Mimpi Pasar Tunggal ASEAN

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Integrasi ekonomi dan kerjasama kawasan sudah digagas negara-negara ASEAN. Mereka menggelar serangkaian kegiatan untuk mencapai pasar tunggal ASEAN. Benarkah Indonesia diuntungkan AEC? 

Para senior economic officials negara-negara ASEAN dan mitra dialog ASEAN (Cina, Korea, Jepang, Australia, New Zealand, India, USTR, EU dan Canada) bertemu pada ASEAN Senior Economic Officials Meeting (SEOM 2/41) dan related meetings di Bali, 21-26 Maret 2010. Pertemuan ini bertujuan untuk saling konsultasi di antara negara-negara dalam rangka mendukung tercapainya ASEAN Economic Community (AEC) 2015 dan meningkatkan integrasi ekonomi serta kerjasama kawasan.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Dirjen Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami. Menurut Gusmardi, pertemuan diawali dengan SEOM working dinner yang dihadiri oleh SEOM leaders negara-negara ASEAN dan para deputinya (SEOM+1). Isu yang dibahas antara lain rencana pemberlakuan secara efektif ASEAN Trade In Goods Agreement (ATIGA) yang diharapkan dapat diumumkan pada saat KTT ASEAN ke-16.

“Selain itu penyelesaian ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) paket ke-7 yang hanya menunggu komitmen dari Filipina, rencana pelaksanaan 2010 AEM Roadshow ke Amerika Serikat pada Mei 2010, perkembangan ASEAN FTAs serta persiapan KTT ke-16 yang akan berlangsung pada 6-9 April 2010, di Hanoi, Vietnam. Di Hanoi, negara-negara ASEAN akan melihat kemajuan dari cetak biru (blueprint) yang telah dirancang dalam menuju AEC,” papar Gusmardi.

Gusmardi menuturkan, SEOM leaders melakukan pertemuan konsultasi dengan Assistant United States Trade Representative (AUSTR) dan pertemuan SEOM 2/41 yang membahas masalah internal ASEAN, yakni AEC. Di samping itu, pertemuan penting ini membahas enam inisiatif kerjasama ekonomi dalam kerangka ASEAN–US Trade and Investment Framework Arrangement (TIFA) yang mencakup lima hal.

“Pertama trade facilitation agreement. Kedua trade and finance dialogue. Ketiga  trade and environment dialogue. Keempat government-business dialogue. Kelima  cooperation on standard,” tukasnya.

Adapun pada pembahasan selanjutnya akan membincang rencana ASEAN Economic Minister (AEM) roadshow ke Amerika Serikat pada 3-5 Mei 2010 ke Seattle-Washington dan Washington DC. Kegiatan roadshow yang dikoordinasikan oleh US dan Indonesia tersebut, sambung Gusmardi, merupakan upaya dalam rangka memperkenalkan dan mempromosikan ASEAN kepada masyarakat dan sektor usaha di Amerika Serikat.

“Untuk mensukseskan roadshow ini, peran dan partisipasi sektor usaha sangatlah diperlukan,” cetusnya.

Pada pembahasan isu terkait AEC, kata Gusmardi, para SEOM leaders fokus pada upaya penyelesaian beberapa isu penting. Antara lain menyangkut pelaksanaan mid-term review dari AEC Blueprint, ATIGA,  ASEAN Single Window, penyelesaian AFAS Paket ke-7 dan penyusunan komitmen AFAS Paket ke-8 serta pemberlakuan secara efektif ASEAN Comprehensive Investment Agreement (ACIA) yang diharapkan dapat tercapai pada bulan Agustus 2010.

“Selain itu dibahas juga mengenai perkembangan kerjasama Small and Medium Enterprises (SMEs), pilar ke-2 dari AEC, blueprint tentang competitive economic region, kerjasama ASEAN di bidang statistik dan keterlibatan sektor swasta dalam menggerakkan perekonomian ASEAN,” imbuhnya.

AEC, jelas Gurmardi, memiliki empat pilar penting, yakni pasar tunggal ASEAN, pengembangan perekonomian di ASEAN, pemerataan ekonomi, dan peningkatan daya saing global. Selain menyiapkan berbagai infrastruktur, AEC juga mewajibkan pemerintah menyiapkan institusi seperti perbankan. Salah satu persiapan yang tengah dilakukan pemerintah terkait kebijakan ruang udara bebas (open sky). Dalam hal liberalisasi penerbangan, Indonesia akan membatasi pemberlakuannya di empat bandara untuk melindungi pasar domestik.

“Sedangkan persiapan lain lainnya perihal standarisasi buruh melalui peningkatan pendidikan, keterampilan dan sertifikasi agar kita memiliki standar yang sah. Yang jelas Indonesia memiliki kesiapan yang lebih baik dibanding dengan negara lain, meski terdapat negara lain yang jauh lebih siap,” ujarnya diplomatis. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 91 Tahun II, 31 Maret-6 April 2010, halaman 27—)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s