Keikhlasan dalam Berzakat

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Kata ikhlas sangat mudah diucapkan, tapi sejujurnya berat dipraktekan. Ikhlas harus selalu hadir dalam segala amalan baik kita. Ikhlas laksana ruh yang melekat dalam beribadah, beramal, dan berderma. Percuma saja kita giat melakukan shalat, puasa, zakat, haji, jihad, atau mengerjakan perbuatan baik lainnya jika tidak disertai keikhlasan. Tanpa keikhlasan, semua amalan sama sekali tiada manfaat dan tidak akan pernah diterima oleh Allah SWT.

Ketika ikhlas telah bersemayam dalam setiap gerak kita, maka sudah pasti  kita akan selalu memperoleh manfaat yang besar dari Allah. Seorang ulama salaf bernama Ibnul Mubarak memberikan petuah menarik tentang hal tersebut, “Betapa banyak amal kecil (sedikit, sederhana) menjadi besar dengan sebab niatnya (keikhlasannya). Dan betapa banyak amal yang besar (banyak) menjadi kecil nilainya dengan sebab niat (karena tidak ikhlas).”

Ternyata tidak sulit mendeteksi atau menandai orang yang ikhlas. Salah satu ciri utamanya bisa dilihat dari konsistensi dan kesungguhan dalam beramal, baik keadaan sendiri atau bersama orang, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.” Pendek kata, sang waktu yang akan membuktikan seseorang ikhlas atau tidak.

Keikhlasan memang menjadi kunci bagi diterimanya semua amal kebajikan, tak terkecuali dalam berzakat. Orang yang menunaikan zakat (muzakki) titik tekannya tidak saja lantaran ada perintah agama untuk berzakat, atas kesadaran pribadi, atau trenyuh melihat realitas sosial. Lebih dari itu, muzakki harus menyerahkan hartanya bagi kebutuhan dan kebahagiaan penerima manfaat (mustahik) secara ikhlas.

Muzakki yang ikhlas pasti tidak mengharapkan balasan apapun dari orang yang diberi, orang yang ditolong, atau penerima manfaat. Bahkan, kalau perlu muzakki tidak usah mendengar ucapan terima kasih yang meluncur dari mulut penerima manfaat. Harapan muzakki hanya tertuju kepada Allah dan muzakki akan berdoa agar kebaikan yang diberikan dijalan-Nya betul-betul dibalas Allah dengan kebaikan lagi.

Muzakki yang ikhlas juga akan memperhatikan betul waktu dan tata cara memberikan hartanya. Saat berzakat, berinfak, atau bersedekah, mereka serba berhati-hati. Ketika  menolong orang lain baik secara langsung atau melalui perantara pihak lain semisal Dompet Dhuafa selaku lembaga amil zakat terpercaya, maka mereka akan hati-hati dari sikap sum’ah (mengatakan kebaikannya pada orang lain), riya (ingin dpiuji), dan humazah (mencela atau menyakiti orang yang ditolong).

Bagi muzakki yang ikhlas, setelah menafkahkan hartanya akan merasakan kebahagiaan tersendiri. Namun, pada saat mereka tak puas dan tidak menemukan kenikmatan dalam hati, sebaiknya tetap berhusnuzzan (berbaik sangka) kepada Allah bahwa ibadah maaliyahnya diterima. Dengan demikian, kelapangan dada dan ketenangan hatinya akan senantiasa terjaga. Insya Allah. (LHZ)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s