Siapakah Dermawan?

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Dermawan. Kata ini begitu familiar di telinga kita. Namun, apakah kita tahu arti dermawan yang sesungguhnya? Lantas, siapa yang pantas menyandang gelar ini? Seorang sufi bernama Abul Qasim Al Junaidi bin Muhammad Al-Khazzaz An-Nahawand mendefinisikan dermawan sebagai orang yang memberi sesuatu kepada orang lain sebelum diminta. Pendapat senada dikemukakan Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, orang yang mengeluarkan hartanya karena diminta tidak termasuk orang bermurah hati (dermawan).

Bermurah hati artinya menunaikan hak-hak Allah SWT atas kemauan dan niat sendiri karena taat kepada-Nya, tanpa tekanan maupun harapan untuk mendapat ucapan terima kasih. Dengan demikian, arti dermawan adalah orang yang suka berderma, beramal atau bersedekah secara ikhlas. Mereka memanfaatkan dan membelanjakan harta yang telah dikaruniai oleh Allah SWT pada jalan yang benar dan serasi dengan perintah-Nya. Umpamanya demi kebutuhan agama, perjuangan umat Islam serta memberdayakan kaum papa.

Semestinya, ketika menyadari makna tersebut, kita tidak perlu diperintah atau diketuk pintu rumahnya terlebih dahulu supaya berderma. Inisiatif dan kesadaran memberi justu harus muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Bila kita disuruh, nanti muncul kesan pemaksaan dan mengisyaratkan ketidakikhlasan, yang muaranya timbul sikap riya dan takabur. Alih-alih, proses pendermaannya pun sampai dipublikasikan ke publik. Naudzubillah min dzalik!

Kedermawanan berarti kemurahan atau kebaikan hati terhadap sesama manusia yang membutuhkan atau tidak berdaya. Sifat pemurah ini termasuk perilaku mulia yang menjadi ciri khas akhlak para nabi. Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling pemurah. Beliau paling besar rasa kemanusiaannya dan paling ikhlas dalam memberikan bantuan. Dalam diri beliau tidak pernah sedikit pun terbersit rasa takut akan jatuh miskin atau kekurangan harta lantaran hartanya diberikan kepada orang lain.

Menurut beliau, orang pemurah itu dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dekat kepada surga dan jauh dari api neraka. Sedangkan orang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat kepada api neraka. Dalam sabda yang lain, beliau mengingatkan bahwa jika engkau mendermakan kelebihan hartamu, maka kebaikanlah bagimu. Sekiranya engkau mengepalkan tanganmu (karena kikir), maka keburukanlah bagimu.

Jika sabda tersebut menjadi pertanda betapa mulianya kedudukan dermawan dalam pandangan agama, maka kenapa masih banyak orang yang batinnya terus menerus tersilaukan perhiasan dunia sampai akhirnya lupa diri dan melupakan Sang Pemberi Harta? Mengapa orang-orang yang mempunyai kelebihan harta lebih senang menumpuk hartanya ketimbang membagikannya kepada fakir miskin, anak yatim, para janda atau kelompok masyarakat lain yang selalu kekurangan dan menunggu uluran tangan?

Sesungguhnya Islam tidak melarang kita mencari dan mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Apalagi Allah sudah menghamparkan segala nikmat dan karunia-Nya di bumi ini bagi kehidupan dan kepentingan manusia. Namun, itu tidak akan berarti bila jiwa sosial kita kering kerontang, sikap tolong menolong hilang dan rasa kemanusiaan tercerabut dari nurani serta lepas dari kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi semacam ini, sejujurnya kita miskin sekaligus terhina.

Karena itu, kini kita tidak punya alasan lagi untuk tidak mendermakan harta yang dimiliki, mengingat gelar dermawan sejatinya bukan hanya milik orang kaya. Jadikan Ramadhan ini sebagai titik balik bagi kita untuk lebih memperhatikan kaum dhuafa. Kita bisa mendermakan harta kepada mereka dalam bentuk infaq, sedekah, wakaf maupun zakat. Ada baiknya harta yang kita berikan dititipkan kepada lembaga nirlaba terpercaya seperti Dompet Dhuafa Republika. Insya Allah, kebahagiaan hidup akan lebih terasa nikmatnya setelah kita rajin berderma. (Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, hasil kerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika untuk Ramadhan 1431 H)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s