Prof. KH. Ali Yafie: Zakat Jangan Dilepas Begitu Saja

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Prof. KH. Ali Yafie. Nama dan wajahnya cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya para tokoh dan umat Islam. Sosoknya sederhana, low profile, dan tidak neko-neko. Sejak dulu hingga sekarang, beliau rajin membaca dan produktif menulis. Karya-karyanya menjadi rujukan. Pria kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926, ini termasuk salah satu ulama sekaligus ahli fikih yang paham seluk beluk zakat secara moderen.

Ali Yafie antara lain pernah dipercaya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Mandiri Syariah. Meski usianya sudah melewati kepala delapan, namun fisiknya terlihat tetap sehat. Lukman Hakim Zuhdi dan Andre Purwanto dari Majalah Mitra Zakat Laznas BSM menemui beliau di kediamannya di Bintaro, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana kabar Bapak?

Alhamdulillah kabar saya baik, seperti yang Anda lihat.

Menurut Bapak, bagaimana perkembangan zakat di tanah air saat ini?

Kita patut bersyukur bahwa perkembangan zakat terus mengalami kemajuan yang nyata setelah lahirnya Undang-Undang Zakat No. 38 Tahun 1999. Dulu, penanganan dan pengelolaan zakat memakai sistem tradisional, misalnya orang per orang. Sekarang, zakat sudah diurus oleh badan maupun lembaga amil zakat yang amanah dan profesional, dengan menggunakan sistem moderen. Di sisi lain, adanya UU Zakat juga membuat pemerintah punya kewajiban untuk menangani dan menata zakat dengan sebaik-baiknya, meski kenyataannya hingga sekarang penanganannya belum maksimal.

Apa yang sangat perlu dan penting untuk segera dibenahi?

Optimalisasi dalam memberdayakan delapan mustahik, sebagaimana yang sudah ditetapkan Al-Quran. Selama ini, kelompok masyarakat yang menerima zakat terkesan hanya menerima dananya, tanpa ada bimbingan, kontrol maupun evaluasi lebih lanjut dari badan atau lembaga penyalur zakat. Implikasinya bisa dilihat dari keadaan para mustahik yang tidak berubah menjadi lebih baik setelah diberi zakat.

Umat Islam sudah banyak yang menyadari pentingnya zakat. Bagaimana dengan kesadaran zakat di lingkungan perusahaan?

Zakat merupakan salah satu rukun Islam sekaligus kewajiban bagi perorangan maupun perusahaan yang memang sudah memenuhi syarat untuk mengeluarkan zakat. Perusahaan-perusahaan yang dimiliki umat Islam, seharusnya menyadari hal tersebut. Hanya saja, keterlibatan mereka, baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar, belum optimal.  Kalau pun sudah banyak perusahaan yang menunaikan zakatnya, mungkin yang belum menunaikan zakat jumlahnya masih lebih banyak. Untuk itu, kita perlu terus mendorongnya agar terjadi peningkatan yang signifikan, mengingat potensinya masih sangat besar.

Adakah strategi khusus untuk mengetuk perusahaan-perusahaan yang belum mengeluarkan zakatnya?

Sebenarnya perusahaan yang dikelola umat Islam tidak perlu didakwahkan seperti itu, karena semestinya mereka tahu ada kewajiban zakat bagi perusahaan yang sudah memiliki keuntungan dengan jumlah tertentu. Patut dicatat bahwa zakat berkaitan dengan nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada perorangan maupun perusahaan. Orang yang ingin selalu menyukuri nikmat-Nya, maka mereka dengan kesadaran sendiri pasti mau mengeluarkan zakat, sebagaimana tuntutan agama. Itu sebagai tanda syukurnya. Dengan senantiasa bersyukur (baca berbagi harta demi kebahagiaan dan kemandirian para mustahik), mereka percaya Allah akan memberikan nikmat yang lebih besar lagi dan nilai keberkahannya lebih tinggi. Ini salah satu manfaat zakat bagi perorangan maupun perusahaan.

Bagaimana menyadarkan para karyawan perusahaan agar mau berzakat?

Itu tergantung pimpinan perusahaannya. Jika pimpinannya memperhatikan dan sadar betul tentang aturan serta kewajiban zakat, maka pasti mereka memberi atau membuat peraturan yang ketat bagi para karyawannya untuk melaksanakan zakat perorangan. Para ulama mengatakan, seluruh pekerjaan yang menghasilkan kekayaan sebatas nisab, maka wajib ada zakat. Di situ prinsipnya seluruh pekerjaan, tanpa terkecuali. Kalau pun sekarang muncul istilah zakat profesi, itu sebetulnya hanya untuk keren-kerenan saja, karena sesunggunya profesi adalah pekerjaan.

Sekarang industri berlabel syariah, seperti bank syariah dan lembaga keuangan syariah terus bermunculan dan grafiknya positif. Bagaimana potensi dan prospek zakat dari industri ini?

Pertama, tentu kita berharap ada semangat dan kesadaran berzakat dari mereka. Kedua, kita berharap ada baiknya mereka duduk bersama untuk membicarakan kewajiban zakatnya. Apakah ke depan mereka akan mengelola zakat sendiri-sendiri atau secara bersama-sama agar lebih mengenai sasarannya (para mustahik). Itu tergantung mereka, karena potensi besar dan kecilnya zakat diperoleh dari besar dan kecilnya laba yang didapat dari industri ini. Silakan dimusyawarahkan.

Ini terkait eksistensi Lembaga Amil Zakat Nasional Bank Syariah Mandiri (Laznas BSM). Dalam program penyaluran donasi zakat, haruskah Laznas BSM memiliki kriteria dan prioritas tertentu bagi mustahik? Misalnya apakah zakatnya difokuskan pada sektor pendidikan,  infrastruktur, penguatan ekonomi, pemberdayaan masjid, atau lainnya.

Bila kita merujuk pada Al-Quran, maka tata aturan dan prioritas penyaluran donasi zakat adalah untuk fukara (orang-orang fakir), masakin (orang-orang miskin) hingga kelompok yang terakhir, sebagaimana delapan asnaf yang disebut Al-Quran. Dalam konteks ini, mereka tidak saja diberi uang zakat, tapi juga harus dibina dan diberdayakan, sehingga bisa mandiri. Karena pada dasarnya tujuan zakat secara berangsur-angsur untuk mengurangi kemiskinan, bukan memelihara kemiskinan. Muaranya, orang-orang yang sebelumnya mustahik satu waktu berubah status menjadi muzakki. Begitu dalam kajian fikihnya.

Menurut Bapak, apakah pengumpulan, pengelolaan dan penyaluran dana zakat di Laznas BSM sudah cukup maksimal? Berdasarkan hasil audit tahun 2008-2009, pengelolaan dana di Laznas BSM disebut sudah akuntabel.

Walaupun saya banyak tahu mengenai Bank Syariah Mandiri (BSM), tapi untuk pengelolaan zakat di BSM ada badan tersendiri dan saya tidak ikut menangani itu. Jadi, kalau Anda ingin mendapatkan informasi dan penjelasan yang lebih rinci dan lengkap tentang hal tersebut, silakan tanya kepada pengurus atau orang yang menanganinya.

Laznas BSM sekarang sudah memasuki usia sewindu. Adakah harapan yang ingin Bapak sampaikan?

Badan atau lembaga amil zakat apapun, termasuk Laznas BSM, semestinya tidak begitu saja melepas zakatnya. Mereka juga punya tugas harus membimbing mustahik supaya menjadi orang atau kelompok masyarakat yang mandiri, produktif dan bermanfaat bagi orang lain. Jika hal tersebut dilakukan dan berjalan secara konsisten, insya Allah misi utama zakat berhasil. (LHZ)

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s