Bank Danamon Ajukan Banding Terkait Putusan Transaksi Derivatif

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Perseteruan PT Esa Kertas Nusantara dengan PT Bank Danamon Indonesia Tbk mungkin berhenti sejenak untuk meregangkan urat saraf. Selanjutnya, Danamon akan memberikan perlawanan dimeja banding.

Sekitar setahun lalu, PT Bank Danamon Indonesia Tbk digugat oleh PT Esa Kertas Nusantara (EKN). PT EKN adalah perusahaan nasional yang memproduksi coated and uncoated paper untuk tujuan ekspor. PT EKN menilai bahwa pihak Danamon lalai dalam

Bank Danamon
Bank Danamon

memberikan informasi yang akurat tentang produk derivatif yang mereka tawarkan kepada nasabah. Akibatnya, PT EKN merasa dirugikan dan menuntut Danamon agar mau melunasi kerugian itu.

Sebenarnya, permasalahan tersebut berawal ketika kedua pihak menandatangani perjanjian untuk 17 structured financial product. Perjanjian itu terdiri dari tiga transaksi Forward with Knock Out, delapan transaksi Target Redemption Forward, empat transaksi Cancel-Iable Forward, dan satu transaksi American Knock Out, sejak Oktober 2007 hingga September 2008. Kedua pihak juga menandatangani perjanjian cross currency swap (CCS). Total nominal transaksi structured financial product dan CCS yang telah dilakukan masing-masing adalah US$29.5 juta dan US$5,5 juta. Belakangan, perjanjian tersebut menuai masalah.

Belum lama ini, kemelut panjang antara PT EKN dengan Danamon berakhir sudah dengan ketukan palu majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Majelis hakim mengabulkan gugatan PT EKN dan meminta Danamon untuk memberikan ganti rugi sebesar Rp 63 miliar. Dalam amar putusannya, majelis hakim menganggap bahwa transaksi derivatif itu dianggap perbuatan melawan hukum.

“Kita merasa aneh, bisa-bisanya majelis hakim mengabulkan gugatan penggugat (PT EKN). Padahal, kita sudah memberikan jawaban secara gamblang untuk menolak seluruh dalil penggugat. Tapi, rupanya tidak ada satu pun jawaban dari kita yang dipertimbangkan majelis hakim. Kita sangat prihatin,” kata kuasa hukum Bank Danamon Ricardo Simanjuntak kepada Indonesia Monitor, di kantornya di kawasan Kuningan, Kamis (28/01).

Ricardo mengaku tidak bisa memahami dasar-dasar pertimbangan majelis hakim dalam menjatuhkan putusannya. Pertama, majelis hakim menyatakan Danamon tidak menjelaskan tentang risiko ke PT EKN. Padahal, kata Ricardo, PT EKN telah mengakui bahwa sebelum transaksi derivatif dijalankan ada presentasi dari Danamon yang menjabarkan adanya keuntungan dan berbagai risiko. Setelah itu, PT EKN menandatangai klausal risk disclosure statement dan komunikasi keduanya dilanjutkan via email (electronic mail).

“Faktanya, PT EKN bertransaksi bukan hanya sekali, tapi 17 kali. Mestinya, kalau PT EKN sudah tahu dan melihat ada risiko, dia hentikan pada transaksi kesembilan yang sudah berjalan, dimana dia sudah menerima manfaat. Nyatanya, PT EKN melakukan transaksi lagi sampai yang ke-17 dan tiba-tiba sekarang mengaku tidak mengerti kontrak tersebut. Ini yang tidak dipahami majelis hakim,” jelas Ricardo, geram.

Kedua, majelis hakim menyatakan bahwa harusnya informasi kontrak diberikan dalam bahasa Indonesia, bukan dalam bahasa Inggris, agar PT EKN dapat memahami isi point-pointnya.

“Kalau begitu kita mau tanya, apakah dengan begitu seluruh kontrak derivatif yang berbahasa Inggris harus batal? Pertimbangan majelis hakim benar-benar janggal, mengingat PT EKN adalah perusahan ekspor. Nggak mungkin dong mereka nggak bisa bahasa Inggris. Apalagi selama ini komunikasi mereka dengan klien kita menggunakan bahasa Inggris,” protes Ricardo.

Ketiga, majelis hakim menyatakan bahwa persoalan ini margin trading. Padahal, menurut Ricardo, kasus derivatif ini bukan margin trading, karena transaksi menukar dari dolar yang sudah dimilikinya dengan rupiah pada saat jatuh tempo dengan harga yang sudah disepakati.

“Makanya, syarat transaksi derivatif ini haruslah pelaku usaha yang mempunyai  income dolar atau mata uang asing. Kalau dia tidak punya income dolar, itu namanya derivatif yang bersifat spekulatif, dimana sudah dilarang berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No.10/38/PB1/2008. Masa sih perusahaan ekspor tidak punya income dolar? Yang lebih mengherankan, Danamon adalah pihak yang dirugikan, kok malah Danamon yang disuruh melakukan ganti rugi. Ini kan lucu,” sindir Ricardo.

Ricardo mengutip pernyataan majelis hakim bahwa telah terjadi perbuatan melawan hukum dalam transaksi tersebut.

“Pertanyaannya, perbuatan melawan hukum mana yang dilanggar klien kita? Transaksi itu sudah jelas diatur dalam Peraturan Bank Indonesia No.7/31/PBI/2005,” cetusnya serius.

Intinya, lanjut Ricardo, majelis hakim kurang memahami permasalahan yang sebenarnya. Lebih-lebih majelis hakim cenderung menggeneralisasi terhadap perkara transaksi derivatif antara nasabah dengan bank. Sebab, selama ini, kasus-kasus transaksi derivatif selalu dimenangkan oleh pihak penggugat (bukan bank).

Ricardo juga menyayangkan sikap Bank Indonesia (BI) yang terkesan membiarkan persoalan ini. Padahal, semestinya bank sentral ikut bertanggung jawab, karena membuat peraturan tentang transaksi derivatif. Menurut Ricardo, BI hanya punya dua pilihan. Jika memang betul bank (Danamon) melakukan perbuatan melawan hukum, maka seharusnya BI memberikan hukuman pada bank bersangkutan. Namun, jika BI melihat bank tidak melawan hukum, maka seharusnya BI membela bank yang menjadi korban kasus transaksi derivatif.

“BI jangan diam saja, dong! Sementara setelah mendengar pembacaan putusan oleh majelis hakim, kami langsung nyatakan pengajuan banding, tanpa perlu pikir-pikir lagi. Mau dibawa kemana hukum ini, jika tidak ditegakan secara adil?” suara Ricardo meninggi. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 83 Tahun II, 3-9 Februari 2010, halaman 28)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s