Proyek PLN di Papua Belum Direspon Investor

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Tawaran kerjasama proyek dari PLN ditanggapi dingin oleh Freeport. Freeport maunya cuma jadi pembeli. Kenapa PLTA Urung Muka harus dijiual keinvestor Amerika?

Rencana PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Urung Muka 350 MW di Timika, Papua, barangkali cukup menggembirakan penduduk Kawasan Timur Indonesia yang selama ini tertinggal dari segi infrastrukturnya. Maklum, jika benar terealisasi, maka PLTA ini akan mampu menyuplai kebutuhan listrik di Papua. Namun, sepertinya PLN bakal mengalami kendala pendanaan.

Usai menemui delegasi Menteri Perdagangan dan sebanyak 40  pengusaha Amerika Serikat di kantor Menko Perekonomian, Direktur Utama PT PLN Dahlan Iskan menuturkan, untuk mewujudkan proyek prestisius itu setidaknya dibutuhkan biaya investasi sekitar Rp 6 triliun. Dalam pertemuan tersebut, kata Dahlan, antara lain membicarakan kemungkinan adanya kerjasama pengembangan di sektor energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Dahlan Iskan, Dirut PLN
Dahlan Iskan, Dirut PLN

“Yah, rencana penggarapan PLTA Urung Muka tadi telah saya sampaikan kepada para investor Amerika. Ini benar-benar baru pertama kali saya jual (tawarkan) kepada investor,” ungkap Dahlan Iskan, Selasa (25/05).

Saat disinggung soal respon mereka, Dahlan enggan berbicara lebih lanjut. Menurut Dahlan, alasan penawaran proyek kepada mereka karena nama dan keindahan serta pesona Papua sudah dikenal orang-orang Amerika. Di samping itu, di tanah Papua sudah ada beberapa proyek yang melibatkan investor Amerika, seperti PT Freeport Indonesia.

”Saya katakan jika Amerika mau berbuat banyak untuk Indonesia, mestinya ambil dong (proyek PLTA). Ini sangat bersejarah, karena baru ada PLTA di Papua,” sambung Dahlan.

Sebelumnya, BUMN setrum itu berencana membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 2×7 MW atau 14 MW. Namun dalam tender pertama tidak ada yang ikut lantaran HPS-nya (harga perkiraan sendiri) kerendahan. Karena itu, PLN memutuskan untuk mengadakan tender ulang. Sayangnya, dalam tender kedua ini, kontraktor atau peserta tender memberikan harga penawaran tiga kali lipat dibandingkan HPS. Itu artinya mereka mengajukan biaya 64 juta dolar AS atau sekitar Rp 600 miliar.

“’Untuk membangun PLTU yang begitu repot suplai batu baranya, PLN harus mengeluarkan Rp 600 miliar. Ini tentu harus kita pikir ulang apakah (PLTU) tetap dibangun atau dibatalkan saja. Rupanya setelah dikaji secara matang, rencana tersebut sebaiknya dibatalkan dan diganti PLTA saja,”’ jelasnya.

Keputusan perubahan rencana proyek itu juga berdasarkan adanya 59 lokasi sumber air di Papua. Satu di antaranya dekat dengan Timika. Mengenai realisasi PLTA, Dahlan menyatakan PLN bakal mengerjakan secepatnya. Saat ini masih dalam tahap studi, terutama mencari tahu jarak sebenarnya antara sumber air dan kota yang membutuhkan. Menurutnya, selama ini di Timika menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) 5 MW, yang sangat boros BBM-nya.

Dahlan pernah berujar bahwa PLN punya rencana untuk menggandeng PT Freeport Indonesia dalam membangun proyek PLTA. Meski begitu, pria kelahiran Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951, ini belum menemukan formula kerjasamanya. Paling tidak, Freeport bisa menjadi pembeli (offtaker) dari listrik yang dihasilkan pembangkit itu. Freeport memang sudah menggunakan PLTU miliknya dengan kapasitas 4×65 MW. Namun, PLTU itu sudah berumur hampir 30 tahun  dan kurang baik untuk lingkungan.

“Jika Freeport mau menerima tawaran kami, tentu kami senang. Nanti sisa listrik (setelah dikurangi Freeport) akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Timika dan membangun pabrik smelter (tempat pengolahan bijih timah). Tapi bila Freeport tidak berminat menanamkan modalnya dalam proyek ini, kemungkinan PLN akan mencari pendanaan dari JBIC atau JICA,” ujar Dahlan.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama Freeport Armando Mahler menandaskan, Freeport siap menjadi pembeli PLTA Urung Muka. Dengan catatan, PLN harus berani memastikan bahwa pasokan dan suplai listriknya selalu aman dan lancar. Pasalnya, jika dua hal itu terganggu atau terhenti, maka Freeport bakal menangguk kerugian besar lantaran berhenti beroperasi.

“Andai satu hari saja perusahaan kami distop, sudah pasti dampaknya luar biasa. Kami tidak mau itu terjadi,” tegas Armando Mahler di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (26/05).

Armando mengakui, dari segi biaya PLTA lebih murah dan ramah lingkungan dibanding PLTU. Apalagi dalam jangka panjang, kemungkinan Freeport akan membutuhkan lebih banyak aliran listrik atau dua kali lipat dari kebutuhan saat ini untuk meningkatkan produksinya. Terkait gagasan kerjasama pembangunan PLTA di Timika yang dilontarkan Dirut PLN, Armando menjawab itu tidak mungkin, sebab bisnis Freeport bukan di area sana.

Sementara itu di hadapan anggota Komisi VII DPR RI, Armando mengemukakan rencana bisnis Freeport. Saat ini Freeport sedang fokus membangun infrastruktur untuk Grasberg Block Cave. Selain itu, perusahaan asal Amerika ini tengah berkonsentrasi pada kegiatan tambang bawah tanah lainnya yang diperkirakan akan mulai beroperasi tahun 2016.

“Hingga tahun 2041 (masa habis kontrak karya), diperkirakan kami akan membutuhkan investasi hingga 15 miliar dolar AS. Untuk itu, kami meminta kepastian hukum dan penyediaan dana investasi. Kami bersama pemerintah dan pihak lain terus berupaya menghormati dan mematuhi ketentuan-ketentuan hingga kontrak karya berakhir,” tuturnya. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 100 Tahun II, 2-8 Juni 2010, halaman 30—)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s