KPPU Tak Mau Damai Dengan Carrefour

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Petinggi baru Carrefour kemungkinan akan mengajak KPPU berdialog. Tapi KPPU ternyata tidak mau mengubah putusannya. Bagi KPPU, praktek monopoli pasar retail oleh Carrefour benar adanya.

Para Group akhirnya resmi mengakuisi saham PT Carrefour Indonesia. Kepastian tersebut disampaikan pendiri Para Group Chairul Tanjung dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (16/4), usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).  Melalui anak usaha PT Trans Retail, kata Chairul Tanjung, Para Group menggelontorkan dana lebih dari 300 juta dolar AS (sekitar Rp 3-4 triliun) untuk mengakuisisi 40 persen saham Carrefour.

Dengan akuisisi itu, Trans Retail berarti menjadi pemegang saham terbesar Carrefour Indonesia. Saham sisanya digenggam Carrefour SA 39 persen, Carrefour Nederland BV 9,5 persen dan Onesia BV 11,5 persen.

“Berdasarkan kesepakatan RUPS, saya ditetapkan sebagai Presiden Komisaris PT Carrefour Indonesia. Kami juga mendapatkan hak menempatkan empat komisaris dan dua direktur. Di antara dua komisaris yang baru adalah AM Hendropriyono (mantan Kepala BIN) dan S. Bimantoro (mantan Kapolri),” tutur Chairul Tanjung.

Keputusan menempatkan mantan pejabat negara dalam jajaran komisaris di Carrefour tak pelak menimbulkan spekulasi. Carrefour diduga berupaya mencari perlindungan demi kelancaran bisnis dan lolos dari sengketa yang melilitnya. Ketika hal tersebut disinggung, Chairul spontan tersenyum.

“Pada prinsipnya kami taat hukum. Namun tidak menutup kemungkinan jika dalam waktu dekat kami akan berdialog dengan KPPU seraya menunggu keputusan final dari Mahkamah Agung (MA),” ujar Chairul. 

Sebagai catatan, saat ini Carrefour tengah bersengketa dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). KPPU menuding Carrefour memonopoli pasar retail di tanah air pasca akuisisi 75 persen saham PT Alfa Retailindo, pengelola Alfamart, pada Januari 2008. Kemelut tersebut sampai ke meja hijau lantaran Carrefour mengajukan keberatan. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menangani kasus ini kemudian menilai bahwa tudingan KPPU tidak benar dan Carrefour dinyatakan tidak bersalah. Rupanya KPPU pun melanjutkan perkara ini ke MA.

“Benar bahwa KPPU sudah mengajukan berkas memori kasasi ke MA pada 12 Maret 2010. Ini sesuai tugas dan kewenangan KPPU berdasarkan Pasal 35 jo 44 UU No 5 Tahun 1999. Upaya hukum KPPU tidak sembarangan, karena KPPU telah melakukan kajian dan investigasi secara mendalam serta menyerahkan semua bukti hukum terkait persoalan Carrefour,” jelas A. Junaidi, Kepala Biro Hubungan Masyarakat KPPU, ketika dihubungi Indonesia Monitor, Jumat malam (16/4).

Menurut  Junaidi, meski KPPU belum tahu pasti kapan putusan MA keluar, namun KPPU sangat yakin tudingan terhadap Carrefour benar adanya, bukan mengada-ada. Artinya, MA akan mempertimbangkan dan mengabulkan alasan-alasan hukum yang diajukan KPPU. Dalam persoalan ini, sambung Junaidi, ada dua point penting yang diajukan berdasarkan putusan KPPU. Pertama terkait monopoli pasar oleh Carrefour. Kedua perihal dampak penyalahgunaan.

“Tapi karena unsur pertama dinyatakan tidak terbukti di pengadilan, Majelis Hakim PN Jaksel kemudian tidak melihat atau tidak menindaklanjuti unsur kedua. Bagi KPPU, itu tidak masalah, karena ada upaya hukum berikutnya untuk menguji putusan KPPU. Intinya KPPU hanya fokus pada persoalan hukumnya,” tandas Junaidi.

Lebih lanjut Junaidi menyatakan, pada dasarnya KPPU tidak sedang melawan Carrefour, mengingat Carrefour juga punya hak yang sama dengan peretail lainnya di negeri ini. Hanya saja, yang dilakukan KPPU semata demi penegakan hukum serta menciptakan iklim dunia usaha yang sehat, sehingga tidak ada praktek monopoli. Bagaimana jika kemungkinan satu saat Carrefour mendatangi KPPU, lantas mengajak damai?

“Tidak ada damai dengan KPPU dan KPPU tidak pernah mau menerima ajakan itu. Itu sudah menjadi prinsip KPPU. Misalkan nanti MA memutuskan KPPU benar dan Carrefour salah, sudah pasti KPPU akan melakukan eksekusi terhadap Carrefour, sebagaimana amar putusan majelis hakim,” tegas Junaidi. 

Secara terpisah, Direktur Corporate Affairs PT Carrefour Indonesia Irawan D Kadarman menandaskan, seandainya Carrefour kalah di tingkat kasasi, maka Carrefour akan  melakukan upaya hukum lainnya, semisal Peninjauan Kembali (PK).

“Yang jelas, sekarang kita sedang menunggu putusan dari MA, apapun hasilnya,” tukas Irawan, sewaktu dihubungi Indonesia Monitor, Sabtu siang (17/4).

Seperti diberitakan Indonesia Monitor (Edisi 93, Tahun II/14-20 April 2010), Forum Pedagang Tradisional (Forpeta) menyampaikan ketidakpuasannya perihal putusan PN Jaksel. Anggota Forpeta Gatot menyebut, monopoli pasar oleh Carrefour menyebabkan Carrefour memperlakukan pemasok barang maupun pedagang semaunya sendiri. Selain itu, produsen lokal sama sekali tidak bisa menjadi pemasok. Anggota Forpeta lainnya, Burhan bahkan menuding Carrefour melakukan kejahatan dengan melanggaran aturan zonasi, seperti di Depok, dimana Carrefour membelakangi pasar tradisional Kemiri Muka.

Menanggapi sangkaan tersebut, Irawan angkat bicara. Menurut Irawan, dari jumlah 79 gerai Carrefour saat ini yang ada di 22 kota, hampir 90 persen berisi produk lokal. Di samping itu, Carrefour dan pemasok barang telah sama-sama sepakat dengan kontrak yang ada, termasuk menyangkut harga jual barang. Jadi, imbuh Irawan, tudingan Forpeta sama sekali tidak tepat.

“Soal melanggar aturan zonasi, Carrefour tidak pernah melakukan itu. Setiap gerai Carrefour dibuka di satu tempat, itu berarti sudah mengantongi izin dari pemerintah kota, pemerintah daerah atau instansi terkait lainnya. Lalu, Perda mana yang kami langgar? Silakan tunjukan!,” tantang Irawan D Kadarman. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 94 Tahun II, 21-27 April 2010, halaman 29—)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s