Pantai Base G, Bukan Pantai Biasa

Panorama obyek wisata alam di Hollandia (sebutan Papua oleh Pemerintah Belanda pada zaman dahulu) sangat eksotis. Sektor pariwisata ini menjanjikan masa depan yang cerah bagi daerah dan masyarakat Papua. Hanya saja, sebagaimana persoalan obyek wisata di daerah tertinggal lainnya, semua itu belum dikembangkan secara optimal, termasuk Pantai Base G.

Keelokan tanah Papua memang tidak terbantahkan. Tak salah jika sutradara kondang Garin Nugroho pernah mengangkat pesona Bumi Cendrawasih sebagai latar kisahnya dalam film layar lebar Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002). Demikian pula dengan sineas Ari Sihasale, yang merekam kecantikan wilayah yang terletak disabuk Wallace yang membagi Kalimantan dan Sulawesi sekaligus memisahkan wilayah biogeografi Asia dan Australia ini untuk film bertitel Denias, Senandung di Atas Awan (2006).

Yah, provinsi paling Timur di Indonesia itu kaya dengan potensi objek wisata unggulan. Wilayah yang pernah menjadi saksi jejak langkah Perang Dunia (PD) II ini memiliki aneka tempat yang mengasyikan. Laut, pantai, sungai, danau, gunung, ragam adat dan budayanya sungguh menakjubkan. Belum lagi kekhasan flora dan faunanya. Hampir 80 persen kawasan di provinsi yang luasnya tiga kali Pulau Jawa ini masih berupa habitat alam dengan keanekaragaman hayati tinggi. Luar biasa!

Pantai Base G
Pantai Base G

Salah satu pantai yang menjadi magnet adalah Pantai Base G (baca Besji), yang terletak di sebelah Barat Kota Jayapura, Papua. Pada saat-saat tertentu, biasanya warga Papua berbondong-bondong menjejakan kaki di pantai ini. Khusus hari Minggu pagi, pantai ini cenderung sepi dari pengunjung lantaran kebanyakan penduduk setempat masih berada di gereja. Pantai ini mulai ramai menjelang siang. Semakin sore, suasana semakin ramai. Semua pondok dan dan bangku yang dibangun warga setempat untuk wisatawan terisi semua, bahkan ada pengunjung yang rela menggelar tikar.

Pantai Base G terkenal masih asli, alami, unik, indah, nyaman serta elok. Hamparan pasir putihnya seolah mengajak Anda untuk berlama-lama memanjakan diri. Air lautnya yang berwarna biru dan jernih jelas memanjakan mata Anda serta memunculkan inspirasi. Bahkan, pemandangan lautnya tembus sampai ke dasar laut. Langit pun terlihat begitu bersih dan bersahabat di kala cuaca cerah menaungi pantai indah yang membentang disepanjang Samudera Pasifik ini. Benar-benar pantai ideal bagi Anda penggemar olahraga renang atau yang senang berjemur di bawah terik sinar matahari. Pada bulan tertentu, sunrise bisa nongol dari horizon.

Beberapa pohon peneduh tumbuh subur di sekitar Pantai Base G. Satu di antaranya keben, yakni tanaman berbentuk pohon dan berkayu lunak yang memiliki diameter sekitar 50 cm dengan ketinggian 4-16 meter. Keben mempunyai sistem perakaran yang banyak, dimana sebagian tergenang diair laut ketika sedang pasang. Keben juga memiliki banyak percabangan yang terletak di bagian bawah batang mendekati tanah. Bentuk daunnya cukup besar, mengkilap dan berdaging. Daun mudanya berwarna merah muda dan akan berubah kekuningan setelah tua.

Buah Keben
Buah Keben

Bagi penduduk Papua, buah keben yang bijinya dapat dimanfaatkan untuk membius ikan itu disebut rabon pi. Bagian luarnya terdiri dari kulit berserabut dan di dalamnya terdapat tempurung. Di dalam tempurung terdapat sebutir biji yang keras, berlendir dan berwarna putih. Buah ini memiliki bunga selebar 16 cm yang berwarna putih dengan benang sari berwarna merah muda. Besar buah keben seukuran genggaman tangan orang dewasa, berwarna hijau ketika muda dan akan menjadi kecokelatan setelah tua dan kering.

Berdasarkan hasil penelitian, keben menyimpan senyawa aktif dan zat-zat bermanfaat yang sudah diterapkan dalam ilmu kedokteran. Misal buah dan biji keben memiliki efek penyembuhan dalam pengobatan penyakit mata, anti bakteri, anti jamur, analgesik, dan anti tumor. Inilah salah satu kelebihan Pantai Base G. Yang lebih mencengangkan, dahulu pantai ini dijadikan sebagai salah satu Basis G (pusat logistik) oleh tentara sekutu pada masa Perang Dunia II. Karena itulah, di sekitar pantai ini seringkali banyak ditemukan benda-benda bersejarah peninggalan perang, seperti tank, meriam, dan ranjau.

Sulitkah menginjakan kaki di Pantai Base G? Ternyata pantai ini mudah dijangkau. Jika sudah mendarat di Bandar Udara Sentani Jayapura, Anda tinggal menuju pusat Kota Jayapura. Selanjutnya kurang dari satu jam perjalanan melalui jalur darat atau hanya berjarak 2 kilometer, Anda sudah tiba di Pantai Base G. Anda tidak perlu bingung dengan penginapan. Di sini tersedia banyak hotel dengan beragam kelas. Pilih dan sesuaikanlah dengan isi kantong Anda.

Sekadar mengingatkan, sisipkan baju hangat dan tebal dalam travel bag Anda. Maklum, variasi curah hujan antara 45-255 mm/th, dengan jumlah hari hujan rata-rata bervariasi antara 148-175 hari hujan per tahun. Suhu rata-rata 29°C-31,8°C, dimana musim hujan dan musim kemarau tidak teratur. Kelembaban udara rata-rata bervariasi antara 79-81 persen. Selain itu, bawalah sepatu berkualitas dan jenis yang ringan dari bahan kanvas, agar cepat kering bila basah.

Berikutnya, masukan dalam ransel Anda beberapa pasang celana pendek selain celana panjang, kemeja, dan kaos lengan panjang dari bahan katun agar nyaman di badan karena menyerap keringat. Terpenting lagi, bila Anda ingin puas menjelajahi Pantai Base G dan berwisata ke tempat menarik lainnya di Papua, sewalah local guide yang sudah disediakan hotel, resort atau losmen tempat Anda menginap.

Barangkali yang patut diketahui, status Pantai Base G masih dianggap tanah adat atau tanah ulayat. Masyarakat setempat dan petinggi adat mengklaim bahwa merekalah yang pantas dan berhak mengelolanya. Maka Anda tidak perlu kaget jika kebetulan ada sekelompok orang yang memungut sejumlah uang sebagai ‘tarif’ masuk Pantai Base G. Sejujurnya bila pola semacam ini terus dibiarkan, maka para wisatawan domestik maupun mancanegara akan berkurang. Karena itu, peran aktif pemerintah daerah dan uluran tangan investor pun sedang ditunggu agar pengelolaan dan keberadaan pantai ini kian ciamik. Alhasil, nantinya semua pihak mendapat untung. (LHZ. Tulisan ini dimuat di Majalah Akselerasi Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal —KPDT—)

One thought on “Pantai Base G, Bukan Pantai Biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s