Pemerintah Genjot Sosialisasi KUR

Pemerintah merasa bangga program Kredit Usaha Rakyat berhasil dijalankan, meski meleset dari target yang semula ditetapkan.

Pemerintah siap merevisi target penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari total Rp 13,1 triliun menjadi Rp 18 triliun pada tahun ini. Rencana peningkatan target dilakukan setelah pemerintah melihat hasil evaluasi per semester yang memperlihatkan pertumbuhan positif. Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengklaim, saat ini ada sekitar 400 ribu pengusaha penerima KUR yang naik tingkat dari mikro menjadi menengah.

“Mereka menggunakan dana KUR lebih dari Rp 2 triliun,” tukas Hatta Rajasa, usai menghadiri rapat bersama di kantornya, Selasa, (13/07/10).

Dengan mematok target baru, sambung Hatta, pemerintah berkeinginan mengucurkan dana KUR lebih banyak lagi, sehingga mampu mengangkat derajat para pengusaha baru. Selain itu, pemerintah melalui beberapa kementerian akan semakin intens membina calon nasabah KUR sekaligus melakukan pengawasan terhadap efektivitas KUR yang dikucurkan.

“Ini sebagai bukti bahwa pemerintah sangat menyadari keberhasilan penyaluran dan penggunaan KUR bukan hanya menjadi tugas bank,” tandas Hatta.

Di sisi lain, Menteri BUMN Mustafa Abubakar menyampaikan, kalangan perbankan BUMN diminta untuk memberikan target penyaluran KUR hingga akhir tahun 2010 dengan batas bawah dan atas. Mustafa lantas merinci jumlahnya. Untuk Bank Rakyat Indonesia (BRI) ditargetkan mengucurkan KUR minimal Rp 6,2 triliun dengan target maksimal Rp 8 triliun. Bank Mandiri minimal Rp 1,845 triliun dan maksimal Rp 3 triliun.

Sedangkan Bank Negara Indonesia (BNI) batas bawah dipatok Rp 1,560 triliun dan batas atas ditetapkan Rp 3 triliun. Bank Tabungan Negara (BTN) target minimal penyaluran KUR Rp 610 miliar dan maksimal Rp 650 miliar. Mustafa menambahkan, permintaan ini juga berlaku bagi anak usaha bank BUMN maupun bank swasta yang  ikut mengucurkan KUR.

”Misalnya Bank Bukopin kita minta penyalurannya minimal Rp 500 miliar dan maksimal Rp 700 miliar. Bank Syariah Mandiri (BSM) target bawahnya Rp 400 miliar dan target atas Rp 450 miliar. Sisanya, sebanyak 13 Bank Pembangunan Daerah (BPD) ditargetkan bisa menyalurkan KUR minimal Rp 2 triliun dan maksimal Rp 2,2 triliun,” beber Mustafa.

Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan menuturkan, hingga akhir Juni 2010 realisasi KUR sudah mencapai Rp 5,1 triliun. Angka itu dinilainya lumayan bagus, kendati target awal pemerintah sebesar Rp 6,5 triliun. Syarief meyakini angkanya diprediksi terus membumbung hingga akhir tahun ini, mengingat sosialisasi KUR kian digencarkan dalam berbagai kesempatan.

Keyakinan Syarief ditopang pula oleh beberapa hal. Antara lain adanya relaksasi kebijakan pemerintah dan perbankan terkait penyaluran KUR, suku bunga mulai diturunkan, persyaratan dipermudah hingga perluasan katagori penerima KUR. Syarief percaya, jika semua pihak saling bersinergi, maka tidak ada kendala berarti dalam penyaluran KUR.

“KUR itu murni untuk rakyat. Ini salah satu langkah pemerintah dalam upaya mengangkat taraf hidup dan kondisi ekonomi masyarakat. Jadi program ini mesti didukung bersama-sama,” cetus Syarief.

Sebelumnya, Hatta Rajasa mengakui penyerapan KUR masih rendah pada awal tahun. Hal tersebut bukan disebabkan tiadanya pelaku UMKM yang meminta atau berniat mengajukan KUR, melainkan adanya perubahan sistem perjanjian antara pihak bank dengan pelaku UMKM. Hatta menyebutnya sebatas adaptasi administrasi.

“Setelah beberapa hal kita revisi, penyaluran KUR meningkat,” aku Hatta.

Terkait kredit macet KUR hingga semester pertama 2010, pemerintah mencatatnya sekitar 6 persen. Angka ini lebih tinggi ketimbang awal Januari 2010 yang mencapai 5,8 persen. Peningkatan NPL (non performing loan), menurut Hatta, masih sangat dimaklumi. Pasalnya banyak penerima KUR yang baru memulai usahanya. Namun begitu, baik pemerintah maupun perbankan tetap memberikan tenggat waktu kepada para debitur KUR.

“Umpamanya begini, untuk kredit modal kerja tenggatnya tiga  tahun, tapi tetap bisa menambah waktu selama tiga tahun berikutnya. Lalu untuk kredit investasi yang sebelumnya lima tahun, bisa ditambah lima tahun kembali,” jelasnya.

Dari sisi penggunaan dana KUR, kata Syarief, 68 persen dimanfaatkan oleh para debitur untuk sektor perdagangan, 17-18 persen untuk sektor pertanian, dan 3-4 untuk industri pengolahan. Tingginya permintaan kredit dari sektor perdagangan menandakan usaha ini cepat menghasilkan uang.

“Berdasarkan data yang kita punya, kurang lebih ada 50 juta UMKM yang berkesempatan memperoleh KUR. Tapi kan tidak semuanya ingin mengambil (KUR),” tukas Syarief.

Pada kesempatan berbeda, manajemen BTN akan berupaya keras dan mengaku optimis bisa memenuhi target batas maksimal penyaluran KUR yang telah ditetapkan pemerintah. Kesanggupan ini disampaikan Direktur Kredit BTN Purwadi, walau diakuinya target awal pemberian KUR BTN hanya Rp 294,7 miliar. Salah satu cara yang bakal ditempuh BTN dengan menggencarkan sosialisasi KUR.

“Hingga semester pertama 2010 saja, BTN telah mencatat pengucuran KUR Rp 144,99 miliar. Ini sudah lebih dari 50 persen target awal. Dengan demikian, kami optimis mampu menyelesaikannya hingga akhir tahun nanti,” kata Purwadi di Gedung BTN,  Jakarta, Kamis (15/7/10). (Lukman Hakim Zuhdi)

One thought on “Pemerintah Genjot Sosialisasi KUR

  1. Mas Wasis Februari 22, 2011 / 6:08 am

    Bagusssslah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s