Saatnya Menjelajah Pulau Nias

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Nusa Indah Andalan Sumatera, Negeri Impian Aman Sentosa. Itulah jargon Nias. Percayalah, ada banyak hal yang bisa Anda dapatkan jika mau berkunjung ke Nias.

Ya’ahowu! Kalimat itu selalu diucapkan diawal ketika sesama orang Nias berjumpa, dimana pun. Bahkan saat kali pertama Anda mendarat di Bandar Udara Binaka, Gunung Sitoli, Nias, ucapan salam ini langsung terdengar. Luar biasa memang. Ya’ahowu seperti doa. Masyarakat di sana sudah biasa dan fasih melafalkannya. Ya’ahowu artinya semoga (Anda) senantiasa selamat, lembut, segar, terus tumbuh, dan berkembang layaknya tanaman yang bermanfaat. Itulah sapaan khas daerah Nias.

Nias adalah sebuah pulau yang berada di Lautan Hindia. Letaknya 125 kilometer sebelah Barat Pulau Sumatera dan merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Utara. Luas wilayahnya sekira 5.318 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk kurang lebih 800.000 jiwa. Mayoritas penghuninya suku Nias (Ono Niha) yang beragama Kristen Protestan. Saat ini, Nias telah dimekarkan menjadi empat kabupaten dan satu kota, yakni Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunung Sitoli. Baca lebih lanjut

Iklan

Peduli Guru

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Dahulu masyarakat memaknai guru dengan kepanjangan digugu dan ditiru. Digugu artinya guru patut dipercayai, diakui, dan dihormati karena keilmuan dan perannya dalam masyarakat sebagai pendongkrak intelektualitas dan pembentuk sumber daya manusia yang berbudi pekerti. Sementara ditiru berarti guru layak dicontoh, diikuti, dan diteladani sebab kepribadian, perbuatan, dan tingkah lakunya terpuji yang bisa menjadi cerminan bagi orang lain. Pada titik ini, guru menjadi sosok yang sangat sakral.

Lambat laun, seiring perkembangan zaman dan pengaruh berbagai hal, kini image guru menurun drastis. Ada degradasi nilai, peran, dan fungsi guru. Imbasnya, murid di sekolah dan masyarakat umum seakan enggan menghargai dan menghormati guru. Di sisi lain, guru tak lagi menjadi profesi yang terlalu diminati generasi muda atau para orang tua, seperti era sebelumnya. Bahkan gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang dulu begitu melekat pun kini bukan lagi kebanggaan bagi guru. Kondisi tersebut jelas sangat memprihatikan banyak pihak. Baca lebih lanjut

Tuna Karya

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI) memerkirakan, angka pengangguran terbuka turun 0,71 persen atau sebesar 71 ribu orang dari 8,96 juta jiwa pada 2009 menjadi 8,89 juta orang pada 2010. Penurunan tersebut dilandasi pertumbuhan ekonomi 2010 yang diprediksi meningkat sebesar 5,9 persen. Tentu kabar ini patut disambut positif bila memang menjadi kenyataan.

Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Munculnya tuna karya disebabkan banyak faktor. Namun yang paling dominan lantaran jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada. Baca lebih lanjut

Eurico Guterres: Nasib Warga Eks Timor Timur Lebih Buruk Ketimbang Pemberontak

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Eurico Barros Gomes Guterres, itulah nama lengkapnya. Pria kelahiran Uatulari, Timor Timur, 17 Juli 1971 ini  lebih dikenal dengan nama beken Eurico Guterres. Ia seorang milisi pro-Indonesia atau anti-kemerdekaan Timor Timur. Namun, ia dituduh terlibat dalam sejumlah pembantaian di Timor Timur. Selain itu, Guterres merupakan pemimpin milisi utama pada pembantaian pasca referendum tahun 1999 dan penghancuran ibu kota Dili.

Pada November 2002, Guterres dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Putusan ini kemudian dikuatkan hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung. Ia baru mulai dipenjarakan pada tahun 2006 setelah gagal dalam upaya banding yang diajukan. Ia harus mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta. Pada April 2008, Guterres yang mengajukan peninjauan kembali (PK), dibebaskan dari segala tuduhan melalui keputusan Mahkamah Agung yang menyatakan telah menemukan “bukti baru” bahwa ia tidak terlibat apapun. Baca lebih lanjut

Umar bin Abdul Aziz, Potret Pemimpin Penyayang Kaum Dhuafa

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah pada penghujung abad pertama hijriyah yang sangat dicintai fakir miskin, anak yatim, janda-janda tua, para lajang, dan masyarakat umum.

Umar bin Abdul Aziz lahir di Kampung Hulwan, Mesir, tahun 63 H/681 M. Ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan, menjabat Gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul Malik. Ibunya, Ummu Asim Laila binti Asim, merupakan cucu Khalifah Umar bin Khattab. Umar hidup dalam lingkungan yang serba cukup dan penuh kasih sayang. Sejak kecil, kegemarannya menuntut ilmu. Ia dibesarkan di bawah bimbingan Ibnu Umar, ulama yang banyak meriwayatkan hadis.

Setelah ayahnya wafat, Umar menikah dengan Fatimah, putri Khalifah Abdul Malik. Selang beberapa waktu, ayah mertuanya wafat dan kekhalifahan dilanjutkan oleh Khalifah Al-Walid I. Umar kemudian diangkat sebagai Gubernur Madinah dalam usia 24 tahun. Umar membentuk sebuah dewan untuk membantunya menjalankan pemerintahan provinsi. Sejak itu, keluhan-keluhan resmi ke Damaskus (pusat kekuasaan Islam) berkurang. Baca lebih lanjut

Prof. KH. Ali Yafie: Zakat Jangan Dilepas Begitu Saja

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Prof. KH. Ali Yafie. Nama dan wajahnya cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya para tokoh dan umat Islam. Sosoknya sederhana, low profile, dan tidak neko-neko. Sejak dulu hingga sekarang, beliau rajin membaca dan produktif menulis. Karya-karyanya menjadi rujukan. Pria kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926, ini termasuk salah satu ulama sekaligus ahli fikih yang paham seluk beluk zakat secara moderen.

Ali Yafie antara lain pernah dipercaya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Mandiri Syariah. Meski usianya sudah melewati kepala delapan, namun fisiknya terlihat tetap sehat. Lukman Hakim Zuhdi dan Andre Purwanto dari Majalah Mitra Zakat Laznas BSM menemui beliau di kediamannya di Bintaro, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya. Baca lebih lanjut

Zakat Mall vs Zakat Maal

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Ada temuan cukup menarik perihal uang yang dibelanjakan di pusat perbelanjaan atau mall. Menurut survei yang dilakukan oleh Consumer Survey Indonesia (CSI) pada 2010, seorang pengunjung mall di Jakarta rata-rata menghabiskan Rp 10.921.000 per tahun. Misalkan jumlah umat Islam yang berbelanja di seluruh mall Indonesia mencapai 100.000 orang per tahun, maka ‘zakat’ (baca uang yang dibelanjakan) di mall mencapai Rp 1,1 triliun per tahun.

Perputaran uang di mall memang cukup besar, terlebih menjelang lebaran seperti saat ini. Umat Islam yang memiliki kemampuan finansial umumnya membeli barang-barang untuk keperluan menyambut hari raya Idul Fitri. Berbelanja di mall bukanlah sesuatu yang dilarang. Hanya saja, apakah kesadaran ‘zakat’ di mall sudah dibarengi dengan kesadaran mengeluarkan zakat maal (harta)? Baca lebih lanjut