Cara Asyik Menteri Roy

Menteri Pemuda dan Olahraga ngebut, kunjungan sana sini. Beragam terobosan terus dilakukan. Semuanya demi Merah Putih.

Terekam jelas dalam ingatan soal geger publik ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan hingga melantik Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Roy Suryo Notodiprojo sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), medio Januari 2013. Di jejaring sosial, suara publik mayoritas nyinyir. Di forum diskusi, celotehan hingga caci maki tak kalah pedasnya. Di media massa, pendapat yang kontra dan pro beradu. Pendek kata, jika diprosentase, yang menolak pengangkatan Roy Suryo lebih banyak ketimbang yang mendukung.

Keraguan dan cemoohan publik tidak membuat Menteri Roy minder atau mundur. Dengan gaya khasnya, Menteri Roy tetap menebar senyum optimis, tanpa banyak menanggapi suara sinis. Pria berkumis ini mengaku hanya ingin berkonsentrasi dengan tugas dan tanggung jawabnya serta menjalankan amanat Presiden. Menteri Roy sadar betul, tugasnya sangat tidak ringan, apalagi waktunya pendek. Kemenpora sedang dihajar kasus korupsi Hambalang, prestasi cabang olahraga trennya melorot, para pemuda pun seolah tak terurus. Singkatnya, citra kementerian ini remuk. Baca lebih lanjut

Cirebon Punya Nasi Jamblang, Lho…

Orang-orang dari luar kota sering bertanya via jejaring sosial facebook maupun twitter: apa kuliner yang paling enak, populer, menarik, berkesan dan melegenda di Cirebon? Jawablah: Nasi Jamblang!

Minggu lalu, ketika matahari siang menyengat, sekitar sepuluh mobil pribadi terparkir rapih di depan rumah makan Nasi Jamblang Ibu Nur Cangkring. Di sebelahnya berjejer lima belasan sepeda motor. Dari balik kaca, terlihat kurang lebih dua puluh orang lelaki dan perempuan dewasa rela antre berbaris. Satu per satu langkah kaki mereka terus maju. Mereka menunggu giliran agar bisa sampai di depan meja para pelayan berseragam kuning. Di tempat itu, para pelayan yang jumlahnya lebih dari sepuluh tak kalah sibuknya.

“Nasinya satu atau dua? Sambalnya sesendok, dua sendok atau tiga sendok? Lauknya silakan pilih dan ambil sendiri, lalu langsung bayar di kasir, di sebelah sana,” kata seorang pelayan berusia 23 tahun. Baca lebih lanjut