Semangat Ramadhan

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Marhaban Ya Ramadhan. Selamat datang wahai bulan Ramadhan. Ramadhan telah tiba. Semua menyambut senang. Alam pun tersenyum riang. Ramadhan hadir dengan membawa segepok keistimewaan. Bulan berkah, bulan hikmah, bulan doa, bulan ladang amal, bulan kasih sayang, bulan kepedulian, dan masih banyak sebutan lainnya. Muara yang diinginkan Ramadhan tentu saja meningkatnya aspek ketakwaan sho’imin (orang-orang yang berpuasa).

Takwa dalam konteks Ramadhan memiliki dua dimensi, yakni spiritual dan sosial. Dimensi spiritual dapat dilihat secara kasat mata. Geliat ibadah umat Islam yang bersifat vertikal sepanjang Ramadhan grafiknya meningkat tajam, utamanya di awal Ramadhan. Mereka tak sekadar getol menunaikan ibadah-ibadah wajib, namun ibadah sunah pun digalakan. Misal shalat sunah tarawih berjamaah, mengonsistensikan tadarus Al-Quran, memperbanyak zikir maupun i’tikaf di masjid.

Semangat Ramadhan memang lebih mudah memengaruhi dimensi spiritual sho’imin. Pasalnya, inilah yang secara langsung memberikan efek positif pada perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menjadi mampu mengontrol diri ketimbang mengumbar syahwat dan hawa nafsunya. Amarah yang biasanya mudah meledak jadi terlatih oleh kesabaran. Alhasil, nuansa Ramadhan terasa lebih relijius, indah dan damai dibanding sebelas bulan lainnya.

Namun, penggembelengan spiritual saja rasanya tidak cukup. Ketika hubungan vertikal dengan Allah SWT telah ditunaikan, maka pada saat yang bersamaan sho’imin juga sepatutnya meningkatkan relasi horisotalnya terhadap sesama. Mereka harus mampu memberikan manfaat dan kontribusi nyata yang seluas-luasnya kepada orang lain di sekitarnya. Di sinilah dimensi sosial yang mengusung banyak nilai universal seperti kepekaan ragawi, kepedulian, saling berbagi dan mengedepankan kasih sayang benar-benar diuji.

Tentu sho’imin tidak bisa menutup mata pada realitas sosial yang terjadi saat ini. Di berbagai tempat, tak sedikit fakir miskin yang masih menengadahkan tangan meminta sedekah. Di lokasi lain, anak-anak berstatus yatim piatu pontang-panting mencari uang hanya sekadar untuk menyambung hidup. Masjid, musola, atau madrasah juga banyak yang terbengkalai pembangunannya lantaran ketiadaan dana. Intinya, mereka menunggu uluran tangan sho’imin.

Lantas, apa yang bisa dilakukan sho’imin terkait kenyataan hidup tersebut? Rasulullah SAW pernah bersabda, seutama-utamanya sedekah adalah di bulan Ramadhan (HR. Imam Tirmidzi). Hadis ini hanyalah salah satu dari sekian banyak ayat maupun hadis yang menceritakan keutamaan sedekah pada saat Ramadhan. Dalam konteks ini, pastilah sedekah dirancang sebagai bagian kecil dari upaya meringankan beban orang lain yang berujung pada kemaslahatan sosial dan keseimbangan hidup.

Karena itu, bagi sho’imin yang ingin memuliakan Ramadhan sekaligus menunjukan dimensi sosialnya, maka memperbanyak sedekah merupakan sebuah solusi terbaik. Hal yang paling sederhana dengan memberikan sedekah untuk iftar (berbuka puasa) bersama yang lazim digelar di tempat-tempat ibadah. Bentuk sedekah bisa berupa pemberian makanan pokok, makanan ringan, minuman maupun uang cash, tergantung kemampuannya.

Lebih dari itu, bukan cuma anjuran mengintensifkan sedekah yang diajarkan agama sepanjang Ramadhan. Bagi sho’imin yang memiliki kelebihan harta, ada baiknya bersemangat menyumbangkan hartanya melalui lembaga-lembaga pengelola zakat, infaq, sedekah, dan wakaf yang kredibel. Tujuannya tentu saja demi mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa. Jika dimensi spiritual dan dimensi sosial ini berpadu dan mampu berjalan beriringan, maka akan tercapailah aspek ketakwaan sho’imin. (Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, hasil kerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika untuk Ramadhan 1431 H)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s