Pendidikan Untuk Rakyat Miskin

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Wajah pendidikan di Indonesia masih karut marut dan menyisakan banyak persoalan. Minimnya sarana dan prasarana belajar, rendahnya kualitas pengajar, lulusan yang tidak siap pakai, belum terakomodirnya rakyat miskin, kurikulum yang tak sesuai kebutuhan, biaya tinggi hingga komersialisasi pendidikan. Puncaknya, dunia pendidikan dianggap belum mampu melahirkan sumber daya manusia yang handal, kreatif, inovatif, solutif, dan berkarakter kuat.

Melihat kenyataan tersebut, pemerintah tidak tinggal diam. Pemerintah telah menganggarkan dana 20% dari APBN untuk meningkatkan mutu pendidikan. Berbagai program pun sudah diluncurkan, seperti keringanan biaya bagi siswa yang kurang mampu atau beasiswa bagi siswa yang berprestasi. Namun, rupanya berbagai upaya pemerintah belum sanggup mengangkat sektor pendidikan sebagai salah satu pilar bagi kemajuan bangsa.

Alhasil, muncul sekolah-sekolah yang diprakarsai oleh perorangan, kelompok, lembaga atau unsur masyarakat. Bentuknya bermacam-macam. Ada yang menyebut dirinya sekolah alternatif yang tanpa biaya alias gratis hingga sekolah berlabel unggulan atau bertaraf internasional. Sekolah gratis didirikan untuk menampung kelas menengah ke bawah. Sedangkan sekolah bergengsi sejak awal didesain untuk melayani kelas menegah ke atas.

Sayangnya, jumlah sekolah gratis yang terlalu sedikit umumnya tak panjang usianya lantaran keterbatasan pendanaan. Akibatnya, anak-anak dari keluarga miskin yang punya semangat belajar dan cita-cita tinggi hanya bisa gigit jari. Mereka juga jelas tidak sanggup jika harus memaksakan diri masuk sekolah kelas atas yang memang kurang memberikan porsi bagi rakyat miskin. Akhirnya, impian mereka pupus sudah.

Lantas, adakah solusi untuk rakyat miskin agar bisa mengenyam pendidikan formal layaknya siswa-siswi di sekolah unggulan? Jawabannya pasti bisa dan Dompet Dhuafa (DD) telah membuktikannya. Lembaga Pengembangan Insani (LPI) yang didirikan DD sudah banyak membantu anak-anak dan tenaga pendidik dari golongan dhuafa. Mereka tidak saja dibebaskan biaya pendidikannya, lebih dari itu ditanggung segala kebutuhannya selama masa belajar. Fasilitas yang disediakan pun setara dengan sekolah unggulan.

LPI DD bisa hidup dan berkembang berkat dana zakat yang diberikan para muzakki, donatur dan dermawan. Dana zakat memang diperbolehkan demi keperluan pendidikan yang dikemas dalam bentuk beasiswa, sebagaimana difatwakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 19 Februari 1996. Alasan yang dikemukakan MUI, penerima beasiswa pendidikan dari dana zakat termasuk asnaf fi sabilillah (golongan orang-orang yang berjuang dijalan-Nya).

Jadi, jelas sudah bahwa rakyat miskin berhak diprioritaskan untuk memperoleh pendidikan yang layak dengan sarana dan prasarana moderen. Dengan catatan, mereka berprestasi secara akademik dan mempelajari ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Tapi sekali lagi, itu bisa terjadi jika orang-orang kaya seperti Anda mau menzakatkan hartanya bagi cita-cita dan masa depan mereka serta kemajuan bangsa ini. (Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, hasil kerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika untuk Ramadhan 1431 H)

2 thoughts on “Pendidikan Untuk Rakyat Miskin

  1. Adam Kurniawan Agustus 24, 2010 / 5:11 pm

    Nice blog and good post sob…
    Lanjut terus yah…
    Ditunggu kunjungan baliknya nih di blog baru ane,
    dan jangan lupa tinggalin jejak di postingan terbaru ane ya sob…🙂

  2. komunitasamam Agustus 24, 2010 / 5:16 pm

    ok. mksh. salam kenal. LHZ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s