Jamaah Dalam Berzakat

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Ketika Ramadhan tiba, biasanya spanduk yang berisi ajakan berzakat, bersedekah dan berinfaq bertebaran di sudut jalan. Kampanye serupa juga meningkat dalam media massa, seperti yang dilakukan Dompet Dhuafa (DD) sebagai salah satu Lembaga Amil Zakat (LAZ) terpercaya. Fenomena tersebut patut diapresiasi. Ini menunjukan bahwa Badan Amil Zakat (BAZ) maupun LAZ ingin mengingatkan umat Islam supaya menyisihkan harta bendanya bagi orang lain. Sebab, dalam harta mereka terdapat hak para mustahik.

Tentu saja ada alasan mengapa gerakan jamaah dalam berzakat yang diserukan BAZ (lembaga zakat pemerintah) maupun LAZ (lembaga zakat swasta) lebih intensif pada saat Ramadhan. Dalam ajaran Islam, Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan. Allah SWT pun sudah berjanji akan melipatgandakan pahala bagi orang-orang yang giat beribadah dan beramal di bulan yang mulia ini.

Sesuatu yang dilakukan secara berjamaah (bersama-sama), pastilah akan lebih terasa pengaruh, manfaat dan tinggi nilainya. Bila semua umat Islam yang sudah memiliki kewajiban berzakat mau menyisihkan hartanya dengan niat berzakat, maka diyakini hampir seluruh problem yang melilit umat Islam akan terselesaikan. Anak-anak yatim piatu bisa mengenyam pendidikan yang layak. Fakir miskin terberdayakan. Kaum dhuafa yang sakit jadi tertolong. Para pejuang agama tercukupi kebutuhan hidupnya. Jumlah pengangguran pun berkurang. Pendek kata, perekonomian umat Islam bangkit, tumbuh dan berkembang. Dipastikan, negeri ini pun ikut menikmati berkahnya.

Sejujurnya harapan tersebut bukan khayalan semata. Hitungannya jelas, mengingat ada banyak potensi zakat yang bisa digali dari umat Islam yang sudah mapan secara finansial. Antara lain zakat dari hasil pertanian, peternakan, perniagaan maupun zakat penghasilan. Bila seluruh dana zakat di Indonesia dikumpulkan, maka menurut hasil perhitungan dan penelitian sebuah lembaga dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, diperkirakan mencapai Rp 19,3 triliun.

Kenyataannya, berdasarkan laporan terakhir yang diterima Kementerian Agama dari seluruh lembaga zakat di Indonesia, baru sekitar Rp 900 miliar yang telah berhasil dikumpulkan dari dana zakat. Artinya, masih banyak kantung-kantung zakat yang belum teroptimalkan. Minimnya dana yang terserap dari potensi zakat antara lain disebabkan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang jenis harta yang dikenai zakat (objek zakat) atau dipicu belum percayanya masyarakat kepada pengelola zakat.

Inilah salah satu tantangan BAZ maupun LAZ dalam upaya melahirkan fenomena jamaah dalam berzakat di kalangan umat Islam yang memang memiliki kewajiban berzakat (para muzakki). Pada tataran inilah profesionalitas, transparansi dan kreatifitas mereka dalam menggali, mengumpulkan serta mendistribusikan dana zakat perlu lebih maksimal lagi. Di satu sisi, para muzakki sebaiknya terlebih dahulu menilai secara cermat kredibilitas, kiprah maupun program kerja lembaga pengelola zakat, agar tidak kecewa di kemudian hari. (Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, hasil kerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika untuk Ramadhan 1431 H)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s