KH MA Sahal Mahfudh, Rais ‘Am PBNU: “NU dan Warga NU Mesti Berimbang”

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Rais ‘Am adalah pimpinan tertinggi di NU. Posisi ini sangat ‘sakral’, terhormat, penting, dan disegani warga NU. Orang atau tokoh yang mendudukinya pun tidak boleh sembarangan, mengingat tugas dan tanggung jawab Rais ‘Am sangat berat. Bersama jajaran Syuriyah (lembaga tertinggi), Rais ‘Am memiliki hak penuh untuk merumuskan arah, memutuskan kebijakan fundamental, menuntun serta mengendalikan NU. Rais ‘Am terpilih pun mengaku siap melaksanakan tugas tersebut.

Apa yang dilakukan KH MA Sahal Mahfudh saat penghitungan suara bakal calon Rais ‘Am di Muktamar NU ke-32? Abdul Ghoffar Rozin Sahal, putra Sahal Mahfudh menuturkan, saat itu Abah (panggilan Kiai Sahal) tengah berada di sebuah ruangan di Gedung Marhamah, sekira 50 meter dari aula utama Asrama Haji Sudiang. Rozin lantas memberitahu hasil akhir penghitungan suara.

“Abah suaranya dapat sekian (270 suara),” bisik Rozin kepada Abahnya.

“Oh…ngono tah (begitu),” kata Sahal pendek, seperti ditirukan Rozin kepada Indonesia Monitor, Sabtu (27/3).

Menurut Rozin, jawaban Abah sangat datar, tanpa ada ekspresi kegembiraan sedikit pun. Pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Pati, Jawa Tengah, itu malah terlihat sedih sembari menundukkan kepala. Hal tersebut sangat dimaklumi, mengingat amanah yang akan diemban pria kelahiran 17 Desember 1937 ini cukup berat, yakni bertanggung jawab terhadap hidup dan mati NU.

“Secara pribadi maupun keluarga besar, kami merasa sangat berat menerima amanah ini. Para santri dan masyarakat di tempat kami tinggal juga menginginkan Abah agar selalu ada bersama mereka. Tapi mau dikata apa kalau muktamirin, warga, dan pengurus NU sudah menghendaki demikian. Demi kepentingan yang lebih besar, akhirnya kami harus merelakan Abah. Ini awal dari sebuah perjuangan panjang. Yang jelas, sejak awal Abah tidak berminat maju atau dicalonkan sebagai Rais ‘Am,” jelas Rozin.

Sahal Mahfudh yang ditemui Indonesia Monitor seusai ditetapkan sebagai Rais ‘Am periode 2010-2015 mengatakan, kepercayaan yang diberikan muktamirin adalah kewajiban bagi dirinya untuk tetap menjaga khittah NU dan berakhlakul karimah. Selama ini, lanjut Sahal, belum ada pemahaman yang seragam dari warga NU tentang makna dan maksud khittah. Alhasil, wacana politik praktis selalu menjadi isu sensitif di tubuh NU.

“Kita harus berpikir dua hal, yaitu NU dan warga nahdliyin. Keduanya mesti seimbang. Misalnya bagaimana secara kelembagaan NU menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah yang terkait sosial ekonomi, kemasyarakatan, kebangsaan maupun kenegaraan. Sementara bicara kepentingan warga NU, itu salah satunya terkait dengan keterlibatan mereka dalam politik praktis. Sah-sah saja mereka melakukan itu, asal secara organisatoris NU jangan diseret-seret ke ranah politik,” papar Sahal.

Karena itu, Sahal mengingatkan, bagi siapapun yang punya posisi dalam struktur kepengurusan NU tidak boleh sembarangan berbicara soal politik praktis. Pasalnya hal tersebut rentan menimbulkan friksi dan perpecahan di kalangan NU sendiri. Sahal tidak menutup mata adanya pengurus NU yang kerap menceburkan NU dalam ajang pilkada, pileg maupun pilpres.

“Kita tidak bisa memaksa mereka untuk menghentikan itu, karena mereka punya kepentingan masing-masing. Jadi, kita menunggu kesadaran mereka saja,” tukasnya enteng.

Saat ditanya mengenai tugas utamanya sebagai Rais ‘Am, Sahal menegaskan bahwa akan melaksanakan khittah secara tuntas. Selain itu, dirinya akan melakukan sosialisasi dan membuat serta mempercepat program-program yang dibutuhkan NU. Di antaranya memperkuat lembaga Syuriyah (lembaga tertinggi di NU), dimana orang-orang yang masuk kepengurusan memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam mengenai agama dan ilmu umum. Lantas, bagaimana relasi NU dengan pemerintah atau negara?

“NU akan bermitra dengan pemerintah tanpa meninggalkan kekritisannya. Saya mengakui, secara fisik saya ini sudah lemah (sepuh). Tapi semangat, pemikiran dan cita-cita saya tidak begitu. Karena itu, saya mengharapkan Ketua Umum PBNU nanti dapat menjadi pelaksana Syuriyah secara baik. Saya mohon do’anya agar mampu mengemban amanah ini hingga selesai,” tuturnya. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 91 Tahun II, 31 Maret-6 April 2010, halaman 9—)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s