Kredit Tumbuh, Perekonomian Pulih

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Bank sentral dan kalangan perbankan optimis perekonomian tahun ini perlahan bangkit setelah dihantam krisis finansial global. Sasaran kredit juga mulai beralih. Beberapa bank bahkan berani mematok pertumbuhan kredit melebihi proyeksi pemegang kendali moneter.

Perekonomian Indonesia sepertinya mulai menunjukan titik cerah. Bank Indonesia (BI) mengklaim pertumbuhan kredit perbankan hingga kuartal pertama tahun 2010 mencatat perkembangan yang cukup menggembirakan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kalau melihat faktor musiman, kuartal satu pertumbuhan kredit biasanya turun. Tapi, kali ini tidak. Kami agak optimis karena kegiatan ekonomi swasta mulai meningkat. Perbankan akan lebih agresif menyalurkan kredit seiring dengan pemulihan ekonomi pasca krisis global,” ujar Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah, Jumat (26/3).

Hingga akhir Januari 2010, kata Halim, laju kredit memang tercatat turun hingga Rp 32 triliun. Namun, setelah itu kredit mulai menunjukkan peningkatan lagi. Rata-rata pertumbuhan per minggu nilainya Rp 4 triliun hingga Rp 7 triliun. Secara tahunan, kredit masih tercatat tumbuh sekitar 10 persen (yoy).

Uang rupiah
Uang rupiah

Menurut Halim, perbankan saat ini sudah mulai mau mengimbangi portofolio penyaluran kreditnya, sehingga penyaluran kredit tak melulu di sektor konsumsi. Kredit konsumsi sudah mulai agak diturunkan, bergeser kekredit modal kerja dan kredit investasi yang mengalami demand (permintaan) cukup tinggi. Sedangkan kredit berdenomasi valuta asing sejauh ini masih belum menunjukkan perbaikan.

“Pertumbuhan tahunan masih negatif. Tahun lalu, kredit valas negatif 17,4 persen,” tukasnya.

Seperti diketahui, bank sentral telah memproyeksikan pertumbuhan kredit tahun 2010 antara 17-20 persen dan pertumbuhan ekonomi sebesar 5-5,5 persen. Sementara berdasarkan Rencana Bisnis Bank (RBB), industri perbankan nasional menargetkan kredit akan mencapai 23,9 persen. RBB merupakan laporan acuan sebuah bank yang tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) dimana setiap bank wajib melaporkan kepada bank sentral mengenai rencana bisnis selama satu tahun.

“Optimistis pertumbuhan kredit perbankan nasional perlu didukung oleh tambahan respons kebijakan antara dari BI dan pemerintah,” tandas Halim.

Pada tahun 2009, pertumbuhan kredit terbilang rendah. Hal itu dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang terus mengalami kontraksi sepanjang tahun dan pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 4,4 persen. Imbasnya itu membuat demand turun. Penurunan pertumbuhan kredit didorong oleh turunnya permintaan kredit valuta asing. Adapun untuk pertumbuhan kredit rupiah, mencapai 10-15 persen dan itu tidak terlalu jelek. Sektor pertanian, perkebunan, dan pertambangan yang paling banyak menyumbang kredit pada tahun lalu. Adapun untuk sektor industri mengalami penurunan akibat krisis.

Sementara itu, Direktur Kredit Konsumer PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Darwin Suzandi memproyeksikan total kredit konsumer BNI pada akhir 2010 akan mencapai Rp 20 triliun atau tumbuh sekitar 20 persen dari tahun sebelumnya. Menurutnya, pertumbuhan kredit konsumer akan ditopang dari kenaikan kredit kepemilikan rumah (KPR), kartu kredit, dan kredit kendaraan bermotor (KKB).

”Dalam dua bulan pertama tahun 2010, KPR BNI mencatat pertumbuhan positif. KPR merupakan portofolio yang terbesar atau mencapai 60% dari total kredit konsumer. Tapi secara keseluruhan, pertumbuhan kredit konsumsi pada kuartal I dalam dua tahun terakhir cenderung mendatar,” ujar Darwin, Selasa (23/03).

Sedangkan Direktur PT Bank International Indonesia Tbk (BII) Stephen Liestyo mematok kreditnya untuk tumbuh sebesar 20-25 persen pada 2010. BII mengaku akan memfokuskan diri untuk menyalurkan kredit kepada segmen consumer dan usaha kecil menengah (UKM), meski persaingannya cukup ketat. Stephen yakin pangsa pasar segmen ini masih luas, apalagi BII sekarang ini baru memiliki pangsa pasar sekira dua persen.

“BII telah mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk melakukan penawaran umum terbatas atau rights issue. Dana yang diperoleh dari rights issue sebesar Rp 1,4 triliun dari 6,2 miliar saham yang diterbitkan itu sekira 90 persen akan digunakan untuk pertumbuhan kredit,” kata Stephen, Jumat (26/3).

Secara terpisah, Direktur Utama PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Arwin Rasyid mengatakan, pada 2010 CIMB Niaga menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 21 persen, kendati untuk konservatifnya sebesar 15 persen. Arwin mengemukakan, guna merealisasikan target tersebut, pihaknya mengincar pertumbuhan dana masyarakat hingga 20 persen. Saat ini, dana masyarakat yang terhimpun di CIMB Niaga sebesar Rp 86 triliun.

“Kami pangsa pasar nomor lima di Indonesia. Jika melihat pangsa pasar dari dana masyarakat, CIMB Niaga menguasai empat persen dari total dana masyarakat di Indonesia senilai Rp 1.800 triliun. Adapun jumlah rekening saat ini sekitar tiga juta rekening,” terang Arwin, Kamis, (25/03). (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 91 Tahun II, 31 Maret-6 April 2010, halaman 28—)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s