A. Taufan Tiro, ST: “Program dan Kinerja KPDT, Oke”

Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) boleh dibilang salah satu kementerian yang jarang dibincangkan publik. Maklum, garapan kerja kementerian ini dianggap kurang prestise. Padahal, sebetulnya tugas dan tanggung jawab KPDT sangat berat. Lantas, bagaimana kinerja KPDT dimata anggota parlemen? Baru-baru ini Majalah Akselerasi menemui A. Taufan Tiro, ST, anggota Komisi V DPR RI yang juga Wakil Ketua Fraksi PAN DPR RI 2009-2014, di ruang kerjanya di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta. Berikut ini petikan wawancaranya.

Bagaimana kabar Anda?

Alhamdulillah kabar saya baik. Aktivitas harian saya masih seperti biasa. Sebagai anggota Komisi V DPR RI, saya sering melakukan rapat dengan mitra kerja dari pemerintah, seperti Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perumahan Rakyat dan tentu saja Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.

Anda punya catatan tersendiri tentang kinerja KPDT di bawah kendali Menteri Ir. H. Ahmad Helmy Faishal Zaini?

Yah, saya angkat topi kepada beliau. Menteri termuda dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II itu sudah memperlihatkan prestasi kerjanya. Setidaknya penilaian pribadi saya ini bisa dilihat dari gebrakan dalam program 100 harinya yang sukses. Di awal-awal kepemimpinannya, beliau fokus pada pengutamaan dan penjaminan pertumbuhan di daerah tertinggal, terdepan, terluar serta keberlangsungan kehidupan damai di wilayah pasca konflik.

Bisa Anda jelaskan lebih lanjut?

Artinya beliau sudah mampu menginventarisir persoalan-persoalan yang menjadi tugas utama sekaligus memecahkannya dalam waktu cepat.  Ambil contoh pembangunan infrastruktur listrik perdesaan dalam bentuk PLTS SHS 50 WP sebanyak 6.100 unit di 61 kabupaten. Terus penyediaan infrastruktur informasi dan telekomunikasi sejumlah 12 unit warung telekomunikasi perdesaan di 12 kabupaten. Kemudian pembangunan jalan poros desa sepanjang 22,5 km di 15 kabupaten. Ada juga bantuan peningkatan prasarana dan sarana pelayanan air bersih untuk 300 KK (Kepala Keluarga) di 3 kabupaten dan masih banyak lagi. Terpenting lagi, hingga akhir tahun 2009, setidaknya sudah ada 50 kabupaten yang tidak lagi berpredikat sebagai daerah tertinggal. Saya kira itu (prestasi) luar biasa.

KPDT punya program seksi, yakni Bedah Desa Terpadu (BDT). Tanggapan Anda?

Peluncuran program BDT sudah sangat tepat sebagai terobosan baru. Saat ini memang perlu upaya perubahan paradigma pembangunan daerah tertinggal, dari yang sebelumnya berbasis pengembangan kawasan menjadi berbasis perdesaan. Pembangunan berbasis perdesaan artinya memberdayakan segala potensi yang ada pada desa tersebut, dengan fokus pada pengembangan agribisnis perdesaan. Ini untuk menggenjot roda perekonomian warga. Misalnya pasar desa dihidupkan, jalan poros desa dibangun, aliran listrik dibenahi, dan warung informasi desa didirikan. Jika semua bisa bergerak secara bersamaan, maka saya percaya masyarakat setempat yang selama ini nganggur dan tidak produktif jadi terangkat. Minimal mereka punya penghasilan sendiri. Pada akhirnya, target pengentasan 50 kabupaten tertinggal setiap tahun yang diinginkan KPDT sangat mungkin tercapai. Lebih dari itu, hingga berakhirnya KIB II atau tahun 2014, 183 kabupaten tertinggal yang meliputi 32 ribu desa dapat didorong akselerasi perekonomiannya, sehingga bisa sejajar dengan daeran lainnya, bahkan lebih maju.

Artinya Anda sepakat bahwa kemakmuran berawal dari desa?

Saya kira begitu. Jika seluruh desa di negeri ini terberdayakan dan mandiri, negara pasti akan kuat. Hanya saja, situasi dan persoalan setiap desa berbeda-beda, sehingga perlakuannya tidak bisa dipukul rata. Maksudnya, langkah-langkah yang dilakukan KPDT dalam membantu daerah teringgal tersebut pada intinya berupa aksi-aksi afirmatif (affirmative actions), yang menyentuh titik terpenting yang dibutuhkan daerah itu. Bantuan-bantuan dari pusat diupayakan agar bisa memberi stimulasi yang signifikan terhadap kemajuan daerah itu. Misalnya dalam hal energi, bibit tanaman, ternak atau yang lain.

Lantas, bagaimana mensinergikan agar program-program KPDT bisa terlaksana secara baik?

KPDT sudah memiliki berbagai instrumen percepatan. Misalnya Pembangunan Kawasan Produksi Daerah Tertinggal (P2KPDT), Pembangunan Pusat Pertumbuhan Pembangunan Daerah Tertinggal (P4DT), Percepatan Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Daerah Tertinggal (P2IPDT), dan Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK). Dalam hal ini, program-program KPDT harus dibuat berdasarkan input riil dari masyarakat, kemudian dibuatkan formula oleh pusat dan disosialisasikan ke daerah. Saya yakin, sinergi seluruh kekuatan yang berasal dari pemerintah pusat, daerah dan masyarakat akan mampu menyukseskan seluruh program KPDT demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan pasca konflik.

Daerah tertinggal mana saja yang perlu diprioritaskan KPDT?

Daerah tertinggal keberadaanya menyebar di seluruh Indonesia, namun 62 persen kawasan miskin berada di Kawasan Timur Indonesia (KIT), yakni sebanyak 123 kabupaten. Maka, fokus pembangunan saat ini sebaiknya lebih banyak ke daerah-daerah tersebut. Namun demikian, hal itu tidak berarti desa tertinggal di Kawasan Barat Indonesia maupun kawasan lainnya dibiarkan. Selain itu, KPDT juga mesti fokus pada pengembangan desa tertinggal di wilayah perbatasan. Kawasan-kawasan minus yang ada digaris terluar perbatasan negara harus menjadi perhatian khusus. Pasalnya kawasan ini menyimpan potensi besar dalam sumber daya alam, kendati mempunyai masalah khusus terutama masalah politik, keamanan, dan sosial. Di sinilah perlunya KPDT banyak berkoordinasi dengan kementerian terkait.

Bisa Anda sebutkan kawasan-kawasan perbatasan yang perlu segera digarap?

Seperti diketahui, Indonesia berada di tengah-tengah banyak negara tetangga. Umpamanya perairan Nanggroe Aceh Darussalam berbatasan dengan India, perairan Kepulauan Riau berbatasan dengan Singapura, Thailand dan Vietnam. Sementara perairan Sumatera Utara, Kepulauan Riau, dan Kalimantan berbatasan dengan Malaysia. Perairan Sulawesi Utara dan Maluku Utara berbatasan dengan Filipina. Sedangkan perairan Nusa Tenggara Timur dan Maluku berbatasan dengan Australia, dan Papua berbatasan dengan Papua New Guinea.

Wilayah perbatasan merupakan serambi depan Republik Indonesia. Sayangnya, kawasan tersebut masih identik dengan keterbelakangan ekonomi dan sosial, karena faktanya penduduk di daerah pinggiran wilayah Indonesia selama puluhan tahun tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Kebutuhan hidup mereka bahkan lebih banyak dipasok dari negara tetangga. Karena itu, saya mengharapkan KPDT mampu memaksimalkan alokasi anggaran melalui APBN untuk melaksanakan Program Pengembangan Wilayah Perbatasan (P2WP). Diharapkan program-programnya bisa menjadi pemicu dan perekat nasionalme, sehingga daerah perbatasan tumbuh subur dan makmur.

Kabarnya KPDT telah mengajukan tambahan anggaran dalam APBN-P 2010 sebesar Rp. 500 milyar. Mungkinkah itu dikabulkan Komisi V DPR?

Saya kira kalau anggaran itu ditujukan untuk kepentingan rakyat dan pemerintah memang ada dana, Komisi V tentunya menyetujui. Yang jelas, rencana kerja KPDT tahun 2010 harus mempercepat pencapaian pembangunan di daerah tertinggal dalam bidang pelayanan dasar dan ekonomi lokal. Caranya melalui penyediaan infrastruktur, penguatan kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi dengan dukungan pusat produksi, pusat pertumbuhan dan perkotaan yang terintegrasi.

Secara lebih khusus, sasaran strategis KPDT setidaknya menyangkut empat hal. Pertama, mempercepat berkurangnya status kabupaten tertinggal hingga paling sedikit 50 kabupaten pada akhir tahun 2014. Kedua, meningkatnya rata-rata pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal menjadi sebesar 6,6 persen. Ketiga, berkurangnya presentase penduduk miskin di daerah tertinggal dari 18,8% menjadi 14,2%. Keempat, meningkatnya kualitas sumber daya manusia yang ditunjukkan oleh IPM menjadi sebesar 67,7. Saya percaya, Menteri Helmy Faishal beserta seluruh jajarannya mampu mewujudkan tujuan tersebut. (LHZ. Wawancara ini dimuat di Majalah Akselerasi Kementerian Daerah Tertinggal —KPDT—)

Biodata

Nama               :  A. Taufan Tiro, ST

No Anggota   : A-141

Jabatan           : – Wakil Ketua Fraksi PAN DPR RI 2009–2014

–  Anggota Komisi V DPR RI

TTL                 : Ujung Pandang, 29 April 1971

Agama           :  Islam

Alamat          :  Gedung Nusantara I DPR RI Lt.19 Ruang 1928 Jakarta

Status            :  Kawin

Nama Istri  :  Nieke Voniela Samsara

Jumlah Anak :  5 (lima) orang

A. Riwayat Pendidikan:

1. SDN 10 Bone Lulus Tahun 1984

2. SLTP Negeri 2 Bone Lulus Tahun 1987

3. SMU Negeri 4 Makassar Lulus Tahun 1990

4. S-1 Universitas Hasanuddin Makassar Lulus Tahun 1996

B. Riwayat Organisasi:

1. Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UNHAS Makassar

2. Pembina IKAMI Sulsel

3. BPP KKSS 2009-2014
C. Riwayat Pekerjaan:

1. Senior Enginering PT. Nesic Bukaka Indonesia 1997-1998

2. Presiden Komisaris PT. Trimitra Eka Cipta

3. Direktur CV. Sinar Timur

4. Direktur CV. Sinar Agung Pratama

2 thoughts on “A. Taufan Tiro, ST: “Program dan Kinerja KPDT, Oke”

  1. habibillah Desember 1, 2010 / 4:05 pm

    Assalamualaikum wr.wb.
    Alhamdulillah. syukur kepada Allah SWT. semoga selalu dalam hidayahnya. kami dari Nanggroe Aceh Darussalam mendukung penuh dalam program ini demi percepatan daerah-daerah tertinggal terutama di nanggroe aceh darussalam dan siap membantu dengan semaksimal mungkin demi peninngkatan kesejahteraan bagi masyarakat miskin. salam perjuangan..

  2. Ikhsan Juli 8, 2012 / 12:36 am

    Bagi saya inilah Kementrian yang benar2 mendukung pencaapaian program MDGs tapi suport kepadanya masih kurang. Saya berharap bapak Menteri PDT selalu memperhatikan saudara2 kami yang berada di daerah tertinggal khususnya wilayah perbatasan. Kami takut saudara2 kami tersebut tidak mau bergabung dengan NKRI gara2 nasib dan kondisi mereka tdk diperhatikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s