Pemerintah Gagap Hadapi Kenaikan Harga Sembako

Pemerintah baru bereaksi setelah rakyat menjerit atas kenaikan harga sembako. Jangan salahkan jika satu saat rakyat tidak patuh dan tidak percaya kepada pemerintah lagi.

Sudah sepekan Soraya mengeluh, kepalanya pusing. Ini bukan lantaran warung pecel lelenya di samping sebuah kampus negeri ternama di pinggiran Jakarta Selatan sepi pengunjung. Pemicunya lantaran harga-harga setiap hari terus mengalami kenaikan hampir 100 persen. Soraya mengaku tidak tega jika harus menaikan harga satu porsi pecel lele atau pecel ayamnya, meski Rp 500.

“Saya khawatir  para pembeil yang mayoritas mahasiswa tidak mau datang lagi ke sini. Terpaksa saya mengambil untung kecil, malah terkadang tidak ada untungnya. Yang penting dagangan saya habis, itu sudah alhamdulillah” ujar perempuan paruh baya kelahiran Lamongan, Jawa Timur, itu kepada Indonesia Monitor, Jumat (9/7/10).

Soraya bukan satu-satunya ibu rumah tangga yang mengeluhkan naiknya harga sembilan bahan pokok dalam dua minggu terakhir. Dijejaring sosial seperti facebook dan twitter, kaum ibu yang rajin mengupdate status juga memprotes melejitnya harga sembako. Mereka menuntut pemerintah agar segera menurunkan harga sembako. Tapi apa daya, mereka hanya bisa menumpahkan emosinya lewat tulisan kepada publik.

Saat Indonesia Monitor mengunjungi Pasar Ciputat, Tangerang, Sabtu (10/710), beberapa pedagang mengakui harga sembako naik. Carmin yang berjualan beras mengatakan, sudah beberapa hari harga beras naik Rp 200-300 per liter. Sementara Asni yang menjual telur ayam berucap, telur ayam naik Rp 500-Rp 1.000 dari Rp 14.000 menjadi Rp 15.000/kg. Sedangkan beberapa komoditas yang harganya melejit tinggi antara lain cabai, bawang, dan daging ayam.

Menurut para pedagang, kenaikan harga sembako dikarenakan perubahan cuaca yang cukup ekstrim beberapa hari terakhir. Cuaca buruk menyebabkan suplai bahan-bahan makanan menjadi tersendat. Namun dalam kacamata pemerintah, kenaikan harga sejumlah bahan pokok dinilai masih normal. Kesimpulan pemerintah tersebut disampaikan usai rapat tim stabilisasi harga pangan pokok di Kementerian Perdagangan, Rabu (7/7/10).

Rapat dihadiri unsur pemerintah (kementerian terkait), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), asosiasi, Pemda DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Hasilnya, kata Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, harga bahan pangan pokok seperti gula pasir, terigu, susu, minyak goreng, kedelai dan tempe tahu serta makanan minuman olahan pada saat ini masih relatif stabil. Kenaikannya rata-rata masih di bawah 10 persen.

“Misalkan beras, kenaikannya berkisar 2-3 persen. Itu masih relatif wajar, seperti yang lazim terjadi sebelum puasa dan lebaran,” kata Bayu yang menjadi salah satu ketua tim.

Beberapa kebutuhan pokok lainnya juga diklaim masih sanggup dikontrol pemerintah, meski Bayu mengakui ada kenaikan. Seperti harga daging ayam yang naik 13 persen dan harga telur ayam yang beranjak 9-10 persen. Bayu menuturkan, kenaikan disebabkan dua faktor. Pada Januari-Februari 2010 harganya turun, sementara sekarang naik lagi. Di samping itu, para peternak menyimpan stok bukan dalam bentuk produk tapi di kandang.

“Artinya, para peternak mencoba mengejar selisih harga yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi bagaimanapun, pemerintah terus berupaya memantau harga-harga kebutuhan pokok untuk mengantisipasi masa puasa, lebaran, natal hingga tahun baru,” imbuhnya.

Bayu menambahkan, pemerintah juga berusaha mengamankan stok dan produksi bahan pangan pokok agar tetap stabil sampai Idul Fitri tiba. Misalnya soal terigu yang diperuntukan untuk kue kering dan makanan ringan sebagai makanan khas hari raya umat Islam, pemerintah akan meningkatkan pasokan terigu hingga 22 persen, meski konsumsi masyarakat diprediksi sebesar 18 persen.

“Untuk stok beras, jumlah yang tersedia di Pasar Induk Cipinang saat ini sebanyak 32.000 ton.  Setiap harinya bertambah 2.170 ton. Kalau stok beras di Bulog sebanyak 504 ribu ton. Nanti pada Agustus ada panen kedua di beberapa daerah. Jadi, insya Allah beras aman dan harganya normal,” tukas Bayu.

Sedangkan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengakui, cabai dan bawang merupakan komoditas yang paling tinggi mengalami kenaikan harga selama sebulan terakhir, sekitar 50-60 persen. Namun, pemerintah merasa kesulitan untuk mengontrol harga keduanya. Penyebabnya harga cabai naik turun secara drastis sesuai musim. Cuaca buruk bisa mempengaruhi daya tahan dan kualitas cabai dan bawang.

“Tapi sejak Juli ini, harga cabai dan bawah mulai menurun. Cabai yang sebelumnya naik hingga 60 persen sekarang hanya 35 persen. Sedangkan bawang dari kenaikan sebelumnya 35 persen sekarang hanya naik 15 persen,” aku Mari penuh percaya diri.

Mari menuturkan, beberapa waktu lalu pihaknya telah mengeluarkan surat edaran terkait melonjaknya harga kebutuhan pokok. Surat itu ditujukan kepada pemerintah kabupaten dan pemerintah kota agar tanggap dan segera menggelar operasi pasar supaya harga-harga stabil. Menurut Mari, pemerintah juga dalam waktu dekat akan mengadakan pasar murah di berbagai tempat di Indonesia.

“Tujuannya agar inflasi dapat mulai ditekan tahun ini. Inflasi bulan Juni cukup tinggi akibat kenaikan harga cabai dan bahan-bahan pokok lain sebagai imbas perubahan cuaca yang terjadi,” Mari beralasan.

Saat ini, pemerintah tengah berkoordinasi dengan para produsen, pedagang dan pihak lain untuk keperluan pasar murah. Dikatakan Mari, dengan adanya pasar murah, masyarakat diharapkan dapat membeli kebutuhan pokok dengan harga miring. Selain itu untuk mengantisipasi supaya tidak terjadi lagi gejolak harga di pasar, pemerintah berusaha menjaga harga lewat sistem transportasi dan distribusi barang yang lancar dan efisien.

Menanggapi kenaikan harga sembako, pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Revrisond Baswir mengatakan, sebenarnya masyarakat tidak terlalu kaget dengan hal tersebut. Pasalnya selama ini mayoritas masyarakat sudah hidup dalam keadaan susah. Lebih-lebih setelah tarif dasar listrik (TDL) naik pada 1 Juli, maka sudah pasti harga sembako ikut merangkak.

“Ini bukan soal naiknya berkisar di bawah 10 persen atau tidak, tapi pemerintah sebenarnya gagap. Alasan cuaca buruk jangan dijadikan tameng. Pemerintah mengaku sanggup mengatasi persoalan itu, tapi nyatanya loyo dan lamban. Pemerintah tidak usah sok-sokan,” tegas Revrisond ketika dihubungi Indonesia Monitor, Sabtu (10/7/10).

Menurut Revrisond, jika pemerintah sanggup melakukan sesuatu untuk menekan atau mengontrol harga, maka lakukanlah apapun bentuknya, tidak sekadar berwacana. Masyarakat sudah lelah mendengar janji dan melihat kondisi seperti ini. Pada akhirnya, kepercayaan masyarakat kepada pemerintah akan menurun. Maka jangan salahkan bila rakyat tidak mengenal pejabatnya sendiri atau rakyat tidak patuh kepada pemerintah.

“DPR juga turut membuat hidup masyarakat semakin sengsara. Buktinya mereka ikut menyetujui kenaikan TDL. Saya kira harga-harga akan terus membumbung hingga lebaran. Intinya begini, yang diharapkan masyarakat cukup sederhana, yakni harga-harga turun, TDL tidak naik, kerja nyaman dan lapangan kerja terbuka luas. Itu tugas pokok pemerintah,” ujarnya serius. (Lukman Hakim Zuhdi)

One thought on “Pemerintah Gagap Hadapi Kenaikan Harga Sembako

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s