Umar bin Abdul Aziz, Potret Pemimpin Penyayang Kaum Dhuafa

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah pada penghujung abad pertama hijriyah yang sangat dicintai fakir miskin, anak yatim, janda-janda tua, para lajang, dan masyarakat umum.

Umar bin Abdul Aziz lahir di Kampung Hulwan, Mesir, tahun 63 H/681 M. Ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan, menjabat Gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul Malik. Ibunya, Ummu Asim Laila binti Asim, merupakan cucu Khalifah Umar bin Khattab. Umar hidup dalam lingkungan yang serba cukup dan penuh kasih sayang. Sejak kecil, kegemarannya menuntut ilmu. Ia dibesarkan di bawah bimbingan Ibnu Umar, ulama yang banyak meriwayatkan hadis.

Setelah ayahnya wafat, Umar menikah dengan Fatimah, putri Khalifah Abdul Malik. Selang beberapa waktu, ayah mertuanya wafat dan kekhalifahan dilanjutkan oleh Khalifah Al-Walid I. Umar kemudian diangkat sebagai Gubernur Madinah dalam usia 24 tahun. Umar membentuk sebuah dewan untuk membantunya menjalankan pemerintahan provinsi. Sejak itu, keluhan-keluhan resmi ke Damaskus (pusat kekuasaan Islam) berkurang.

Di bawah kepemimpinan Umar, hidup masyarakat Madinah lebih sejahtera dan lebih tentram dibanding era sebelumnya. Hal tersebut yang membuat banyak orang Irak bermigrasi ke Madinah. Mereka mencari perlindungan kepada Umar lantaran Al-Hajjaj bin Yusuf selaku Gubernur Irak kerap berbuat kejam kepada rakyatnya sendiri. Eksodus warga Irak rupanya membuat Al-Hajjaj berang dan iri hati pada Umar.

Al-Hajjaj menekan Khalifah Al-Walid I untuk memberhentikan Umar dari jabatannya. Herannya, Al-Walid I mau mengikuti kemauannya. Akhirnya Umar dicopot tanpa alasan yang jelas. Namun, peristiwa itu justru melambungkan reputasi Umar dan membuat rakyat semakin mencintainya. Umar tetap tinggal di Madinah hingga Al-Walid I wafat.

Kekuasaan Bani Umayyah dilanjutkan oleh Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, yang tak lain sepupu Umar. Hubungan keduanya sangat erat. Apalagi Sulaiman sangat mengagumi kepintaran dan kealiman Umar. Menjelang wafat, Sulaiman menulis surat wasiat yang isinya menunjuk Umar untuk meneruskan kepemimpinannya. Surat itu hanya diketahui Raja’ bin Haiwah, seorang penasihat kerajaan.

Setelah Khalifah Sulaiman wafat pada tahun 99 H/717 M, surat wasiat dibacakan Raja’ bin Haiwah dihadapan keluarga istana dan para pejabat. Rupanya di antara mereka ada yang sudah memrediksi isi surat itu, sehingga tidak terlalu terkejut. Ini berbeda dengan Umar bin Abdul Aziz, yang benar-benar kaget. Untungnya, semua pihak sepakat, begitu juga dengan umat yang mendukungnya. Akhirnya Umar tak kuasa menolak jabatan itu.

Singkat cerita, usai shalat Jumat, Umar yang usianya 36 tahun dinobatkan sebagai khalifah di hadapan kaum muslimin yang berkumpul di masjid. Ketika itu sama sekali tak terlihat senyum di wajah umar. Umar justru menangis. Ia langsung teringat nasib orang fakir dan miskin serta janda-janda yang memiliki banyak anak tapi rezekinya sedikit.

Menurut Umar, semuanya akan menuntut di akhir kelak jika dirinya selama menjadi khalifah tak sanggup memenuhi hak-hak mereka. Umar terdiam sejenak. Butir-butir air bening terus keluar dari kedua kelopak mata, membasahi pipinya. Umar benar-benar takut dengan ancaman Allah jika tidak sanggup menyejahterkan kaum dhuafa.

Terobosan Umar

Sejak menjadi khalifah, Umar membuat berbagai gebrakan. Mula-mula ia menyerahkan seluruh harta pribadinya ke baitul maal (kas negara). Ia juga memilih menetap di rumahnya, bukan di istana. Pola hidupnya benar-benar berubah drastis. Ia tak mau tidur siang dan makan enak. Akibatnya, badannya yang semula padat berisi dan kekar berubah jadi kurus dan ceking.

Umar kemudian memberi dua pilihan kepada istrinya: “Mengembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas negara atau kita harus bercerai?” Ternyata istrinya lebih memilih opsi yang pertama. Berikutnya giliran anaknya, yakni Abdul Malik bin Umar, yang diminta menyerahkan seluruh hartanya ke kas negara. Abdul Malik protes keras.

Umar menjawab dengan pertanyaan: “Sekarang saya beri engkau segala fasilitas dan makanan yang enak, tapi engkau harus rela menjebloskan saya ke neraka atau engkau bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama?” Abdul Malik langsung menunduk seraya menitikan air mata. Akhirnya Abdul Malik mengikuti keputusan ayahnya.

Umar lalu mulai membenahi istana. Ia memerintahkan menjual seluruh barang-barang mewah yang ada di istana dan mengembalikan uangnya ke kas negara. Semua fasilitas mewah yang diberikan kepada keluarga istana juga satu per satu dicabut. Mereka memrotes kebijakan Umar, tapi Umar tetap tak mau mengubah keputusannya. Tak pelak, semenjak itu tekanan demi tekanan terus dialami Umar, namun Umar berhasil mengatasinya.

Berikutnya Umar mendeklarasikan gerakan nasional penghematan total dalam penyelenggaraan negara. Struktur negara yang tambun segera dirampingkan, sedangkan birokrasi yang panjang dan berbelit-belit dibikin sederhana, cepat dan mudah. Pejabat-pejabat negara yang terindikasi korupsi juga dilengserkan, tanpa terkecuali.

Umar selanjutnya meredistribusi kekayaan negara secara adil. Dengan melakukan berbagai upaya sebelumnya, pada dasarnya Umar telah menghemat belanja negara.  Pada waktu yang sama, ia juga mensosialisasikan semangat bisnis dan kewirausahaan di tengah masyarakat. Dengan cara begitu, Umar memperbesar sumber-sumber pendapatan negara melalui penarikan zakat, pajak, dan jizyah, lalu mengelola dan mendistribusikannya secara efektif dan efisien.

Dalam konsep distribusi zakat, penetapan delapan objek penerima zakat (mustahik), sesungguhnya mempunyai arti bahwa zakat adalah bentuk subsidi langsung. Zakat harus mempunyai dampak pemberdayaan kepada masyarakat yang berdaya beli rendah. Sehingga dengan meningkatnya daya beli mereka, secara langsung zakat ikut merangsang tumbuhnya permintaan dari masyarakat, yang muaranya mendorong meningkatnya suplai.

Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat, maka produksi juga akan ikut meningkat. Jadi, pola distribusi zakat bukan hanya berdampak pada hilangnya kemiskinan absolut, tapi dapat menjadi faktor stimulan bagi pertumbuhan ekonomi di tingkat makro. Itulah yang terjadi pada masa Umar. Jumlah pembayar zakat (muzakki) terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat (mustahik) terus berkurang, bahkan habis sama sekali.

Ibnu Abdil Hakam menceritakan, seorang petugas zakat bernama Yahya bin Said pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungut, Yahya bermaksud memberikan kepada orang-orang miskin dan mustahik lainnya. Namun, setelah berkeliling ke seantero negeri, Yahya tidak menjumpai satu mustahik pun, karena Umar telah menjadikan semua rakyatnya hidup berkecukupan.

Habisnya para mustahik secara fakta, bukan sekadar data statistik, menjadikan negara selalu mengalami surplus (pemasukan lebih besar daripada pengeluaran). Umar lantas membuat kebijakan baru. Ia memerintahkan bawahannya untuk meredistribusi kekayaan negara kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta) dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan.

Kebijakan tersebut benar-benar dijalankan. Hasilnya, setiap warga tidak ada yang memiliki tanggungan hutang dan semua lajang tidak mengeluarkan dana sepeser pun ketika mereka menikah. Meski begitu, uang di baitul maal tetap saja masih menumpuk. Inilah bukti keberhasilan Umar dalam mengelola negara dan membangun ekonomi umat Islam. Ia telah sukses mengubah teori menjadi kenyataan dan mempertemukan keadilan dengan kemakmuran. Atas prestasinya itu, Umar didapuk sebagai Khulafaur Rasyidin kelima.

Lebih hebat lagi, ternyata Umar hanya butuh waktu dua tahun lima bulan untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi umat dan bangsanya. Sayang, khalifah yang digelari Umar II dan Abu Hafs ini ini wafat dalam keadaan tragis. Menurut beberapa riwayat, Umar meninggal dunia karena dibunuh (diracun) oleh salah seorang pembantunya. Selain itu, Umar tidak meninggalkan warisan apapun untuk istri dan anak-anaknya, kecuali kenangan manis sebagai pribadi sekaligus pemimpin yang saleh, kuat, dan melegenda. (LHZ)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s