Zakat Mall vs Zakat Maal

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Ada temuan cukup menarik perihal uang yang dibelanjakan di pusat perbelanjaan atau mall. Menurut survei yang dilakukan oleh Consumer Survey Indonesia (CSI) pada 2010, seorang pengunjung mall di Jakarta rata-rata menghabiskan Rp 10.921.000 per tahun. Misalkan jumlah umat Islam yang berbelanja di seluruh mall Indonesia mencapai 100.000 orang per tahun, maka ‘zakat’ (baca uang yang dibelanjakan) di mall mencapai Rp 1,1 triliun per tahun.

Perputaran uang di mall memang cukup besar, terlebih menjelang lebaran seperti saat ini. Umat Islam yang memiliki kemampuan finansial umumnya membeli barang-barang untuk keperluan menyambut hari raya Idul Fitri. Berbelanja di mall bukanlah sesuatu yang dilarang. Hanya saja, apakah kesadaran ‘zakat’ di mall sudah dibarengi dengan kesadaran mengeluarkan zakat maal (harta)?

Rasanya tidak terlalu sulit menjawab pertanyaan tersebut. Kesadaran umat Islam untuk berzakat maal memang masih rendah. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Indonesia Magnificence of Zakat (IMZ) pada 2010, banyak masyarakat di Jabodetabek yang belum mengetahui tentang jenis-jenis zakat maal. Kalau pun sudah mengetahui, namun mereka mengaku tidak menunaikannya, dengan alasan belum percaya pada pengelolaan zakat yang sudah ada.

Selain itu, merujuk pada laporan Kementerian Agama, dana zakat yang berhasil dikumpulkan  baru sekitar Rp 1 triliun dari seluruh lembaga zakat di Indonesia. Padahal potensi dana zakat cukup besar, kendati setiap kalangan menyebut angka yang berbeda. Misalkan Bank Pembangunan Asia memrediksi potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 100 triliun per tahun, PIRAC memperkirakan Rp 9 triliun per tahun, CSRC UIN Syahid Jakarta menyebut Rp 19 triliun per tahun, dan Forum Zakat menghitung Rp 17,5 triliun per tahun.

Rendahnya umat Islam berzakat maal menjadi catatan penting bagi pengelola zakat. Dalam hal ini, pengelola zakat dituntut lebih kreatif lagi dalam melakukan aktifitas fundraising, membuat agenda program pemberdayaan, sosialisasi, dan edukasi keagamaan guna memberikan kesadaran berzakat. Di sisi lain, pengelola zakat juga harus terus berbenah diri demi menjadi lembaga filantropi yang moderen, profesional, dan amanah, sebagaimana dilakukan Dompet Dhuafa.

Bagaimana pun, berzakat maal memiliki banyak keutamaan dibandiing ber’zakat’ di mall.  Dari segi agama, menunaikan zakat maal berarti menjalankan salah satu dari rukun Islam, mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperoleh pahala yang berlipat ganda, serta sebagai sarana menghapus dosa. Dari segi akhlak, menandakan rasa toleran dan kelapangan dada pembayar zakat.

Dari segi sosial kemasyarakatan, berzakat maal dapat meringankan beban sekaligus mengurangi kecemburuan sosial kaum dhuafa. Terpenting lagi, berzakat maal berarti memperluas peredaran harta benda atau uang. Ketika harta dibelanjakan pada jalur yang tepat sesuai aturan agama, maka perputarannya akan meluas dan lebih banyak pihak yang mengambil manfaat. Beberapa point itulah yang tidak didapat saat kita ber’zakat’ di mall. (LHZ)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s