Somba Opu, Tonggak Inovasi Makassar Tempo Dulu

Somba Opu mulai dibangun oleh Daeng Matanre Tumapa’risi’ Kallonna, Somba Gowa pada awal abad ke-16 (salah satu sumber menyebutnya dibangun tahun 1525). Benteng itu dibangun Daeng Matanre untuk membuat inovasi yang kelak mengubah nasib Gowa hingga ke tingkat yang tidak pernah ia bayangkan. Ia mengubah kerajaannya dari sebuah federasi kecil di pedalaman menjadi sebuah kekuatan dagang, dan pembangunan Somba Opu adalah salah satu tonggaknya. Perdagangan pun merebak. Para arkeologis menemukan bahwa keramik-keramik dari Cina, Vietnam dan Thailand, sudah tiba di benteng itu pada masa itu.

Saat itu Malaka sedang surut setelah takluk di tangan Portugis pada tahun 1511. Eksodusnya sudah ada yang tiba di Suppa, Siang dan Sawitto, sebagaimana dicatat seorang pengelana Portugis; perdagangan laut pun mengalami intensitas lebih tinggi. Kemungkinan sang Somba melihatnya sebagai peluang emas. Bisa juga, ini terjadi secara nyaris bersamaan, dan secara tidak sengaja membuat posisi Makassar menjadi penting.

Namun apa pun yang sebenarnya terjadi, benteng Somba Opu berperan besar sebagai pos dagang baru di kawasan Timur Indonesia. Tanpa pembangunan benteng ini, Gowa tetap akan menjadi federasi kecil di pedalaman dalam waktu yang lama. Lambat laun perkembangan masih terus berlanjut. Saat itu, seorang pengelana Portugis mengatakan, “daerah yang disebut Makassar itu sangatlah kecil.”

Lalu penerusnya, Tunipallangga, yang naik tahta sekitar tahun 1546 melakukan lebih banyak inovasi. Ia memperkuat dinding benteng dengan batu bata buatan sendiri dan melengkapinya dengan meriam. Somba ini juga yang membawa para ahli dagang Melayu dari Bacukiki dan menciptakan jabatan-jabatan baru seperti Syahbandar untuk urusan dagang dengan pihak luar dan Tumailalang untuk urusan dalam negeri. Ia juga melebur emas dengan logam lain, membuat peluru, dan membuat aturan penimbangan dan volume baku.

Sejak saat itu, dengan tambahan pengalaman dan jaringan dagang internasional orang Melayu, benteng Somba Opu mulai dikenal sebagai kekuatan dagang di Timur nusantara pasca jatuhnya Malaka.

Pada masa pemerintahan Sultan Alauddin, masa jaya kerajaan Gowa, dinding benteng direnovasi dua kali, yakni tahun 1620 dan 1631-1632, dengan menggunakan inovasi arsitektur benteng terbaru, memanfaatkan ilmu baru yang datang. Pintu gerbang dibuat, dengan dihiasi dengan batu gunung besar yang dibentuk berukuran besar.

Sementara itu, keseluruhan dinding benteng dibangun dengan tiga lapisan. Dinding bertebal sekitar tiga hingga empat meter ini dibuat dengan tiga lapisan luar batu bata padat. Dengan cara ini, Gowa bisa mencegah musuh untuk menggali celah di benteng untuk dijadikan pijakan memanjat dinding benteng yang tingginya kira-kira tujuh meter.

Benteng ini tidak berhenti berevolusi, penuh inovasi. Saat itu di sekeliling benteng seluas 16-20 ha itu sudah ada puluhan pos dagang luar negeri. Dulu dia runtuh oleh kekuatan mesiu Belanda, namun kini dihancurkan oleh kekuatan modal. Di atas situs bersejarah itu yang menandai tonggak peradaban Makassar abad 16, rencananya akan dibangun tonggak peradaban manusia modern abad 21: mall dan waterboom sekaligus menghapus ingatan kolektif manusia Makassar masa kini. Miris memang. (tulisan ini diambil dari milis jurnalisme yang ditulis oleh Muhammad Ruslailang -Daeng Rusle- . Lukman Hakim Zuhdi/LHZ)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s