Dr. KH Malik Madany, MA., Wakil Katib Syuriyah PBNU: “Maqom Hasyim Muzadi Bukan Rais ‘Am”

Sejak NU didirikan, kursi Rais ‘Am (pimpinan tertinggi di NU) dikenal sangat ‘sakral’, terhormat, penting, dan disegani warga NU. Orang atau tokoh yang mendudukinya pun tidak boleh sembarangan, mengingat tugas dan tanggung jawab Rais ‘Am sangat berat. Bersama jajaran Syuriyah (lembaga tertinggi), Rais ‘Am memiliki hak penuh untuk merumuskan arah, memutuskan kebijakan fundamental, menuntun serta mengendalikan NU.

Atas dasar itu, wibawa dan muru’ah (harga diri) Rais ‘Am dan Syuriyah sangat dijunjung tinggi sebagai posisi sentral di NU, yang melambangkan supremasi ulama. Lantas, siapa tokoh NU yang layak menjadi Rais ‘Am? Benarkah otoritas dan kesakralan Rais ‘Am bakal memudar lantaran posisi Rais ‘Am jadi lahan rebutan? Berikut petikan wawancara Indonesia Monitor dengan Dr. KH Malik Madany, MA., Wakil Katib Syuriyah PBNU, Sabtu (20/03).

Pelaksanaan Muktamar NU Ke-32 tinggal menghitung hari. Siapa saja tokoh yang masuk bursa Rais ‘Am?

Dari pemberitaan di media massa yang saya ikuti, nama yang sering disebut KH Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU) dan Dr. KH MA Sahal Mahfudh (Rais ‘Am PBNU). Kemudian ada nama lain, seperti KH Ma’ruf Amin (Rais Syuriyah PBNU), Habib Luthfi bin Yahya (Rais ‘Am Asosiasi Tarekat NU), KH Mustofa Bisri (Mustasyar PBNU), dan KH Maimun Zubair (Pengasuh Pesantren Al Anwar Rembang). Namun tidak menutup kemungkinan nanti ada tokoh lain yang muncul.

Dari beberapa tokoh tersebut, siapa yang berpeluang besar jadi Rais ‘Am dan apa alasannya?

Pada dasarnya, semua tokoh punya peluang yang sama. Tapi, menurut saya, Kiai Sahal punya kans yang cukup besar. Kekuatan dan pengaruh Kiai Sahal terletak pada faktor keulamaannya. Beliau punya banyak simbol. Beliau simbol kealiman, kearifan, keislaman, kemasyarakatan, keumatan dan kebangsaan serta pengayom warga NU.  Dengan demikian, beliau bisa menjadi panutan. Lagi pula kedalaman ilmu agama maupun ilmu umumnya tidak perlu diragukan lagi. Terbukti dalam berbagai kajian keagamaan, beliau selalu tampil menonjol. Beliau juga produktif menulis artikel di berbagai media cetak dan berkarya (menulis kitab).

Dr. KH Malik Madany, MA., Wakil Katib Syuriyah PBNU
Dr. KH Malik Madany, MA., Wakil Katib Syuriyah PBNU

Bagaimana dengan peluang Pak Hasyim?

Pak Hasyim punya akses dan pengaruh yang kuat terhadap pengurus cabang dan pengurus wilayah NU, karena dia memang aktif turun ke bawah. Selain itu, dia lumayan populer di kalangan warga NU. Tapi berdasarkan pengalaman, dia sering menyeret-nyeret NU ke ranah politik praktis. Misalnya pada Pilpres 2004, Pilpres 2009, Pilgub Jatim, dan Pilgub Jateng. Nah, ini berbeda dengan Kiai Sahal. Selama menjabat Rais ‘Am, Kiai Sahal tidak pernah membawa NU kepolitik praktis.

Apakah dengan begitu Pak Hasyim tidak layak menjadi Rais ‘Am?

Dengan menceburkan NU kepolitik praktis, berarti Pak Hasyim telah menyalahi khittah nahdliyah, yang sangat berpotensi memecah belah umat (NU). Karena itu, sebenarnya maqom (tempat) dia bukan Rais ‘Am. Pada acara silaturahmi Rais Syuriyah dan Para Kiai NU se-Indonesia di Pati, Jawa Tengah, Minggu (07/03/2010), para kiai telah sepakat untuk menolak Pak Hasyim jadi Rais ‘Am. Mereka justru kompak mendukung Kiai Sahal sebagai Rais ‘Am lagi. Alhamdulillah Kiai Sahal bersedia, asalkan NU tetap berpegang teguh pada khittah nahdliyah dan akhlakul karimah.

Tapi sepertinya keinginan Pak Hasyim untuk menduduki kursi Rais ‘Am sudah tidak bisa dibendung?

Begini. Yang harus dipahami bahwa dalam tradisi NU maupun Islam, posisi Rais ‘Am itu tidak untuk diperebutkan atau diminta oleh orang yang bersangkutan, melainkan biar umat (peserta muktamar NU) yang memilih dan menghendaki. Intinya, Rais ‘Am tidak diperebutkan, tetapi diberikan kepercayaan. Pesan dan warning dari hasil pertemuan di Pati sudah sangat jelas bagi siapapun. Artinya, kalau gerakan moral ulama sudah tidak didengar lagi, maka ini akan menjadi beban sejarah bagi ulama NU. Ini yang berat!

Anda yakin, jika nanti Kiai Sahal terpilih kembali sebagai Rais ‘Am dapat menjalankan tugas dan fungsinya?

Tugas utama Rais ‘Am ke depan antara lain menentukan dan mengendalikan arah organisasi, menguatkan kembali Rais ‘Am dan lembaga Syuriyah, mengoreksi tindakan-tindakan Tanfidziyah yang melenceng, menyatukan umat serta mengembalikan NU sebagai jam’iyyah diniyyah wal ijtimaiyyah. Insya Allah Kiai Sahal bisa menyelesaikan hal tersebut.

Bagaimana bila ternyata Pak Hasyim yang jadi Rais ‘Am?

Saya hanya bisa berdoa, semoga Allah SWT segera memberi kesadaran kepada Pak Hasyim bahwa menyeret-nyeret NU kepolitik praktis adalah sebuah kesalahan. (Lukman Hakim Zuhdi. Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 90 Tahun II, 24-30 Maret 2010, halaman 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s