Gaya Hidup Kita

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Tanpa disadari, terkadang kita lebih senang menghabiskan uang seratus ribu rupiah di pusat perbelanjaan ketimbang memasukannya ke kotak amal masjid. Saat pengemis menyodorkan tangan terbuka atau mengetuk pintu rumah, kita biasanya sibuk mencari uang recehan. Padahal, di saku celana atau dompet kita jelas-jelas ada uang lima, sepuluh atau dua puluh ribu rupiah.

Mengapa kita kerap berhitung saat ingin membantu kaum dhuafa, meringankan beban fakir miskin atau menyumbangkan harta di jalan Allah SWT? Tentu saja setiap orang punya argumen sendiri sebagai dasar pembelaannya. Yang jelas, kebiasaan memberi atau tidak memberi sesuatu kepada orang lain tidak serta merta muncul dalam diri kita. Percaya atau tidak, ini ada kaitannya dengan gaya hidup.

Gaya hidup kita terbentuk atas dasar keyakinan maupun nilai-nilai yang selanjutnya tercermin dalam sikap, kebiasaan dan perilaku sehari-hari. Bila kita yakin bahwa harta adalah titipan dari-Nya, maka kita tidak perlu bersedih andaikata Allah mengambilnya kembali. Bila kita yakin bahwa dalam harta kita ada hak orang lain, maka secara refleks kita akan memberikannya kepada yang berhak, meski tidak diminta.

Sebaliknya, jika kita meyakini bahwa harta merupakan hasil kerja semata tanpa melihat campur tangan-Nya, maka kita cenderung menghamba pada harta. Bisa jadi setiap hari waktu kita dihabiskan untuk mencari dan mengumpulkan harta, karena percaya hanya harta yang akan membahagiakan hidup. Imbasnya, kita tidak rela andaikata harta itu hilang, berkurang atau dibagi kepada orang lain yang memang tidak terlibat dalam perburuan harta.

Al-Quran mengingatkan, harta yang diberikan kepada kita sejatinya mengandung banyak makna. Misalnya sebagai ujian bagi keimanan kita. Tidak menutup kemungkinan pula harta yang kita terima justru menyimpan bencana. Maka, jalan terbaik ketika kita mendapatkan harta adalah bersyukur. Pada titik ini, Allah sudah berjanji akan melipatgandakan pemberian-Nya kepada orang yang pandai bersyukur. Sedangkan bagi tidak mau bersyukur, akan ditimpa malapetaka yang tak berkesudahan.

Patut diingat, bersyukur tak sekadar lidah mengucap hamdalah. Dalam konteks yang lebih luas, bersyukur artinya menyenangkan orang lain dengan memberikan sebagian harta kita. Bentuk pemberiannya bisa berupa zakat, infaq, sedekah, atau wakaf (ZISWAF). Semuanya kita dedikasikan untuk menyantuni kaum dhuafa, menyekolahkan anak yatim, memberdayakan fakir miskin atau turut membantu pembangunan tempat ibadah maupun sarana syiar Islam.

Barangkali kita tidak mampu melakukan semua peranan itu dalam satu waktu dikarenakan kesibukan atau hal lain. Karenanya, kita perlu bermitra dengan lembaga pengelola dana ZISWAF seperti Dompet Dhuafa (DD), sebagai pihak yang dipercaya mampu menggantikan tugas kita. Berangkat dari titik ini ada satu pelajaran penting bahwa bila kita mampu menjadikan kebiasaan berbagi harta sebagai sebuah kebutuhan dan gaya hidup, niscaya harta kita akan terasa lebih berkah dan semakin mengalir deras. Insya Allah. (Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, hasil kerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika untuk Ramadhan 1431 H)

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s