Hj. Dra. Ida Farida Hamsuk; Hidup Terasa Ringan Setelah Berbagi

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Desember 2008. Hari pernikahan tinggal seminggu lagi. Semua kebutuhan resepsi seperti baju pengantin, seragam keluarga, gedung, cathering, Ida Faridah 01undangan, dan juru foto, telah dipersiapkan. Namun, tiba-tiba saja Hj. Dra. Ida Farida Hamsuk (54), sang tuan rumah (sohibul hajat), jatuh sakit.

“Saat saya sedang shalat, di bagian bawah perut mendadak terasa sakit sekali. Sepertinya ada benjolan kista atau tumor. Memang itu sudah lama saya rasakan. Tapi selama ini saya biarkan (diamkan) saja. Saya tidak menganggapnya masalah yang sangat serius,” tutur Ida Farida.

Saat itu juga, Jumat, Ida langsung diantar putrinya yang sebentar lagi menikah ke Rumah Sakit Internasional Bintaro. Menurut dokter yang memeriksa, Ida harus dioperasi. Sebab ada benjolan kista yang bisa mengancam jiwanya jika benjolan itu sampai pecah di dalam perut. Putri kesayangannya seketika gelisah, sementara Ida tetap tenang-tenang saja. Mulutnya terus komat kamit menyebut asma Allah.

“Untuk sekadar second opinion, saya lalu mendatangi Rumah Sakit Dharmais (rumah sakit khusus kanker). Dokter Dharmais ternyata sependapat dengan dokter di Bintaro. Bahkan, kata dokter, kalau operasi ditunda, resikonya lebih berbahaya. Sementara kalau saya dioperasi, saya memerlukan 10 hari lagi untuk masa pemulihan,” Ida menirukan penjelasan dokter Dharmais.

Putri Ida terlihat semakin resah begitu mendengar keterangan dokter. Jika benar ibunya dioperasi, pikirnya, maka moment bersejarah pernikahannya tidak mungkin dihadiri sang ibu yang masih terbaring di rumah sakit. Ida bernegosiasi dengan dokter dan meminta operasi dilakukan hari itu. Namun, dokter mengatakan, operasi tidak bisa dilakukan Jumat dan harus menunggu Senin.

“Kalau pun saya mau, kata dokter itu, saya dioperasi di salah satu rumah sakit di Pasar Minggu. Yang mengoperasi tetap dokter itu. Akhirnya saya menyetujui. Dari Dharmais, saya langsung meluncur ke Pasar Minggu. Hanya supir dan putri saya yang menemani saya di dalam mobil,” beber Ida.

Sepanjang perjalanan, Ida tak henti-hentinya berdoa kepada Allah SWT. Wanita murah senyum itu tidak sedikit pun menampakkan kekhawatiran maupun ketakutan. Ia tidak pula minta kesembuhan atau kelancaran operasinya. Ida hanya mengharapkan apapun yang terbaik yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Bahkan kalau pun saat itu Malaikat Izrail mencabut nyawanya, Ida ikhlas menerimanya.

“Pokoknya saya manut saja kepada Allah SWT. Komunikasi saya dengan Allah terus berlangsung dan semakin dekat. Boleh dibilang, ketika itu keimanan saya tengah memuncak. Saya benar-benar sudah pasrah, tidak ada lagi yang saya takuti,” ucapnya.

Lepas Maghrib, orang-orang yang sangat menyayangi Ida, mulai dari suami, orang tua, calon menantu dan calon besan, sudah berkumpul di rumah sakit. Wajah-wajah mereka jelas terlihat cemas, lebih-lebih putrinya yang mondar mandir tak karuan. Semuanya nyaris stres.

Betapa tidak, rencana pernikahan yang sudah jauh-jauh hari dirancang matang, haruskah ditunda atau dibatalkan lantaran Ida masuk rumah sakit? Ataukah para tamu undangan hanya bisa menyalami suami Ida di samping kursi pengantin, sementara Ida sendirian di bangsal rumah sakit? Ah, terlalu banyak skenario yang berseliweran di benak orang-orang yang mengelilingi Ida.

Sekitar pukul 21.00 WIB, dokter dan asistennya baru saja keluar dari ruang operasi. Keluarga Ida segera memburu dokter, menanyakan jalannya operasi dan kondisi Ida.

Alhamdulillah, operasi sukses. Benjolan di perut saya dapat teratasi. Bagi saya, ini bukan semata-semata usaha dokter dan pembantunya, melainkan ada ‘campur tangan’ dari Allah SWT,” tandas Ida.

Tiga hari kemudian, tanpa disangka, dokter menyatakan kondisi Ida sudah membaik dan diperbolehkan pulang. Kabar itu tentu sangat disambut gembira oleh Ida dan seluruh keluarganya. Bukan saja Ida telah sembuh total, melainkan ia dapat menyaksikan putri kesayangannya menjadi ratu sehari.

Subhanallah…Kalau keyakinan kita sudah sepenuh hati kepada Allah, maka permasalahan apapun yang kita hadapi pasti akan diselesaikan oleh Allah. Hal tersebut saya tancapkan betul di sanubari saya dan sudah saya jadikan prinsip hidup. Pokoknya, saya tidak mau lepas dari dekapan Allah,” Ida menegaskan.

Itulah sepenggal pengalaman yang mengesankan bagi Ida. Sebetulnya, kata Ida, keajaiban dan berbagai kemudahan hidup yang diterima diri dan keluarganya tidak lepas atas anugerah Allah SWT. Ida yang gemar menyumbangkan hartanya, namun tidak suka publikasi itu, mulanya selalu memberikan zakat, infaq dan sedekah (ZIS) langsung kepada para mustahik.

“Saya mendatangi para mustahik di berbagai daerah. Misalnya di Bogor, Blitar, Indramayu, Pengalengan, Gunung Kidul, Yogyakarta, dan daerah lainnya. Saya menyerahkan bantuan sendiri. Nah, saya dapat info tentang alamat dan keberadaan mustahik itu dari teman-teman dan orang-orang yang saya percayai,” tukas Ida.

Sejak mengenal Dompet Dhuafa (DD) tahun 1997 lewat koran Republika, Ida mulai rutin mendermakan hartanya melalui lembaga itu. Selain kepada DD, ia mempercayakan  lembaga ZIS lainnya dan beberapa yayasan untuk menyalurkan ZIS-nya kepada para mustahik. Meski begitu, ia tak menghilangkan kebiasaan lamanya, yakni menyerahkan langsung bantuan kepada kaum papa.

Dalam setahun, total dana yang disumbangkan Ida ke berbagai lembaga bisa melebihi Rp. 500 juta. Barangkali berkat seringnya membantu orang lain dan konsisten dalam memegang teguh ajaran Islam, ia mengatakan bisnis dan segala urusan dunianya selalu dimudahkan oleh Allah.

“Kebetulan saya punya tiga apotek (2 di Balikpapan, 1 di Bandung) dan 1 BMT —Baitul Maal wa Tamwil— di Indramayu. Khusus untuk BMT, modal awalnya Rp. 25 juta. Alhamdulillah, sekarang BMT sudah mengelola dana miliaran rupiah. Tujuan BMT itu untuk membantu menggerakan roda perekonomian rakyat bawah yang selama ini bergantung kepara para rentenir. Misalnya yang minjam tukang bakso, tukang bubur ayam dan pedagang kecil lainnya. Mereka pinjam uang tanpa dibebani bunga. Ini beda dengan para rentenir yang justru mencekik kehidupan mereka,” terangnya.

Bila bulan Ramadhan tiba, Ida mengaku semakin getol membagi rezekinya kepada orang lain. Menurutnya, kesempatan emas itu tidak boleh dilewatkan begitu saja. Ramadhan adalah momentum terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah dan beramal sebanyak mungkin sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Maka, jumlah ZIS-nya pun sudah pasti dilipat gandakan.

“Insya Allah apa yang selama ini saya lakukan bukan untuk mencari popularitas atau demi mendapatkan hal lainnya. Saya hanya mengharapkan ridha Allah, itu saja. Makanya ketika memberi sesuatu kepada orang lain, saya terkadang menangis seraya berdoa; ‘Ya Allah,  semoga panita atau orang yang menerima bantuan saya tidak usah menyebutkan nama saya’. Kalau saya dipuji orang terus saya senang, takutnya pahala menyumbang itu rontok. Berarti saya tidak ikhlas. Di sinilah saya berusaha menghidari godaan setan yang terus menguntit manusia,” paparnya.

Ida menuturkan, banyak sekali ayat Al-Quran dan hadis Rasulullah SAW yang membuatnya termotivasi untuk senantiasa ringan tangan. Ia ingat salah satu firman Allah bahwa infaqkanlah hartamu sebelum datang maut (kematian). Selain itu, ada sabda Rasulullah bahwa jika seorang anak Adam meninggal dunia, maka putuslah segala amal kebajikannya, kecuali tiga hal; amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya.

“Dulu, waktu saya kecil, ada seorang tokoh bernama Helmy Yunan Nasution. Beliau bukan saja senang bersedekah, lebih dari itu sangat sayang dan semangat menolong anak-anak yatim piatu. Itu salah satu yang menjadi inspirasi saya hingga saya –alhamdulillah—bisa seperti sekarang,” tandasnya.  

Alasan Memilih Medan

Ida Farida lahir dan dibesarkan dalam lingkungan agamis. Ayahnya seorang tokoh masyarakat yang memiliki perguruan tinggi Islam. Ibunya seorang ahli ibadah. Pagi hari, Ida kecil belajar di Sekolah Dasar. Siangnya, ia belajar agama kepada beberapa ustad.

“Orang tua saya menanamkan nilai-nilai keagamaan yang paling mendasar. Dan yang sering saya ingat, ayah dan ibu selalu mengajarkan, jika saya mendapat rezeki, jangan lupa 2,5% diberikan kepada kaum dhuafa. Istilahnya kita berbagi rezeki. Doktrin itu bukan cuma saya ingat, tapi saya selalu melaksanakannya dari dulu hingga sekarang,” ungkap Ida.

Usai menyelesaikan pendidikan dasar, Ida masuk SMP Negeri I Indramayu. Mengingat jarak rumah dengan sekolahnya tergolong jauh, ia memutuskan kost. Orang tuanya mengizinkan. Jauh dari pantauan orang tua, rupanya tak membuat Ida hidup semaunya.

“Justru saya semakin giat sekolah dan belajar. Seperti ada tanggung jawab dan amanat yang harus saya laksanakan. Malamnya saya ngaji pada beberapa ustad.  Meski ustad tahu saya anak seorang kyai, nyatanya tidak ada perlakuan istimewa terhadap saya. Misalnya kalau saya tidak bisa menghapal bahasa Arab, maka tangan saya dipukul dengan penggaris, sama seperti murid lainnya. Dan saya terima saja hukuman itu,” tuturnya sembari tersenyum.

Bekal agama yang sudah dikantongi Ida, membuat orang tuanya tidak keberatan ketika Ida berkeinginan melanjutkan pendidikannya yang lebih tinggi ke Kota Pelajar.

“Orang tua sebenarnya menginginkan saya supaya nikah saja, tidak perlu sekolah lagi. Di kampung saya, di Indramayu, umumnya para gadis menikah di usia muda setelah lulus SMP, bahkan ada yang baru lulus SD. Sayangnya, usia pernikahan mereka jarang yang langgeng. Baru nikah setahun, eh…sudah cerai. Setelah itu pacaran lagi, terus nikah lagi. Saya amati, pernikahan kok seperti main-main saja. Nah, saya tidak mau seperti itu. Sejak itu, saya menekadkan diri tidak ingin menikah dengan pria yang satu kampung dengan saya,” tegas Ida.

Ida juga merasa beruntung mendapat bantuan dari para ustad yang mengajar di perguruan milik ayahnya. Para ustad yang mayoritas berasal dari Medan itu  turut mengingatkan ayahnya. Menurut para ustad, tradisi nikah muda yang berlaku di Indramayu tidak perlu ditiru.

“Alhamdulillah, ayah saya mau mendengar nasehat para ustad. Saya seperti di atas angin, mendapat dukungan. Akhirnya saya bisa berangkat ke Yogyakarta,” Ida tersenyum.

Ida diterima di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. Menginjak kelas 3 SMA, ia berkenalan dengan seorang mahasiswa jurusan hubungan internasional asal Medan yang tengah mengerjakan skripsi.

“Lelaki itu saya kenalkan kepada bapak dan ibu saya. Jujur, saat itu belum tumbuh rasa cinta saya kepadanya. Yang penting, kalau orang tua saya sudah senang (menyetujui), saya insya Allah ikut senang. Alhamdulillah, orang tua saya menerima pemuda itu sebagai calon menantunya. Saya memilih orang Medan, sebab kelihatannya orang Medan itu tipenya setia dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Ida menikah dengan pemuda itu kala Ida baru kuliah semester tiga di Jurusan Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Sementara  suaminya sudah diwisuda. Namun, usai menikah, Ida tetap tinggal di Yogyakarta untuk menyelesaikan kuliah, kendati suaminya mendapat tugas di Batam. Pengantin baru itu untuk sementara waktu harus terpisahkan oleh jarak.

Tahun 1983, Ida dinobatkan sebagai sarjana ekonomi. Selanjutnya Ida  berpindah-pindah tempat, mengikuti dinas suaminya yang menjadi abdi negara.

“Saya pernah tinggal di Batam, Pekanbaru, Jakarta, Banjarmasin, dan Malaysia. Sudah nggak kehitung berapa kali pindahan. Nah, sejak September 1998, saya dan keluarga tinggal di Bintaro sampai sekarang. Oh iya, dari tadi belum tahu yah nama suami, orang tua dan kedua anak saya. Aduh…Mohon maaf yah, saya tidak mau menyebutkannya. Ini saja (wawancara), awalnya saya merasa keberatan. Karena sebenarnya saya ini tipe orang yang senang bermain di belakang layar (tidak suka diekspos),” pungkas Ida. (tulisan ini merupakan hasil kerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika)

2 thoughts on “Hj. Dra. Ida Farida Hamsuk; Hidup Terasa Ringan Setelah Berbagi

  1. danny September 3, 2009 / 4:22 pm

    assalamualaikum wr wb..

    mohon maaf .., boleh ga bila saya minta contact person/email yang bisa saya hubungi untuk profil ibu Ida Farida Hamsuk..

    Terimakasih banyak sebelumnya

    Wass

    • komunitasamam September 5, 2009 / 5:00 am

      waalaikum salam… boleh saja. tp mohon maaf, sy minta Anda menjelaskan dulu apa keperluannya, biar nanti saya enak menyampaikan ke ibu ida. kirim saja dulu ke email sy: lukmanhakimcrb@yahoo.com. mksh. wassalam. salam kenal. LHZ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s