Unilever Disomasi Dutapalma

Lukman Hakim Zuhdi

Sebulan lalu, secara mengejutkan PT Unilever Indonesia Tbk melalui laman resminya mendaftarhitamkan produksi CPO (Crude Palm Oil) PT Dutapalma Nusantara. Unilever menuding Dutapalma merusak hutan dalam proses produksi sawit. Karena itu, Unilever menghimbau kepada kepada supplier-supplier Unilever untuk tidak membeli CPO Dutapalma.

Berita negatif yang sudah beredar di beberapa media cetak dan elektronik tersebut jelas membuat gerah pihak Dutapalma. Pengacara PT Dutapalma David M.L.Tobing yang didampingi Sekretaris Perusahaan Dutapalma Diyah Sasanti Retnaning lantas menggelar konferensi pers di kantor Dutapalma, Jl. Rasuna Said, Jakarta, Rabu (14/4). Diyah Sasanti mengatakan, keterangan terbuka ini merupakan klarifikasi Dutapalma atas pernyataan Unilever.

Dutapalma
Dutapalma

PT Dutapalma Nusantara dan anak perusahaan (“Dutapalma”) adalah kelompok perusahaan perkebunan kelapa sawit yang telah berdiri dan beroperasi sejak tahun 1987. Sejak masa pendirian hingga sekarang, kata Diyah, Dutapalma selalu menjalankan usahanya secara etis, legal. Buktinya Dutapalma selalu mentaati dan mematuhi peraturan perundang-undangan, termasuk memperoleh izin-izin yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan usaha.

David Tobing menambahkan, sebagai perusahaan perkebunan kelapa sawit, Dutapalma tidak pernah melakukan penebangan ilegal (illegal logging), sebagaimana dituduhkan Unilever. Apabila ada penebangan ilegal, maka hal tersebut dilakukan oleh pihak luar dan di luar kendali Dutapalma.

“Sebagai anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), pembukaan lahan yang dilakukan Dutapalma telah sesuai dan memenuhi ketentuan peraturan perundangan yang berlaku,” tegas David.

Sebagaimana diketahui, lahan sawit Dutapalma berada di Riau dan Kalimantan Barat. Menurut David, kondisi geografis dan topografi tanah di Kalimantan memang sebagian besar berupa lahan gambut. Hukum Indonesia secara tegas melarang untuk melakukan penanaman atau pembukaan perkebunan di atas lahan gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter. Jika melebihi 3 meter, maka tidak dilakukan dan tidak feasible secara ekonomi.

“Dan Dutapalma tidak melakukan itu. Dengan demikian, dugaan perusakan lahan gambut yang dialamatkan ke klein kami, jelas salah atau tidak berdasar,” tukas David.

Atas dasar itu, sambung David, Dutapalma akan memberikan teguran (somasi) kepada Unilever Indonesia dan Unilever pusat yang berkantor di London, Inggris. Dutapalma menuntut Unilever untuk meminta maaf karena telah mencemarkan nama baik dan merusak reputasi Dutapalma.

“Surat somasi sudah dikirim ke Unilever hari ini,” cetus David, saat dihubungi Indonesia Monitor, Kamis sore (15/4).

David menjelaskan, setelah somasi dilayangkan, Dutapalma akan memberikan waktu tujuh hari kepada Unilever untuk mengklarifikasi apa yang telah dilakukan perusahaan itu.  Jika sampai tiga kali somasi pihak Unilever tidak melakukan klarifikasi, maka Dutapalma secara tegas akan menyeret masalah ini ke ranah hukum.

“Yah, Dutapalma akan menggugat secara hukum. Ini menjadi semacam pelajaran atau penggugah bagi perusahaan lain. Kalau memang benar, jangan takut,” David menandaskan.

Head of Corporate Communications PT Unilever Indonesia Tbk Maria Dewantini Dwianto yang dikonfirmasi pada Jumat pagi (16/4), mengaku hingga Kamis sore belum menerima surat somasi dari Dutapalma. Namun pada Sabtu malam (17/4), Maria mengirim pesan singkat yang menyatakan bahwa surat somasi sudah diterima Unilever.

“Saat ini sedang dipelajari. Untuk sementara baru itu saja yang bisa disampaikan Unilever,” kata Maria.

Kaitannya dengan pencemaran nama baik, Diyah Sasanti mengungkapkan,  dampaknya belum terlihat pada penjualan Dutapalma. Diyah juga menegaskan bahwa selama ini Dutapalma belum pernah menjual langsung CPO kepada Unilever maupun Nestle. Namun, Diyah mengaku tidak tahu soal ada kemungkinan produk CPO Dutapalma sampai ke tangan Unilever melalui pihak lain. Dari total produksi Dutapalma, hanya 30 persen yang diekspor seperti ke Cina dan India, sedangkan sebagian besar dijual di pasar dalam negeri.

“Tapi kita merasa terusik akibat ulah Unilever yang  menghimbau rekan-rekan bisnisnya. Itu semacam bad promotion. Sekarang memang belum berdampak, tetapi kita tidak tahu 2-3 tahun kemudian,” ujar Diyah.

“Tindakan Unilever terkesan menciptakan diskriminasi kepada Dutapalma dari pelaku usaha CPO lainnya, karena akan menghambat perkembangan bisnis dan posisi tawar Dutapalma,” timpal David.

Dikatakan Diyah, tahun ini Dutapalma tetap menargetkan kenaikan produksi CPO hingga 800.000 ton, lebih tinggi dari tahun 2009 yang hanya 600.000 ton. Hingga saat ini, total produksi Dutapalma mencakup lahan 100.000 hektar, sebanyak 60.000 hektar berada di Riau, sedangkan 40.000 hektar berada di Kalimantan Barat.

“Target produksi yang telah kami tentukan tidak terpengaruh blacklist yang dilontarkan Unilever,” cetus Diyah, enteng.

Selain itu, Diyah menuturkan, Dutapalma selalu mempunyai komitmen tinggi untuk terus-menerus bertindak secara etis dan  beroperasi secara legal. Lebih dari itu, Dutapalma berkontribusi untuk peningkatan ekonomi masyarakat, termasuk peningkatan kualitas hidup karyawan dan keluarganya sekaligus mengupayakan peningkatan kualitas hidup komunitas lokal dan masyarakat luas.

“Melalui Darmex Foundation (yayasan nirlaba yang didirikan oleh pemegang saham perusahaan-perusahaan di bawah Dutapalma), Dutapalma melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai wujud nyata atas kepedulian dan komitmennya untuk berbagi kasih kepada masyarakat,” tukas Diyah. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 94 Tahun II, 21-27 April 2010, halaman 28—)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s