Saatnya Menjelajah Pulau Nias

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Nusa Indah Andalan Sumatera, Negeri Impian Aman Sentosa. Itulah jargon Nias. Percayalah, ada banyak hal yang bisa Anda dapatkan jika mau berkunjung ke Nias.

Ya’ahowu! Kalimat itu selalu diucapkan diawal ketika sesama orang Nias berjumpa, dimana pun. Bahkan saat kali pertama Anda mendarat di Bandar Udara Binaka, Gunung Sitoli, Nias, ucapan salam ini langsung terdengar. Luar biasa memang. Ya’ahowu seperti doa. Masyarakat di sana sudah biasa dan fasih melafalkannya. Ya’ahowu artinya semoga (Anda) senantiasa selamat, lembut, segar, terus tumbuh, dan berkembang layaknya tanaman yang bermanfaat. Itulah sapaan khas daerah Nias.

Nias adalah sebuah pulau yang berada di Lautan Hindia. Letaknya 125 kilometer sebelah Barat Pulau Sumatera dan merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Utara. Luas wilayahnya sekira 5.318 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk kurang lebih 800.000 jiwa. Mayoritas penghuninya suku Nias (Ono Niha) yang beragama Kristen Protestan. Saat ini, Nias telah dimekarkan menjadi empat kabupaten dan satu kota, yakni Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunung Sitoli.

Pulau Nias memiliki berbagai obyek wisata yang mampu menarik banyak wisatawan. Bila Anda ingin melihat benda-benda pusaka peninggalan zaman megalitikum atau zaman batu serta maket bangunan-bangunan rumah tradisional dari berbagai daerah di pulau ini, cobalah datang ke Museum Pusaka Nias (MPN). Dijamin Anda akan terpukau. Koleksi MPN sangat lengkap, banyak, dan tentu saja bernilai tinggi. Semuanya dipajang secara sistematis, bagus, dan elok dipandang.

Di Nias Selatan, terdapat beberapa Omo Hada (rumah adat) yang cukup populer sebagai tempat melancong, seperti Bawomataluo. Bawomataluo berarti Negeri Matahari. Di sini Anda bisa melihat rumah raja yang ukurannya memang sangat besar, dengan “kaki-kaki” dari kayu bulat utuh berukuran besar-besar. Untuk mencapai plaza dataran batu ini, Anda harus mendaki sekitar 80 anak-anak tangga batu. Seolah-olah Anda sedang menggapai matahari di atas sana.

Plaza luas itu ‘dipagari’ puluhan rumah-rumah tradisional. Rumah raja paling besar dan paling tinggi. Di depan rumah ada dua lempeng batu sangat besar, dihaluskan dan diukir tepinya. Dulu dipakai sebagai tempat duduk raja untuk menonton berbagai pertunjukan. Salah satu atraksi yang terkenal adalah lompat batu. Tumpukan batu berbentuk piramid tumpul setinggi lebih dari dua meter dilompati oleh seorang pemuda berpakaian adat.

Ada beberapa orang yang terlatih dan selalu siap untuk menunjukkan atraksi ini. Bila Anda ingin menyaksikan atraksi mereka, siapkan kira-kira uang dua ratus atau tiga ratus ribu rupiah untuk sekali lompatan. Namun bila Anda pintar menawar, cukup seratus ribu rupiah untuk sekali loncat. Sebelum mereka meloncat, jangan lupa segera nyalakan kamera Anda untuk mengabadikan aksi pelompat yang melintas tepat di atas tumpukan batu. Biasanya, para pelompat selalu ingin melihat hasil jepretan Anda, lantas berkomentar.

Tak jauh dari lokasi lompat batu, terdapat pantai yang sudah dikenal sejak tahun 1980-an lantaran keindahan pantainya. Namanya Pantai Sorake. Perlu diketahui, di sekeliling Pulau Nias ada banyak pantai dengan pasir putih yang indah. Antara lain Pantai Lagundri, Pantai Lahewa, Pantai Sirombu, Pantai Lahusa, Pantai Pulau-pulau Telo, Pantai Sipika, Pantai Hinako, Pantai Sibranon, Pantai Tanamasa, Pantai Tanabala, Pantai Foa, Pantai Olora, dan Pantai Muara. Sebagian besar pantainya berombak besar sepanjang tahun yang sangat cocok untuk olahraga bahari, seperti surfing dan scuba diving.

Bagi para peselancar asing yang pernah datang ke Nias, Pantai Sorake laksana surga. Mereka menyebut Sorake sebagai tempat selancar terbaik di dunia setelah Pantai Hawaii, Amerika Serikat. Sorake masyhur dengan gulungan ombaknya yang menantang hingga setinggi enam meter. Ini membuat para peselancar dapat bertahan cukup lama di dalamnya. Wajar jika ada ungkapan bahwa seseorang belum layak dikatakan sebagai peselancar tangguh dunia bila belum mampu menaklukkan ombak di sana.

Berbekal ciri khas pecahan ombak yang sangat halus ditambah kesempurnaan bentuk gulungan ombak tuba (tube) klasik, Pantai Sorake kerap dijadikan ajang kontes selancar tingkat internasional. Biasanya digelar pada bulan Juni-Juli, saat ombak sedang besar-besarnya. Bahkan atlet-atlet asal Australia telah menjadikan Pantai Sorake sebagai salah satu lokasi wajib perlombaan selancarnya. Artinya, kejuaraan itu sudah dianggap sebagai salah satu kegiatan dalam negerinya sendiri.

Sepanjang Pantai Sorake, berjajar home stay yang siap melayani para wisatawan.  Tarifnya cukup murah, sekelas penginapan kelas melati. Pasir putihnya menyatu dengan hamparan ribuan pohon kelapa yang berbaris rapih sepanjang dua kilometer di sisi garis pantai. Panoramanya memunculkan kesan damai. Tentu saja lokasi ini nyaman buat berjalan kaki, jogging atau sekadar merasakan deburan ombak yang bergulung tiada henti menampar karang. Bila malam tiba, suara desiran ombak yang menghantam karang semakin menjadi-jadi.

Selain bermain ombak di Pantai Sorake, para peselancar lazimnya mencicipi kelincahan dan kegesitan ombak Pantai Lagundri. Pantai Lagundri berada di wilayah Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan. Formasi terumbu karang di sepanjang pantai ini membuat ombak yang masuk dari Selatan harus membentur karang terlebih dahulu, kemudian membentuk gulungan. Pecahnya ombak semakin bagus karena lokasinya berada di kawasan teluk. Sehingga mampu membentuk ombak sepanjang 100 meter dengan 11 sampai 13 gulungan teratur.

Nias tidak saja menggiurkan bagi para peselancar. Anda yang ingin sekadar berlibur sambil menikmati taman laut dengan hiasan batu dan ikan karang yang cantik, bisa mengunjungi Pantai Lahewa. Pantai ini memiliki panjang delapan kilometer yang terletak 60 kilometer di ujung paling Utara Pulau Nias. Suasananya benar-benar nyaman untuk menghabiskan waktu Anda. Atau bisa juga Anda menyambangi komunitas batu dan ikan karang di Pantai Pulau-pulau Telo, tak jauh dari Pantai Lahewa.

Nias memang menyimpan aneka ragam kekayaan sumber daya laut, yang tersebar di berbagai pantai, pulau besar dan pulau kecil. Hampir semua pantai dan pulaunya benar-benar indah, jernih, bersih, alami, dan terkadang sepi dan sunyi. Saat matahari terbenam, bola merah jingga matahari terbenam memantulkan warna emas di atas air laut. Amazing! Potensi ikannya juga luar biasa, baik ikan untuk dikonsumsi maupun ikan hias. Boleh dibilang, di sinilah salah satu surga seafood.

Di daratan, obyek wisata Nias tak kalah ciamiknya. Misalnya di Bukit Tolobahu (sekitar 60 kilometer dari Gunung Sitoli), terdapat ratusan batuan bermacam bentuk seperti patung, altar dan benda lain yang diperkirakan telah berusia di atas 3.000 tahun. Di sinilah konon diyakini sebagai tanah leluhur nenek moyang pertama orang Nias. Tempat yang sedikit berbau mistis ini begitu dikeramatkan sebagian besar warga Nias. Tersebarnya berbagai obyek wisata inilah yang melahirkan tradisi Pesta Ya’ahowu. Pesta ini bertujuan untuk terus menggali budaya serta memberikan penghormatan kepada para leluhur Nias.

Melihat begitu melimpahnya anugerah Tuhan di Nias, gabungan pemerintah di Pulau Nias pun sepakat dalam waktu dekat akan membentuk Nias Tourism Board (NTB). Tujuan utamanya untuk mempromosikan potensi wisata di daerah itu sekaligus mengundang wisatawan sebanyak mungkin. Rencananya, di setiap kabupaten/kota di Pulau Nias akan didirikan cabang NTB, dengan kantor pusatnya di Kota Gunung Sitoli. Mereka percaya, jika sektor pariwisata dikembangkan, jelas akan mendatangkan devisa dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Nias.

Namun, tidak mudah bila Anda ingin menjejakan kaki di Nias. Pulau ini hanya bisa dijangkau dengan jalur laut dan udara. Misalnya dari Medan, ada dua maskapai penerbangan –Merpati Airlines dan Riau Airlines– yang menerbangi rute ini setiap hari. Sementara Dari Padang, Riau Airlines juga secara terjadwal terbang ke Bandar Udara Binaka, Gunung Sitoli. Selanjutnya Anda tinggal menggunakan alat transportasi yang tersedia di sana.

Sebelum pergi ke Nias, jangan lupa sisipkan jaket, mantel atau baju penghangat ke dalam travel bag Anda. Maklum, rata-rata curah hujan di sana cukup tinggi, yakni 260,00 mm per tahun. Akibat banyaknya curah hujan, kondisi alamnya pun sangat lembab dan basah. Musim hujan dan kemarau silih berganti dalam setahun. Keadaan iklim ini wajar mengingat letak Nias di sekitar garis khatulistiwa dan ada pengaruh Samudera India. Terlebih lagi, yang harus diingat, ketika Anda sudah sampai di Nias, jangan sembarangan menggoda perempuan Nias. (LHZ)

 

 

One thought on “Saatnya Menjelajah Pulau Nias

  1. Elikurniawan harefa Januari 21, 2011 / 2:29 pm

    NIAS memang IS THE BEST

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s