IPO Krakatau Steel Terkatung-katung

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Wacana IPO Krakatau Steel sudah digulirkan sejak 2008, setelah mendapat persetujuan dari Kementerian BUMN selaku kuasa pemegang saham dan DPR RI. Namun baru tahun ini keinginan itu bakal direalisasikan. Ada apa dengan Krakatau Steel?

Rencana privatisasi melalui bursa berupa penawaran saham umum perdana atau initial public offering (IPO) PT Krakatau Steel (Persero) sudah ada titik terang. IPO Krakatau Steel yang semula dijadwalkan pada kuartal ketiga 2010, ternyata dimundurkan pada kuartal keempat 2010. Kepastian tersebut disampaikan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar.

“Pemerintah menunda go public Krakatau Steel karena ada beberapa alasan,” cetus Mustafa Abubakar di kantornya, Jumat (14/5).

Salah satu alasannya, kata Mustafa, perusahaan pelat merah ini masih harus menyelesaikan proses negosiasinya dengan Pohang Iron and Steel Corporation (Posco). Kerjasama Krakatau Steel dengan perusahaan baja terbesar asal Korea Selatan itu terkait pembentukan usaha patungan (joint venture) di Indonesia senilai 600 juta dolar AS.

“Masalah ekuitas, pendanaan, komposisi manajemen, pemasaran produk, termasuk penghitungan nilai aset masih dibicarakan,” jelas menteri kelahiran Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, 15 Oktober 1949.

Awalnya, sambung Mustafa, komposisi ekuitas sebesar 70 persen dikuasai Posco, sementara sisanya (30 persen) untuk Krakatau Steel. Namun Krakatau Steel menginginkan porsi kepemilikan saham naik menjadi 45 persen dan 55 persen berikan kepada Posco. Persoalan lainnya menyangkut posisi direksi perusahaan patungan. Krakatau Steel mengusulkan lima direksi yang terdiri atas tiga perwakilan Posco dan dua dari perseroan, sedangkan komisaris juga dari Krakatau Steel.

“Selain itu, Krakatau Steel menghendaki nilai tanah mencapai 85 dolar AS per meter, sementara Posco hanya menginginkan 60 dolar AS per meter. Ini cukup alot. Tapi kita akan terus perjuangkan,” tuturnya.

Untuk menangani IPO Krakatau Steel, pemerintah secara resmi telah menunjuk tiga penjamin emisi (underwriter), yakni PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Securities dan PT Mandiri Sekuritas. Saham yang akan dilepas kepublik, sebagaimana hasil keputusan rapat dewan direksi dan komisaris, maksimal 30 persen. Dari proses IPO yang dijadwalkan dalam dua tahap, yaitu 20 persen dan 10 persen, Krakatau Steel bakal meraih dana segar sekitar 600 juta dolar AS atau setara Rp 5,8 triliun-Rp 6 triliun.

Di samping memperoleh dana besar, IPO antara lain bertujuan untuk meningkatkan tata kelola perusahaan melalui transparansi dan akuntabilitas sebagai perusahaan publik dan membuka akses pendanaan global. Selain itu, sambung Mustafa,  sebagian dana IPO digunakan untuk memaksimalkan unit pabrik yang sudah ada dan mengupayakan tambahan modal bagi perseroan untuk melakukan rencana investasi.

“Hasil IPO juga bisa digunakan untuk memperkuat posisi tawar jika Krakatau Steel batal kerjasama dengan Posco. Kalau perlu sebagai rencana alternatifnya, perusahaan ini buat pabrik baru untuk meningkatkan kapasitas produksi besi maupun baja,” kata mantan Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog).

Sebelumnya usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI pada Selasa (4/5), Direktur Utama Krakatau Steel Fazwar Bujang mengatakan, urusan negosiasi dengan Posco diharapkan rampung akhir Mei ini. Krakatau Steel berencana mengucurkan investasi 150 juta dolar AS untuk penambahan kapasitas pabrik peleburan baja lembar (hot strip mill).

“Proyek kerjasama dengan Posco akan dibagi dalam dua tahap dengan total masing-masing tiga juta ton. Tahap pertama, dari tiga juta ton per tahun baja kasar (slab) yang akan dihasilkan, satu juta ton akan diserap oleh Krakatau Steel. Itulah alasan kami membangun hot strip mill. Adapun 500 ribu ton akan dipakai untuk kepentingan Krakatau Steel dan Posco. Sisanya 1,5 juta ton slab akan dikonsumsi oleh pabrik hilir (plate mill) yang akan dibangun oleh perusahaan patungan di Cilegon,” jelas Fazwar.

Jika dokumen kerjasama dengan Posco sudah diteken, maka tinggal mendaftakan ke Kementerian Hukum dan HAM, yang diperkirakan memakan waktu dua bulan. Setelah itu, barulah pembangunan pabrik patungan segera dimulai dan tahap pertama produksi ditargetkan awal 2014. Fazwar menuturkan, pihaknya sudah melakukan beberapa investasi, seperti mempersiapkan lahan pabrik, pembangkit listrik berkekuatan 120 megawatt, penambahan kapasitas pelabuhan sebesar 20 juta ton serta pembangunan sejumlah fasilitas baru berbasis biaya bahan baku lebih murah.

Sekadar catatan, penjualan baja Krakatau Steel hingga kuartal pertama 2010 telah mencapai 600.000 ton. Angka ini berbeda drastis dengan kuartal pertama 2009, dimana penjualan baja Krakatau Steel mengalami anjlok cukup drastis, yakni 300.000 ton. Dari 600.000 ton, sekitar 10 persen diekspor ke Malaysia, Australia dan Inggris. Tahun ini, Krakatau Steel telah mematok penjualan baja setidaknya 2,4 juta ton atau naik 12 persen dengan nilai penjualan Rp 17 triliun-Rp 18 triliun, ketimbang volume penjualan baja tahun lalu yang tercatat 2,142 juta ton.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai dividen bagi Krakatau Steel, Mustafa  Abubakar mengaku saat ini belum membahas soal ini. Namun, buru-buru dia menambahkan, pemerintah mengharapkan pada tahun 2010 Krakatau Steel bisa mengukir keuntungan paling sedikit Rp 1,2 triliun, dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah di bawah Rp 1 triliun. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 98 Tahun II, 19-25 Mei 2010, halaman 30—)

One thought on “IPO Krakatau Steel Terkatung-katung

  1. zujoe Juni 21, 2010 / 8:38 am

    wah keknya susah kerjaannya, but keep fighting bro!! slm kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s