Manusia Produktif

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Alkisah, dalam satu kesempatan seorang lelaki muda datang kepada Rasulullah saw untuk meminta sedekah. Melihat kegagahan fisiknya, Rasulullah bertanya, “Apa yang kamu miliki di rumahmu?” Lelaki itu menjawab, “Selembar kain kasar dan satu cangkir kecil, ya Rasulullah.” Rasulullah berkata, ”Bawa keduanya ke sini!” Lelaki itu kemudian pulang, mengambil kain kasar dan satu cangkir.

Selang beberapa menit, kedua benda diserahkan kepada Rasulullah. Rasulullah lantas melelang dua barang itu hingga laku dua dirham. Rasulullah menyerahkan dua dirham kepadanya seraya menasehati, “Belilah makanan untuk keluargamu dengan satu dirham, yang satu dirham lagi belikanlah kapak, dan bawa ke sini kapak itu.” Lelaki itu manggut-manggut, tandanya paham dan setuju dengan perintah Rasulullah.

Setelah lelaki itu tiba kembali, ternyata Rasulullah telah menyiapkan gagang untuk kapak yang baru dibelinya. Rasulullah memasang, lalu menyerahkannya kepada lelaki itu sembari berpesan, “Pergilah. Dengan kapak ini, carilah kayu bakar. Gendonglah kayu bakar itu di atas punggungmu, kemudian jual di pasar. Dan kamu jangan datang ke sini kecuali setelah 15 hari.”

Lelaki itu mulai melaksanakan petunjuk Nabi Muhammad saw. Setelah berjibaku 15 hari dengan kapaknya, ia mendapatkan 10 dirham berkat jualan kayu bakar. Sebagian uangnya digunakan untuk membeli baju, sebagiannya lagi dipakai membeli makanan. Ia menghadap Rasulullah. Rasulullah lantas bersabda, (Pekerjaan) ini lebih baik bagimu daripada kamu meminta-minta kepada orang lain, meskipun orang itu memberi maupun tidak memberi.”

Kisah sederhana tersebut telah memberikan pelajaran penting. Rasulullah ingin mengajak umatnya, baik dalam kapasitas pribadi maupun kolektif supaya senantiasa menjaga harga diri dengan cara menjadi manusia produktif. Manusia produktif sesungguhnya manusia yang berdaya, bermental kuat, siap berjuang dan tidak mudah menyerah serta berpikir logis dan realistis. Faktanya, kondisi umat Islam saat ini tidak seperti yang diharapkan Rasulullah. Lantas, bagaimana solusinya?

Membangun budaya manusia produktif termasuk misi utama yang diemban zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Dengan dana ZIS, para penerima manfaat (mustahik) tak sekadar bisa menikmati bantuan langsung yang bersifat konsumtif, namun juga diajari dengan kegiatan produktif yang manfaatnya jauh lebih besar dan lebih terasa bagi masa depannya. Misalnya mereka dibukakan lapangan pekerjaan, dibina serta diberdayakan potensi ekonominya.

Itulah yang selama ini dilakukan Dompet Dhuafa (DD) yang konsen pada wilayah social entrepreneurship, yakni menumbuhkembangkan jiwa wirausaha sosial pada para menerima manfaatnya. Bahkan DD memiliki salah satu jejaring khusus yang bergerak dalam pelatihan kemandirian usaha, yaitu Masyarakat Mandiri (MM). Pada titik ini, DD terus berupaya membentuk karakter manusia produktif dengan menanamkan etos sebagai pandangan hidup dan etos kerja sebagai semangat yang menjadi ciri khas pribadi maupun kelompok, dimana muaranya produktifitas. ***LHZ (Tulisan ini hasil kerjasama KODEETIK dengan Dompet Dhuafa Republika).

One thought on “Manusia Produktif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s