Kursi Kosong di Industri Ekonomi Syariah

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Sumber daya manusia yang berkualitas dan berkompeten di bidang ekonomi dan keuangan syariah masih jauh dari harapan. Para pelaku industri berbasis syariah pun terpaksa merekrutnya dari unit konvensional. Bagaimana para ahli ekonomi syariah menyikapi persoalan tersebut?

Beberapa tahun belakangan, ekonomi kapitalisme tengah menghadapi  kritikan, gugatan serta hujatan hebat.  Pasalnya, penerapan sistem ekonomi kapitalisme telah mengakibatkan krisis keuangan global yang meruntuhkan perekonomian di banyak negara, termasuk di Indonesia. Di sisi lain, saat ini ekonomi Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat, baik di tingkat lokal maupun di tingkat global.

Indikator utamanya, menurut Ketua Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Veithzal Rivai, terlihat pada munculnya berbagai institusi dan produk keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah tercatat telah memiliki pasar modal syariah, perbankan syariah, microfinance syariah, asuransi syariah, Islamic fund, dan produk keuangan sukuk.

“Artinya, sistem ekonomi Islam bisa menjadi alternatif pilihan untuk menyelamatkan kehancuran perekonomian dunia akibat penerapan sistem konvensional (kapitalisme) yang terbukti gagal. Persoalannya, perkembangan ekonomi Islam tidak dibarengi penyediaan sumber daya manusia (SDM) yang siap pakai secara kualitas maupun kuantitas,” ujar Veithzal Rivai pada acara seminar bertema Penyediaan SDM yang Handal Sebagai Pondasi  Berkembangnya Ekonomi Syariah, Rabu (20/01), di Auditorium Bank Bukopin, Jakarta.

Baca lebih lanjut

FEI: Kebijakan Ekonomi Pemerintah SBY Ngawur

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Liberalisasi atau globalisasi ekonomi yang dianut pemerintah mulai digugat para ekonom. Ini lantaran pemerintah dianggap selalu menyampingkan kepentingan mayoritas rakyat Indonesia.

Minggu (17/01), Forum Ekonom Indonesia (FEI) menggelar jumpa pers di Hotel Sultan, Jakarta. Forum ini berisi para dosen ekonomi dari berbagai universitas terkemuka. Antara lain dari Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Institut Pertanian Bogor, Universitas Trisakti, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, dan Universitas Padjajaran.

Selain beranggotakan para ekonom, FEI berisi tokoh-tokoh yang memiliki spesialisasi ilmu, seperti analis keuangan dan pasar modal serta ahli perbankan. Di antaranya Rizal Ramli, Fahrial Anwar, Hendri Saparini, Iman Sugema, Revrisond Baswir, Ichsanuddin

Fahrial Anwar, Ahli Mata Uang Indonesia
Fahrial Anwar, Ahli Mata Uang Indonesia

Noorsy, Ikhsan Modjo, M. Fadhil Hasan, Achmad Deni Daruri, dan Fahmi Radhi.

“Saat ini yang hadir sekitar 30 orang. Sebetulnya masih banyak anggota FEI yang tidak bisa ikut berkumpul di sini karena satu dan lain hal. Pembentukan forum ini dilandasi kegelisahan sekaligus keprihatinan yang sangat mendalam setelah melihat berbagai arah kebijakan ekonomi pemerintah Indonesia yang asal-asalan dan tidak berpihak terhadap masyarakat,” kata Rizal Ramli, salah satu penggagas FEI.

Rizal Ramli mengemukakan pemerintah Indonesia agresif dalam berbagai kesepakatan liberalisasi ekonomi, tapi tidak diikuti oleh strategi dan kebijakan industri yang memanfaatkan kekayaan alam sebagai modal pembangunan bangsa. Akibatnya, pemerintah gamang menghadapi globalisasi ekonomi.

“Terbukti sektor-sektor strategis yang menyangkut ekonomi sebagian besar rakyat,  yakni sektor pertanian, industri, dan perdagangan,  tidak memiliki daya saing dan tingkat produktifitas tinggi. Akibatnya, kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif rendah karena bersifat eksklusif dan tidak dapat dinikmati oleh mayoritas rakyat,” papar Rizal.

Jika struktur ekonomi nasional saat ini masih sangat lemah dan tidak jelas arahnya, maka tekad Indonesia untuk menjadi raksasa ekonomi baru di Asia setelah Cina dan India rasanya terlalu muluk. Padahal, lanjut Rizal, jalan satu-satunya bagi Indonesia untuk menyelesaikan berbagai masalah struktural ialah harus segera menyiapkan diri menjadi negara industri.

Baca lebih lanjut

2010, Ekonomi Indonesia di Persimpangan

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Tahun ini, perekonomian dunia diperkirakan pulih setelah ambruk diterjang krisis finansial global. Pemerintah Indonesia harus  bisa memanfaatkan momentum tersebut.

Pada 2010, ekonomi Indonesia diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,7 persen. Prediksi itu disampaikan Rizal Ramli dan Hendri Saparini, pada acara Economic Outlook 2010 yang digagas lembaga Econit, di Jakarta, Kamis, (14/01). Rizal Ramli mengatakan,

Rizal Ramli, Direktur Econit
Rizal Ramli, Direktur Econit

tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut lebih tinggi dari 2009, yang hanya  4,4 persen.

“Tetapi, tingkat pertumbuhan ekonomi itu relatif rendah dibandingkan dengan potensinya dan diperkirakan kembali akan berkualitas rendah (slow recovery and low quality growth),” cetus ekonom kelahiran Sumatera Barat, 10 Desember 1953.

Menurut Rizal, pertumbuhan ekonomi 2010 didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat dan kenaikan harga komoditas (commodity price). Selain itu, pertumbuhan ekonomi dipicu banjirnya dana spekulatif berjangka pendek (hot money) dan utang berbunga tinggi (high cost debt).

“Namun, belajar dari pengalaman dan strategi kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia pada 2009, pemulihan ekonomi yang bergantung pada hot money dan high cost debt hanya akan menjadikan ekonomi Indonesia sangat fragile (rentan guncangan). Istilahnya, ekonomi Indonesia seperti roller coaster,” tukasnya.

Baca lebih lanjut

New Dutro, Semakin Panjang Umurnya

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Persaingan bisnis penjualan kendaraan truk kecil semakin sengit. Ini dibuktikan dengan adanya peluncuran produk-produk baru oleh perusahaan otomotif. Kali ini, giliran Hino yang melempar varian baru, dengan menawarkan berbagai keunggulan.

Pertengahan Januari 2010, PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) sebagai main distributor kendaraan komersil merk Hino meluncurkan truk kecil Dutro baru. Acara grand launching New Dutro dihadiri jajaran direksi HMSI beserta perwakilan pemegang saham, yaitu Hino Motors Ltd. (HML), PT Indomobil Sukses Internasional Tbk. (IMSI) dan Sumitomo Corporation.

Vice President Director HMSI Jusak Kertowidjoyo mengatakan, peluncuran produk baru ini sebagai bukti bahwa Hino terus melakukan riset untuk meningkatkan performa truk kecil Dutro yang dapat memenuhi kebutuhan para pengguna.

“Dutro baru yang kami luncurkan hari ini adalah realisasi pengembangan, sekaligus penyempurnaan dari produk sebelumnya. Sebanyak 27 varian Dutro baru telah dikembangkan secara khusus, termasuk kendaraan angkutan penumpang (Dutro bus). Kami tidak mau tinggal diam ketika para kompetitor juga membuat sesuatu yang baru,” tandas Jusak kepada Indonesia Monitor, Jumat (15/01). Baca lebih lanjut

Mendag: CAFTA Tidak Akan Dinegosiasi Ulang

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

CAFTA jangan dipandang sebelah mata. Ada sisi lain yang menguntungkan Indonesia. Begitu kata Menteri Perdagangan Republik Indonesia.

Perdagangan bebas China-ASEAN (China-ASEAN Free Trade Agreement/CAFTA) yang dikeluhkan banyak pihak, utamanya kalangan pengusaha, dijawab Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.  Menurut Mari Pangestu, kesepakatan dan implementasi

Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu
Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu

CAFTA harus dilihat secara proporsional dan komprehensif, jangan setengah-setengah.

“CAFTA sudah direncanakan sejak 2004. Itu artinya, sejak saat itu pemerintah sudah memperhitungkan sisi positif maupun negatifnya. Dengan demikian, tidak akan ada negosiasi ulang untuk CAFTA,” tegas Mari Pangestu, di Jakarta, Selasa, (05/01).

Mari Pangestu mengemukakan, adanya CAFTA membuat barang-barang ekspor ke Cina meningkat. Antara lain kakao, CPO (Crude Palm Oil) atau minyak mentah, minyak goreng, dan tambang. Selain itu, sebetulnya semua produk Indonesia berpotensi bisa diimpor, termasuk produk-produk manufaktur.

“Gelas dan garmen dalam negeri yang sudah ada brandnya, kini sudah mulai masuk ke Cina,” cetus jebolan The Australian National University. Baca lebih lanjut

Walau Bank Syariah Menjamur, BSM Siap Bersaing

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Geliat ekonomi Islam –utamanya perbankan syariah—di tanah air terus memperlihatkan peningkatan grafik. Ini ditandai rencana beberapa bank konvensional yang akan membuka bank syariah. Tentu persaingan antar bank syariah semakin ketat. Bank Syariah Mandiri pun siap menghadapinya.

Beberapa tahun terakhir, perkembangan ekonomi Islam meningkat tajam, baik di tingkat lokal maupun global. Munculnya berbagai institusi dan produk keuangan syariah sebagai alternatif pilihan di tengah era sistem konvensional menjadi indikator utamanya. Hingga saat ini, lembaga keuangan syariah telah memiliki pasar modal syariah, perbankan syariah, microfinance syariah, asuransi syariah, islamic fund, dan produk keuangan sukuk.

Secara lebih khusus, memasuki 2010, perbankan syariah Indonesia akan diramaikan pemain-pemain baru. Tidak lama lagi akan lahir BCA Syariah, BNI Syariah dan Bank Jabar Syariah, yang siap meramaikan industri perbankan syariah. PT Bank Syariah Mandiri (BSM) sebagai bank syariah yang lahir lebih dulu, tentu siap bersaing dengan bank-bank syariah baru. Baca lebih lanjut

Benny Pasaribu (Ketua KPPU) : Persaingan Sehat Membuat Rakyat Sejahtera

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Tidak sedikit dari masyarakat dan pelaku dunia usaha yang belum menyadari pentingnya persaingan usaha sehat.  Padahal, persaingan usaha yang sehat sangat dibutuhkan sebagai upaya antisipasi dampak globalisasi. Inilah salah satu tugas berat yang diemban KPPU.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terus membuat gebrakan.  Pada 2010, KPPU akan fokus pada penataan susunan ekonomi  dan mengawasi perilaku dunia usaha, termasuk para pengambil kebijakan dipemerintahan. Menurut Ketua KPPU Benny Pasaribu, tahun 2009 struktur ekonomi Indonesia diwarnai oleh kekuatan monopoli, kartel, merger, akuisisi serta persekongkolan dalam tender.

“Itu membuat daya saing ekonomi dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) lemah.  Pasar tradisional menjadi sangat sulit tumbuh maupun berkembang, sementara kemiskinan dan pengangguran kian bertambah banyak,” tandas Benny kepada Indonesia Monitor, Rabu (06/01).

Benny mengatakan, seharusnya kebijakan ekonomi yang diambil adalah ekonomi kerakyatan. Artinya memperhatikan keberadaan dan peran UMKM serta mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selain itu, kebijakan ekonomi  mestinya membuat inflasi menurun, karena harga-harga yang selama ini tinggi menjadi kompetitif (rendah).

“Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan dan pejabat gubernur Bank Indonesia mengakui bahwa jika di pasar terjadi persaingan sehat, maka harga-harga akan menjadi lebih rendah dan inflasi turun. Mereka bilang ke saya begitu. Tingkat saving (penghematan) masyarakat juga nilainya cukup besar,” papar mantan Ketua Panitia Anggaran DPR RI periode 2000-2002. Baca lebih lanjut