Produk Cina Menyerbu, Pemerintah Imbangi Dengan Ekspor

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Pemerintah optimis perekonomian nasional segera pulih. Satu di antaranya ditandai dengan meningkatnya ekspor Indonesia ke berbagai negara, meski pada saat yang bersamaan gempuran produk Cina membuat industri dalam negeri kelabakan.

Indonesia menjadi surga bagi produk-produk Cina, apalagi setelah diberlakukannya perdagangan bebas China-ASEAN (China-ASEAN Free Trade Agreement/CAFTA), sejak 1 Januari 2010. Negeri Tirai Bambu itu memang mampu mengimpor hampir beragam peralatan dan kebutuhan masyarakat dengan dua jurus andalannya, yakni harga murah dan model beragam. Soal kualitas, tentu publik punya penilaian sendiri. Rupanya, dalam beberapa tahun terakhir, motor Cina pun ikut-ikutan menyerbu masuk Indonesia. Sebutlah merek-merek seperti Beijing, Loncin, Mahator, Jialing, Sanex, Nasha, Viar, Happy, Kaisar, Hokkaido, Kenoz, Sunlin, dan Minerva-Sachs, berseliweran di jalan raya. Padahal, selama ini pasar otomotif roda dua dikuasai pemain lama atau produsen dari Jepang, yakni Yamaha, Honda, dan Suzuki.

“Tapi harap dicatat bahwa motor Cina built up bukan impor unggulan atau utama Cina. Jadi, tidak mencolok jumlahnya dan tidak mengganggu para produsen yang lebih dulu ada,” kata Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar, kepada Indonesia Monitor, Selasa (09/10).

Para produsen motor Cina memang melihat pangsa pasar otomotif Indonesia masih terbuka lebar. Karena itu, setelah di negaranya sendiri menuai kesuksesan, mereka beramai-ramai memproduksi dan menawarkan beragam model sepeda motor di sini. Tipenya mulai dari jenis bebek, sport sampai untuk keperluan bisnis yang memiliki roda tiga. Sementara dari sisi sumber bahan bakar, mereka tidak sebatas mengandalkan BBM, melainkan ada yang bertenaga listrik (elektrik).

Diakui Mahendra, perkembangan barang-barang impor dari Cina ke Indonesia selama kurun waktu lima tahun terakhir mengalami peningkatan 35,1 persen per tahun.  Sedangkan investasi Cina di Indonesia selama periode yang sama mengalami peningkatan 69,0 persen per tahun.

“Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan impor barang modal dan bahan baku dan penolong sejalan dengan peningkatan investasi,” tukas Mahendra dalam jumpa pers tentang kinerja ekspor dan impor Kementerian Perdagangan, di Jakarta.

Mahendra mengemukakan, impor barang modal dan bahan baku penolong dari Cina meningkat pesat dengan pertumbuhan rata-rata tahunan masing-masing sebesar 49,8 persen dan 24,6 persen periode 1999-2009. Kedua kelompok barang tersebut digunakan oleh industri dalam negeri untuk pasar dalam negeri maupun ekspor. Sedangkan impor non migas Indonesia dari Cina pada tahun 2009 turun 9,7 persen dibanding 2008.

Terkait dengan prospek ekspor nonmigas Indonesia, Mahendra menuturkan, pada tahun 2010 bakal lebih cerah dan menunjukkan pembalikan ke arah positif. Hal ini diperlihatkan dari membaiknya kinerja ekspor nonmigas triwulan ke-4 tahun 2009 sebesar 1,3% atau US$ 331 juta lebih tinggi dibandingkan kinerja triwulan ke-4 tahun 2008. Perbaikan kinerja ekspor nonmigas tersebut sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian dunia.

“Kontraksi ekonomi negara-negara maju tidak seburuk perkiraan sebelumnya akibat kebijakan moneter dan stimulus fiskal yang dilakukan negara maju dan negara berkembang. Sehingga mendorong peningkatan permintaan serta memicu sentimen positif yang mampu mendorong penguatan beberapa harga komoditi. Pemulihan ekonomi RRT dan India yang kian kuat dan cepat juga akan menambah permintaan ekspor produk Indonesia. Oleh karena itu, sudah semestinya akses pasar ekspor Indonesia ke negara lain dijaga melalui strategi Free Trade Agreement (FTA),” paparnya.

Pria jebolan master bidang ekonomi dari Monash University ini mengatakan, pemerintah tetap optimis ekspor nonmigas akan mencapai sasaran sesuai target RPJMN, yaitu meningkat antara 7-8,5%. Selain faktor eksternal tersebut, perkembangan nilai tukar, perbaikan sisi penawaran termasuk investasi dan kebijakan sektor riil di dalam negeri sangat mempengaruhi pencapaian sasaran yang diharapkan.

Mantan Direktur Indonesia Eximbank ini menambahkan, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, telah terjadi pergeseran pasar tujuan ekspor Indonesia, yang semula dari negara-negara maju ke new emerging economies. Cina, India, dan negara lainnya mulai mendominasi pangsa pasar ekspor Indonesia, sementara pangsa pasar ekspor Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang mulai berkurang.

Selain produk berbasis Sumber Daya Alam (SDA), sambung Mahendra, ekspor beberapa produk industri Indonesia juga mengalami kenaikan. Selama 2009, ekspor komoditi berbasis SDA mengalami peningkatan, seperti bijih, kerak dan abu logam, yang meningkat 35,3 persen dari US$ 4,3 miliar pada tahun 2008 menjadi US$ 5,8 miliar. Untuk bahan bakar mineral naik 30,7 persen, tembaga naik 8,2 persen, dan kakao naik 11,2 persen.

“Ekspor produk-produk industri seperti alas kaki, pakaian jadi, dan peralatan mesin juga mengalami tren kenaikan. Sekalipun produk berbasis SDA masih mendominasi ekspor dan merupakan sumber pertumbuhan ekspor non migas selama tahun 2009, namun produk olahan dan industri memberikan kontribusi yang meningkat pada ekspor. Contohnya produk hasil hutan, udang, elektronik, dan otomotif,” tandas Mahendra Siregar. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 85 Tahun II, 17-23 Februari 2010, halaman 28)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s