Ini Cerita Jalan-Jalan Saya ke Batu Caves & KLCC

Batu Caves

Ini hari kedua saya melancong di Malaysia. Jumat siang rencananya mau jalan-jalan ke Batu Caves (gua batu bukit kapur) di Distrik Gombak dan KLCC (Kuala Lumpur City Centre) di tengah kota yang sudah sangat masyhur itu.

Berangkatlah kami berempat dari Kampung Jawa Selangor ke Stasiun Klang naik taksi online (Grab). Ongkosnya RM8 (delapan Ringgit). Disambung beli tiket KTM Komuter dari Stasiun Klang tujuan Stasiun Batu Caves, berempat biayanya RM28.

Kami diberi token (koin plastik seukuran biji karambol kecil) tanda untuk masuk naik komuter. Semacam tiket gitu deh. Naiklah kami KTM Komuter dari Stasiun Klang. Transit di Stasiun KL Sentral hampir 45 menit, nunggu komuter yang ke Batu Caves datang, di platform/jalur 4.

Baca lebih lanjut

Iklan

Catatan Semi Final Indonesia vs Malaysia

*Pandangan dari dalam stadion

Semi Final Malaysia

Sore itu, saya masuk Stadion Shah Alam Selangor Malaysia jam 18.00. Para suporter Indonesia masih banyak yang berseliweran & berada di luar stadion. Sementara suporter Malaysia sudah memenuhi hampir seluruh kursi penonton, kecuali di deretan kursi paling atas.

Suporter Indonesia seluruhnya ditempatkan di kursi tribun grandstand yang masuk lewat pintu A. Adapun suporter Malaysia masuk lewat pintu B, C & D. Setelah masuk lewat pintu A, saya memilih kursi duduk di barisan Pintu D, tempat para suporter Indonesia memainkan musik drum & memandu irama yel-yel sepanjang pertandingan.

Di sebelah kanan saya —tepatnya di kursi Pintu C yang di atasnya terdapat layar video papan skor—, deretan kursi sengaja dikosongkan panitia. Itu sebagai pembatas antara penonton Indonesia dengan penonton Malaysia.

Baca lebih lanjut

Motor, Aku dan Bapakku

Senin malam, 30 Maret 2015, 00.30 WIB, aku mengendarai Yamaha Vixion seorang diri. Dari arah Jalan MH Thamrin – Polda Metro Jaya – Masjid Al-Azhar Kebayoran hingga berhenti di perempatan Plaza Blok M. Arus lalu lintas ramai. Masih banyak sepeda motor dan mobil. Sambil menunggu lampu merah berubah hijau, kuperhatikan seorang pria menuntun Honda Blade, sendirian. Pria itu memakai tas gendong hitam, helm full face, celana bahan, bersepatu. Kelihatannya dia habis pulang kerja, dugaku.

Baca lebih lanjut

Cara Asyik Menteri Roy

Menteri Pemuda dan Olahraga ngebut, kunjungan sana sini. Beragam terobosan terus dilakukan. Semuanya demi Merah Putih.

Terekam jelas dalam ingatan soal geger publik ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan hingga melantik Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Roy Suryo Notodiprojo sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), medio Januari 2013. Di jejaring sosial, suara publik mayoritas nyinyir. Di forum diskusi, celotehan hingga caci maki tak kalah pedasnya. Di media massa, pendapat yang kontra dan pro beradu. Pendek kata, jika diprosentase, yang menolak pengangkatan Roy Suryo lebih banyak ketimbang yang mendukung.

Keraguan dan cemoohan publik tidak membuat Menteri Roy minder atau mundur. Dengan gaya khasnya, Menteri Roy tetap menebar senyum optimis, tanpa banyak menanggapi suara sinis. Pria berkumis ini mengaku hanya ingin berkonsentrasi dengan tugas dan tanggung jawabnya serta menjalankan amanat Presiden. Menteri Roy sadar betul, tugasnya sangat tidak ringan, apalagi waktunya pendek. Kemenpora sedang dihajar kasus korupsi Hambalang, prestasi cabang olahraga trennya melorot, para pemuda pun seolah tak terurus. Singkatnya, citra kementerian ini remuk. Baca lebih lanjut

Cirebon Punya Nasi Jamblang, Lho…

Orang-orang dari luar kota sering bertanya via jejaring sosial facebook maupun twitter: apa kuliner yang paling enak, populer, menarik, berkesan dan melegenda di Cirebon? Jawablah: Nasi Jamblang!

Minggu lalu, ketika matahari siang menyengat, sekitar sepuluh mobil pribadi terparkir rapih di depan rumah makan Nasi Jamblang Ibu Nur Cangkring. Di sebelahnya berjejer lima belasan sepeda motor. Dari balik kaca, terlihat kurang lebih dua puluh orang lelaki dan perempuan dewasa rela antre berbaris. Satu per satu langkah kaki mereka terus maju. Mereka menunggu giliran agar bisa sampai di depan meja para pelayan berseragam kuning. Di tempat itu, para pelayan yang jumlahnya lebih dari sepuluh tak kalah sibuknya.

“Nasinya satu atau dua? Sambalnya sesendok, dua sendok atau tiga sendok? Lauknya silakan pilih dan ambil sendiri, lalu langsung bayar di kasir, di sebelah sana,” kata seorang pelayan berusia 23 tahun. Baca lebih lanjut