Dibalik Kemenangan Paket SS

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Isu intervensi pemerintah, campur tangan partai politik dan adanya aliran ‘uang panas’ mencuat dalam Muktamar NU ke-32. Suara kaum sarungan benar-benar diperebutkan dalam ajang lima tahunan itu. Lantas, siapa yang diuntungkan?

Sabtu (27/3) siang, aula utama Asrama Haji Sudiang Makassar, Sulawesi Selatan, ramai sekali. Ratusan peserta Muktamar NU (Nahdlatul Ulama) terlihat tegang mengikuti penghitungan suara bakal calon Rais ‘Am (pimpinan tertinggi di NU). Suara riuh juga terdengar dari luar aula, dimana ribuan muktamirin (para peserta muktamar) secara langsung menyaksikan penghitungan suara dari layar berukuran sekitar 1×1 meter yang tersebar di beberapa sudut asrama haji.

Ketika seorang panitia yang didampingi empat saksi menyebut nama KH Hasyim Muzadi, sontak muktamirin berteriak “Hidup Kiai Hasyim!”. Teriakan muktamirin tak kalah heboh saat nama KH Sahal Mahfudh terdengar dari pengeras suara, “Hidup Mbah Sahal!”. Saat itu, Hasyim Muzadi memang tengah ‘bertarung’ dengan Sahal Mahfudh untuk menduduki Rais ‘Am.

Kurang dari satu jam, penghitungan suara usai. Dari 501 pemilih yang terdiri dari pengurus wilayah, pengurus cabang, dan pengurus luar negeri NU, 272 pemilih menjatuhkan pilihannya pada Sahal. Sedangkan Hasyim memperoleh 180 suara. Sisa suara didapat oleh kandidat Rais ‘Am lainnya, antara lain KH Maimun Zubair (29 suara), Habib Luthfi bin Yahya (4 suara), KH Ma’ruf Amin (2 suara), dan KH Mustofa Bisri (1 suara).

Sesuai AD/ART NU, nama calon Rais ‘Am yang melebihi 99 suara berhak melaju ketahap pemilihan suara berikutnya. Hasyim yang semula berada di luar aula, tiba-tiba masuk, berjalan ke depan menerobos muktamirin, lalu memberikan secarik kertas berisi tulisan tangan kepada pimpinan sidang. Secara mengejutkan, pimpinan sidang yang membacakan surat itu mengumumkan bahwa Hasyim menyatakan tidak bersedia dicalonkan sebagai Rais ‘Am. Artinya, secara aklamasi Sahal Mahfudh resmi diberi kepercayaan untuk memimpin NU lima tahun ke depan.

Sontak lantunan salawat badar menggema di arena muktamar. Tidak sedikit dari muktamirin yang meneteskan air mata bahagia. Secara berjamaah mereka meneriakan yel-yel “Hidup Kiai Hasyim!” “Hidup NU!” “Hidup Kiai Sahal!” Sementara Hasyim yang dikawal ketat pasukan banser menuju mobilnya, tak memberi penyataan apapun terkait pengunduran dirinya yang sama sekali tidak diduga. Wajahnya terlihat tegang, meski sesekali tersenyum sembari melambaikan tangan kepada muktamirin.

“Sesungguhnya ini (Sahal sebagai Rais ‘Am) adalah kemenangan khittah NU melawan NU siyasah (politik),” cetus Ulil Abshar Abdalla, intelektual muda NU yang menggagas Jaringan Islam Liberal (JIL) kepada Indonesia Monitor, Sabtu (27/3).

Ghozi Al Fatih, sekretaris pribadi Hasyim Muzadi yang ditemui secara terpisah mengatakan, pengunduran Ketua Umum PBNU itu merupakan teladan yang baik dan menjadi bagian dari tradisi NU dalam menjaga etika. NU dan para kiai justru akan kehilangan jatidiri dan kehormatannya jika Hasyim terus memaksakan diri bersaing dengan Sahal sebagai kiai sepuh.

“Bagi saya, pengunduran itu sangat biasa, apalagi pertimbangannya demi kepentingan dan kemaslahatan bersama. Beliau tidak diintervensi oleh siapapun dan tidak terbawa opini publik. Lagi pula beliau tidak mencalokan diri, melainkan dicalokan oleh pengurus NU. Jadi, keputusan beliau tidak usah dipersoalkan. Toh beliau akan tetap berbuat yang terbaik bagi NU, meskipun mungkin nanti tidak masuk kepengurusan NU,” tandas Ghozi.

Di tempat berbeda, Abdul Ghoffar Rozin Sahal, putra KH Sahal Mahfudh mengatakan bahwa ini bukan kemenangan bagi Abah (panggilan Kiai Sahal), tetapi amanah yang dimandatkan muktamirin. Rozin secara tegas menepis isu yang menyebut ada aliran ‘uang panas’ (money politic) yang masuk ke saku para pemilih Sahal. Adanya intervensi dari pemerintah dan salah satu partai kepada muktamirin agar memilih Sahal yang santer beredar di arena muktamar juga dibantahnya.

“Menjatuhkan pilihan pada Abah itu murni suara hati muktamirin, karena mereka ingin NU tetap berpegang teguh pada khittahnya dan menjadi wadah para ulama. Selama ini mereka merasa lelah karena NU tercabik-cabik oleh kepentingan politik praktis. Semua tahu kalau Pak Hasyim Muzadi tidak bisa menjaga jarak dengan politik praktis. Sementara Abah tidak begitu. Abah sangat low profile. Saya bersama rekan-rekan tidak menekan atau mempengaruhi mereka, karena saya kira mereka sudah dewasa,” terang Rozin.

A Imam Aziz, juru bicara KH Sahal Mahfudh punya pandangan lain. Imam Aziz menyebut ada dua alasan penting yang membuat muktamirin mencalonkan Sahal. Pertama kekuatan moral, yakni Sahal lebih sepuh dan lebih alim ketimbang Hasyim. Kedua Sahal lebih banyak didukung pengurus cabang NU, dimana mayoritas dari mereka merupakan alumni atau murid Sahal. Sementara pencalonan Hasyim hanya didukung oleh pengurus wilayah NU dan segelintir pengurus cabang NU.

“Secara matematis, kekuatan pemilih jelas ada ditangan pengurus cabang karena jumlah mereka lebih banyak dibanding pengurus wilayah. Ini yang sejak awal tidak disadari oleh tim Hasyim. Mestinya dari pertama Hasyim jangan mau dicalonkan sebagai Rais ‘Am. Apalagi kalau Hasyim ngotot maju ketahap selanjutnya, dia pasti babak belur,” cetus Imam Aziz.

Menurut sumber Indonesia Monitor di arena Muktamar NU, pemerintah dan satu partai politik mengusung paket ‘SS’ (Sahal Mahfudh untuk Rais ‘Am dan Said Aqil Siradj untuk Ketua Umum PBNU). Tujuannya demi mengamankan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan mengakrabkan kembali partai itu dengan NU. Paket SS terbukti berhasil, dimana Sahal Mahfudh secara aklamasi terpilih sebagai Rais ‘Am dan Said berhasil mengantongi 294 suara, mengalahkan Slamet Effendy Yusuf yang mendapat 201 suara.

“Tidak ada paket-paketan,” bantah Sahal saat disinggung kabar paket SS.

Imam Aziz juga menolak bahwa terpilihnya Sahal dan Said lantaran sejak awal sudah disetting paket SS. Isu murahan itu hanya dihembuskan oleh kubu lawan kedua kandidat agar muktamirin tidak memilih Sahal dan Said. Menurut analisanya, Said memang layak mendapat dukungan muktamirin sebagai ketua umum Tanfidziyah PBNU. Selain sering berkunjung ke pesantren, dikenal para kiai, mendapat dukungan dari pengurus cabang dan kiprah di NU terbilang cukup lama, keilmuan Said juga sangat mumpuni.

“Said butuh waktu bertahun-tahun untuk menjelaskan sekaligus meyakinkan  para kiai bahwa dia bukan Syiah. Dia melakukan itu sendiri, door to door. Apalagi dilihat dari isu utama yang diangkat Said soal pentingnya kembali ke pesantren, itu cukup mengena di hati para kiai NU,” ujar Imam Aziz.

Sementara itu, pemerhati NU sekaligus pengamat politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Kacung Marijan menyatakan, duet Sahal-Said diharapkan mampu mengembangkan Islam moderat di Indonesia. Sosialisasi wajah Islam-NU yang inklusif dan ramah dinilai efektif untuk meredam gerakan Islam radikalisme, liberalisme dan terorisme yang tengah menggeliat hebat di tanah air.

“Kaitannya dengan pemerintah, NU harus tetap kritis dan teguh pada pendiriannya. NU jangan mencla-mencle. Saya berharap, kedua tokoh itu sanggup mengantarkan NU lebih mandiri, baik secara politik, ekonomi maupun dalam bidang lainnya,” katanya kepada Indonesia Monitor, Minggu (28/03). (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 91 Tahun II, 31 Maret-6 April 2010, halaman 8—)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s