Wika Siap Memproduksi Aspal Buton

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Sebentar lagi Wika bakal tercatat sebagai perusahaan pertama yang memiliki teknologi terbaru di dunia. Ini untuk memenuhi kebutuhan aspal nasional yang selalu kekurangan.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk tengah menyiapkan diri  untuk mengikuti tender RFCC (Resid Fluid Catalytic Cracking) Unit di Cilacap yang akan diadakan PT Pertamina. Nilai proyeknya berkisar 1,5 miliar dolar AS. Direktur Operasional II PT Wijaya Karya (Wika) Slamet Maryono menuturkan, proyek ini dimaksudkan untuk meningkatkan keuntungan Refinery Unit IV yang diperoleh dari adanya penambahan produksi BBM dan Petrokimia untuk PT Pertamina.

”Ini salah satu tender yang diikuti Wika pada segmen bisnis mekanikal elektrikal,” kata Slamet Maryono kepada Indonesia Monitor di kantor Wika, Jakarta, Kamis (29/4).

Menurut Slamet, untuk mendapatkan proyek RFCC Unit, Wika rencananya akan menggandeng kontraktor lain. Saat ini, beberapa kontraktor baik dari dalam maupun luar negeri sudah mengajukan diri untuk menjadi mitra kerja Wika. Namun, Wika belum berani memutuskan, karena masih dibahas oleh pimpinan Wika.

“Sekitar tanggal 6 Mei 2010, Wika baru menetapkan akan menggandeng kontraktor mana. Untuk sementara saya belum bersedia menyebutkan nama-nama kontraktornya,” Slamet tersenyum.

Direktur Utama PT Wika Bintang Perbowo membeberkan, selain sedang konsentrasi pada proyek RFCC Unit, Wika tengah mengikuti tender infrastruktur Chemical Grade Alumina (CGA) Tayan di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Proyek CGA diadakan oleh PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) dengan nilai proyek 400 juta dolar AS, dimana Wika menggandeng perusahaan asal Jepang, Tsukishima Kikai Co Ltd.

”Tender telah dilakukan Maret 2010 lalu. Diharapkan Mei ini sudah ada pengumuman pemenang tender,” cetus Bintang Perbowo kepada Indonesia Monitor.

Untuk proyek di luar negeri, Wika masih mengerjakan proyek pembangunan jalan tol terbesar di Aljazair sepanjang 1.200 kilometer. Bintang menceritakan, jalan bebas hambatan yang akan menghubungkan Aljazair dengan Maroko ini harus diselesaikan dalam kurun waktu 36 bulan. Proyek yang didanai langsung oleh pemerintah Aljazair ini baru mencakup satu ruas dari beberapa ruas yang direncanakan.

”Hingga saat ini, Wika tercatat sebagai kontraktor nasional pertama dan satu-satunya yang terdaftar secara resmi di Aljazair,” ujarnya.

Menurut Bintang, awal tahun ini merupakan tahun yang bagus buat perjalanan bisnis Wika. Pasalnya hingga triwulan pertama 2010, Wika telah memperoleh kontrak baru sebesar Rp 1,45 triliun. Salah satu dari kontrak baru adalah pekerjaan pembangunan jalur ganda kereta api Cikampek-Cirebon (II) Segmen III dan modifikasi Stasiun Prujakan Cirebon. Proyek ini dikerjakan melalui joint operation dengan salah satu kontraktor dari Jepang bernama Tokyu.

“Diharapkan proyek senilai Rp 372,904 miliar ini selesai dalam kurun waktu 18 bulan, sejak awal dimulainya 1 Februari 2010,” Bintang menandaskan.

Pada segmen energi, Wika masih tercatat sebagai market leader dan sudah mengerjakan 20 persen lebih kontrak pekerjaan kontruksi sipil  untuk proyek  pembangkit hingga IPP untuk Proyek Percepatan I. Untuk program Proyek Percepatan II pada tahun 2010, sambung Bintang, Wika sedang mengikuti proses tender PLTU 2×65 MW Pulang Pisau Kalteng dan proses PQ PLTU 2X100 MW Balik Papan Kaltim. Selain itu PQ PLTU 2X100 Riau, PQ PLTU 2×7 MW di Kalteng, Kaltim, dan Kalsel (Buntok, Malianu, Berau dan Kota Baru). Sedangkan proses tender yang sudah dimenangkan Wika ialah PLTBS Simangke PTPN 3 Medan Sumatera Utara senilai Rp 83 miliar.

Di samping itu, Wika juga telah mengajukan penawaran proyek konstruksi pembangkit yang dikerjakan kontraktor Cina. Di antaranya PLTU Tanjung Awar-Awar, PLTU Nagan Raya, PLTU Adipala, PLTU Jene Ponto, dan PLTU Takalar. Saat disinggung apakah Wika tertarik dengan megaproyek pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang membutuhkan anggaran lebih dari Rp 100 triliun, Bintang menyatakan bahwa Wika pasti tertarik.

“Tapi mungkin bentuknya konsorsium BUMN Karya, seperti pembangunan Jembatan Suramadu. Kalau sendirian, tentu Wika tidak berani, karena dananya cukup besar,” tukas Bintang.

Menyoal rencana ke depan, Bintang mengungkapkan, sebagai salah satu kontraktor infrastruktur terbesar di Indonesia, Wika siap memproduksi aspal buton dengan kapasitas 300.000 ton per tahun. Proses produksi paling lambat dimulai pertengahan tahun 2011. Kapasitas ini ditetapkan berdasarkan evaluasi Kementerian Pekerjaan Umum (PU) atas produksi aspal pada pilot plant yang selama ini dilakukan, namun masih dalam kapasitas 1.000 ton per tahun dengan kualitas kekerasan 60-85. Umumnya aspal memiliki kekerasan 60-70. Makin besar angka, maka makin rendah kekerasannya.

“Wika telah diminta Kementerian PU untuk segera membuat real plant,” ujarnya.

Lebih lanjut Bintang mengatakan, bisnis aspal buton memiliki potensi yang bagus di pasar aspal nasional. Untuk saat ini, kebutuhan aspal di Indonesia kurang lebih 1,5 juta ton per tahun. Hanya saja, PT Pertamina cuma sanggup memenuhi kebutuhan aspal nasional sebanyak 300.000 ton per tahun. Sementara sisanya sekira 1,2 juta ton dipenuhi dengan cara mengimpor. Inilah kesempatan emas yang akan dimainkan Wika dalam pemenuhan kebutuhan aspal nasional.

Wika akan menggunakan teknologi ekstrasi aspal. Bintang mengklaim bahwa teknologi ini baru kali pertama di dunia. Dengan inovasi teknologi yang diciptakan Wika, diharapkan nantinya kualitas aspal yang disahkan makin membaik dari kondisi aspal yang dihasilkan dari pilot plant. Untuk mendukung hal tersebut, Wika sedang menjajaki beberapa perusahaan EPC (engineering procurement and construction) dengan spesifikasi bidang penyulingan (refinery). Tujuan kerjasama untuk melakukan proses ekstraksi aspal, sehingga  memenuhi persyaratan yang distandarkan Kementerian PU.

Sementara itu, Corporate Secretary PT Wika Natal Argawan menuturkan, Wika menargertkan order book tahun 2010 sebesar Rp 20,19 triliun. Sedangkan target penjualan Rp 8,07 triliun dan target laba bersih Rp 253 miliar. Adapun strategi yang diterapkan ialah fokus pada proyek-proyek dengan sumber dana yang jelas. Maksudnya Wika mendapatkan proyek pemerintah dan BUMN yang jelas anggaran dan capexnya (capital expenditure). Selain itu, Wika menerapkan sinergi pemasaran lintas unit kerja dan sentralisasi pengadaan. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 96 Tahun II, 5-11 Mei 2010, halaman 30—)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s