Membangkitkan Petani

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Para pendahulu negeri ini telah memproklamirkan bahwa Indonesia sebagai negara agraris dan menjadikan lahan pertanian sebagai tulang punggung kehidupan masyarakatnya. Mereka tahu, Indonesia adalah salah satu negara Mega Biodiversity dan memiliki sekitar 60 persen dari dua juta spesies tumbuhan di dunia. Mega Biodiversity artinya kekayaan akan keanekaragaman hayati ekosistem, sumber daya genetika, dan spesies yang sangat berlimpah.

Tak salah bila kemudian banyak masyarakat Indonesia yang memilih dan menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Profesi petani pun menjadi pekerjaan turun temurun. Pada titik ini harus diakui jasa para petani memang sungguh besar. Mereka yang menyuplai pangan dan sebagian kebutuhan hidup harian kita. Singkatnya, mereka ikut membangun dan menggerakan roda perekonomian negara.

Malangnya, nasib petani kecil justru memprihatinkan. Sebagian besar dari mereka hidup di bawah garis kemiskinan dan belum sejahtera. Penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ini salah satunya karena kebijakan negara yang seringkali tidak berpihak kepada mereka. Buktinya bisa dilihat antara lain dari sulitnya mereka mengakses permodalan dan mendapatkan pupuk, minimnya penyuluhan serta pemberdayaan.

Persoalan petani bertambah rumit ketika era moderenisasi dan globalisasi juga memaksa mereka secara perlahan menyingkir dari sumber kehidupannya. Lahan mereka sedikit demi sedikit habis demi kepentingan industrialisasi. Jadilah sawah mereka ditanami pabrik, perumahan, dan bangunan lain yang bernilai komersil. Memang tidak sepenuhnya kesalahan dibebankan kepada negara atau pihak lain. Pola pikir petani yang cenderung statis dan sulit berubah turut pula menyebabkan mereka tidak berkembang.

Berangkat dari kenyataan tersebut, minat masyarakat (terutama generasi muda) semakin minim yang menggeluti dunia tani. Mereka beranggapan sektor pertanian tidak menjanjikan masa depan cerah. Padahal, jika lahan yang terus berkurang ini tidak segera digarap dan diselamatkan, maka beberapa tahun ke depan Indonesia akan mengalami krisis beras yang mencemaskan. Saat ini saja, kita sudah mengimpor beras. Sungguh ironis.

Karena itu, solusi tepat yang perlu segera diambil adalah membangkitkan para petani dengan wajah yang moderen dan profesional. Caranya melalui penguatan ekonomi dan kelembagaan serta peningkatan kualitas sumber daya petani. Misalnya dengan penyediaan dan perbaikan infrastruktur serta fasilitas pemasaran hasil pertanian. Selain itu, akses terhadap permodalan dan informasi tentang pertanian juga mesti diperluas.

Idealnya, negara yang harus melakukan semua itu. Tapi, tanpa kerjasama dari elemen masyarakat, rasanya mustahil tercapai. Karenanya, Dompet Dhuafa (DD) merasa terpanggil untuk turut serta membangkitkan petani. Sejak beberapa tahun lalu, DD telah mendirikan Lembaga Pertanian Sehat (LPS). Lembaga ini memberdayakan petani dhuafa. Hasilnya, LPS telah berhasil meningkatkan pengetahuan sekaligus menyejahterakan ribuan petani di berbagai daerah. (LHZ)

 

2 thoughts on “Membangkitkan Petani

  1. achmad lathif September 7, 2011 / 9:23 am

    peran sekecil apa yang bisa saya lakukan, tetapi mampu memberi dampak kumulatif yang besar ?

  2. cantrik Juni 7, 2013 / 8:11 am

    Di daerah, jarang ada PPL yang aktif. Petani menjadi buta informasi, dan kurang edukasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s