitnya) sendiri. Beliau tidak mau menyuruh istri maupun pembantunya. Selama bisa dikerjakan sendiri, maka akan dilaksanakannya. Begitu kira-kira prinsip yang dipegang Rasulullah SAW.

“Setiap kali pulang ke rumah, Rasulullah SAW membantu pekerjaan istrinya di dapur. Misalnya memasak atau membersihkan peralatan dapur. Bila tidak ada makanan, beliau tidak marah. Beliau sabar, malah tersenyum kepada istrinya. Bahkan beliau memilih berpuasa sunah, karena memperoleh pahala. Ya, seperti kakek Nadia ini,” kakek terkekeh. Nenek yang sedang menyulam, menoleh, cuma tersenyum. Nenek memang dikenal pendiam. Jika ngomong seperlunya saja.

“Ah, kakek bisa saja, nih!” cetus Nadia, juga tersenyum.

“Maaf, Pak, ini teh manisnya. Maaf, Bu, ini minuman jahenya. Silakan Mbak Nadia, sirup jeruk dan pisang gorengnya dicicipi. Enak, lho, buatan sendiri. Masih panas,” Mbak Mumu berpromosi, mesem-mesem sendiri. Pembantu kakek itu memang sering terlalu percaya diri. Kadang-kadang karakter centilnya dikeluarkan, begitu melihat lelaki ganteng.

“Terima kasih, Mbak Mumu,” balas Nadia.

Kakek melanjutkan penjelasannya. Rasulullah SAW mau mengajari orang yang tidak tahu. Satu waktu, menurut kakek, ada orang bukan muslim yang kencing di dalam masjid. Rasulullah SAW mengetahuinya, tapi emosinya tidak terpancing. Beliau hanya menegur dan berkata lembut kepada orang itu. Orang itu lantas pergi begitu saja dari masjid. Dia betul-betul cuek. Beliau kemudian mengambil air, lalu membasuh tempat yang dikencinginya.

“Beliau tidak memarahinya, karena sayang kepada orang itu. Beliau tahu, itu orang bodoh yang tidak mengerti aturan agama,” ujar Kakek.

“Wah, Rasulullah mulia sekali ya, Kek,” kata Nadia. Kakeknya menganggukan kepala.

Kakek menuturkan, ada lagi yang lebih istimewa. Saat ajal mulai mendekati, Rasulullah SAW masih sempat memikirkan umatnya. Padahal, Malaikat Jibril sudah membukakan seluruh pintu surga untuk beliau.

“Wahai Jibril, bagaimana dengan nasib umatku kelak? Apakah mereka nanti terbebas dari api neraka?” tanya Rasulullah SAW kepada Malaikat Jibril. Hal itu rupanya yang sangat dicemaskan beliau. Namun, Malaikat Jibril tidak mampu menjawabnya.

Detik-detik kewafatan Rasulullah SAW semakin dekat. Saatnya Malaikat Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh beliau ditarik dari dalam raganya. Nampak seluruh tubuhnya bersimbah peluh. Urat-urat lehernya menegang.
“Wahai Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Suara Rasulullah SAW terdengar lirih, layaknya orang mengaduh. Malaikat Jibril tidak tega melihat Rasulullah SAW seperti sedang disiksa. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa kepada Allah SWT. Putri kesayangan Rasulullah SAW, Fatimah bersama suaminya Ali bin Abi Thalib, yang menemani Rasulullah SAW sampai menangis. Keduanya menundukkan wajah. Mereka tak kuasa menahan perih yang dialami Rasulullah SAW. 

Sebentar kemudian, Rasulullah SAW merasa sangat kesakitan, lalu berkata, “Ya Allah, dahsyat sekali proses wafat (pelepasan ruh dari badan) ini. Timpakan saja semua siksa maut kepadaku, jangan kepada umatku.”

“Itulah bukti kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya. Beliau masih berdoa bagi kebaikan generasi berikutnya. Insya Allah, kakek, nenek, Nadia dan keluarga kita termasuk umat beliau,” tandas kakek, meyakinkan.

“Amin…Mudah-mudahan ya, Kek,” ucap Nadia. Kedua tangan mengusap wajahnya, setelah beberapa detik menengadah.

Semangat kakek menceritakan jalan hidup Rasulullah SAW begitu besar. Ia tidak terlihat capek atau bosan. Dalam kehidupan keseharian, Rasulullah SAW banyak memberikan contoh. Segala perbuatan, ucapan dan pikiran beliau bisa menjadi teladan. Jika Rasulullah SAW ingin memakai sandal, maka memulai dengan menggunakan sandal yang sebelah kanan. Baru kemudian beliau memakai sandal yang sebelah kiri. Begitu pula ketika beliau hendak memakai sepatu dan pakaian.

“Nah, bila Nadia akan berangkat sekolah, mengaji di musola, main ke rumah kakek, atau pergi kemana saja, juga mesti begitu. Namun, bila akan melepas sandal, maka Nadia memulai dengan kaki kirinya, terakhir kaki kanannya. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya cara seperti itu,” jelas kakek.

“Oh…Kok Nadia baru tahu ya, Kek,” jari telunjuk tangan kanan Nadia memukul-mukul pelan hidungnya sendiri. Kakek tersenyum. Nenek ikut-ikutan tersenyum, tanpa berkomentar.

Rasulullah SAW selalu berusaha melaksanakan sholat lima waktu secara berjamaah. Jika mendengar suara adzan, tutur kakek, beliau segera berangkat ke masjid. Orang-orang yang ditemuinya di jalan, diajaknya ke masjid. Setelah selelsai sholat, beliau cepat-cepat pulang kembali ke rumahnya. Kakek berhenti sejenak. Ia meminum teh manis kesukaannya buatan Mbak Mumu.

“Kek, itu suara adzan duhur sudah berkumandang. Sekarang kita sholat berjamaah, yuk. Kakek nanti yang menjadi imam. Biar kita bisa meniru kebiasaan Rasulullah SAW,” ajak Nadia.

“Ayo, siapa takut?!” balas kakek, tersenyum.

“Nenek ikutan dong…” cetus Nenek, menghentikan pekerjaan menyulamnya. Sejak tadi nenek hanya mendengarkan kakek membagi ilmu.

Tangan Nadia digandeng kakek dan neneknya. Nadia berada di tengah. Mereka berjalan ke belakang, menuju musola keluarga. Namun, mereka terkejut, begitu melintasi dapur. Banyak kulit kacang berserakan di lantai. Beberapa gelas bekas minuman sirup berjejer rapi. Piring bekas kue dan pisang goreng numpuk. Rupanya Mbak Mumu dan Mbak Lastri masih asyik ngerumpi sejak pagi.

“Mumu…!!!” teriak kakek, geram. “Bulan depan gaji kamu dipotong!!!”

Brakkk!!! Sapu di belakang Mbak Mumu terjatuh mengenai kuali kotor, lantaran ditendang kakinya sendiri. Mbah Mumu kaget luar biasa. Hampir saja jantungnya copot. Mbak Mumu dan Mbak Lastri seketika mengakhiri obrolannya. Kedua pembantu itu takut jika kakek marah. Bisa-bisa mereka nanti diberhentikan dari pekerjaannya. Keduanya segera membereskan dapur. Nenek dan Nadia hanya senyum-senyum saja.***