Pupuk Kaltim Akhirnya Bisa Bernapas Panjang

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Satu per satu BUMN pupuk mulai bangkit dan siap menyediakan pupuk murah untuk petani Indonesia. Kali ini giliran Pupuk Kaltim.

Beberapa waktu lalu, BUMN pupuk seperti PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) dan PT Pupuk Kaltim (Persero) pernah mengeluh dihadapan Komisi VI DPR RI. Mereka merasa terbebani dengan tuntunan dari Komisi VI yang meminta segera dilakukan revitalisasi BUMN pupuk dan peningkatan daya saing pupuk nasional terhadap pupuk impor. Tujuannya demi meringankan beban petani Indonesia dengan cara menyediakan pupuk dalam negeri dengan harga yang lebih murah.

Sebetulnya para petinggi BUMN pupuk sepakat dengan keinginan para wakil rakyat tersebut. Hanya saja, kendala krusial yang saat ini dihadapi BUMN pupuk  antara lain menyangkut kian menipisnya cadangan gas, teknologi mesin dan peralatan pabrik yang sudah ketinggalan zaman, tua serta usang. Akibatnya proses produksi pupuk tidak efektif, berjalan lambat dan membutuhkan biaya besar (boros). Gambaran ini tak seirama dengan produsen pupuk impor yang telah menggunakan peralatan moderen nan canggih.

Rupanya permasalahan serius yang dihadapi BUMN pupuk didengar kalangan perbankan. Terbukti, belum lama ini PT Pupuk Kaltim mendapat kucuran kredit sebesar 146,03 juta dolar AS dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Kredit tersebut terdiri atas kredit investasi sebesar 93,39 juta dolar AS dan penangguhan jaminan impor untuk proyek pembangunan boiler sebesar 52,64  juta dolar AS.

“Nilai proyek pembangunan boiler batubara sendiri mencapai 110 juta dolar AS, dimana sebesar 30 persen diambil dari kas

Hidayat Nyakman, Dirut Pupuk Kaltim
Hidayat Nyakman, Dirut Pupuk Kaltim

internal, sementara 70 persen sisanya dipinjami BRI,” kata Direktur Utama Pupuk Kaltim Hidayat Nyakman, usai penandatanganan perjanjian kredit investasi di Gedung BRI, Jakarta, Kamis, (27/05).

Pembangunan boiler berbahan bakar batubara, menurut Hidayat, bertujuan mengurangi pemakaian gas untuk energi di Pupuk Kaltim. Proyek yang ditargetkan selasai pada 2011 ini akan menjadi peralatan untuk menghasilan uap bertekanan tinggi sebesar 440 ton per jam untuk memasok energi ke pabrik Kaltim I, II, dan III. Selanjutnya, boiler juga bakal memasok energi untuk pabrik baru Kaltim V yang ditargetkan selesai pada 2014.

“Kita tidak bisa terus-terusan mengandalkan gas, karena gas makin lama makin habis. Paling cadangan gas di Indonesia tinggal 20 tahun lagi, apalagi ada rencana pemipaan gas dari Kaltim ke Jawa,” tandas lelaki kelahiran Meukek, Aceh, 26 Maret 1953, yang diangkat sebagai direktur utama pada pertengahan 2007.

Dengan menggunakan boiler batubara, kelak Pupuk Kaltim bisa menghemat ratusan ribu dolar per hari, karena harga batubara lebih murah dibandingkan gas. Asal tahu saja, ungkap Hidayat, Pupuk Kaltim per hari membutuhkan gas sebanyak 27 juta standar metrik kaki kubik (mmscfd). Konversi penggunaan gas dengan batubara untuk energi menghasilkan penghematan sekitar dua dolar per btu (british thermal unit).

Dalam proyek pembangunan boiler tersebut, Pupuk Kaltim juga membangun silo atau tempat penyimpanan batubara tertutup bentuk kubah untuk mehindari pencemaran lingkungan. Di samping itu menggunakan teknologi continous barge unloader dengan ban berjalan tertutup yang membuat proses transportasi batu bara lebih efisien dan bebas debu.

“Intinya pembangunan boiler untuk mengantisipasi bila gas terus berkurang dan kami harus mempersiapkan itu sejak sekarang,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bisnis dan Kelembagaan BRI Asmawi Syam menuturkan, pengucuran kredit ke Pupuk Kaltim merupakan salah satu bentuk dukungan program revitalisasi pabrik pupuk nasional yang digulirkan pemerintah serta pengembangan industri pupuk di Indonesia. BRI menyadari bahwa Pupuk Kaltim adalah produsen pupuk urea dan amoniak terbesar di Indonesia serta pemain utama bisnis pupuk di Asia Pasifik.

”Kredit yang BRI kucurkan akan digunakan untuk pembiayaan pembangunan boiler batubara dengan kapasitas 2×220 MTPH guna mendukung pemenuhan steam ke seluruh pabrik Pupuk Kaltim, sehingga dapat mengefisiensikan operasional pabrik. Patut dicatat, bisnis utama (pinjaman) BRI di sektor pertanian. Kalau pasokan pupuk terganggu, maka dampak berantainya bisa mengganggu (BRI) juga,” imbuh Asmawi.

Selain itu, BRI berkomitmen untuk memberikan fasilitas cash loan Rp 300 miliar dan non cash loan Rp 200 miliar untuk operasional perusahaan serta fasilitas kredit investasi untuk pembangunan pabrik Pupuk Kaltim V sebesar maksimal Rp 1,5 triliun.  Asmawi juga membeberkan beberapa BUMN pupuk maupun anak perusahaannya yang sudah dikucuri kredit, seperti PT Pupuk Sriwijaya, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Petrokimia Gresik, dan PT Pupuk Kujang.

Kredit yang diberikan ke Pupuk Kaltim berjangka waktu 10 tahun dengan grace periode (waktu tenggang) sekitar 36 bulan. Bunga pinjaman untuk valas, tutur Asmawi, sebesar enam persen selama dua tahun dan sisanya floating (mengambang). Sedangkan pinjaman dengan rupiah bunganya sebesar 10 persen selama dua tahun dan sisanya floating.

Sementara itu Direktur Keuangan Pupuk Kaltim Eko Sunarko menuturkan, BRI merupakan mitra lama sejak Pupuk Kaltim berdiri tahun 1980-an. Namun demikian, Eko menyatakan bahwa kerjasama dua BUMN ini sudah melalui proses tender. Pembangunan boiler tak lain untuk mendukung optimalisasi kapasitas produksi Pupuk Kaltim, dimana tahun lalu produksi urea mencapai 2,9 juta ton atau hampir mendekati kapasitas desain sebesar tiga juta ton per tahun. Sedangkan produksi amoniak mencapai 1,88 juta ton di atas kapasitas desain sebesar 1,85 juta ton per tahun.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s