Nasib Nelayan

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Indonesia adalah negara maritim dan negara kepulauan terbesar di dunia yang berada pada batas dua samudera. Pulau besar dan pulau kecil yang terbentang jumlahnya lebih kurang 18.000 pulau. Sekitar 6.000 di antaranya merupakan pulau berpenduduk, sementara sisanya masih pulau kosong yang belum ditempati, bahkan belum diberi nama.

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia, yakni 81.000 km. Jika dihitung, maka angka itu setara dengan 14 persen dari garis pantai yang ada di seluruh dunia. Sedangkan luas lautnya mencapai 5,8 juta km2, atau mendekati 70 persen dari luas keseluruhan negara Indonesia. Jadi, Indonesia bukan saja terdiri atas pulau-pulau yang dikelilingi laut, tetapi lautan yang ditaburi oleh pulau-pulau.

Ekosistem di lautnya tercatat sangat bervariasi, khususnya ekosistem pesisir. Seluruhnya menopang kehidupan dari sekian banyak spesies, antara lain 350 fauna, 28.000 flora,  110.000 mikroba, 600 terumbu karang, dan 40 genera. Itu sudah termasuk ikan, udang, moluska, kerang mutiara, kepiting, rumput laut, mangrove, hewan karang, dan biota laut lainnya. Adapun zona pesisirnya dapat menopang kehidupan 60 persen penduduk nusantara.

Jika disimpulkan, maka negeri ini laksana surga. Tuhan sungguh sangat bermurah hati kepada kita. Karunia-Nya dihamparkan begitu saja secara cuma-cuma. Sayangnya, kita seolah lupa bahwa percikan surga telah jatuh dan bersemayam di laut. Terbukti, tidak banyak dari kita yang mau menjemput anugerah-Nya di laut dengan berprofesi sebagai nelayan yang sebetulnya sangat menjanjikan kemakmuran masa depan.

Realita tersebut bisa dimaklumi. Seperti kita tahu, sejak dulu masyarakat nelayan termasuk warga negara yang berekonomi lemah. Penghasilan hariannya dari kegiatan menangkap ikan tak mampu membuat hidup mereka sejahtera. Nasibnya justru kian memprihatinkan dari tahun ketahun. Alhasil, tidak sedikit dari mereka yang makan seadanya dan tinggal di rumah gubuk, dengan tumpukan sampah di sekitarnya. Di banyak tempat, anak-anak nelayan juga jarang sekali yang bisa mengenyam bangku sekolah.

Kondisi masyarakat di kampung-kampung nelayan memang bukan tontonan. Sejujurnya mereka butuh uluran tangan dan kepedulian kita. Harap dicatat, mereka jadi terbelakang, bodoh, dan miskin, salah satu faktor utamanya lantaran kebijakan negara maupun ulah industri yang tidak menguntungkan (memihak) mereka. Bahkan pemerintah dan negara seolah enggan memperhatikan dan mengurus mereka lagi. Sungguh ironis memang.

Melihat kenyataan tersebut, Dompet Dhuafa (DD) tergerak untuk merangkul dan memberdayakan masyarakat nelayan. Berbekal uang zakat yang diberikan para donatur, DD berupaya mengangkat mereka melalui berbagai kegiatan dan program agar tercipta masyarakat nelayan yang mandiri dan sukses. Selain itu, DD membantu meningkatkan hasil tangkap mereka dengan memberikan bantuan alat tangkap sekaligus mencarikan tempat pasar yang baik (pasca tangkap). Dengan cara begitu, DD yakin hidup mereka secara perlahan akan lebih bermartabat. Insya Allah. (LHZ)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s