NERAKA JAHANNAM; Tempat Paling Mengerikan

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

“Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi Neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah SWT). Mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT). Mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah SWT). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
(QS. Al-A’raaf: 179)

Neraka Jahannam adalah tempat paling dahsyat dan mengerikan yang diciptakan secara khusus oleh Allah SWT. Neraka Jahannam laksana penjara super raksasa bagi orang-orang yang menganggap remeh berita tentang pengadilan akhirat. Di alam akhirat, tempat itu kelak disediakan bagi manusia yang durhaka kepada syariat Allah SWT, mengingkari Rasulullah SAW, senang bermaksiat, gemar melakukan dosa, dan orang yang bersikap sombong. Mereka mengakui bahwa ketika di dunia tidak mau mendengar dan tidak berpikir. Padahal, pendengaran dan berpikir ialah landasan ilmu, dan dengan keduanya ilmu bisa didapatkan.

Para ulama terkemuka mensinyalir, letak tempat yang menjadi lambang kehinaan dan kerugian terbesar tiada taranya itu berada di dasar bumi yang ketujuh. Untuk mengetahui luas dan besarnya, berikut ini keterangan dari sebuah hadis Qudsi. Hadis Qudsi ialah hadis yang disampaikan Rasulullah SAW, namun materi atau isinya berasal langsung dari Allah SWT. Neraka Jahannam mempunyai 7 tingkat. Setiap tingkat memiliki 70.000 daerah. Setiap daerah meliputi 70.000 kampung. Setiap kampung mencakup 70.000 rumah.

Setiap rumah mempunyai 70.000 bilik. Setiap bilik memiliki 70.000 kotak. Setiap kotak meliputi 70.000 batang pokok zarqum. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70.000 ekor ular. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandung lautan racun yang hitam pekat. Di bawah setiap pokok zarqum juga mempunyai 70.000 rantai. Setiap rantai diseret oleh 70.000 malaikat.

Luas dan besar Neraka Jahannam juga bisa diukur dari besarnya tubuh para penghuninya yang seketika berubah drastis. Gigi geraham penghuninya sebesar Gunung Uhud. Jarak antara kedua pundaknya sama dengan perjalanan 3 hari. Tempat duduknya sejauh Kota Mekkah dan Madinah. Bahkan, seandainya seorang penduduk neraka menangis, maka air matanya yang menetes dapat menjadikan sebuah perahu berlayar di atasnya. Allah SWT pun sudah menggambarkan keadaannya, sebagaimana tertuang dalam ayat-ayat Al-Quran.

Tujuh Pintu yang Berbeda
Neraka Jahannam memiliki tujuh pintu. Tiap-tiap pintu telah ditetapkan bagi golongan yang akan memasuki dan menghuninya. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya Neraka Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (QS. Al-Hijr: 43-44)

Ketika Malaikat Jibril turun membawa ayat tersebut, Rasulullah SAW memintanya untuk menjelaskan kondisi neraka. Malaikat Jibril menjawab, wahai Nabi Allah, sesungguhnya di dalam neraka ada tujuh pintu. Jarak antara masing-masing pintu sejauh tujuh puluh tahun. Setiap pintu lebih panas dari pintu yang lain. Semua pintunya berdiri kokoh dan akan selalu tertutup rapat, sebelum dimasuki oleh para penghuninya. Malaikat Jibril menyebut ketujuh pintu yang dimaksud.  

Pintu pertama bernama Neraka Hawiyah bagi kaum munafik dan kafir. Pintu kedua dikenal Neraka Jahim bagi kaum musyrik yang menyekutukan Allah SWT. Pintu ketiga disebut Neraka Saqar untuk kaum Sabian (penyembah api). Pintu keempat dinamakan Neraka Ladza bagi setan dan para pengikutnya serta penyembah api. Pintu kelima bernama Neraka Huthamah bagi kaum Yahudi. Pintu keenam disebut Neraka Sa’ir bagi kaum kafir.

Tatkala sampai pada penjelasan pintu yang ketujuh, Malaikat Jibril terdiam. Rasulullah SAW memintanya untuk menjelaskan pintu yang ketujuh. Malaikat Jibril menjawab, pintu ini untuk umatmu yang angkuh, yang mati tanpa menyesali dosa-dosanya dan belum mau bertaubat. Namanya pintu Neraka Jahannam. Rasulullah SAW lalu mengangkat kepalanya. Beliau begitu sedih sampai jatuh pingsan. Ketika siuman, beliau berkata, wahai Jibril, sesungguhnya kedatangan engkau telah menyebabkan kesusahanku dua kali lipat. Akankah umatku masuk neraka? Malaikat Jibril tidak menjawab. Rasulullah SAW kemudian mulai menangis.

Setelah kejadian itu, Rasulullah SAW tidak mau berbicara dengan siapapun selama beberapa hari. Rupanya beliau sangat sedih. Ketika melaksanakan shalat, beliau menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. Karena tangisannya ini, semua sahabat mendadak ikut menangis. Mereka memberanikan diri bertanya, mengapa engkau begitu berduka, ya Rasulullah? Namun, Rasulullah SAW tidak menjawabnya, walau sepatah kata pun.

Saat itu, Ali bin Abi Thalib sedang pergi melaksanakan satu misi. Maka, para sahabat ramai-ramai pergi menghadap Fatimah Az-Zahra, putri kesayangan Rasulullah SAW. Mereka mendatangi rumahnya. Ketika itu Fatimah sedang mengasah gerinda sambil membaca ayat “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la:17). Para sahabat pun menceritakan keadaan ayahnya (Rasulullah SAW). Setelah mendengar semua itu, Fatimah segera bangkit. Ia lalu mengenakan jubahnya yang memiliki dua belas tambalan yang dijahit dengan daun pohon korma.

Seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Salman Al-Farisi yang hadir bersama orang-orang ini terusik hatinya setelah melihat jubah Fatimah. Spontan ia berkata, sungguh kasihan Fatimah. Putri-putri kaisar dan kisra (penguasa Persia kuno) duduk di atas singgasana emas. Sementara putri Rasulullah SAW ini tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai. Fatimah mendengar sendiri ucapan Salman tersebut, namun tidak ditanggapinya dan tidak merasa tersinggung. Fatimah terus melangkahkan kakinya.

Ketika sampai di hadapan Sang Ayah, Fatimah melihat keadaannya begitu menyedihkan. Keadaan para sahabatnya juga tidak berbeda. Fatimah berkata, wahai Ayahanda, Salman Al-Farisi terkejut setelah melihat jubahku yang sudah penuh dengan robekan.  Aku bersumpah, demi Tuhan yang telah memilihmu menjadi Nabi. Sejak lima tahun lalu, kami hanya memiliki satu helai pakaian di rumah. Pada waktu siang, kami memberi makan unta-unta. Pada waktu malam, kami beristirahat. Anak-anak kami tidur beralaskan kulit dengan daun-daun kering pohon kurma. Rasulullah SAW kemudian berpaling ke arah Salman dan bertanya, apakah engkau memperhatikan dan mengambil pelajaran?

Fatimah melihat wajah Sang Ayah menjadi pucat. Pipinya terlihat cekung. Kedua matanya sembab, akibat tangisan yang tidak terhenti. Sampai-sampai diketahui, tempat Rasulullah SAW duduk telah menjadi basah dengan banyaknya air mata yang mengalir. Fatimah berkata kepada Ayahnya, semoga hidupku menjadi tebusanmu, mengapa Ayahanda menangis?

Rasulullah SAW menjawab, ya Fatimah, mengapa aku tidak boleh menangis? Sesungguhnya Malaikat Jibril telah menyampaikan kepadaku sebuah ayat yang menggambarkan kondisi neraka. Neraka mempunyai tujuh pintu. Pintu-pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu celah api. Pada setiap celah, ada tujuh puluh ribu peti mati dari api. Setiap peti berisi tujuh puluh ribu jenis azab.

Setelah mendengar semua ini, Fatimah berseru, sesungguhnya orang yang dimasukkan ke dalam api ini pasti menemui ajal!. Setelah mengatakan ini, Fatimah pingsan. Ketika sadar, Fatimah berkata, wahai yang terbaik dari segala makhluk, siapakah yang patut mendapat azab yang seperti itu? Rasulullah SAW menjawab, umatku yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak memelihara shalat. Azab ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan azab-azab yang lainnya.

Begitu mengetahui hal tersebut, setiap sahabat Rasulullah SAW selalu menangis. Mereka meratap, derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan sangat sedikit. Sementara sebagian sahabat lagi menangis seraya berkata lirih, seandainya ibu kami tidak melahirkan kami, maka kami tidak akan mendengar tentang azab ini. Sahabat bernama Ammar bin Yasir berkata, andaikan aku seekor burung, tentu aku tidak akan ditahan (pada hari kiamat) untuk dihisab.

Sahabat bernama Bilal bin Rabah yang tidak hadir pada kesempatan itu, hari berikutnya datang kepada Salman Al-Farisi. Ia bertanya sebab-sebab duka cita itu. Salman menjawab, celakalah engkau dan aku. Sesungguhnya kita akan mendapat pakaian dari api, sebagai pengganti dari pakaian katun ini. Kita akan diberi makanan dengan pohon zaqqum (pohon beracun di neraka). Saat itu, Bilal tak mampu lagi berkata apapun. Ia benar-benar terdiam. Hanya air matanya yang mengalir di kedua pipinya. Seakan-akan lidahnya kelu.

Pemandangan Neraka Jahannam
Di dalam Neraka Jahannam terdapat pemandangan-pemandangan aneh, yang belum pernah terjadi ditempat manapun. Pertama, sebuah gunung api bernama Shu’uda. Allah SWT memerintahkan orang-orang kafir untuk mendakinya. Mereka menuruti perintah Allah SWT, tanpa berani membantah-Nya. Tetapi, setiap kali mereka meletakkan tangannya di atas gunung itu, maka tangannya langsung meleleh. Ketika diangkat, tangannya kembali utuh seperti semula. Mereka akan menghabiskan waktu selama 70 tahun untuk mendakinya. Untuk menuruninya, mereka juga butuh waktu selama 70 tahun.

Kedua, lembah Al-Ghayy di dasar Jahannam yang dialiri nanah bercampur darah dari para penghuni neraka. Lembah ini disediakan bagi orang-orang yang meremehkan shalat lima waktu dan mengikuti nafsu syahwatnya. Ketiga, lembah Atsam yang berisi ular dan kalajengking. Lembah ini diperuntukkan bagi orang-orang yang berbuat syirik, berzina dan membunuh jiwa lain tanpa hak. Keempat, lembah Maubiqa yang sepenuhnya berisi nanah. Allah SWT menyiapkannya untuk orang-orang yang menyembah berhala.

Kelima, sebuah rumah bernama Al-Falaq. Jika pintunya dibuka, maka seluruh penduduk neraka akan menjerit karena tidak mampu menahan panasnya. Keenam, penjara Bulas, dimana orang-orang yang menyombongkan diri akan digiring seperti semut-semut kecil berbentuk manusia. Mereka diselimuti kobaran api dan terbenam dalam keringat dan nanah yang bercampur darah penduduk neraka.

Selain pemandangan menjijikan di atas, Neraka Jahannam memiliki belenggu. Pertama, Al-Aghlal, yaitu belenggu dari besi membara yang dipasang di leher penduduk neraka. Kedua, Al-Ashfad, yaitu tali api yang sangat kuat, sehingga membuat seseorang tak berdaya sama sekali. Ketiga, As-Salasil, yaitu rantai besi yang panjangnya 70 hasta. Sementara cambuk Neraka Jahannam terbuat dari besi-besi panas.

Seluruh tempat tersebut dijaga oleh para malaikat yang memiliki karakter keras dan kasar. Mereka tidak bisa diajak kompromi, apalagi disuap atau diberi uang. Sosok mereka tegak berdiri menjaga api yang terus menyala-nyala. Perawakannya besar. Ekspresi wajah dan suaranya amat garang. Mereka sangat patuh kepada Allah SWT, dan tidak mungkin membangkang-Nya. 

Surat At-Tahrim ayat 6 sudah mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Allah SWT terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Jumlah malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT untuk menjaga setiap neraka kurang lebih sebanyak sembilan belas. Surat Al-Muddatstsir ayat 26 sampai 30 menggambarkannya demikian: “Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Neraka Saqar adalah pembakar kulit manusia, di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).”

Apakah penduduk Neraka Jahannam tidak makan dan minum? Ternyata mereka tetap membutuhkan makan dan minum. Hanya saja, Allah SWT menyediakannya dalam rupa-rupa yang menyeramkan. Pertama, pohon Zaqqum. Mayangnya seperti kepala setan. Tumbuh di bawah dasar neraka. Setiap orang yang memakannya, maka ususnya akan terburai. Kedua, pohon Dhari, yaitu pohon duri yang sangat keras. Ia tidak dapat menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar. Ia justru menyumbat tenggorokan. Dengan kata lain, ia tidak keluar dan tidak juga masuk ke dalam perut.

Ketiga, Ghislin, yaitu nanah bercampur darah yang keluar dari tubuh penduduk neraka. Keempat, Al-Hamim, yaitu air sangat panas yang akan disuguhkan dengan besi panas yang ujungnya dibengkokkan. Kelima, Al-Ghassaq, yakni air sangat dingin yang berupa nanah kental. Jika setetesnya ditumpahkan di Barat bumi, niscaya penduduk sebelah Timur akan mencium baunya yang sangat busuk.

Keenam, Ash-Shadid, yaitu air nanah bercampur darah. Ini akan membuat wajah peminumnya hangus. Sekaligus membuat seluruh kulit kepala dan rambut mereka mengelupas. Meski begitu, para penduduk neraka tetap memakan dan meminumnya. Sebab, tidak ada pilihan makanan dan minuman lainnya. Sedang pakaian mereka berupa Qathiran atau tembaga yang dilebur api. Perhiasannya besi panas yang melengkung. Adapun tikar dan selimutnya berbentuk potongan-potongan api (Mihad dan Ghawasy). Masing-masing bentuk maupun ukurannya hanya Allah SWT yang tahu.

Manusia dan batu berhala yang dahulu disembah orang-orang musyrik menjadi bahan bakar Neraka Jahannam. Satu waktu Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seseorang mengenai kadar hawa dan suhu panasnya. Rasulullah SAW menjawab, “Api kalian yang ada sekarang ini yang digunakan Bani Adam untuk membakar hanyalah 1/70 dari api Neraka Jahannam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Api Neraka Jahannam telah dinyalakan seribu tahun hingga menjadi merah. Kemudian dibakar lagi selama seribu tahun hingga menjadi putih. Kemudian dibakar lagi selama seribu tahun hingga menjadi legam, seperti malam yang gelap gulita.” (HR Tirmidzi) Sahabat Umar bin Khaththab mengatakan, seandainya Neraka Jahannam dibuka seukuran hidung lembu di bumi sebelah Timur, dan ada seseorang di belahan bumi bagian Barat, pasti otaknya akan meleleh karena tidak mampu menahan panasnya.

Di antara penyebab hawa dan panas Neraka Jahannam sedemikian memuncak karena tidak berfungsinya 3 unsur pendingin dari panas bagi manusia; air, angin dan naungan untuk berteduh. Air di Neraka Jahannam adalah hamim (air panas yang menggelegak). Anginnya berupa samum (angin yang rasanya amat panas). Sedang naungannya adalah yahmum (naungan berupa potongan-potongan asap hitam yang juga membawa panas).

Di Neraka Jahannam terdapat pula sumur dan jurang. Kedalamannya sebagaimana digambarkan Rasulullah SAW. Seorang sahabat bernama Abu Hurairah bercerita, pada suatu hari kami bersama Rasulullah SAW. Lantas kami mendengar suara benda jatuh. Rasulullah SAW bertanya, tahukah kalian, suara apakah itu? Kami menjawab, Allah SWT dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Rasulullah SAW bersabda, itu adalah suara batu yang dikirim dari Neraka Jahannam sejak 70 tahun yang lalu. Sekarang baru sampai ke dasar neraka.

Beraneka Siksa
Untuk siapakah semua itu diciptakan? Ayat Al-Quran dan hadis Rasulullah SAW sudah menegaskan, para penduduk neraka kelak terdiri dari berbagai golongan. Berikut ini di antara daftar calon penghuninya; orang yang musyrik, kafir, munafik, sombong, pemimpin zalim, koruptor, pezina, homoseks, peminum khamer (minuman keras), pemakai ganja dan narkotika, pemakan riba, pemain judi dan pemakan uangnya, serta pemakan harta anak yatim, tanpa alasan yang benar.

Selain itu, pembunuh orang mukmin tanpa hak, pelaku bunuh diri, orang yang tidak mau berjihad dan tidak mau membantu kaum muslimin yang tertindas maupun diperangi. Orang yang meninggalkan shalat wajib, tidak mau membayar zakat, tidak mau berpuasa wajib, para dayyuts (orang yang membiarkan perbuatan maksiat terjadi di hadapannya), dan anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, termasuk penghuni Neraka Jahannam. 

Hukuman atau siksaan yang ditimpakan kepada mereka, tentu masing-masing kadarnya tidaklah sama. Semuanya tergantung dari kesalahan dan besarnya dosa ketika diperbuat selama hidup, setelah terlebih dahulu ditimbang pada hari penghitungan (hisab). Namun, menurut Rasulullah SAW, seringan-ringan siksa adalah seseorang yang memakai terompah (sepasang sandal) yang talinya terbuat dari bara api neraka, sehingga menyebabkan otaknya mendidih. Dia mengira tiada seorang pun yang menerima siksaan lebih dahsyat dari itu. Padahal, dialah orang yang mendapat siksaan paling ringan. (HR. Bukhari dan Muslim).

Al-Quran mengurai berbagai siksaan berat yang terjadi di Neraka Jahannam. Beraneka siksaan ini tentu menunjukkan tingkat kesalahan yang berbeda-beda di antara para penduduk neraka, selain memperlihatkan kekuasaan Allah SWT. Pertama, kepala mereka akan disiram air panas, sehingga melelehkan otak mereka. Begitu pula isi perut dan kulit mereka, sebagaimana disinggung Surat Al-Hajj ayat 19-21:

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar.  Mereka saling bertengkar mengenai Rabb (Tuhan) mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.”

Kedua, wajah mereka akan diseret di atas bara api, juga dibolak-balik seperti daging bakar. Keterangan ini disebutkan jelas oleh Surat Al-Ahzab ayat 66: “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan ke dalam neraka. Mereka berkata, alangkah baiknya andaikata kami taat kepada Allah SWT dan taat [pula] pada rasul.”

Ketiga, wajah mereka akan dihitamkan seperti tertutup kepingan malam yang gelap gulita. Surat Yunus ayat 27 menuturkan: “Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan, (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang perlindungan pun dari (azab) Allah SWT. Seakan-akan muka mereka ditutup dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”

Keempat, mereka dikepung api dari segala penjuru, sebagaimana dikemukakan Surat Al-Kahfi ayat 29: “Sesungguhnya telah Kami sediakan bagi orang-orang yang zalim itu neraka yang gejolak apinya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk, dan tempat istirahat yang paling jelek.” Surat Al-Ankabut ayat 55 dan Surat Az-Zumar ayat 16 juga menyinggung hal yang tidak berbeda.

Kelima, api membakar hati, sehingga dari hati mereka keluar api. Isi perutnya akan terburai dan terpencar. Siksaan ini bagi penyembah berhala. Bagi orang yang bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari tempat yang tinggi, ia akan mendapat siksa terjun dari atas neraka. Surat Ali Imran ayat 193 menegaskan: “Ya Tuhanku, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sesungguhnya telah Engkau hinakan ia. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.”

Perlu diketahui, penduduk neraka selamanya tidak pernah mati. Siksaan pedihnya pun  tidak pernah berhenti walau sedetik, kecuali ada kebijakan khusus dari Allah SWT.  Akibat hukuman yang terus-menerus, wajah mereka cacat dan terbakar. Setiap kulit mereka matang karena terbakar, maka Allah SWT akan mengganti kulit yang baru. Begitulah seterusnya. Penduduk neraka juga akan mengeluarkan bau yang sangat busuk dari sekujur tubuhnya.

Gema Neraka Jahannam
Suara Neraka Jahannam sangat mengerikan dan menggelegak. Kitab Bidayatul Hidayah menulis, gema nyala apinya dapat didengar sejauh 500 tahun perjalanan. Siapapun yang mendengarnya akan dibuat merinding, termasuk para malaikat yang bertugas di dalamnya, meski mereka telah mendapat perlindungan dari Allah SWT. Tak pelak para penghuninya merintih, menjerit serta melolong seperti keledai yang meringkik keras.

Para penghuni neraka akan menangis sampai air matanya habis. Sehingga, yang keluar dari matanya berupa darah, bukan air mata lagi. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia sekalian, menangislah! Jika tidak dapat menangis, maka paksakan dirimu untuk menangis! Karena sesungguhnya ahli neraka itu akan terus menangis hingga air matanya mengalir di pipi masing-masing, seperti air yang mengalir di sungai. Sampai air mata itu habis dan matanya pun pecah-pecah. Seandainya ada perahu yang diletakkan di situ, niscaya berlayarlah ia.” (HR Ibnu Majah)

Mereka sangat memohon agar dapat dikeluarkan dari siksa neraka. Mereka benar-benar sudah tidak tahan. Rasa putus asa, bahkan frustasi sudah mencapai puncaknya. Mereka berjanji akan beramal shalih, jika dikembalikan ke alam dunia. Namun, harapan mereka kosong, jelas tak berarti. Doanya pun sia-sia. Keinginannya sebatas di lidah. Para malaikat penjaga berkata, sesungguhnya kalian akan tetap berada di neraka ini.

Para penduduk neraka merasa iri dengan apa yang Allah SWT telah berikan kepada penduduk surga. Penghuni surga mendapatkan bonus besar berupa makanan, minuman dan fasilitias lainnya yang sangat mewah, nikmat dan lezat. Semuanya gratis, tidak perlu beli. Para penghuni neraka merengek-rengek. Mereka berkhayal, sekiranya di antara penduduk surga ada yang mau memberikan sedikit saja makanan dan minumannya kepada mereka, alangkah senangnya mereka.

Sebetulnya di antara penduduk surga ada yang melihatnya dan merasa iba, hingga hampir-hampir memberikan barang-barang miliknya. Namun, Allah SWT segera mengharamkan makanan dan minuman itu bagi penduduk neraka. Surat Al-A’raf ayat 44 mengabadikan suasana tersebut:

“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Rabb janjikan kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Rabb kamu menjanjikannya (kepadamu)”. Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah SWT ditimpakan kepada orang-orang yang zalim”.

Penjelasan tersebut disambung dengan makna Surat Al-A’raf ayat 50: “Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah SWT kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah SWT telah mengharamkan keduanya di atas orang-orang kafir.” Demikianlah keadaan proses penyiksaan manusia di Neraka Jahannam yang luar biasa mengerikan. Tidak ada seorang pun yang bisa membantu maupun menolongnya, kecuali atas izin-Nya.

Air Mata Pemadam Api Neraka
Pada waktunya Allah SWT akan memberikan perintah kepada para malaikat untuk mengeluarkan para penghuni neraka yang patut mendapat rahmat-Nya. Mereka adalah orang yang tidak pernah menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun selama hidup di dunia. Mereka mengatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah SWT.

Para malaikat segera mengenali mereka melalui tanda bekas sujud yang ada pada keningnya. Hanya bekas sujudlah bagian tubuh manusia yang tidak akan hangus dibakar api neraka. Sebab, Allah SWT telah berjanji mengharamkan api neraka untuk tidak membakar dan menghanguskannya.     

Para malaikat segera mengeluarkan mereka dalam keadaan yang sudah hangus. Tubuh mereka lalu disiram air kehidupan atau air pemulihan. Akhirnya mereka tumbuh dan pulih kembali seperti sediakala, laksana tumbuhnya biji-bijian setelah terjadi banjir besar, dimana mereka tumbuh dalam keadaan masih muda dan besar. Allah SWT selanjutnya memasukan mereka ke surga, setelah melewati proses pengadilan yang sangat ketat dan menegangkan. 

Para nabi dan rasul memang sudah dijamin oleh Allah SWT langsung masuk surga, tanpa mampir dulu di neraka. Para sahabat nabi, tabi’in, tabi’it tabi’in, ulama, dan orang shalih, sayangnya belum tentu nasib mereka sama seperti nabi dan rasul. Apalagi umat Islam secara keseluruhan. Sebab, semua itu rahasia dan hak mutlak Allah SWT. Tetapi, setiap umat Islam sebetulnya bisa seperti para nabi dan rasul. Syaratnya cuma satu, yakni meninggal dunia dalam keadaan tidak punya dosa apapun. Kalau pun hanya membawa dosa sedikit, maka harus bisa ditutupi dengan amalan pahala yang sangat banyak.

Selain itu, Rasulullah SAW bersabda, tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah SWT, sehingga ada air susu kembali ke tempat asalnya. Dalam kitab Daqa’iqul Akhbar diceritakan, kelak akan didatangkan seorang hamba pada hari kiamat. Timbangan kejahatannya sangatlah berat. Ia telah diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam neraka. Tiba-tiba salah satu rambut matanya berkata, “Wahai Tuhanku, Rasul Engkau Nabi Muhammad SAW telah bersabda, siapa yang menangis lantaran takut kepada Allah SWT, maka Allah SWT mengharamkan matanya itu ke neraka. Sesungguhnya aku menangis karena amat takut kepada-Mu.”

Allah SWT lantas memutar kembali jejak rekam kehidupan orang itu. Singkat cerita, akhirnya Allah SWT bersedia mengampuni hamba itu dan menyelamatkannya dari api neraka berkat sehelai rambut yang pernah menangis sebab benar-benar takut kepada Allah SWT. Malaikat Jibril kemudian diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengumumkan bahwa telah selamat dari siksa neraka seorang Fulan bin Fulan sebab sehelai rambutnya.

Untuk itu, Rasulullah SAW dan para ulama mengajarkan, sikap atau posisi kita yang terbaik saat ini haruslah berada antara dua perasaan, yaitu khauf (takut) dan raja’ (harapan). Maksudnya, takut atas ancaman masuk neraka karena banyak dosa. Sementara harapan akan mendapatkan ampunan dan kasih sayang Allah SWT. Keseimbangan di antara keduanya akan melahirkan iman yang kuat dan rasa cinta yang mendalam kepada Allah SWT.

Sebaliknya, jika hanya takut saja, nanti akan menjadikan kita selalu berputus asa. Bila hanya harapan saja, bisa-bisa kecewa di akhirat dan di dunia ini tidak pernah takut dosa. Bagaimanapun, geliat kehidupan kita di dunia ini kelak akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT. Mudah-mudahan kisah dan gambaran tersebut membuat kita dan keluarga sadar serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga kelak kita semua dibebaskan oleh Allah SWT dari azab Neraka Jahannam, amin. Wallahu a’lam bis showab.

SURGA; Rumah Masa Depan Umat Islam

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Surga adalah tempat super khusus yang paling menyenangkan dan tidak pernah sekalipun membosankan para penghuninya. Di dalamnya mencakup segala kenikmatan, kebahagiaan dan kebaikan yang hakiki dan abadi. Mata manusia belum ada yang melihatnya. Lidah manusia belum ada yang mengecapnya. Telinga manusia belum ada yang mendengarnya. Pikiran manusia belum ada yang membayangkannya. Tangan manusia belum ada yang merabanya. Kaki manusia belum ada yang menginjaknya. Tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang sanggup menyamai aneka fasilitasnya. Semuanya serba eksklusif, lengkap dan bisa diperoleh secara gratis, tentu bagi orang yang beruntung.

Surat Muhammad ayat 15 sedikit membocorkan suasana di dalam surga: ”(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya. Sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya. Sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka di dalamnya memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka.”

Allah SWT sudah menciptakan surga. Dengan kata lain, saat ini surga sudah ada. Di antara bukti-bukti yang dapat diajukan sebagai berikut. Dahulu, Nabi Adam alaihis salam dan Siti Hawa, istrinya, diturunkan ke bumi dari surga, lantaran Nabi Adam alahis salam memakan buah dari pohon yang dilarang oleh Allah SWT, yakni buah khuldi. Pada waktu itu, Nabi Adam alaihis salam sudah mendiami dan hidup di dalam surga.

Bukti lainnya, pada saat Rasulullah SAW melakukan mi’raj (perjalanan naik ke langit tujuh ketika akan mendapatkan perintah untuk menunaikan sholat lima waktu). Ketika itu Allah SWT memperlihatkan surga beserta isinya kepada Rasulullah SAW. Surat An-Najm ayat 13-15 menegaskan: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.”

Para ulama terkenal menyatakan, surga berada di langit, di tempat yang sangat tinggi, terdiri dari 100 tingkat. Setiap 2 tingkat jauhnya seperti jarak antara langit dan bumi. Surga yang tertinggi dan paling utama disebut Surga Firdaus. Tapi, ada satu tempat yang lebih tinggi dan diperuntukkan bagi satu orang saja. Tempat itu dinamai Al-Wasilah. Rasulullah SAW sangat berharap bahwa beliaulah yang akan menempatinya.

Gambaran Surga
Al-Quran menyebut beberapa nama lain dari surga. Di antaranya Al-Jannah (Surga), Jannatu Adn’ (Tempat Tinggal Selama-lamanya), Darus Salam (Negeri Sejahtera), Darul Khuldi (Negeri Kekal), Darul Muqamah (Tempat Kediaman yang Abadi), Jannatun Na’im (Tempat Segala Kenikmatan), Jannatul Ma’wa (Tempat Tinggal yang Menyenangkan), dan Firdaus. Secara sederhana, Firdaus berarti kebun yang di dalamnya terdapat anggur. Kata Firdaus digunakan untuk semua surga.

Tanah dan lumpur surga terbuat dari zafaran, berupa tepung putih beraroma kasturi dan sangat bersih. Cahaya surga berwarna putih, bersinar terang, aromanya semerbak. Aroma surga bisa dicium dari jarak 100 tahun. Bidadari-bidadari yang cantik jelita, perhiasan yang banyak, tanaman, buah-buahan, berbagai macam kesenangan dan kenikmatan telah tersedia di surga.

Surat Al-Waqi’ah ayat 22-23 memberitahu: “Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik.”  Allah SWT menegaskan dalam ayat lainnya: “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.” (QS. Ar-Rahman: 70-72)

Luas pintu surga kurang lebih 1160 km. Namun, kelak akan berdesak-desakan manusia di depannya. Pintu-pintu di surga transparan, sehingga bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Semuanya bisa diajak bicara. Maksudnya, bisa menutup dan membuka sesuai keinginan penghuninya.

Di surga terdapat gedung megah dan sungai-sungai yang mengalir. Di dalamnya ada Ghuraf, yakni bangunan transparan tinggi yang diberikan bagi mereka yang baik ucapannya, suka memberi makan, berpuasa, dan shalat malam (shalat sunah tahajjud). Ghuraf juga diberikan kepada orang-orang yang membangun masjid dan tabah ketika menghadapi ujian yang sangat berat maupun saat ditimpa kesedihan yang terus menerus.

Di surga ada pohon Thuba, yang naungannya sejauh perjalanan selama 100 tahun. Dari kelopak bunga pohon inilah pakaian ahli surga berasal. Di surga terdapat pohon Thalhu, bidara yang durinya diganti dengan munculnya buah-buahan yang 1 butirnya memiliki 70 rasa yang berbeda. Jika penduduk surga melihat ke arah burung surga dan tertarik kepadanya, maka dengan segera burung itu jatuh ke hadapannya dalam kondisi masak serta siap dimakan. Sementara itu 70 piring beragam corak yang berbeda antara satu dengan yang lainnya sudah disiapkan.

Hidangan pertama penduduk surga sekerat daging dari hati ikan paus.  Minumannya bernama salsabila. Setelah itu, mereka makan daging sapi jantan. Mereka kemudian minum dari sungai-sungai yang hulunya Surga Firdaus. Mereka juga minum dari Sungai Al-Kautsar, yang airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Ia sesungguhnya minuman campuran jahe khas surga. Meski makan dan minum, mereka tidak buang kotoran atau kencing. Makanan dan minumannya dikeluarkan melalui keringat dan sendawanya yang harum.

Pakaian ahli surga berupa sundus dan istabraq (sutra bulu halus dan tebal), yang  keluar dari kelopak bunga pohon Thuba. Warnanya bermacam-macam; putih, merah, hijau, kuning, dan hitam. Mereka memakai gelang emas dan perak serta mahkota intan berlian yang mutiaranya dinamai yakut. Tampilan fisik penduduk surga bagaikan orang berusia sekitar 30 tahun. Allah SWT menjadikannya seperti itu, walaupun di antara meraka ketika meninggal dunia ada yang dalam keadaan anak-anak atau usia tua renta.

Tempat tinggal penghuni surga berhamparkan permadani yang sangat indah. Ada kemah yang tingginya hingga 60 mil. Pada setiap sudutnya terdapat bidadari yang selalu setia menanti. Para bidadari pun siap melayani segala kebutuhan lahiriah maupun batiniah mereka. Ada ranjang berderetan yang berhias, bisa merendah ataupun menaik. Ranjang itu bukan untuk tidur.

Rasulullah SAW bersabda, tidur adalah saudara kematian, dan ahli surga tidaklah tidur. Artinya, di surga tidak ada orang yang tidur maupun sekadar mengantuk. Bagi mereka disediakan sofa Al-Arikah, yakni sofa pengantin yang dipaduakan dengan ranjang berhias. Kamar mereka dari mutiara yakut dan dihiasi mutiara lu’lu.

Di surga ada nyanyian spesial dari bidadari untuk para penghuninya. Pohon dan gesekan ranting-rantingnya pun menimbulkan suara-suara yang indah. Ada pula suara tasbih para malaikat yang demikian merdu. Tidak cukup dengan itu semua, mereka diberi kendaraan yang dirancang khusus berupa kuda dari mutiara yakut atau alat transportasi apa saja yang diinginkannya.

Rasulullah SAW bersabda, demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa dijarinya ketika diangkat itulah nilai dunia. (HR Muslim) Nikmat yang lebih indah dari surga adalah merasakan ridha Allah SWT dan kesempatan melihat ‘wajah’ Allah SWT. Inilah puncak segala kenikmatan. Inilah kenikmatan yang tak mampu dibayangkan manusia, yaitu keindahan menikmati sifat-sifat dan kalam murni Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Nominator Penghuni Surga
Rasulullah SAW menjadi orang pertama yang mengetuk pintu surga bersama  70.000 (tujuh puluh ribu) umatnya, terutama orang-orang tertentu yang telah ditetapkan oleh beliau. Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, setiap orang di antara mereka (70.000 yang pertama) disertai 70.000 (tujuh puluh ribu) orang lagi. Mereka langsung memasuki surga, tanpa melalui proses hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya oleh Allah SWT pada hari akhirat) maupun tahapan siksa di neraka. Wajahnya bagaikan rembulan yang cerah dan terang benderang. Mereka masuk dengan bergandeng tangan. Abu Hurairoh berkata, Rasulullah SAW bersabda:

”Rombongan yang pertama akan masuk surga memiliki wajah seperti bulan purnama. Mereka tidak meludah, tidak beringus, dan tidak buang air. Wadah-wadah mereka di sana terbuat dari emas. Sisir mereka dari emas dan perak. Tempat pembakaran kayu wangi mereka berupa permata. Keringat mereka berbentuk misik. Setiap orang dari mereka memiliki dua istri, di mana tulang sumsum betis mereka kelihatan dari balik daging karena amat cantiknya. Seandainya seorang bidadari dari ahli surga itu muncul ke bumi, maka ia akan menyinari apa-apa yang ada di antara keduanya, dan keharumannya akan memenuhi di antara keduanya. Sungguh tusuk rambut di kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya”. (HR Bukhari)

Orang Islam yang akan memasuki surga terbagi menjadi tiga macam. Pertama, orang-orang yang langsung masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang yang hingga akhir hidupnya benar-benar terjaga keimanannya (tauhid) dan bersih dari noda syirik, dosa dan maksiat. Kedua, orang yang masuk surga setelah dihisab. Mereka ialah orang yang dalam unsur keimanannya terdapat sedikit beban dosa dan maksiat, namun amal dan pahalanya sangat banyak, sehingga mampu untuk menebus kekhilafannya. Maka, Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya, kemudian memasukannya ke surga.

Ketiga, orang yang masuk surga setelah diadzab (disiksa) terlebih dahulu di neraka. Mereka sebenarnya orang yang keimanannya dipenuhi dosa dan maksiat, sedangkan amal dan pahalanya ada (sedikit), tapi sangat kurang untuk mencukupi atau menutupi semua kesalahannya. Allah SWT akan memasukannya ke neraka, sebagai balasan atas dosa dan maksiatnya selama hidup di dunia. Setelah bersih dari segala tuntutan dosa, mereka baru dipindahkan ke surga untuk menikmati kehidupan berikutnya.

Untuk membuka pintu surga, kemudian memasukinya, sebetulnya sangat mudah. Rasulullah SAW sudah memberikan rahasianya bahwa siapa pun yang mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah (tiada Tuhan selain Allah SWT) dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga. (HR. Imam Ahmad). Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW bersabda, siapa saja yang mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, niscaya dia akan masuk surga. (HR. Muslim)

Di tempat yang berbeda, Rasulullah SAW bersabda, barang siapa yang bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya. Bahwasanya Nabi Isa alaihis salam adalah hamba dan utusan-Nya yang merupakan kalimat dan ruh yang ditiupkan pada Siti Maryam. Bahwasanya surga dan neraka adalah benar adanya, maka Allah SWT akan memasukkannya ke dalam surga, sesuai amal perbuatannya. (HR. Bukhari)

Ketiga hadis tersebut mengandung arti, seseorang harus mengerti makna kalimat tauhid itu secara benar, lalu meyakininya, tanpa ada keraguan sedikit pun. Langkah berikutnya, ia mau menerima segala tuntutan atau konsekuensi laa ilaaha illallah dengan senang hati, baik pikiran, lisan maupun perbuatannya. Hal ini juga mengisyaratkan, orang non Islam yang akhlaknya bagus dan sepanjang hidupnya dibaktikan untuk manusia lain, maka tentu tidak bisa masuk surga. Sebab, Allah SWT tidak menetapkan akhlak seseorang sebagai kriteria utama untuk bisa lolos ke surga.

Akhlak memang penting, namun keyakinan kepada Allah SWT (akidah) lebih penting dan lebih diutamakan. Bahkan, perilaku seorang muslim yang baik sekalipun tidak cukup untuk membuatnya masuk surga. Rasulullah SAW pernah berbicara kepada para sahabatnya, amal shaleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga. Para sahabat bertanya, bagaimana dengan Engkau, ya Rasulullah?. Rasulullah SAW menjawab, amal shaleh saya pun juga tidak cukup. Para sahabat kembali bertanya, kalau begitu, dengan apa kita masuk surga?. Rasulullah SAW menjawab, kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah SWT semata.

Lantas, siapa saja orang atau golongan yang akan menghuni surga? Berikut ini beberapa nominatornya. Pertama, orang yang beriman kepada Allah SWT dan beramal shalih, sebagaimana disinggung Surat Al-Baqarah ayat 25: “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu. Mereka mengatakan, inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.”

Kedua, orang yang beriman kepada Allah SWT dan bertakwa. Takwa adalah menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Surat Yunus ayat 62-64 menegaskan: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan) akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”

Ketiga, orang yang bersikap istiqamah atau konsisten dalam meyakini Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang wajib disembah hingga akhir hayatnya. Penjelasan itu tertulis dalam Surat Fushsilat ayat 30: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Rabb kami ialah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Keempat, orang yang gemar dan selalu berbuat baik atau menjadi pengikut kebaikan. Kelima, orang yang sabar dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT dalam kehidupannya. Keenam, orang yang rajin berinfaq, baik pada saat banyak maupun sedikit rezekinya. Ketujuh, orang yang bisa menahan amarah ketika emosinya sedang memuncak. Kedelapan, orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain. Kesembilan, orang yang senantiasa membaca istighfar dan berdzikir di setiap kondisi. Kesepuluh, orang yang selalu menaruh perhatian atas peringatan Allah SWT. Kesebelas, orang yang senang berlaku jujur.

Kedua belas, orang yang pindah dari satu tempat ke tempat lain karena semata ingin memperoleh kebaikan dan pahala dari Allah SWT (berhijrah) serta berjihad (berjuang membela agama Allah). Surat At-Taubah ayat 20-21 menegaskan: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Rabb mereka mengembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhoan dan surga. Mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.”

Ketiga belas, orang yang mati syahid (syuhada), seperti dikemukakan Surat Ali Imran ayat 169: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezeki.”  Keempat belas, orang yang takut kepada Allah SWT, sebagaimana dilansir Surat Ar-Rahman ayat 46: “Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabbnya ada dua surga.” Kelima belas, orang yang khusyu dalam shalatnya, menjauhi hal yang sia-sia, membayar zakat, menjaga kemaluan, dan amanah dalam menjalankan tugas maupun tanggung jawabnya. Surat Al-Mu’minun ayat 1-11 memaparkannya:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”

Keenam belas, orang yang menahan hawa nafsunya, seperti ditegaskan Surat An-Nazi’at ayat 40-41: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” Ketujuh belas, orang yang bertaubat secara sungguh-sungguh, kemudian melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar serta memelihara hukum-hukum Allah SWT.

Kedelapan belas, orang yang mentaati Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda, siapa pun dari umatku yang mentaatiku, dia akan masuk surga. Sedang siapa yang maksiat terhadapku (tidak mentaatiku), maka dia enggan memasuki surga. (HR. Bukhari) Maksudnya, mentaati Rasulullah SAW berarti mentaati aturan-aturan yang telah dibuatnya dan menjauhi larangan-larangan yang telah ditetapkannya. Maka, untuk mengetahui bentuk aturan maupun larangan Rasulullah SAW, umat Islam perlu membaca riwayat hidup dan mengkaji jalan panjang perjuangannya.

Dilarang Masuk Surga!
Surga selalu terbuka. Siapa pun dari orang Islam yang menginginkan isinya, maka dipersilakan memasukinya Tentu saja ada persyaratannya, seperti telah dijelaskan di atas. Namun, Rasulullah SAW bersabda, ada sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi yang bertaubat. Pertama, Al-Qalla’ adalah orang yang suka mondar-mandir kepada penguasa untuk memberikan laporan batil dan palsu. Kedua, Al-Jayyuf ialah orang yang suka menggali kuburan untuk mencuri kain kafan dan sebagainya. Ketiga, Al-Qattat artinya orang yang suka mengadu domba dan senang dengan permusuhan.

Keempat, Ad-Daibub maksudnya germo atau orang yang menjadi pengelola dan perantara antara para pelacur dengan pelanggan atau pemakainya. Kelima, Ad-Dayyus adalah laki-laki yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya. Keenam, Shahibul Arthabah ialah penabuh gendang besar yang sengaja untuk meramaikan kegiatan yang beraroma dosa. Ketujuh, Shahibul Qubah maksudnya penabuh gendang kecil yang sengaja untuk memeriahkan kegiatan yang berbau maksiat. 

Kedelapan, Al-’Utul adalah orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf atas dosa yang dilakukannya, dan tidak mau menerima alasan orang lain. Kesembilan, Az-Zanim ialah orang yang dilahirkan dari hasil perzinaan yang suka duduk-duduk di tepi jalan guna menggunjing orang lain. Kesepuluh, Al-’Aq li Walidaih yakni anak atau orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.

Rasulullah SAW menambahkan, ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian, namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. (HR. Muslim).

Maksud hadis tersebut jelas, para wanita yang senang mengumbar auratnya atau berpakaian seksi dengan niat memamerkan bagian tertentu dari tubuhnya (kecuali untuk suaminya sendiri), maka tidak bisa mencium bau surga, apalagi sampai memasukinya. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua salah satu dari penghuni surga-Nya, amin. Wallahu a’lam bis showab.

Memburu Kemas Yahya Rahman

Penghujung Februari 2009. Mendadak –sekitar pukul 20.00 WIB– aku mendapat tugas untuk ‘memburu’ Kemas Yahya Rahman (KYR). KYR adalah mantan Jampidsus (Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus) yang dicopot Jaksa Agung Hendarman Supandji lantaran diduga terlibat kasus suap Artalyta Suryani dengan Jaksa Urip Tri Gunawan.

Nama KYR menjadi perdebatan/sorotan lagi bukan karena kasus tersebut, melainkan posisi barunya di Kejagung. KYR diangkat oleh Jaksa Agung Hendarman Supandji sebagai ketua tim supervisi penanganan/pemberantasan korupsi se Indonesia bagi internal Kejagung. Tapi, hari-hari belakangan KYR seperti ditelan bumi. Keberadaanya tidak diketahui. Di Gedung Bundar Kejagung, tidak terlihat batang hidungnya. Telepon genggamnya pun dimatikan. Para kuli tinta yang hendak meminta komentarnya terkait pencopotannya dari penugasan itu, tidak dilayani KYR. KYR mengaku kecewa dengan pers, karena selama ini pernyataannya sering diplintir. Opini yang dibentuk pers menyangkut pribadinya, menurut KYR, telah sangat-sangat keliru.

Bermodal nomor ponsel KYR yang sering tidak aktif, aku mencari kediaman KYR bersama dua orang kawan (satu mobil; 1 wartawan dan 1 fotografer), pagi dini hari. Sebelumnya, aku telah berusaha mencari nomor telepon rumah dan alamat tinggalnya. Tapi tidak berhasil mendapatkannya. Akhirnya kami nekat menuju sebuah perumahan mewah di kawasan Tangerang, Banten. Kabarnya, KYR bersama istri dan anaknya tinggal di sana. Tapi, sekali lagi, itu belum pasti keberadaannya.

Setelah kami bertanya ke sana kemari, akhirnya selepas sholat Subuh kami sudah bisa nongkrong di depan rumah KYR. Rumahnya besar, dua lantai dengan dominasi warna kuning keemasan. Alhamdulillah kami tidak nyasar. Secarik kertas yang berisi hanya sebuah nama perumahan, rupanya sangat membantu kami. Tapi, kata satpam di komplek rumah itu, KYR pagi-pagi mau terbang ke Palembang. Di sana ada acara pernikahan kerabatnya. Wah, kami kaget, takut nggak bisa minta wawancara!

Setelah menunggu 3 jam dengan perasaan harap-harap cemas, akhirnya KYR keluar juga dari rumahnya, menemui kami. Mulanya KYR menolak diwawancarai dengan berbagai alasan. Tapi kami terus bernegosiasi, membujuknya. Akhirnya KYR luluh juga, mau diwawancara. Malah dalam suasana santai dan penuh canda tawa, di saung depan rumahnya. KYR bicara soal pencopotannya, isu terbaru di Kejagung dan kaitannya dengan Artalyta-Urip. Hasil wawancara kami bisa dibaca di Majalah MAHKAMAH (Majalah Hukum, Politik dan Bisnis) Edisi Maret 2009.  Lumayan, ini pengalaman yang mengesankan.